"Nasir Khusraw"

Sang Elang berujar: "Ruzi zi sar i- sang 'uqubi bi hava khas
Bahr-i talab-i tu'mih, par o bal biyarast"
 

Rabu, 15 Mei 2013

Mashlahah

Hifzd al-Mashlahah
Muhammad Dainuri, S.Th.I

Pendahuluan

Zaman berkembang kian pesat. Seiring dengan itu, paradigma pemenuhan kebutuhan hidup mengalami pergeseran. Berbagai metode pencapaian kesejahteraanpun beragam. Dalam kaitannya dengan kehidupan keberagaman, berbagai masalah kontemporer yang timbul menyertainya harus disikapi secara hukum. Disisi lain, secara tekstual nash-nash  syari’at tidak menyikapi semua permasalahan yang timbul tersebut berikut detail-detailnya secara spesifik. Bila mashlahah tidak dipertimbangkan sebagai salah satu metode ijtihad, betapa banyak kemaslahatan manusia yang terabaikan, penalaran hukum shara’ akan mengalami stagnashi, jumud, bahkan akan memunculakn kesan bahwa syari’at Islam tidak relevan lagi dengan perkembangan zaman. Oleh karena itu, perlu dirumuskan metode penalaran baru yang mengakomodasi kemaslahatan manusia. karena Islam sebagai rahmat bagi alam semesta.
Qawa’id fiqhiyyah sebagai landasan umum dalam perilaku sosial memberikan panduan bagi masyarakat untuk melakukan interaksi dengan sesamanya. Dalam hal ini, pemahaman terhadap qawa’id fiqhiyyah adalah mutlak diperlukan untuk melakukan suatu ijtihad atau pembaharuan pemikiran. Para ulama dan fuqaha terdahulu, sejak akhir abad ke-2 Hijriyyah telah merintis batu peletakan qawa’id melalui karya-karya agung mereka, yang sampai kini masih terlihat manfaatnya untuk diimplementasikan dalam kehidupan modern, baik dalam sektor ibadah, muamalah, jinayah termasuk juga ekonomi. Para ulama/fuqaha dari keempat madzhab fiqh menyusun qawa’id dalam jumlah yang begitu banyak, sebagiannya sama atau serupa, sehingga susah untuk diketahui jumlahnya secara pasti.
Dengan menilik ijtihad dari kalangan sahabat dan generasi setelahnya, diketahui bahwa pada beberapa kasus, mereka bertindak dan berfatwa berdasakan prinsip mashlahah, tanpa mengikatkan diri pada perangkat normatif qiyas, yakni tanpa didukung oleh pengukuhan nash  secara eksplisit dan spesifik. Hal ini berjalan tanpa seorangpun yang mengingkarinya. Ini menimbulkan asumsi terbentuknya ijma’  atas keabsahan  metode penggalian hukum itu berdasarkan al-munasib atau yang disebut dengan mashlahah mursalah.
Fakta sejarah membuktikan bagaimana Abu Bakar ra. Merintis upaya pengumpulan lembaran-lembaran al-Qur’an (tadwin) atas saran Umar bin Khatab ra. yang kemudian diteruskan pada masa pemerintahan Ustman bin ‘Afan ra. Hingga tercetus program standarisasi mushaf.
Begitu juga Umar bin Khatab ra. Ia menetapkan talak tiga walau dengan sekali ucapan. Umar juga menghentikan pembagian zakat kepada kaum mu’alaf, menetapkan pembayaran pajak. Mengadakan tertib administrasi, pembangunan rumah-rumah tahanan dan penghapusan hukuman penggal tangan bagi pencuri ketika musim paceklik.
Khalifah lain, Ustman bin Afan, ia mempersatukan umat Islam dengan satu mushaf dan membakar seluruh mushaf lainnya, disamping menyebarkan mushaf yang satu itu keberbagai negara. Ustman juga menetapkan penerimaan harta waris bagi istri yang ditalak lantaran maksud menghindari jatuhnya harta waris kepadanya.
Bahkan khalifah Ali bin Abi Tholib pernah membakar penghianat dari kaum Syi’ah- Rafidhah. Ulama’ Shafi'iyah  menjatuhkan hukuman qisas bagi gerombolan yang membunuh manusia (pembunuhan berkelompok).
Banyak bukti sejarah yang mengistinbath hukum dari nash-nash agama dengan pendekatan mashlahah. Kenyatan-kenyatan sejarah dan metode intinbath huku melalui konsep mashlahah inilah yang dalam tulisan ini akan ditelusuri dengan menganalisis dan melihatnya dari sudut pandangan Kaidah Fiqhiyah yang berbicara tentang kemashlahatan.

Hifz al-Mashlahah
A.  KAIDAH DASAR TENTANG MASHLAHAH
لاضرر ولا ضرار
“Tidak boleh berbuat sesuatu yang membahayakan”
Lima Kaidah Besar, atau biasa disebut Al-Qowaidul Khomastul Kubro merupakan kaidah pokok yang paling dasar. Biasanya kaidah-kaidah fiqih yang lain bermuara pada kaidah-kaidah fiqih ini. Lima kaidah ini adalah:[1]
1.   Sesungguhnya suatu amalan tergantung pada niatnya (إِنَّمَاالأَعْمَالُبِالنِّيَّاتِ)
2.   Sesuatu yang yakin tidak bisa dihilangkan dengan keragu-raguan (اليَقِيْنُ لَا يَزُوْلُ بِالشَّكّ)
3.   Kesulitan membawa kemudahan (المَشَقَّةُ تَجْلِبُ التَّيْسِيْرَ)
4.   Adat dapat menjadi patokan hukum (العادة محكمة)
5.   Tidak boleh berbuat sesuatu yang membahayakan (لاَ ضَرَرَ وَلَا ضِرَا رَ)
Kaidah yang dicetuskan ulama tentang kemashlahah umat terletak pada kaidah yang kelima yaitu لاَ ضَرَرَ وَلَا ضِرَا رَ Tidak boleh berbuat sesuatu yang membahayakan. Dalam Kitab al-Wajiz disebutkan bahwa sebagian kitab yang membahas kaidah fiqhiyyah, menyebutnya dengan lafaz: الضَرَرُ يُزَالُ “Sesuatu yang membahayakan itu harus dihilangkan.[2]” Dengan makna yang sama tetapi dengan ungkapan yang berbeda, namun ungkapan لاَ ضَرَرَ وَلَا ضِرَا ر lebih baik dengan beberapa alasan berikut:
1.     Bahwa lafaz لاَ ضَرَرَ وَلَا ضِرَا رَ adalah nash Nabi, dan bagaimanapun juga nash dari Nabi lebih diutamakan dari yang lainnya.
2.     Kaidah diatas mempunyai cakupan yang lebih luas, yaitu menghilangkan kemudharatan yang berhubungan dengan diri sendiri maupun orang lain, baik dia yang memulai maupun saat membalas kejahatan orang lain.
3.     Kekuatan dalil kaidah fiqhiyah yang terambil langsung dari nash Nabi jauh diatas kekuatan sebuah kaidah fiqhiyyah yang bukan diambil langsung dari sabda beliau.[3]

