"Nasir Khusraw"

Sang Elang berujar: "Ruzi zi sar i- sang 'uqubi bi hava khas
Bahr-i talab-i tu'mih, par o bal biyarast"
 

Rabu, 15 Mei 2013

Gender dalam Alquran

GENDER DALAM PERSPEKTIF ALQURAN
Muhammad Dainuri, S.Th.I

A.      Pendahuluan
Sejak dua dasawarsa terakhir, diskursus tentang gender sudah mulai ramai dibicarakan orang. Berbagai peristiwa seputar dunia perempuan di berbagai penjuru dunia ini juga telah mendorong semakin berkembangnya perdebatan panjang tentang pemikiran gerakan feminisme yang berlandaskan pada analisis “hubungan gender”.
Berbagai kajian tentang perempuan digelar, di kampus-kampus, dalam berbagai seminar, tulisan-tulisan di media massa, diskusi-diskusi, berbagai penelitian dan sebagainya, yang hampir semuanya mempersoalkan tentang diskriminasi dan ketidakadilan yang menimpa kaum perempuan. Pusat-pusat studi wanita pun menjamur di berbagai universitas yang semuanya muncul karena dorongan kebutuhan akan konsep baru untuk memahami kondisi dan kedudukan perempuan dengan menggunakan perspektif yang baru.
Namun ironisnya, di tengah gegap gempitanya upaya kaum feminis memperjuangkan keadilan dan kesetaraan gender itu, masih banyak pandangan sinis, cibiran dan perlawanan yang datang tidak hanya dari kaum laki-laki, tetapi juga dari kaum perempuan sendiri. Masalah tersebut mungkin muncul dari ketakutan kaum laki-laki yang merasa terancam oleh kebangkitan perempuan atau mungkin juga muncul dari ketidaktahuan mereka, kaum laki-laki dan perempuan akan istilah gender itu sendiri dan apa hakekat dari perjuangan gender tersebut.
Pembedaan laki-laki dan perempuan berlandaskan gender mungkin tidak akan mendatangkan masalah jika  pembedaan itu tidak melahirkan ketidakadilan gender (gender inequalities) baik bagi kaum laki-laki maupun bagi kaum perempuan. Meski ketidakadilan itu lebih banyak dirasakan oleh kaum perempuan, sehingga bermunculanlah gerakan-gerakan perjuangan gender. Ketidakadilan gender tersebut antara lain termanifestasi pada penempatan perempuan dalam stratifikasi sosial masyarakat, yang pada kelanjutannya telah menyebabkan kaum perempuan mengalami apa yang disebut dengan marginalisasi dan subordinasi.
Keironisan itu akan bertambah komplek lagi ketika tema gender ini dikaitkan dengan peran keagamaan lebih-lebih lagi yang dilegimitasi dengan ayat dan hadis yang dihubungkan dengan gerakan feminisme. Diskursus gender yang menjadi wacana perbincangan ini yang akan dilihat dan disorot dalam tulisan ini namun dengan spesifik melihat pada perspektif Alquran dan Hadis yang berbicara tentang tema-tema yang mengandung bias gender. Tulisan ini akan dibingkai dalam pembahasan tentang pengertian gender dan sejarahnya dan kemudian akan dilihat dari perspektif Alquran dan Hadis-hadis yang berbicara tentang bias gender seperti asal kejadian laki-laki dan perempuan, masalah kepemimpinan perempuan, waris dan pernikahan.
B.      Pengertian Gender
Kata “gender” berasal dari bahasa Inggris “gender”, dalam Kamus Bahasa Inggeris-Indonesia,  berarti “jenis kelamin”.[1] Sedangkan dalam Webster’s New World Dictionary, gender diartikan sebagai “perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan dilihat dari segi nilai dan tingkah laku”.[2]
Melalui pengertian dari kamus di atas, sebenarnya  kurang tepat, karena seolah-olah gender disamakan pengertiannya dengan jenis kelamin. Kalau dilihat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata gender memang belum masuk dalam perbendaharaannya, akan tetapi istilah gender ini lebih populer di lingkungan Kantor Kementerian Pemberdayaan Perempuan. Dalam Instruksi Presiden RI No. 9 tahun 2000, sebagai berikut:
Gender (asal kata gen); perbedaan peran, tugas, fungsi, dan tanggung-jawab serta kesempatan antara laki-laki dan perempuan karena dibentuk oleh tata nilai sosial budaya (konstruksi sosial) yang dapat diubah dan berubah sesuai kebutuhan atau perubahan zaman (menurut waktu dan ruang).[3]
Gender adalah konsep yang mengacu pada peran dan tanggung-jawab laki-laki dan perempuan yang terjadi akibat dari dan dapat berubah oleh keadaan sosial dan budaya masyarakat. Gender adalah pembagian peran dan tanggung jawab keluarga dan masyarakat, sebagai hasil konstruksi sosial yang dapat berubah-ubah sesuai dengan tuntutan perubahan zaman.[4] Dalam pemahaman lain gender merupakan suatu sifat yang melekat pada kaum laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksikan secara sosial maupun kultural. Perubahan cirri dan sifat-sifat yang terjadi dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat lainnya disebut konsep gender.[5]
Istilah  gender  dan seks memiliki perbedaan dari segi dimensi. Isilah seks (jenis kelamin) mengacu pada dimensi biologis seorang laki-laki dan perempuan, sedangkan gender mengacu pada dimensi sosial-budaya seorang laki-laki dan perempuan.[6]
Selain itu, istilah gender merujuk pada karakteristik dan ciri-ciri sosial yang diasosiasikan pada laki-laki dan perempuan. Karakteristik dan ciri yang diasosiasikan tidak hanya didasarkan pada perbedaan biologis, melainkan juga pada interpretasi sosial dan kultural tentang apa artinya menjadi laki-laki atau perempuan
Dari beberapa penjelasan mengenai seks dan gender di atas, dapat dipahami bahwa seks merupakan pembagian jenis kelamin berdasarkan dimensi biologis dan tidak dapat diubah-ubah, sedangkan  gender merupakan hasil konstruksi manusia berdasarkan dimensi sosial-kultural tentang laki-laki atau perempuan.
Selama lebih dari sepuluh tahun istilah gender meramaikan berbagai diskusi tentang masalah-masalah perempuan, selama itu pulalah istilah tersebut telah mendatangkan ketidakjelasan-ketidakjelasan dan kesalahpahaman tentang apa yang dimaksud dengan konsep gender dan apa kaitan konsep tersebut dengan usaha emansipasi wanita yang diperjuangkan kaum perempuan tidak hanya di Indonesia yang dipelopori ibu Kartini tetapi juga di pelbagai penjuru dunia lainnya.
