"Nasir Khusraw"

Sang Elang berujar: "Ruzi zi sar i- sang 'uqubi bi hava khas
Bahr-i talab-i tu'mih, par o bal biyarast"
 

Selasa, 07 Mei 2013

Pemikiran Teologi Kaum Khawarij



Pemikiran Teologi Kaum Khawarij
Muhammad Dainuri, S.Th.I*

Pendahuluan
Suatu hal yang perlu mendapat catatan dalam dunia perpolitikan Nabi Muhammad SAW dalam praktiknya baik mengenai mendirikan dan sekaligus memimpin negara Madinah merupakan sebuah isyarat bahwasannya keberadaan sebuah negara sangatlah penting. Setelah generasi kepemimpinan berpindah tangan pasca wafatnya Nabi SAW perbedaan pendapatpun mulai terlihat yaitu dalam masalah kepemimpinan/khilafah antara Anshar dan Muhajirin yang pada akhirnya sejarah mencatat Abu Bakarlah yang menjadi khalifah pertama pasca periode kenabian. Pasca kekhalifah Abu Bakar as-Shiddiq yang diduduki oleh Umar bin Khattab dengan kesepakatan umat Islam, namun disayangkan dalam kekhalifah Umar berakhir dengan tragis dengan dibunuh. Kedudukan khalifahpun dalam masa kekosongan sehingga majelis syura yang dibentuk Umar bin Khattab sebelum wafatnya memilih Ustman bin Affan sebagai khalifah ketiga pasca kekhalifah Umar bin khattab.
Kematian khalifah ‘Utsman ibn ‘Affan secara tragis melalui tangan para perusuh tahun 35 H yang tidak puas dengan kebijaka-kebijakan Ustman bin Affan, telah menyebabkan terjadinya beberapa peristiwa yang mengguncang tubuh umat Islam. Salah satu di antaranya adalah perang Shiffin, 2 tahun setelah  ‘Ali ibn Abi Thalib dibai’at menjadi khalifah menggantikan ‘Utsman
Perang besar antara kubu ‘Ali dengan kubu Mu’awiyah ibn Abi Sufyan itu, tidak hanya mengoyak umat Islam menjadi dua kubu besar secara politis, tetapi juga melahirkan dua aliran pemikiran yang selalu bertentangan yaitu Khawarij dan Syi’ah. Misalnya Khawarij mengkafirkan dan menghalalkan darah ‘Ali setelah peristiwa, sementara Syi’ah belakangan mengkultuskan ‘Ali demikian rupa sehingga seolah-olah ‘Ali adalah manusia tanpa cacat. Sekalipun semula kedua aliran tersebut bersifat politik tapi kemudian untuk mendukung pandangan dan pendirian politik masing-masing, mereka memasuki kawasan pemikiran agama atau teologi.
Khawarij merupakan aliran teologi pertama yang muncul dalam dunia Islam. Aliran ini mulai timbul pada abad ke -1 H (abad ke 8 M) pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib, khalifah terakhir dari al-khulafa ar-Rashidiin.[1] Kemunculan sekte Khawarij merupakan keragaman pemahaman terhadap ajaran Islam, yang pada awalnya Khawarij adalah suatu sekte yang lahir karena pergolakan politik, pada masa Khalifah Ali Bin Abi Thalib.
Tulisan berikut akan membahas aliran yang muncul pada priode awal Islam ini namun lebih dititik beratkan pada permasalah pemikiran teologi Khawarij saja. Pertanyaan yang ingin penulis ungkapkan jawabannya dalam tulisan ini adalah latar belakang apa yang menyebabkan Khawarij tidak saja mempunyai pandangan-pandangan politik dan teologi yang ekstrem tapi juga berperilaku keras bahkan cenderung kejam. Mereka, kata Abu Zahrah, suka menyabung nyawa dalam bahaya meskipun tidak ada pendorong untuk berbuat itu.[2] Ironisnya mereka sangat kejam dan sama sekali tidak toleran dengan perbedaan pendapat sesama Muslim, tapi sangat toleran dengan Ahlul Kitab. Begitu juga perkembangan aliran ini baik dalam tinjaun klasik maupun modern (Neo-Khawarijisme) yang mana tentu akan menguak dan menguraikan pemikiran-pemikiran dan karakteristik mereka.
Sebelum menganalisis masalah di atas penulis akan mendeskripsikan terlebih dahulu kelahiran dan perkembangan Khawarij, untuk dapat melihat secara jelas bagaimana persoalan politik yang diberi legitimasi teologi. Sedangkan mengenai doktrin pemikiran politik dan teologi Khawarij itu sendiri tidak penulis bicarakan secara khusus, tetapi hanya beberapa doktrin diungkapkan dalam perjalanan bahasan kesejarahan tentang perkembangan pemikiran itu sendiri. Hal itu dikarenakan untuk mengurai dan memahami hal-hal tersebut dalam makalah ini penulis menggunakan pendekatan historis yang bersifat deskriptif analisis bukan doktriner kritis.
PENGERTIAN TERM KHAWARIJ