1.   Dalil-dalil Kaidah
Kaidah لا ضرر ولا ضرار  diambil dari ungkapan Nabi SAW sendiri yang termuat dalam Hadis Nabi SAW sendiri, yaitu:
عن أبي سعيد سعد بن سنان الخدري رضي الله عنه : أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ( لا ضرر ولا ضرار )
Dari Abi Sa’id al-Khudzri Ra. Bahwa Nabi SAW bersabda “Tidak boleh berbuat sesuatu yang membahayakan”.[4]
Selain hadis diatas banyak sekali dalil syar’i yang menguatkan kandungan dari hadis yang dijadikan kaidah ini, selain hadis diatas yang merupakan pokok kaidah ini, yang intinya adalah tentang menghilangkan sesuatu yang membahayakan diri dan orang lain dengan cara apapun, diantaranya adalah:[5]
1.     Firman Allah tentang larangan wasiat yang membahayakan:
مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصَى بِهَا أَوْ دَيْنٍ غَيْرَ مُضَارٍّ
“Setelah ditunaikan wasiat yang dibuat olehnya atau setelah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat kepada ahli waris.” (QS. An An Nisa’: 12)

2.     Firman Allah tetang larangan ruju’ kepada istri untuk tujuan membahayakannya:
وَإِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ سَرِّحُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ وَلَا تُمْسِكُوهُنَّ ضِرَارًا لِتَعْتَدُوا وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهُ
“Apabila kamu mentalak istri-istrimu, lalu mereka mendekati masa iddahnya, maka rujuklah kepada mereka dengan cara yang bagus atau ceraikanlah dengan cara yang baik pula, janganlah kamu rujuk pada mereka untuk memberi kemudhorotan, karena dengan demikian kamu telah berbuat yang menganiaya mereka. Barang siapa yang berbuat demikian maka berarti dia telah berbuat dholim kepada dirinya sendiri.” (QS. Al Baqoroh: 231)
3.     Firman Allah tentang masalah menyusui anak:
لَا تُضَارَّ وَالِدَةٌ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوْلُودٌ لَهُ بِوَلَدِهِ
“Janganlah seorang ibu mendapatkan kemudhorotan disebabkan oleh anaknya dan juga seorang ayah karena anaknya.” (QS. Al Baqoroh: 233)

4.     Firman Allah Ta’ala:
أَسْكِنُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ سَكَنْتُمْ مِنْ وُجْدِكُمْ وَلَا تُضَارُّوهُنَّ لِتُضَيِّقُوا عَلَيْهِنَّ
“Tempatkanlah mereka (para istri) dimana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka.” (QS. Ath Tholaq: 6)

5.     Firman Allah dalam hadis Qudsi:
يَا عِبَادِى إِنِّى حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِى وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوا
“Wahai hambaKu, sesungguhnya Aku mengharamkan kedholiman atas diriKu, maka janganlah kalian saling mendholimi.” (HR. Muslim 4/1994)

masih banyak lagi dalil lainya.

2.   Pengertian Kaidah
Hadis لاَ ضَرَرَ وَلَا ضِرَا ر yang dijadikan kaidah fiqhiyah ini dalam pandangan ulama, mereka berbeda pendapat saat menjelaskannya. Namun apapun perbedaan itu, semuanya tetap menuju pada sebuah tujuan yang sama yaitu sesuatu yang membahayakan harus dihilangkan secara hukum syar’i.
Secara etimologi al-Dharar berarti:[6]
 إلحاق مفسدة بالغير مطلقا
sedangkan al-Dhirar adalah:
مقابلة الضرر بالضرر أو إلحاق مفسدة بالغير على جهة المقابلة.
Atau dalam ungkapan lain:[7]
بأن لا يضر الرجل أخاه إبتداء ولا جزاء
Imam Ibnu Abdil Bar berkomentar tentang sabda Nabi: لاَ ضَرَرَ وَلَا ضِرَا ر ini, bahwa ada yang mengatakan bahwa keduanya adalah dua lafaz tapi mengandung arti yang sama, tujuan Nabi mengungkapkan keduanya itu hanya untuk semakin menguatkan pembicaraan”.[8] Berbeda dengan pendapat tersebut, Ibnu Habib yang lebih melihat pada kandungan makna hadis Nabi tersebut menyatakan bahwa “Lafaz “ضَرَرَ” menurut para pakar bahasa arab adalah sesuatu yang membahayakan, sedangkan “ضِرَارَ ” adalah perbuatan yang membahayakan itu sendiri. Beliau juga mengatakan bahwa makna ضَرَرَ adalah janganlah seseorang itu berbuat sesuatu yang dia tidak melakukannya untuk dirinya sendiri, sedangkan arti ضِرَارَ adalah janganlah seseorang itu membahayakan orang lain.[9]
Lebih jelasnya lagi apa yang diungkapkan oleh Al Khusyani tentang makna ضَرَرَ yaitu sesuatu yang membahayakan bagi orang lain namun ada manfaatnya bagi yang melakukan kemudarathan itu, dhiror adalah perbuatan yang sama sekali memberikan mudharat bagi orang lain tanpa ada manfaatnya.[10]
Disamping itu, ada ulama lainnya juga mempadankan lafaz لاَ ضَرَرَ وَلَا ضِرَا ر mirip dengan lafaz القتل yang artinya membunuh dan lafaz القتال yang berarti memerangi, maksudnya adalah bahwa makna dharar adalah berbuat sesuatu yang membahayakan orang lain yang mana dia tidak berbuat yang membahayakan dirinya, sedangkan makna dhirar adalah berbuat sesuatu yang membahayakan orang lain yang mana dia berbuat jahat kepadanya kalau hal itu tidak dilakukan untuk membela sebuah kebenaran. Syaikh Ahmad Az Zarqo mengemukakan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang perbedaan antara kedua lafaz ini menjadi banyak pendapat, namun  Ibnu Hajar al Haitsami dalam syarah Arba’in Nawawiyah menyebutkan bahwa yang paling bagus adalah makna لا ضرر adalah larangan berbuat yang membahayakan orang lain secara muthlak, sedangkan makna لا ضرار adalah jangan berbuat sesuatu yang membahayakan orang lain meskipun untuk membalas perbuatan jahatnya.”[11]
Hadis ini menunjukkan bahwa semua bentuk perbuatan yang membahayakan harus dihilangkan dan tidak boleh di kerjakan, karena Nabi mengungkapkannya dengan bentuk penafian, yang mencakup semua bentuk perbuatan yang membahayakan.[12]
Semua keterangan ini adalah tertuju pada larangan untuk berbuat sesuatu yang membahayakan orang lain kalau tanpa ada sebab yang membenarkan perbuatan tersebut, namun kalau ada sebab yang membenarkannya secara syar’i, maka itu diperbolehkan. Misalnya memotong tangan seorang yang mencuri, merajam orang yang berzina muhsan dan lainnya, karena meskipun semua ini ada sisi kemudharatannya, namun hal itu diperbolehkan karena dilakukan dengan cara yang benar, dan mudharat yang ditimbulkannya tidak sebanding dengan manfaat yang dihasilkannya.
Kalau dicermati, bahwa perbuatan yang membahayakan orang lain tanpa ada sebab yang membolehkannya secara syar’i itu ada dua kemungkinan, yaitu:[13]
1.     Perbuatan yang memang dilakukan dengan tujuan membahayakan orang lain dan sama sekali tidak bermanfaat bagi pelakunya kecuali hanya untuk membahayakan orang lain saja. Maka perbuatan ini jelas-jelas terlarang. Banyak sekali dalil yang menunjukkan akan hal ini.
2.     Perbuatan yang membahayakan orang lain namun ada manfaatnya bagi pelakunya, seperti kalau seseorang berbuat sesuatu dalam miliknya sendiri namun mengakibatkan bahaya bagi orang lain,[14] maka hukumnya ada dua kemungkinan:
a.        Pertama: kalau hal itu dilakukan dengan cara yang tidak wajar, maka dia harus mengganti kerugian yang diderita oleh orang lain tersebut, seperti kalau dia membakar sampah miliknya ditanahnya sendiri pada saat terik matahari yang sangat menyengat dan angin sedang berhembus kencang, lalu tidak dia jaga menjalarnya api dan selanjutnya api tersebut membakar benda milik tetangganya maka dia wajib mengantinya.
b.       Kedua: Kalau hal itu dilakukan dengan cara yang wajar, maka para ulama berselisih pendapat akan boleh dan tidaknya. Namun yang rajih bahwa hal tersebut juga dilarang. seperti seseorang yang memelihara ayam ditengah-tengah perkampungan yang baunya sangat mengganggu masyarakat sekitar, membuat bangunan yang tinggi sehingga bisa melihat aurat tetangganya, mengunakan bahan peledak untuk mengambil batu di gunung kalau hal itu bisa merobohkan atau meretakkan bangunan rumah yang ada disekitarnya dan beberapa contoh yang semisalnya.