Kekaburan makna  atas istilah gender ini telah mengakibatkan perjuangan gender menghadapi banyak perlawanan yang tidak saja datang dari kaum laki-laki yang merasa terancam “hegemoni kekuasaannya” tapi juga datang dari kaum perempuan sendiri yang tidak paham akan apa yang sesungguhnya dipermasalahkan oleh perjuangan gender itu.
Istilah gender baru didengar dan diperdengarkan serta “diperjuangkan” sejak pertengahan abad lalu (abad XX). Gender diperkenalkan pertama kali oleh sekelompok orang yang menamakan diri sebagai gerakan pembela perempuan dari London. Gerakan ini memperkenalkan “Gender Discourse”. Istilah gender sendiri bukanlah jenis kelamin (sex), tapi gender adalah peran yang diakibatkan dari jenis kelamin seseorang (laki-laki atau perempuan). Memang tak bisa dipungkiri peran ini tentu akan berbeda dari masyarakat yang satu dengan yang lainnya. Biasanya merujuk pada kepatutan dan etika sosial yang berlaku di sebuah masyarakat. Tapi, Islam memberikan rambu-rambu besar dalam masalah ini. Ada banyak hal yang dibiarkan tetap global supaya rinciannya disesuaikan dengan keadaan.
Adapun di Indonesia, sejarah gender tak bisa dilepaskan dari kisah emansipasi perempuan, pembebasan perempuan dari keterkungkungan dan perjuangan meraih persamaan hak dan kesetaraan dengan laki-laki. Secara personal emansipasi ini mencuat dengan diterbitkannya surat-surat pribadi RA Kartini dengan istri Gubernur Hindia Belanda di Indonesia, Abendanon antara tahun 1899-1904 M. Terbitan dalam Bahasa Belanda itu diberi judul ”Door Duisternis tot Licht” (Habis Gelap Terbitlah Terang) dicetak sebanyak lima kali sejak tahun 1911 M. Dan pada tahun 1912 M Gubernur Van Deventer mendirikan “Jam’iyah Kartini”[7]
Geliat emansipasi perempuan ini kemudian dilanjutkan secara berkelompok dan dalam Aisyiyah Muhammadiyah (1917 M), Fatayat NU (1950 M), dan Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) (1954 M) sebuah under bow PKI.
Gerakan emansipasi perempuan ini mengalami perubahan orientasi dari sekedar menuntut hak pendidikan, kesehatan dan kehidupan yang laik, menjadi sebuah arus feminis. Yaitu gerakan yang menuntut penyetaraan dan persamaan mutlak antara kaum laki-laki dan perempuan. Terutama pasca berlangsungnya Konferensi Perempuan Internasional I di Meksiko pada tahun 1975 M. Gerakan feminisme ini menjadi sangat liberal dengan berkembangnya aliran liberal di Indonesia. Terutama pasca euforia kebebasan setelah runtuhnya rezim Soeharto (1998 M).
Sebagai contoh dari perwujudan konsep gender sebagai sifat yang melekat pada laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksi secara sosial dan budaya, misalnya jika dikatakan bahwa seorang laki-laki itu lebih kuat, gagah, keras, disiplin, lebih pintar, lebih cocok untuk bekerja di luar rumah dan  bahwa seorang perempuan itu lemah lembut, keibuan, halus, cantik, lebih cocok untuk bekerja di dalam rumah (mengurus anak, memasak dan membersihkan rumah) maka itulah gender dan itu bukanlah kodrat karena itu dibentuk oleh manusia.
Gender bisa dipertukarkan satu sama lain, gender bisa berubah dan berbeda dari waktu ke waktu, di suatu daerah dan  daerah yang lainnya. Oleh karena itulah, identifikasi seseorang dengan menggunakan perspektif gender tidaklah bersifat universal. Seseorang dengan jenis kelamin laki-laki mungkin saja bersifat keibuan dan lemah lembut sehingga dimungkinkan pula bagi dia untuk mengerjakan pekerjaan rumah dan pekerjaan-pekerjaan lain yang selama ini dianggap sebagai pekerjaan kaum perempuan. Demikian juga sebaliknya seseorang dengan jenis kelamin perempuan bisa saja bertubuh kuat, besar pintar dan bisa mengerjakan perkerjaan-pekerjaan yang selama ini dianggap maskulin dan dianggap sebagai wilayah kekuasaan kaum laki-laki.
Disinilah kesalahan pemahaman akan konsep gender seringkali muncul, dimana orang sering memahami konsep gender yang merupakan rekayasa sosial budaya sebagai “kodrat”, sebagai sesuatu hal yang sudah melekat pada diri seseorang, tidak bisa diubah dan ditawar lagi. Padahal kodrat itu sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, antara lain berarti “sifat asli; sifat bawaan”. Dengan demikian gender yang dibentuk dan terbentuk sepanjang hidup seseorang oleh pranata-pranata sosial budaya yang diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi bukanlah bukanlah kodrat.
Konsep  penting  yang  perlu  dipahami  dalam  rangka  membahas  hubungan kaum  kaum  perempuan  dan  laki-laki  adalah  membedakan  antara  konsep  sex  (jenis kelamin) dan konsep gender. Pemahaman dan pebedaan antara kedua konsep tersebut sangat  diperlukan  dalam  melakukan  analisis  untuk  memahami  persoalan-persoalan ketidakadilan sosial yang menimpa kaum perempuan. Hal ini disebabkan karena ada kaitan  yang  erat  antara  perbedaan  gender  (gender  differences)  dan  ketidakadilan gender  (gender  inequalities)  dengan  struktur  ketidakadilan  masyarakat  secara  luas. Pemahaman atas konsep gender sangatlah diperlukan mengingat dari konsep ini telah lahir suatu analis gender.[8]
Istilah  gender  digunakan  berbeda  dengan  sex.  Gender  digunakan  untuk mengidentifikasi   perbedaan   laki-laki   dan   perempuan   dari   segi   sosial-budaya. Sementara sex digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi anatomi biologi. Istilah sex lebih banyak berkonsentrasi pada aspek biologi seseorang,  meliputi  perbedaan  komposisi  kimia  dan  hormon  dalam  tubuh,  anatomi fisik,  reproduksi,  dan  karakteristik  biologis  lainnya.  Sementara  itu,  gender  lebih banyak  berkonsentrasi  kepada  aspek  sosial,  budaya,  psikologis,  dan  aspek-aspek non-biologis lainnya.[9]