A.   Pengertian Secara Etimologi
Secara Etimologi Bahasa Arab Khawarij adalah bentuk jama dari khârij yang berasal dari kata Khuruj yang secara etimologi Arab mengandung beberapa makna, diantaranya:
1.    Lawan dari masuk, yaitu keluar
2.    Hari Kiamat
يَوْمَ يَسْمَعُونَ الصَّيْحَةَ بِالْحَقِّ ذَلِكَ يَوْمُ الْخُرُوجِ
(Yaitu) pada hari mereka mendengar teriakan dengan sebenar-benarnya itulah hari keluar (dari kubur). (QS. Qaf: 42). khuruj adalah nama dari nama-nama hari qiamat 
3.    Kebangkitan dari kubur pada hari qiamat
خُشَّعًا أَبْصَارُهُمْ يَخْرُجُونَ مِنَ الأجْدَاثِ كَأَنَّهُمْ جَرَادٌ مُنْتَشِرٌ
sambil menundukkan pandangan-pandangan mereka keluar dari kuburan seakan-akan mereka belalang yang beterbangan (QS. Al-Qamar: 7)
4.    Jihad di jalan Allah
Sebagaimana firman Allah:
وَلَوْ أَرَادُوا الْخُرُوجَ لأعَدُّوا لَهُ عُدَّةً وَلَكِنْ كَرِهَ اللَّهُ انْبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ وَقِيلَ اقْعُدُوا مَعَ الْقَاعِدِينَ
dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, Maka Allah melemahkan keinginan mereka. dan dikatakan kepada mereka: "Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu."
5.    Hijrah
Sebagaimana firman Allah:
وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الأرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang Luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), Maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. An-Nisa: 100)