2.   Kedudukan kaidah
Kaidah ini mempunyai kedudukan yang sangat mendasar dalam syariat agama Islam, bahkan bukan berlebihan kalau dikatakan bahwasanya kaidah ini mencakup separuh agama Islam, karena syariat Islam dibangun atas dua hal yaitu mendatangkan kemaslahatan dan menghilangkan kemudharatan, dan kaidah ini mencakup semua bentuk kemudharatan harus dihilangkan.[15] Kaidah ini juga merupakan salah satu rukun syariat Islam yang mendasar, yang mana kandungannya dikuatkan oleh banyak sekali dalil dari Alquran adan Sunnah. Kaidah ini merupakan pondasi untuk mencegah perbuatan yang membahayakan, juga pondasi untuk mengganti kerugian perbuatan yang membahayakan tersebut baik secara perdata maupun pidana, kaidah ini merupakan dasar bagi para fuqaha dalam menentukan berbagai permasalahan yang berhubungan dengan banyak kejadian.[16] Bahkan dapat dikatakan kebanyakan permasalahan fiqhiyah didasari dari kaidah ini, sepert; pengembalian barang karena cacat dan diantara termasuk semua khiyar, qishas, hudud dan kafarat, Dhaman, memerangi orang kafir dan bughat.[17]

3.   Penerapan kaidah
Diantara penerapan kaidah ini, ada yang terambil dari atsar para sahabat ataupun yang ditegaskan oleh para ulama. Diantaranya adalah:[18]
1.     Tidak boleh bagi seseorang membangun rumah lebih tinggi dari tetangganya kerena akan menghalangi udara atau cahaya kepada rumah tetangganya tersebut.
2.     Tidak boleh melarang orang melawati jalan umum.
3.     Tidak boleh menjual barang yang sudah jelas cacatnya tanpa menyebutkannya.
4.     Barang siapa yang barangnya dirusak oleh orang lain, maka dia tidak boleh merusak barang milik orang lain tersebut, karena itu akan memperluas kemudharatan tanpa ada faedah yang berarti, namun cukup dengan meminta ganti rugi.
5.     Seandainya ada seseorang yang menyewa tanah orang lain untuk ditanami padi atau tanaman lainnya, lalu habis masa sewa padahal padi masih belum waktunya panen, maka tanah itu masih berada dalam genggaman yang menyewa sampai masa panen dengan membayar sewa tanah tambahan sesuai adat yang berlaku di masyarakat, itu demi menghilangkan kemudharatan kalau tanaman harus di panen sebelum waktunya.
6.     Haram merokok, karena itu akan membahayakan diri pelaku dan orang yang ada disekitarnya.
7.     Boleh bagi pemerintah untuk melarang para pedagang dari mengimport barang dari luar negeri kalau hal itu akan membahayakan perkonomian dalam negeri, begitu pula sebaliknya boleh bagi pemerintah untuk melarang eksport barang keluar negeri kalau barang tersebut sangat terbatas dan tidak mencukupi kebutuhan penduduk negeri tersebut.
8.     Dilarang menimbun makanan atau benda lain yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat karena itu akan membahayakan mereka.
9.     Kalau ada seseorang yang pesan kepada tukang kayu untuk dibuatkan lemari, maka dia wajib untuk menerimanya kalau si tukang telah membuatkan sesuai dengan kriteria yang disepakati, karena kalau tidak maka akan memudharatkan tukang kayu tersebut.
10.Apabila ada seseorang yang mengalirkan air bekas mandi maupun mencuci dari rumahnya ke jalan sehingga mengotori dan membuat banjirnya jalanan dan mengganggu orang yang lewat dijalan tersebut, maka pemilik rumah tersebut harus membuntunya atau mengalirkan ke arah lainnya.
11.Jika ada seseorang yang membuat bangunan sampai ke arah jalan umum sehingga mengganggu orang atau kendaraan yang lewat, maka harus di robohkan bangunan yang mengganggu tersebut
12.Jika ada pohon milik seseorang yang tinggi dan besar sehingga dahannya mengganggu tetangga, maka harus dipotong dahan tersebut.

B.  QAWAID FAR’IYYAH (CABANG-CABANG KAIDAH)
Ada beberapa kaidah yang merupakan cabang dari kaidah besar ini. Diantaranya adalah:
1.   Al-Dharar Yudfa’u Biqadr al-Imkan
الضَرَرُ يُدْفَعُ بِقَدْرِ الْإِمْكَانِ
(Sesuatu yang membahayakan harus diantisipasi semampunya)
Bahwa secara hukum syar’i, sesuatu yang membahayakan itu harus diantisipasi semampunya jangan sampai terjadi, kalau hal itu bisa dilakukan tanpa menimbulkan bahaya lainnya, maka itulah yang sebenarnya harus dilakukan. Namun jika tidak memungkinkan, maka dilakukan semampunya meskipun menimbulkan bahaya yang lebih kecil.
Kaidah ini memberikan sebuah faedah untuk menggunakan segala cara yang memungkinkan demi sebuah tindakan preventif atau antisipasi jangan sampai ada sebuah bahaya yang akan datang, sebagaimana ungkapan yang masyhur “menjaga itu lebih baik daripada mengobati”. Dan untuk melakukan hal ini maka dengan batas kemampuan yang ada.[19]

a.        Dalil kaidah:
Diantara yang mendasari kaidah ini adalah firman Allah:
وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآَخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya.” (QS. Al-Anfal: 60)