C.      Konsepsi Gender dalam Perspektif Alquran
Konsepsi gender dalam perspektif Alquran biasanya dihubungkan dengan ayat-ayat yang mengandung bias gender. Ayat-ayat bias gender tersebut dalam klaim para pengusung gender atau gerakan feminimisme sangat diskriftif dan oktorat terhadap wanita. Dalam Alquran banyak ayat-ayat yang berbicara tentang laki-laki dan wanita baik dalam bentuk Lafdzi ataupun maudhui. Alquran, sebagai sumber utama dalam ajaran Islam, telah menegaskan ketika Allah Yang Maha Pencipta menciptakan manusia termasuk di dalamnya, laki-laki dan perempuan. Paling tidak ada empat kata yang sering digunakan Alquran untuk menunjuk manusia, yaitu basyar, insan dan al-nas, serta bani adam[10].  Masing-masing kata ini merujuk makhluk ciptaan Allah yang terbaik (fi ahsan taqwim), meskipun memiliki potensi untuk jatuh ke titik yang serendah-rendahnya (asfala safilin), namun dalam penekanan yang berbeda. Keempat kata ini mencakup laki-laki dan perempuan.
Berkaitan dengan hal ini ada beberapa tema hangat seputar konsepsi gender yang menjadi diskursus perbincangan lebih-lebih yang dilegitimasi dengan ayat-ayat Alquran yang memang mengandung unsur bias gender, diantaranya adalah hal-hal berikut:
1.       Asal Kejadian Manusia
Mengenai asal kejadian manusia ini, Alquran menyatakan dalam surah An-Nisa’(4): 1, sebagai berikut:
                                ﭡﭢ               ﭨﭩ                  النساء: ١
Artinya: Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya[11] Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain[12], dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.

Alquran, yang diwahyukan dalam bahasa Arab yang fasih, mengenal pembedaan antara  kata-ganti (dhamir/pronoun) laki-laki dan perempuan, baik sebagai lawan bicara atau orang kedua (mukhatab),  maupun sebagai orang ketiga (ghaib), namun perbedaan itu tidak ada sebagai orang pertama (mutakallim). Dalam tradisi penggunaan bahasa Arab, penggunaan bentuk maskulin, sebagai orang kedua atau ketiga, mencakup juga yang feminin. Pengucapan salam, assalamu ‘alaikum, misalnya, yang memakai bentuk maskulin (kum), mencakup juga audiensi perempuan, hingga terasa ‘berlebihan’ untuk menambahi ‘alaikunna  yang secara langsung menunjuk kaum perempuan.
Mengingat tradisi bahasa Arab di atas, Alquran merasa penting untuk mengulang-ulang kedua bentuk (maskulin dan feminin) secara berpasangan untuk menekankan kesetaraan pria dan wanita dalam berbagai aspek kehidupan, disebutkan dalam QS. al-Ahzab (33):35, sebagai berikut:
                                                                                الأحزاب: ٣٥
Artinya: Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin[13], laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.