Sisi pengambilan dalil dari ayat ini bahwa Allah memerintahkan kaum muslimin untuk mempersiapkan kekuatan diri untuk mencegah bahaya yang akan datang dari musuh. Hal itu untuk menakut nakuti mereka, sehingga mereka tidak akan menyerang kaum muslimin, dan seandainya mereka menyerang, maka kaum muslimin sudah punya persiapan diri.

b.       Contoh penerapan kaidah:
1.     Disyariatkan jihad untuk menolak bahaya yang datang dari musuh Islam. Hal ini apabila musuh yang menyulut peperangan maka wajib bagi untuk membela diri, dalam sebuah hadis Nabi SAW menjelaskan:
من شهر سيفه ثم وضعه فدمه هدرا (رواه النسائي)
2.     Maksudnya adalah sebagaimana yang diungkapkan oleh al-Suyuthi:[20]
من أخرج من غمده للقتال وضرب به، فدمه هدر أي لا دية ولا قصاص بقتله
3.     Adanya syariat hukuman bagi para pelaku tindakan kriminal untuk menjaga jangan sampai orang dengan mudah berbuat kejahatan, karena kalau seseorang mengetahui bahwa kalau dia berbuat jahat akan mendapatkan hukuman yang setimpal maka itu kan menyurutkan niatnya.
4.     Boleh untuk menolak transaksi dari seorang yang safih (orang tidak mengerti mengatur keuangan dengan baik) juga dari seorang yang muflis (orang bangkrut dan mempunyai banyak hutang) untuk menahan bahaya yang akan muncul pada hartanya safih maupun orang yang menghutangi muflis tersebut.[21]

2.   Al-Dharar La Yuzalu Bimistlihi
الضَرَرُ لَا يُزَالُ بِمِثْلِهِ
Sesuatu yang membahayakan itu tidak boleh dihilangkan
dengan sesuatu yang membahayakan juga
Kaidah ini dalam ungkapan lain disebut dengan الضرر لا يزال بالضرر hampir semakna dengan لاضرر ولا ضرار atau الضرر يزال, namun ada yang membedakannya, yaitu;[22]
1.     لا ضرر ولا ضرار               : Mengantisipasi terjadinya Mudharat
2.     الضرر يزال           : Menghilangkan mudharat yang telah terjadi
3.   الضرر يدفع بقدر الإمكان  : Menghilangkan mudharat yang telah terjadi dengan semampunya.
Kaidah ini memberikan pemahan bahwa kewajiban untuk menghilangkan sesuatu yang membahayakan itu harus jangan sampai menimbulkan kemudharatan lain yang semisalnya, jadi syarat menghilangkan kemudharatan adalah dengan sesuatu yang tanpa adanya kemudharatan yang lain atau dengan kemudharatan yang lebih kecil. Jadi sebenarnya kaidah ini adalah pengkhususan dari kaidah yang sebelumnya.

Contoh penerapan kaidah:[23]
  • Kalau ada seseorang yang dipaksa membunuh orang lain, jika tidak membunuh maka dia akan dibunuh, maka tidak boleh dia membunuh, karena mudharat yang akan ditimbulkannya sepadan dengan mudharat yang sekarang ada.
  • Kalau ada seseorang yang merusak benda milik orang lain, maka tidak boleh bagi yang dirusak untuk membalas merusak merusak benda orang yang merusak tadi. Tapi dia berhak untuk meminta ganti rugi.
  • Dalam kasus jual beli dipasar seperti ada pedangang yang ramah dengan pembeli dengan keramahannya itu ia dapat memikat pelanggan, maka pedagang lain yang merasa dirugikan karena ada pedangan tersebut maka mereka tidak boleh mengusir dari pasar tersebut.
  • Orang yang kelaparan boleh mengambil hak orang lain yang tidak mau memberinya asalkan tidak memudharatkan orang yang dicurinya barangnya.
  • Ada seseorang yang ingin menjual rumahnya, namun pembeli yang akan membeli rumah itu orang yang jahat, maka pemilik rumah tersebut tidak boleh menjualnya kecuali atas izin dari tetangganya.
  • Dalam kasus pernikahan seperti ada dua orangtua yang ingin menjodohkan anaknya dengan alasan untuk mempererat persaudaraan dan kekeluargaan, namun yang dijodohkan tidak sekufu atau tidak ada ketertarikan dan kemungkinan jika terjadi pernikahan akan terjadi ketidak harmonisan rumah tangga bahkan sampai perceraian maka tidak diperbolehkan.

3.   Dar’ al-Mafasid Aula Min Jalb al-Mashalih
دَرْءُ الْمَفَاسِدِ أَوْلَى مِنْ جَلْبِ الْمَصَالِحِ
(Menghilangkan kemudharatan itu lebih didahulukan
dari mengambil sebuah kemashlahatan)

Maksudnya adalah kalau berbenturan antara menghilangkan sebuah kemudharatan dengan sesuatu yang membawa kemaslahatan maka di dahulukan menghilangkan kemudharatan, kecuali kalau mudharat itu lebih kecil dibandingkan dengan mashlahat yang akan ditimbulkan.

a.    Dalil kaidah:
وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ
“Dan janganlah kamu memaki sesembahan-sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. (QS. Al An’am: 108)

Pengambilan dalil dari ayat ini adalah bahwa memaki sesembahan orang kafir ada sebuah manfaat yaitu merendahkan agama dan sesembahan mereka, namun tatkala maslahat itu berdampak, mereka akan mencela dan memaki Allah, maka Allah melarang mencela sesembahan mereka.

b.    Ukuran maslahat dan mafsadah
Meskipun demikian, kaidah ini tidaklah berlaku secara mutlak, namun perlu untuk diperinci dengan melihat besar kecilnya maslahat dan mafsadah, yaitu:
1.     Jika mafsadahnya lebih besar dibanding maslahatnya, maka menghindari mafsadah itu dikedepankan daripada meraih kemaslahatan tersebut.
2.     Jika maslahatnya jauh lebih besar dibandingkan dengan mafsadah yang akan timbul, maka meraih maslahat itu lebih diutamakan daripada menghindari mafsadahnya. Oleh karena itu jihad berperang melawan orang kafir disyariatkan, karena meskipun ada mafsadahnya yaitu hilangnya harta, jiwa dan lainnya, namun maslahat menegakkan kalimat Allah dimuka bumi jauh lebih utama dan lebih besar.
3.     Apabila maslahat dan mafsadah seimbang, maka secara umum saat itu menolak mafsadah lebih didahulukan daripada meraih kemaslahatan yang ada.

c.    Contoh penerapan kaidah:
1.   Menghindari Mafsadah[24]
a.        Dilarang jual beli minuman keras, babi dan lainnya meskipun ada maslahat dari sisi ekonomi atau kesehatan.
b.       Jika bercampur antara daging yang halal dan yang haram dan tidak dapat dipisahkan antara keduanya, maka semuanya tidak boleh dimakan, karena menolak mafsadah makan daging haram lebih dikedepankan daripada maslahat daging yang halal.
c.        Larangan membuat jendela rumah kalau dengannya bisa melihat aurat tetangganya, meskipun itu ada maslahat baginya.
d.       Boleh mengambil rukhsah dalam ibadah seperti shalat (berduduk, berbaring), puasa (berbuka dalam musafir) dan bersuci (dengan bertayammum) namun tidak boleh dalam kemakshiatan lebih-lebih dalam masalah dosa besar.
e.       Berkumur-kumur dan memasukkan air kedalam hidung adalah sunnah, namun meninggalkannya bagi orang yang puasa lebih dianjurkan karena menghindari batalnya puasa.
f.         Seandai seseorang tidak sanggup menahan dari membuang hajatnya dan hanya ada tempat umum yangmana jika melakukannya akan terlihat auratnya maka ia harus menahannya karena menutup aurat adalah wajib. Begitu juga kalau wanita wajib mandi (haid,nifas atau Janabat) namun tidak ada tempat yang khusus (penutup antara laki-laki), maka ia wajib mencari tempat atau mengulur waktu sehingga datang waktu yang tepat, karena menutup aurat itu wajib.

2.   Mengambil Mashlahah dari Mafsadah[25]
a.      Mengucapkan kalimat kafir dalam keadaan terpaksa, sedangkan hatinya tetap teguh dengan keimanannya.
b.     Shalat wajib dalam keadaan suci darih hadas, namun berbeda dengan halnya orang yang mustahadhah dan sil-sil baul.
c.      Membongkar kuburan bagi mayat yang belum dimandikan atau diyakini salah menghadap kiblat.

3.   Mengambl Mashlahah atau Masfsadah
Seperti tangan orang yang menderita kusta atau yang harus di amputasi namun dalam keadaan takut, namun seandainya ia berani dan yakit maka memotongnya adalah wajib.[26]

4.   Idza Ta’aradha Mafsadatani Ru’iya A’dzamuhuma Dhararan Bi Irtikabi Akhaffihima
إِذَا تَعَارَضَ مَفْسَدَتَانِ رُوْعِيَ أَعْظَمُهُمَا ضَرَرًا بِارْتِكَابِ أَخَفِّهِمَا
(Apabila berbenturan antara dua hal yang membahayakan,
maka harus dihilangkan mudharat yang paling besar
 meskipun harus mengerjakan mudharat yang lebih kecil)

Kaidah yang semakna dengan kaidah ini adalah:
الضرر الأشد يزال بالضرر الأخف atau يختار أهون الشرين أو أخف الضررين
Tiga kaidah ini, berbeda dalam bentuknya namun satu dalam tujuannya yang mana jika sebuah perkara itu dilakukan ataupun tidak dilakukan akan menimbulkan kemudharatan, maka harus diperhitungkan antara mudharat yang besar dengan yang kecil, dan boleh mengerjakan mudharat yang kecil demi menghilangkan mudharat yang besar. Kaidah ini merincikan dari kaidah sebelumnya yaitu: درء المفاسد أولى من جلب المصالح yang mana kaidah ini merupakan cabang dari kaidah asalnya yaitu; لاضرر ولا ضرار
Asal kaidah ini dapat dipahami dari firman Allah berikut:
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ وَصَدٌّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَكُفْرٌ بِهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَإِخْرَاجُ أَهْلِهِ مِنْهُ أَكْبَرُ عِنْدَ اللَّهِ وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ وَلا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: "Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. dan berbuat fitnah[ lebih besar (dosanya) daripada membunuh. mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu Dia mati dalam kekafiran, Maka mereka Itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka Itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (al-Baqarah: 217)

al-Syaukani mengemontari Ayat ini:[27]
فإذا كان من نقمة الكفار على المسلمين من قتال في الشهر الحرام مفسدة فإن ما هم عليه من الصد عن سبيل الله والكفر به وبسبيل هداه وبالمسجد الحرام وإخراج أهله منه أكبر عند الله وأشد ذنبا من القتال في الشهر الحرام.

Kaidah ini didasari oleh banyak dalil, diantaranya:
Dalil Alquran
Kisah Nabi Musa dengan Khidr. Allah berfirman:
فَانْطَلَقَا حَتَّى إِذَا رَكِبَا فِي السَّفِينَةِ خَرَقَهَا قَالَ أَخَرَقْتَهَا لِتُغْرِقَ أَهْلَهَا لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا إِمْرًا (71) قَالَ أَلَمْ أَقُلْ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا (72) قَالَ لَا تُؤَاخِذْنِي بِمَا نَسِيتُ وَلَا تُرْهِقْنِي مِنْ أَمْرِي عُسْرًا (73) فَانْطَلَقَا حَتَّى إِذَا لَقِيَا غُلَامًا فَقَتَلَهُ قَالَ أَقَتَلْتَ نَفْسًا زَكِيَّةً بِغَيْرِ نَفْسٍ لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا نُكْرًا (74) قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكَ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا (75) قَالَ إِنْ سَأَلْتُكَ عَنْ شَيْءٍ بَعْدَهَا فَلَا تُصَاحِبْنِي قَدْ بَلَغْتَ مِنْ لَدُنِّي عُذْرًا (76) فَانْطَلَقَا حَتَّى إِذَا أَتَيَا أَهْلَ قَرْيَةٍ اسْتَطْعَمَا أَهْلَهَا فَأَبَوْا أَنْ يُضَيِّفُوهُمَا فَوَجَدَا فِيهَا جِدَارًا يُرِيدُ أَنْ يَنْقَضَّ فَأَقَامَهُ قَالَ لَوْ شِئْتَ لَاتَّخَذْتَ عَلَيْهِ أَجْرًا  (77) قَالَ هَذَا فِرَاقُ بَيْنِي وَبَيْنِكَ سَأُنَبِّئُكَ بِتَأْوِيلِ مَا لَمْ تَسْتَطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا (78) أَمَّا السَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَاكِينَ يَعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ فَأَرَدْتُ أَنْ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَاءَهُمْ مَلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبًا (79  (وَأَمَّا الْغُلَامُ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤْمِنَيْنِ فَخَشِينَا أَنْ يُرْهِقَهُمَا طُغْيَانًا وَكُفْرًا (80) فَأَرَدْنَا أَنْ يُبْدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيْرًا مِنْهُ زَكَاةً وَأَقْرَبَ رُحْمًا
Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidhr melobanginya. Musa berkata: “Mengapa kamu melobangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?” Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar. Dia (Khidhr) berkata: “Bukankah aku telah berkata: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku” Musa berkata: “Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku”. Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidhr membunuhnya. Musa berkata: “Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar”. Khidhr berkata: “Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?” Musa berkata: “Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan udzur padaku”. Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata: “Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu”. Khidhr berkata: “Inilah perpisahan antara aku dengan kamu; Aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya. Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera. Dan adapun anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya). (QS. Al Kahfi: 71-81)
Sisi pengambilan dalil dari kisah ini, bahwa tatkala benturan antara dua mafsadah, yaitu merusak perahu dengan mafsadah akan dirampas oleh raja yang dholim, maka nabi Khidhr memilih merusak, karena mafsadahnya lebih kecil. Begitu juga dengan perbuatan beliau membunuh anak kecil yang dengan wahyu dari Allah beliau mengetahui bahwa dia akan memaksa orang tuanya menjadi kafir, maka beliau membunuhnya karena pembunuhan anak kecil itu lebih kecil mafsadahnya dibandingkan kekufuran, karena orang tua mereka masih mungkin mendapatkan anak lainnya.[28]
Diantarnya lagi dalam kasus Namimah (adu domba) hukum asalnya adalah diharamkan, namun menjadi harus bahkan wajib apabila mengandung mashlahah,[29] Allah menjelaskan:
فَخَرَجَ مِنْهَا خَائِفًا يَتَرَقَّبُ قَالَ رَبِّ نَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir, Dia berdoa: "Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu". (al-Qashash: 21)