                Dalam konsepsi gender yang dianut kaum feminisme ayat diatas An-Nisa’(4): 1 sangat diskriminatif jika dikatakan bahwa Adam adalah manusia pertama. Klaim yang disosialisasikan adalah ungkapan Alquran “Nafsin Wahidah” yang banyak ditafsirkan sebagai adam sedangkan Hawwa (sebagai konotasi pelambangan wanita) diciptakan dari Adam yang termaktub dalam ungkapan “Wa Khalaqa minha Zaujaha” dan hal ini diperkuat dalam penjelasan Hadis-hadis yang diriwayatkah adalah tercipta dari tulang rusuk Adam. Berangkat dari pandangan inilah kemudian muncul kesan negative terhadap perempuan dan perempuan itu berasal dari laki-laki (Adam). Hal itu bersumber dari penafsiran hadits riwayat al-Tirmidzi dari Abu Hurairah yang menyatakan “Saling memesanlah kamu untuk berbuat baik kepada perempuan, karena mereka diciptakandari tulang rusuk yang bengkok” (HR. al-Tirmidzi).
حديث أبي هريرة رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ فَإِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ، وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلَاه، فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ".
Kemudian, hadits tersebut dipahami ulama terdahulu secara apa adanya (harfiyah), namun ulama kontemporer memahaminya secara metamoforis, bahkan ada yang menolak keshahihan hadits tersebut. Bagi kalangan metaforis, hadits ini memeringatkan kaum lelaki untuk memperlakukan perempuan secara bijaksana karena ada sifat, karakter, dan kecenderungan yang tidak sama dengan lelaki. Upaya untuk meluruskan tulang yang bengkok itu akan berakibat fatal dan kemungkinan akan patah.[14]

2.       Kepemimpinan

Pemimpin dan kepemimpinan dalam islam punya rujukan naqliyah, artinya ada isyarat-isyarat Alquran yang memperkuat perlu dan pentingnya kepemimpinan dalam sistem sosial.[15] Sedangkan berbicara mengenai perempuan dalam Alquran mengharuskan kita untuk memulai dari awal tentang bagaimana Alquran memposisikan perempuan. Wacana kepemimpinan dalam prespektif islam berakar dari hasil penafsiran surat an-nisa’ ayat 34 yang berbunyi :

                                      ﭞﭟ               ﭦﭧ                    ﭯﭰ            ﭶﭷ                           النساء: ٣٤


Artinya :  Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan karena allah telah melebihkan sebagian mereka(laki-laki) atas sebagian yang lain(perempuan) dank arena mereka(laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka .Sebab itu maka perempuan yang saleh ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada oleh karena allah telah memelihara mereka (Q.S An-Nisa ayat 34)