Dalil dari Hadis:
عَنْ عَائِشَةَ – رضى الله عنها أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم قَالَ لَهَا « أَلَمْ تَرَىْ أَنَّ قَوْمَكِ لَمَّا بَنَوُا الْكَعْبَةَ اقْتَصَرُوا عَنْ قَوَاعِدِ إِبْرَاهِيمَ » . فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلاَ تَرُدُّهَا عَلَى قَوَاعِدِ إِبْرَاهِيمَ . قَالَ « لَوْلاَ حِدْثَانُ قَوْمِكِ بِالْكُفْرِ لَفَعَلْتُ
Dari Aisyah bahwasannya Nabi berkata kepadanya: “Tidakkah engkau mengetahui bahwa kaummu (Quraisy) tatkala membangun ka’bah kurang dari pondasi yang dibangun oleh Nabi Ibrahim ? maka saya berkata: “Ya Nabi, kenapa tidak engkau kembalikan kepada pondasinya Nabi Ibrahim ? maka Nabi menjawab: “Seandainya bukan karena kaummu masih baru keluar dari kekufuran niscaya akan aku lakukan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Sisi pengambilan dalil dari hadis ini sangat jelas, yaitu tatkala benturan antara salahnya bangunan ka’bah yang tidak sesuai dengan pondasi yang dibangun oleh Nabi Ibrahim dengan mafsadah fitnah yang akan muncul seandainya Nabi membongkar ka’bah padahal orang-orang Quraisy masih baru masuk Islam, maka beliau memilih mafsadah membiarkan ka’bah apa adanya karena mafsadahnya lebih kecil. Dan masih banyak hadis-hadist yang menunjukkan atas hal ini.

Contoh penerapan kaidah:[30]
  • Seandainya orang yang sholat seandainya dia berdiri akan terbuka auratnya, sedangkan kalau sambil duduk tidak terbuka, maka dia sholat sambil duduk, karena mafsadah terbuka aurat lebih besar dibandingkan mafsadah sholat sambil duduk.
  • Seandainya orang yang shalat dan ia mempunyai luka dan apabila ia sujud darah dari lukanya tersebut akan mengalir, maka dia wajib shalat berduduk dan sujudnya hanya dengan isyarat saja. Ini menurut pendapat yang mana wudhu akan batal apabila ada darah yang mengalir.
  • Abila ada binatang (ayam) yang menelan barang berharga (berlian) maka wajib pemilik berlian itu membrli ayam tersebut untuk disembelih dan dianbil berlian yang ada didalam perutnya.
  • Wajib bagi orang kaya memberikan nafkah kepada keluarganya yang miskin.
  • Apabila seorang wanita meninggal dunia dalam keadaan di perutnya ada janin yang masih hidup dan kalau dikeluarkan dengan bedah akan bisa menyelamatkan jiwanya, maka boleh membedah perut mayit demi keselamatan bayinya.
  • Diantar hukum (jinayat) yang mempertimbangkan mashlahah dan mafsadah seperti; a. Hukuman Qishash, membunuh orang yang terbukti membunuh lebih ringan dari tersebarnya kriminalitas di masyarakat karena tidak dibunuh. b. Hukum Hudud, menerapkan had kepada pelaku maksiat lebih baik dari pada dibiarkan begitu saja. c. Hukum memerangi Bughat, mudharat membunuh mereka lebih ringan dibanding membiarkan mereka sehingga meresahkan masyarakat apalagi terjadi tindak kriminalitas yang tidak disangka-sangka bahkan sangat besar.

5.   Yuhtamalu al-Dhararu al-Khassu Lidaf’i Dhararin ‘Amm
يحتمل الضرر الخاص لدفع ضرر عام
Kemungkinan mengambil mudharat yang khusus
untuk mencegah mudharat yang umum
          Kaidah ini merupakan kaidah yang dihasilkan ulama melalui ijma’ dan pemahaman yang mendalam dari nash-nah Alquran dengan melihat tujuan disyariatkan agama Islam. Islam datang untuk menebarkan kemaslhatan dimuka bumi ini dan menghilangkan kemudharatan apakan lagi mashlah bagi orang banyak. Banyak hukum yang diterapkan Islam sebagai antisipasi terjadinya kejahatan sosial yang menimbulkan keresahan dimasyarakat seperti hukuman potong tangan, dengan tujuan untuk menjaga harta, had untuk penzina dan yang menuduh orang berbuat keji, dengan tujuan untuk memelihara nama baik, hukum bagi pemabuk, karena menjaga pikiran dan membunuh atau memerangi orang yang murtad, denga tujuan untuk menjaga jati diri agama dan jiwa.[31]
Penerapa kaidah:
Memberikan hukuman kepada dokter yang melakukan Mal Praktek, karena akan membahayakan pasiennya. Begitujuga halnya pemerintah menentukan harga standar dalam perdagangan untuk menghindari ada monopoli dan melambungnya harga.

Penutup
Maqasid al-syari’ah dalam syariat Islam mengandung empat aspek, yaitu pertama, tujuan amal disyariatkan adalah kemaslahatan manusia di dunia dan akhirat, ini berkaitan dengan muatan dan hakikat Maqasid al-shari'. Kedua, syari’ah adalah sesuatu yang harus  dipahami  dan ini berkaitan dengan dimensi bahasa agar syari’ah bisa di pahami sehingga dapat dicapai kemaslahtan yang dikandungnya. Ketiga, syari’ah suatu hukum taklif yang harus dilakukan. Keempat, tujuan syari’ah adalah membawa manusia ke bawah naungan hukum berkaitan dengan berkaitan dengan kepatuhan manusia sebagai mukallaf. Dalam istilah lain yang lebih tegas lagi bahwa aspek tujua syari’ah berupaya membebaskan manusia dari kekangan hawa nafsu.
Dari sinilah muncul konsep mashlahah untuk semua umat manusia. Konsep mashlahah tersebutlah yang dirumuskan oleh para ulama dalam kaidah yang menjadi tema sentral dalam menghadapi kasus-kasus perkembangan hukum yang menjadi tantangan untuk dijawab. Salah satu kaidah dasar itu adalah لا ضرر ولا ضرار dari kaidah ini muncul kaidah-kaidah cabang menjawab permasalahan yang global dan parsial, diantaranya:
1.     Yudfa’u Biqadr al-Imkan  (Sesuatu yang membahayakan harus diantisipasi semampunya)
2.     Al-Dharar La Yuzalu Bimistlihi  (Sesuatu yang membahayakan itu tidak boleh dihilangkan dengan sesuatu yang membahayakan juga)
3.     Dar’ al-Mafasid Aula Min Jalb al-Mashalih  (Menghilangkan kemudharatan itu lebih didahulukan dari mengambil sebuah kemashlahatan)
4.     Idza Ta’aradha Mafsadatani Ru’iya A’dzamuhuma Dhararan Bi Irtikabi Akhaffihima  (Apabila berbenturan antara dua hal yang membahayakan, maka harus dihilangkan mudharat yang paling besar meskipun harus mengerjakan mudharat yang lebih kecil)
5.     Yuhtamalu al-Dhararu al-Khassu Lidaf’i Dhararin ‘Amm (Kemungkinan mengambil mudharat yang khusus untuk mencegah mudharat yang umum).


























DAFTAR ISI

‘Ali Ahmad al-Nadawi, Mausu’ah al-Qawaid Wa al-Dhawabith al-Fiqhiyyah Lebanon: Muassasah al-Risalah, 1998.
Abdurrahman al-suyuthi, al-Asybah Wa al-Nadzoir Fi Qawaid Wa Furu’ Fiqh al-Syafi’iyyah Bairut: Dar al-Fikr, 1999.
Ghuzat ‘Ubaid, al-Qawaid al-Fiqhiyyah Ma’a al-Syarh al-Mujaz, Bairut: Dar al-Turmudzi, tt.
Ibnu Nujaim al-Hanafi, al-Asybah Wa al-Nadzoir Bairut: Dar al-Fikr, 1999.
Ibnu Nujaim al-Mishri, Ghamj al ‘Uyun al- Bashair Bairut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiah, tt.
Ibnu Rojab, Jami’ Ulum wal Hikam Bairut: Dar Fikr, tt.
Muhamad Shidqi al Ghozzi, Al Wajiz fi Idlohi qowaid Fiqhil Kulliyah, Beirut: Muassah al-Risalah, 1996.
Muhammad al-Jarqa, al-Madkhal al-Fiqh al-‘Amm Bairut: Dar al-Islamiyah, tt.
Muhammad al-Jarqa, Syarah al-Qawaid al-Fiqhiyyah Damsik: Dar Qalam, tt.
Muhammad Bakar Ismail, al-Qawaid al-Fiqhiyyah Baina al-Ashalah Wa al-Taujih Bairut: Dar al-Minan,tt.
Muhammad Yasin al-Fadani, al-Fawaid al-Janiyyah Saudi: Dar Basyair al-Islamiyah, tt.
Shalih bin Ghanim as-Sadlan, al-Qawaid al-Fiqhiyyah al-Kubra Wama Tafrra’ ‘Anha, Bairut: Daar Balnisah, tt.
Syaukani, Fath al-Qadir al- Jami’ Baina Fan al-Riwayah Wa al-Dirayah Min ‘Ilm al-Tafsir.
Tabqiyuddin al-Hishni, Kitab al-Qawaid Riyadh: Maktab al-Rusyd, 1997.
Wahbah al-Juhaily, al-Qawaid al-Fiqhiyyah Wa Tathbiquha Fi al-Madzahib al-Arba’ah Damsik:Dar al-Fikr, 2006.