Ayat ini banyak ditafsiri secara tekstual sehingga terkesan sarat akan bias gender dan juga seringkali dijadikan legitimasi atas superioritas laki-laki. Dalam tafsir mutaqaddimin seperti karangan ibnu katsir misalnya, lafad Qawwamun pada ayat ini ditafsiri dengan pemimpin, penguasa, hakim dan pendidik bagi perempuan hal ini karena kelebihan (fadhal) yang dimiliki laki-laki, karena alasan ini jugalah -menurut ibnu katsir- nubuwwah dan kepemimpinan hanya dikhususkan untuk laki-laki.[16]
Adapun dalam tafsir Al Misbah Quraish Shihab menerangkan, Ayat yang lalu (ayat 32) melarang berangan-angan serta iri menyangkut keistimewaan masing-masing manusia, baik pribadi maupun kelompok atau jenis kelamin. Keistimewaan yang dianugerahkan Allah itu antara laki-laki dan perempuan. Kini fungsi dan kewajiban masing-masing jenis kelamin, serta latar belakang perbedaan itu disinggung oleh ayat ini dengan menyatakan bahwa: Para lelaki, yakni jenis kelamin laki-laki atau suami adalah qawwamun, pemimpin dan penanggung jawab atas para wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain dan karena mereka, yakni laki-laki secara umum atau suami telah menafkahkan sebagian dari harta mereka untuk membayar mahar dan biaya hidup untuk isteri dan anak-anaknya. [17]
Kata [الرجال]  adalah bentuk jamak dari kata [رجل]  yang biasa diterjemahkan lelaki, walaupun al Qur’an tidak selalu menggunakannya dalam arti tersebut. Banyak ulama’ yang memahami kata ar–rijal dalam ayat ini dalam arti para suami.  Seandainya yang dimaksudkan dengan kata “ lelaki’’ adalah kaum pria secara umum, maka tentu konsiderannya tidak demikian. Lebih-lebih lagi lanjutan ayat tersebut dan ayat berikutnya secara amat jelas berbicara tentang para istri dan kehidupan rumah tangga. [18]
Ibn Asyur dalam tafsirnya mengemukakan satu pendapat yang amat perlu dipertimbangkan yaitu bahwa kata ar-Rijal tidak digunakan oleh Bahasa Arab, bahkan bahasa Alquran dalam arti suami. Berbeda dengan kata [النساء]  atau [إمرأة]  yang digunakan untuk makna Istri. Menurutnya: Penggalan awal ayat di atas berbicara secara umum tentang pria dan wanita dan berfungsi sebagai pendahuluan bagi penggalan kedua ayat ini, yaitu tentang sikap dan sifat isteri-isteri shalehah.
Kata [قوّامون] adalah bentuk kata jama’ dari kata qawwam yang terambil dari kata “qama”. Kata ini berkaitan dengannya. Perintah shalat-misalnya juga menggunakan akar kata itu. Perintah tersebut bukan berarti perintah mendirikan shalat, tetapi melaksanakannya dengan sempurna, memenuhi segala syarat, rukun dan sunnah-sunnahnya. Seorang yang melaksankan tugas itu sesempurna mungkin berkesinambungan dan berulang ulang, maka dia namai qawwam. Ayat di atas menggunakan kata jamak yakni qawwamun sejalan dengan makna kata ar Rijal yang berarti lelaki banyak. Seringkali kata ini diterjemahkan dengan pemimpin. Tetapi, seperti terbaca dari maknanya di atas-agaknya terjemahan itu belum menggambarkan seluruh makna yang dikehendaki, walau harus diakui bahwa kepemimpinan merupakan satu aspek yang dikandungnya atau dengan kata lain, dalam pengertian “Kepemimpinan” tercakup pemenuhan kebutuhan, perhatian, pemeliharaan, pembelaan dan pembinaan.
Jadi, legitimasi ayat terhadap laki-laki sebagai pemimpin dengan pertimbangan pokok-poko yang diseukan Alquran, yaitu:
Pertama, [بما فضل الله بعضهم علي بعض]  karena Allah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain, yakni masing-masing memiliki keistimewaan. Tetapi, keistimewaan yang dimiliki lelaki lebih menunjang tugas kepemimpinan daripada keistimewaan yang dimiliki perempuan. Di sisi lain keistimewaan perempuan lebih menunjang tugasnya sebagai pemberi rasa damai dan tenang kepada serta lebih mendukung fungsingnya dalam mendidik dan membesarkan anak-anaknya.
Kedua, [بِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ]  disebabkan karena mereka telah menafkahkan sebagian harta mereka. Bentu kata kerja past tence atau masa lampau yang digunakan ayat ini “telah menafkahkan” menunjukkan bahwa memberi nafkah kepada wanita telah menjadi suatu kelaziman bagi laki-laki, serta kenyataan umum dalam masyarakat ummat manusia sejak dahulu hingga kini. Sedemikian lumrah hal tersebut sehingga langsung digambarkan dengan bentuk kata kerja masa lalu yang menunjukkan sejak masa dahulu. Penyebutan konsideran itu oleh ayat ini menunjukkan bahwa kebiasaan lama itu masih berlaku sampai sekarang.[19]
Berbicara tentang kepemimppinan perempuan dalam literatur hadis yang sering dijadikan alasan untuk mendukung ayat di atas ialah seperti: لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً
Dalam periwayatan Ahmad dengan redaksi hadits langsung menunjukan pada pokok utama hadits yang menjelaskan tentang tidak akan bahagia suatu kaum apabila dipimpin oleh seorang wanita. Riwayat Al-Bukhari, At-Tirmidzi dan An-Nasai redaksi matan hadits yang digunakan adalah: لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً Riwayat Ahmad pada hadits kesatu dan kedua redaksi matan hadits yang digunakan adalah: لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ أَسْنَدُوا أَمْرَهُمْ إِلَى امْرَأَةٍ Riwayat Ahmad pada hadits yang ketiga redaksi matan hadits yang digunakan adalah: لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ تَمْلِكُهُمُ امْرَأَةٌ
Dari ketiga matan hadits diatas perbedaan terlihat dari penggunaan kata wallauw amrahum, asnadu amrahum ila, dan tamlikuhum, yang mempunyai arti menyerahkan, menyandarkan, menguasakan urusan. Meskipun terdapat perbedaan redaksi satu sama lain dalam hadits di atas, tidak terdapat pertentangan dari segi makna matan. Secara umum hadits diatas menyampaikan satu hal tentang tidak akan bahagianya suatu kaum apabila dipimpin oleh seorang wanita.
Hadis ini dipopulerkan oleh Abu Bakrah, salah seorang mantan budak yang dihadapkan oleh suatu kondisi sulit, dimana harus memilih antara mendukung Ali, khalifah keempat dan suami Fatimah anak kesayangan Nabi, atau mendukung 'Aisyah, istri kesayangan Nabi dan putri Abu Bakar, khalifah pertama. Dalam posisi seperti ini, Abu Bakrah mempopulerkan hadis di atas.
Al-Syaukani dalam Subulus salam berkomentar tentang hadis ini[20]:
- وعن أبي بكرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: “لن يفلح قوم ولوا أمرهم امرأة” رواه البخاري فيه دليل على عدم جواز تولية المرأة شيئا من الأحكام العامة بين المسلمين وإن كان الشارع قد أثبت لها أنها راعية في بيت زوجها وذهب الحنفية إلى جواز توليتها الأحكام إلا الحدود وذهب ابن جرير إلى جواز توليتها مطلقا والحديث إخبار عن عدم فلاح من ولي أمرهم امرأة وهم منهيون عن جلب عدم الفلاح لأنفسهم مأمورون باكتساب ما يكون سببا للفلاح
Dan dari Abi Bakroh RA dari Nabi SAW : tidak akan beruntung suatu kaum menyerahkan urusan mereka (kepemimpinan) kepada perempuan. Diriwayatkan oleh Bukhori hal ini merupakan dalil atas tidak bolehnya kepemimpinan kepada perempuan hukum yang umum diantara kaum muslimin, syara  menetapkan pada kaum perempuan, bahwa perempuan ditetapkan sebagai pemimpin di rumah suaminya. Dan berpendapat hanafi tentang bolehnya menyerahkan hukum-hukum pada perempuan kecuali masalah hudud. Sedangkan ibnu jarir berpendapat bahwa bolehnya menyerahkan kepemimpinan pada perempuan secara mutlak dan hadits menerangkan tentang tidak akan beruntung kepemimpinan urusan mereka kepada perempuan, mereka terhalang dari keberuntungan, karena usaha yang mereka lakukan tidak menyebabkan keberuntungan.
Pandangan ulama kontemporer tentang apakah wanita memiliki hak-hak dalam bidang politik? Paling tidak ada tiga alasan yang sering dikemukakan sebagai larangan keterlibatan mereka. Ayat Arrijalu qawwamuna ‘alan-nisa (lelaki adalah pemimpin bagi kaum wanita) (QS. An-Nisa ayat 34). Hadits yang menyatakan bahwa akal wanita kurang cerdas dibandingkan dengan akal lelaki: keberagamaanya pun demikian. Hadits yang mengatakan: lan yaflaha qaum wallauw amrahum imra’at (tidak akan berbahagia satu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada perempuan).
Ayat dan hadits di atas menurut mereka mengisyaratkan bahwa kepemimpinan hanya untuk kaum lelaki. Al-Qurtubhi dalam tafsirnya menulis tentang makna ayat di atas:
 الرجال يقدمون بالنفقة عليهن والدب عنهن وايضا فان فيهم الحكام والامراء ومن يغزو وليس ذلك في النساء
para lelaki (suami) didahulukan (diberi hak kepemimpinan, karena lelaki berkewajiban memberikan nafkah kepada wanita dan membela mereka, juga (karena) hanya lelaki yang menjadi penguasa, hakim, dan juga ikut bercampur. Sedangkan semua itu tidak terdapat pada wanita.