[1] Lihat Abdurrahman al-suyuthi, al-Asybah Wa al-Nadzoir Fi Qawaid Wa Furu’ Fiqh al-Syafi’iyyah (Bairut: Dar al-Fikr, 1999), h. 50, lihat Juga Ibnu Nujaim al-Hanafi, al-Asybah Wa al-Nadzoir ((Bairut: Dar al-Fikr, 1999), h. 20, Lihat Shalih bin Ghanim as-Sadlan, al-Qawaid al-Fiqhiyyah al-Kubra Wama Tafrra’ ‘Anha, (Bairut: Daar Balnisah, tt). Namun bentuk dari ungkapan kaidah asal ini berubah dengan beberapa isthilah walaupun dalam kandungan makna yang sama, lihat Muhammad Bakar Ismail, al-Qawaid al-Fiqhiyyah Baina al-Ashalah Wa al-Taujih (Bairut: Dar al-Minan,tt), Wahbah al-Juhaily, al-Qawaid al-Fiqhiyyah Wa Tathbiquha Fi al-Madzahib al-Arba’ah (Damsik:Dar al-Fikr, 2006). ‘Ali Ahmad al-Nadawi, Mausu’ah al-Qawaid Wa al-Dhawabith al-Fiqhiyyah (Lebanon:Muassasah al-Risalah, 1998).
[2] Lihat dalam Muhammad al-Jarqa, Syarah al-Qawaid al-Fiqhiyyah (Damsik: Dar Qalam, tt), h.179. begitu juga, Muhamad Shidqi al Ghozzi, Al Wajiz fi Idlohi qowaid Fiqhil Kulliyah, (Beirut: Muassah al-Risalah, 1996), h.251. Muhammad Yasin al-Fadani, al-Fawaid al-Janiyyah (Saudi: Dar Basyair al-Islamiyah, tt), h.266. lebih jelas perbedaan pendapat tentang ungkapan kaidah ini dapat dilihat dalam Tabqiyuddin al-Hishni, Kitab al-Qawaid (Riyadh: Maktab al-Rusyd, 1997), h. 333.
[3] Lihat Muhamad Shidqi al Ghozzi, Al Wajiz…, h. 251, dalam ungkapan beliau:
ولكن التعبير بصيغة الحديث بصيغة الحديث عن القاعدة أشمل وأفضل حيث يشتمل الضرر إبتداء وقابلة, وايضا يعطى ذلك القاعدة قوة إذ يجعلها دليلا شرعيا صالحا لبنآء الأحكام عليه باعتبار أنها نص حديث نبوي كريم بخلاف قولنا "الضرر يزال" فليس لهذا القول قوة شرعية كنص الخبر.
[4] Lafadz kaedah ini terambil dari sabda Rosululloh yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah 2/784, Baihaqi 10/133, Ahmad 1/313, Daruquthni 4/228, Hakim 2/57 dan beliau mengatakan shohih menurut syarat Imam Bukhori Muslim dan disepakati oleh Imam Dzahabi, Malik 2/745, Abu Dawud dalam Marosil hal : 44 dan lainnya dengan sanad hasan dari jalan beberapa sahabat Rosululloh diantaranya adalah Ubadah bin Shomith, Ibnu Abbas, Abu Sa’id al Khudri, Abu Huroiroh, Jabir bin Abdillah, Aisyah, Tsa’labah bin Abi Malik al Qurodli dan Abu Lubabah Rodliyallohu anhum ajma’in. Lihat Takhrij hadits ini secara lengkap dalam Ibnu Rojab, Jami’ Ulum wal Hikam (Bairut: Dar Fikr, tt), h. 77-79.
[5] Lihat Shalih bin Ghanim as-Sadlan, al-Qawaid al-Fiqhiyyah…, h. 499-500. Lihat juga Disertasi dari Universitas Umm al-Qura, Fakultas Syari’ah yang ditulis oleh ‘Ali Ahmad al-Nadawi dengan judul al-Qawaid al-Fiqhiyah Wa Atsaruha Fi al-Fiqh al-Islami, h. 200-203,
[6] Lihat penjelasan yang lebih rinci dalam Muhamad Shidqi al Ghozzi, Al Wajiz…, h. 252, begitu juga dalam Muhammad al-Jarqa, al-Madkhal al-Fiqh al-‘Amm (Bairut: Dar al-Islamiyah, tt), h. 586. Lihat Muhammad Bakar Ismail, al-Qawaid al-Fiqhiyyah Baina al-Ashalah…, h. 96
[7] Ibnu Nujaim al-Mishri, Ghamj al ‘Uyun al- Bashair (Bairut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiah, tt), h. 114.
[8] Lihat ‘Ali Ahmad al-Nadawi, Mausu’ah al-Qawaid…,h. 51.
[9]  Lihat ‘Ali Ahmad al-Nadawi, Mausu’ah al-Qawaid…,h. 51.
[10] Lihat ‘Ali Ahmad al-Nadawi, Mausu’ah al-Qawaid…,h. 51.
[11] Muhammad al-Jarqa, Syarah al-Qawaid al-Fiqhiyyah…, h. 40, Lihat ‘Ali Ahmad al-Nadawi, Mausu’ah al-Qawaid…,h. 52.
[12] Muhamad Shidqi al Ghozzi, Al Wajiz…, h. 252
[13] Muhamad Shidqi al Ghozzi, Al Wajiz…, h. 252
[14] Muhamad Shidqi al Ghozzi, Al Wajiz…, h. 252-253. Ia mengungkapkan:
إلحاق الضرر بغير حق على نوعين: أحدهما: أن لا يكون له في ذلك غرض سوى الضرر بذلك الغير أي ليس ثمة نفع يعود عليه، فهذا لا ريب في قبحه وتحريمه. والنوع الثاني: أن يكون له غرض آخر صحيح مثل ان يتصرف في ملكه بما فيه مصلحة له فيتعدى ذلك إلى ضرر غيره، أو يمنع غيره من الإنتفاع بملكه فيتضرر الممنوع بذلك.
[15] Lihat Ibnu Najjar Al Hanbali, Syarah Kaukab Munir (Bairut: Dar Kutub, tt), Juz. 4, h. 443.
[16] Muhammad al-Jarqa, al-Madkhal al-Fiqh al-‘Amm…, Juz, 2, h. 977, Muhamad Shidqi al Ghozzi, Al Wajiz…, h. 254, lihat juga Shalih bin Ghanim as-Sadlan, al-Qawaid al-Fiqhiyyah al-Kubra…, h. 503.
[17] Muhamad Shidqi al Ghozzi, Al Wajiz…, h. 254.
[18] Contoh-contoh ini dapat dilihat dalam Muhammad Bakar Ismail, al-Qawaid al-Fiqhiyyah Baina al-Ashalah…, h. 96-98, lihat juga dalam Shalih bin Ghanim as-Sadlan, al-Qawaid al-Fiqhiyyah al-Kubra…, h. 503-505. Lebih rinci dalam pembahasan ini dapat dilihat dalam Wahbah al-Juhaily, al-Qawaid al-Fiqhiyyah…, h. 200-202. Begitu juga dalam ‘Ali Ahmad al-Nadawi, Mausu’ah al-Qawaid…, h. 64-67. Lihat juga pembahasan dalam al-Qawaid al-Fiqhiyyah Ma’a al-Syarh al-Mujaz, h. 27-28.
[19] Al-Qawaid al-Fiqhiyyah al-Kubra, h. 508.
[20] Al-Suyuthi, Syarh Sunan al-Nasai, Juz, 7, h.117.
[21] Al-Qawaid al-Fiqhiyyah al-Kubra, h. 510.
[22] Al-Madkhal Ila al-Qawaid al-Fiqhiyah al-Kulliyah, h. 89.
[23] Contoh-contoh ini dapat dilihat dalam al-Qawaid al-Fiqhiyah, Baina al-Ashalah Wa al-Taujih…, h. 100-101, lihat juga dalam Al-Qawaid al-Fiqhiyyah al-Kubra…, h. 512-513. Lebih rinci dalam pembahasan ini dapat dilihat dalam al-Qawaid al-Fiqhiyyah Wa Tathbiquha Fi al-Madzahib al-Arba’ah, h. 215-217. Begitu juga dalam Lihat ‘Ali Ahmad al-Nadawi, Mausu’ah al-Qawaid Wa al-Dhawabith al-Fiqhiyyah, 64-67. Lihat juga pembahasan dalam al-Qawaid al-Fiqhiyyah Ma’a al-Syarh al-Mujaz, h. 30-31.
[24] Contoh-contoh ini dapat dilihat dalam Muhammad Bakar Ismail, al-Qawaid al-Fiqhiyyah Baina al-Ashalah…, h. 96-98, lihat juga dalam Shalih bin Ghanim as-Sadlan, al-Qawaid al-Fiqhiyyah al-Kubra…, h. 524-525. Lebih rinci dalam pembahasan ini dapat dilihat dalam Wahbah al-Juhaily, al-Qawaid al-Fiqhiyyah…, h. 200-202. Begitu juga dalam ‘Ali Ahmad al-Nadawi, Mausu’ah al-Qawaid…, h. 64-67. Lihat juga pembahasan dalam al-Qawaid al-Fiqhiyyah Ma’a al-Syarh al-Mujaz, h. 27-28.
[25] Al-Qawaid al-Fiqhiyyah al-Kubra, h. 525.
[26] Al-Qawaid al-Fiqhiyyah al-Kubra, h. 526.
[27] Syaukani, Fath al-Qadir al- Jami’ Baina Fan al-Riwayah Wa al-Dirayah Min ‘Ilm al-Tafsir, Juz. 1, H. 27.
[28] Al-Qawaid al-Fiqhiyyah al-Kubra, h. 530.
[29] Al-Qawaid al-Fiqhiyyah al-Kubra, h. 530.
[30] Contoh-contoh ini dapat dilihat dalam al-Qawaid al-Fiqhiyah, Baina al-Ashalah Wa al-Taujih, h. 96-98, lihat juga dalam Al-Qawaid al-Fiqhiyyah al-Kubra, h. 503-505. Lebih rinci dalam pembahasan ini dapat dilihat dalam al-Qawaid al-Fiqhiyyah Wa Tathbiquha Fi al-Madzahib al-Arba’ah, h. 2231-234. Begitu juga dalam Lihat ‘Ali Ahmad al-Nadawi, Mausu’ah al-Qawaid Wa al-Dhawabith al-Fiqhiyyah, 64-67. Lihat juga pembahasan dalam Ghuzat ‘Ubaid, al-Qawaid al-Fiqhiyyah Ma’a al-Syarh al-Mujaz, (Bairut: Dar al-Turmudzi, tt), h. 27-28.
[31] Shalih bin Ghanim as-Sadlan, al-Qawaid al-Fiqhiyyah al-Kubra…, h. 535.