Selanjutnya Al-Qurtubhi, menegaskan bahwa:
ان يقوم الرجال بتدبيرها وتاءديبها وامساكها في بيتها ومنعها من البروز وان عليها طاعته وقبول امره ما لم تكن معصية
Ayat ini menunjukan bahwa lelaki berkewajiban mengatur dan mendidik wanita, serta menugaskannya berada di rumah dan melarangnya keluar. Wanita berkewajiban menaati dan melaksanakan perintahnya selama itu buka perintah maksiat. Pendapat ini diikuti oleh banyak mufasir lainnya. Namun, sekian banyak mufasir dan pemikir kontemporer melihat bahwa ayat di atas tidak harus dipahami demikian, apalagi ayat tersebut berbicara dalam konteks kehidupan berumah tangga. Seperti dikemukakan sebelumnya, kata ar-rijal dalam ayat ar-rijalu qawwamuna ‘alan-nisa, bukan berarti lelaki secara umum, tetapi adalah “suami” karena konsiderans perintah tersebut seperti ditegaskan pada lanjutan ayat adalah karena mereka (para suami) menafkahkan sebagian harta untuk isteri-isteri mereka. Seandainya yang dimaksud dengan kata “lelaki” adalah kaum pria secara umum, tentu konsideransnya tidak demikian. Terlebih lagi lanjutan ayat tersebut secara jelas berbicara tentang para isteri dan kehidupan rumah tangga. Ayat ini secara khusus akan dibahas lebih jauh ketika menyajikan peranan, hak, dan kewajiban perempuan dalam rumah tangga Islam. Adapun mengenai hadits, “tidak beruntung satu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada perempuan”, perlu digaris bawahi bahwa hadits ini tidak bersifat umum. Ini terbukti dari redaksi hadits tersebut secara utuh, seperti diriwayatkan Bukhari, Ahmad, An-Nasai dan At-Tirmidzi melalui Abu Bakrah.
3.       Waris
Dalam konteks pembahasan gender yang juga sering menjadi sorotan adalah tentang kewarisan laki-laki dan perempuan, Alquran menjelaskan:
       ﮖﮗ         ﮛﮜ                                ﮥﮦ              ﮫﮬ                             ﯘﯙ                  ﯢﯣ                      ﯩﯪ                ﯱﯲ                   ﯺﯻ      ﯾﯿ                    النساء: ١١
Artinya: Allah mensyari'atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan[21]; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua[22], Maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, Maka ia memperoleh separo harta. dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), Maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, Maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.


4.       Saksi
                   ﭚﭛ        ﭟﭠ                   ﭨﭩ                          ﭵﭶ                         ﭿ                    ﮇﮈ         ﮌﮍ                                             ﮤﮥ                      ﮮﮯ                      ﯙﯚ                                ﯦﯧ      ﯪﯫ                   ﯰﯱ          ﯶﯷ     ﯹﯺ    ﯼﯽ    ﯿ         البقرة: ٢٨٢

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah[23] tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau Dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, Maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). jika tak ada dua oang lelaki, Maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa Maka yang seorang mengingatkannya. janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu'amalahmu itu), kecuali jika mu'amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, Maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. jika kamu lakukan (yang demikian), Maka Sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.




5.       Poligami
                               ﮒﮓ                     ﮜﮝ            النساء: ٣
Artinya: dan jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. kemudian jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil[24], Maka (kawinilah) seorang saja[25], atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.
Al Qur’an memandang sama antara kedudukan laki-laki dan perempuan. Tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan, kalaupun ada maka itu adalah akibat fungsi dan tugas-tugas utama yang dibebankan agama kepada masing-masing jenis kelamin melalui ajaran al qur’an dan as sunnah. Sehingga perbedaan yang ada tidak mengakibatkan yang satu merasa memiliki kelebihan atas yang lain, melainkan mereka saling melengkapi dan perbedaan yang mendasar adalah dalam dalam ketaqwaan dan amal shaleh.
                       ﭿﮀ            ﮅﮆ             الحجرات: ١٣
Artinya: Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.

ﭿ                                     النساء: ١٢٤
Artinya: Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, Maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.
                             ﯣﯤ                            آل عمران: ٣٦
Artinya: Maka tatkala isteri 'Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: "Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai Dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk."


D.      Penutup
Kesetaraan merupakan keadaan yang menunjukkan adanya tingkatan yang sama, kedudukan yang sama, tidak lebih tinggi atau tidak lebih rendah antara satu sama lain.
Kesetaraan manusia bermakna bahwa manusia sebagai mahkluk Tuhan memiliki tingkat atau kedudukan yang sama. Tingkatan atau kedudukan yang sama itu bersumber dari pandangan bahwa semua manusia tanpa dibedakan adalah diciptakan dengan kedudukan yang sama, yaitu sebagai makhluk mulia dan tinggi derajatnya dibanding makhluk lain.
Al Qur’an memandang sama antara kedudukan laki-laki dan perempuan. Tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan, kalaupun ada maka itu adalah akibat fungsi dan tugas-tugas utama yang dibebankan agama kepada masing-masing jenis kelamin melalui ajaran al qur’an dan as sunnah. Sehingga perbedaan yang ada tidak mengakibatkan yang satu merasa memiliki kelebihan atas yang lain, melainkan mereka saling melengkapi dan perbedaan yang mendasar adalah dalam dalam ketaqwaan dan amal shaleh.
Diantara tema yang sering dibicarakan dalam diskursus pembahasan gender adalah:
1.       Asal kejadian manusia. Bahwa sangat diskriminatif jika dikatakan bahwa Adam adalah manusia pertama. Klaim yang disosialisasikan adalah bahwa “nafsun wahidah” lah yang pertama kali diciptakan Allah, dan buka laki-laki.
2.       Kepemimpinan (qawwamah). Pembahasan kepemimpinan lokal dalam skup rumah tangga yang diluaskan seolah menjadi genderang perang terhadap Al-Quran yang diklaim menutup hak politik dan publik para perempuan.
3.       Warits. Satu-satunya wacana klasik yang diperdebatkan dalam masalah ini adalah bahwa dalam masalah perwarisan perempuan mendapatkan jatah setengah bagian laki-laki. Padahal warisan adalah sebuah sistem komprehensif dab tidak boleh dipahami dan dilaksanakan secara parsial saja. Hanya ada 4 kondisi saat itu perempuan menerima setengah bagian laki-laki. Ada 8 kondisi saat itu perempuan menerima bagian sempurna seperti laki-laki. Ada 10 kondisi saat itu perempuan menerima bagian lebih banyak dari laki-laki. Bahkan ada beberapa kondisi saat itu perempuan menerima bagian, sementara laki-laki tidak mendapatkannya.
4.       Poligami. Adapun poligami yang dihalalkan Allah disosialisasikan untuk diperangi, sebagai bentuk perbudakan dan perlakuan tidak adil yang dialami perempuan. Karena perempuan tidak diperbolehkan memiliki pasangan lebih dari satu. Sebuah upaya untuk menutupi perilaku selingkuh dan perzinahan. Hal ini memanfaatkan sisi emosional para perempuan yang memang sangat sedikit atau bahkan tak ada yang bersedia diduakan.
5.       Persaksian perempuan. Sama seperti poin-poin sebelumnya, perlakuan tak adil (diskriminatif) terhadap perempuan dalam masalah persaksian sama halnya seperti menempatkan perempuan sebagai setengah manusia.



DAFTAR PUSTAKA
A.Hamid Hasan Qolay, Kunci Indeks dan Klasifikasi Ayat-ayat Alquran, Jilid I, (Bandung: Pustaka, 1989).
Abdullah Karim, Reinterpretasi Ayat-ayat Bias Gender (Interpretasi Anilisis Surah an-Nisa Ayat 1 dan 34), (Banjarmasin: Puslit IAIN Antasari, 2003).
Ibnu Kastir, Tafsir al-Quran al-‘Adzim, (Bairut: Darul Fikr, 1996).
John M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris-Indonesia (Jakarta: Gramedia, cet. XII, 1983).
M Quraish Shihab., Tafsir Al- Misbah, Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, (Jakarta: Lentera Hati; 2000).
M. Fakih, Analisis Gender dan Transformasi Sosial, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006).
M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern (1200 – 2008 M), (Jakarta: Serambi, Cet. I, November 2008).
Muhammad bin Isma’il Al-Amiru Al-Yamani Ash-Shan’ani, Subulus Salam Syarah Bulughul Maram, (Riyadh: Maktabah Nazzar Musthafa Al-Baz, 1995 M/1415H).
Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Jender Perspektif Al-Qur'an (Jakarta: Paramadina, 1999).
Said Agil Husain Al Munawar, Al-Qur’an membangun Tradisi Kesalehan Hakiki, (Ciputat: PT Ciputat Press, 2005).
Santrock, Life Span Development: Perkembangan Masa Hidup, (Jakarta: Erlangga, 2003).
Setda Kota Medan, Buku Saku Pemberdayaan Perempuan (Medan: buku pres, 2000).
Victoria Neufeldt (Ed.), Webster’s New World Dictionary (New York: Webster’s New World Clevenland, 1984).




[1] John M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris-Indonesia (Jakarta: Gramedia, cet. XII, 1983), h. 265.
[2] Victoria Neufeldt (Ed.), Webster’s New World Dictionary (New York: Webster’s New World Clevenland, 1984), h. 561.
[3] Setda Kota Medan, Buku Saku Pemberdayaan Perempuan (Medan: buku pres, 2000), h. 1.
[4] Setda Kota Medan, Buku Saku Pemberdayaan Perempuan, h. 1.
[5] M. Fakih, Analisis Gender dan Transformasi Sosial, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006), h. 71.
[6] Santrock, Life Span Development: Perkembangan Masa Hidup, (Jakarta: Erlangga, 2003), h. 365.
[7] M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern (1200 – 2008 M), (Jakarta: Serambi, Cet. I, November 2008), h. 45.
[8] M. Fakih,  Analisis  Gender...h. 4.
[9] Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Jender Perspektif Al-Qur'an (Jakarta: Paramadina, 1999), h. 35.
[10] Alquran memang menyebut kata Adam sebanyak 25 kali, lihat A.Hamid Hasan Qolay, Kunci Indeks dan Klasifikasi Ayat-ayat Alquran, Jilid I, (Bandung: Pustaka, 1989), h. 51-52. Kata tersebut adalah pinjaman dari bahasa Ibrani, yang dalam kenyataannya merupakan suatu kata benda kolektif, berarti ‘manusia’
[11] Maksud dari padanya menurut jumhur mufassirin ialah dari bagian tubuh (tulang rusuk) Adam a.s. berdasarkan hadis riwayat Bukhari dan Muslim. di samping itu ada pula yang menafsirkan dari padanya ialah dari unsur yang serupa Yakni tanah yang dari padanya Adam a.s. diciptakan.
[12] Menurut kebiasaan orang Arab, apabila mereka menanyakan sesuatu atau memintanya kepada orang lain mereka mengucapkan nama Allah seperti: As aluka billah artinya saya bertanya atau meminta kepadamu dengan nama Allah.
[13] Yang dimaksud dengan Muslim di sini ialah orang-orang yang mengikuti perintah dan larangan pada lahirnya, sedang yang dimaksud dengan orang-orang mukmin di sini ialah orang yang membenarkan apa yang harus dibenarkan dengan hatinya.
[14] Lihat penelitian tentang korelasi hadis-hadis tentang penciptaan wanita dari tulang rusuk sebagai penafsiran surah an-Nisa ayat 1 dalam Abdullah Karim, Reinterpretasi Ayat-ayat Bias Gender (Interpretasi Anilisis Surah an-Nisa Ayat 1 dan 34), (Banjarmasin: Puslit IAIN Antasari, 2003).
[15] Said Agil Husain Al Munawar, Al-Qur’an membangun Tradisi Kesalehan Hakiki, (Ciputat: PT Ciputat Press, 2005), H. 197.
[16] Ibnu Kastir, Tafsir al-Quran al-‘Adzim, (Bairut: Darul Fikr, 1996), h. 200.
[17] M Quraish Shihab., Tafsir Al- Misbah, Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, (Jakarta: Lentera Hati; 2000), h. 234.
[18] M Quraish Shihab., Tafsir Al- Misbah, …, h. 235.
[19] M Quraish Shihab., Tafsir Al- Misbah, …, h. 235.
[20] Muhammad bin Isma’il Al-Amiru Al-Yamani Ash-Shan’ani, Subulus Salam Syarah Bulughul Maram, (Riyadh: Maktabah Nazzar Musthafa Al-Baz, 1995 M/1415H), hal.1924
[21] Bagian laki-laki dua kali bagian perempuan adalah karena kewajiban laki-laki lebih berat dari perempuan, seperti kewajiban membayar maskawin dan memberi nafkah. (Lihat surat An Nisaa ayat 34).
[22] Lebih dari dua Maksudnya : dua atau lebih sesuai dengan yang diamalkan Nabi.
[23] Bermuamalah ialah seperti berjualbeli, hutang piutang, atau sewa menyewa dan sebagainya.
[24] Berlaku adil ialah perlakuan yang adil dalam meladeni isteri seperti pakaian, tempat, giliran dan lain-lain yang bersifat lahiriyah.
[25] Islam memperbolehkan poligami dengan syarat-syarat tertentu. sebelum turun ayat ini poligami sudah ada, dan pernah pula dijalankan oleh Para Nabi sebelum Nabi Muhammad s.a.w. ayat ini membatasi poligami sampai empat orang saja.