B.   Pengertian Secara Terminologi
Sedangkan secara terminologi para ulama kalam berbeda pendapat, diantaranya ada yang melihat secara sudut pandang politik yang bersifat umum yaitu dengan pengertian: [3]
الخروج على الإمام المتفق على إمامته الشرعية خروجا في أي زمان كان.
Dan ada juga yang melihatnya dari sudut pandang kelompok yaitu mereka yang  keluar dari barisan Ali R.A oleh karena itulah menurut al-Asy’ari mereka dinamakan Khawarij[4]. Hal ini yang menurut ulama syariat disebut dengan bughat.[5] Namun dalam persi ulama khawarij sendiri dalam mengartikan firqah mereka adalah apa yang mereka sebut dengan: [6]
طوائف من الناس في زمان التابعين وتابع التابعين أولهم نافع بن الأزرق
Pengertian ini bersal dari khawarij Ibadhiah oleh Abu Ishaq Athfaisy dengan tujuan bahwa antara khawarij dan peristiwa tahkim tidak ada hubungan seolah-olahnya khawarij adalah kelompok yang berdiri sendiri tanpa dilatar belakangi situasi dan kondisi apapun, namun pendapat ini tidak dapat diterima.[7]
Pengertian term khawarij ini dapat kita lihat dalam simpulan Dr. Abdul Lathif dalam disertasinya yang berjudul Ta’sir al-Mu’tazilah fi al-khawarij wa al-Syi’ah asbabuhu wa madzohiruhu yang membagi pengertian khawarij dalam dua bagian[8], yaitu:
1.    Pengertian secara umum
Pengertian umum ini dapat dilihat dari pengertian yang di ungkapkan oleh al-Sahrastani dalam al-Milal wa al-Nihal[9], yaitu:
كل من خرج عن الإمام الحق الذي اتفقت الجماعة عليه يسمى خارجيا سواء كان الخروج في أيام الصحابة على الأئمة الراشدين أو كان بعدهم على التابعين بإحسان والأئمة في كل زمان
Pengertian ini sangat relevan jika dilihat munasabahnya dengan term khawarij yang berasal dari kata Kharij, karena pengertian ini bersifat umum sehingga apapun sifatnya yang tidak sejalur dengan imam yang resmi dapat digolongkan dalam pengertian khawarij seperti yang terjadi pada Dzul Huwaisharah yang menentang Nabi dalam masalah pembagian harta ganimah, sebagai mana yang di riwayat oleh Bukhari Muslim.
عن أبي سعيد الخذري قال: بينما نحن عند رسول الله (ص) وهو يقسم قسما أتاه ذوالقويصرة وهو رجل من بني تميم فقال: يا رسول الله اعدل. قال رسول الله (ص) ويلك ومن يعدل إن لم اعدل؟ قد خبتُ وخسرتُ إن لم اعدل. فقال عمر بن خطاب (ض) يا رسول الله ائذن لي فيه اضرب عنقه. قال رسول الله (ص) دعه فإن له أصحابا يحقر أحدكم صلاته مع صلاتهم وصيامه مع صيامهم يقرئون القران لا يجاوز تراقيهم ويمرقون من الإسلام كما يمرق السهم من الرمية
Dari Abi Said Al‑Khudry berkata, Tatkala kami bersama Rasulullah saw. dan beliau sedang membagikan ghanimah, datang Dzul Khuwaishirah salah seorang dari Bani Tamim dan berkata, “Wahai Rasulullah berbuat adillah!” Berkata Rasulullah saw., “Celaka! Siapa yang akan berbuat adil jika saya tidak berbuat adil? Niscaya saya celaka dan binasa jika saya tidak adil.” Berkata Umar bin Khattab, “Wahai Rasulullah! Ijinkan saya memenggal lehernya.” Berkata Rasulullah saw., “Biarkanlah dia. Sesunggulinya dia mempunyai banyak teman, dirnana dianggap remeh shalat di antara kalian dibanding shalat mereka, puasa kalian dibanding puasa mereka, mereka membaca Al‑Qur’an tidak sampai kecuali pada tenggorokan mereka. Mereka keluar dari Islam sebagaimana lepasnya anak panah dari busur.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ibnu Qayyim al-Jauziah mengomentari hadis ini dengan ungkapan[10]:
فهذا أول خارجي خرج في الإسلام وآفته أنه رضي برأي نفسه ولو وقف لعلم أنه لا رأي فوق رأي رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وأتباع هذا الرجل هم الذين قاتلوا علي بن أبي طالب كرم الله وجهه
Dalam pengertian umum ini salah seorang dosen ilmu ‘Aqidah dari Universitas Umul Qurra dalam buku Maddah Maqalat al-Firah menyebutkan bahwa pengertian secara umum ini meliputi siapa saja yang keluar (tidak taat) terhadap Imam yang sah dan mengkafirkan orang yang mengerjakan dosa besar. Sedangkan Orang yang tidak patuh terhadap imam yang sah namun tidak mengkafirkan orang yang mengerjakan dosa besar itu disebut dengan al-Baghi sedangkan sebaliknya disebut Wa’idi.[11]



2.    Pengertian secara khusus
Pengertian secara khusus adalah:[12]
الفرقة التي خرجت على علي بن أبي طالب رضي الله عنه في عام 37هـ حيث أنكروا على علي رضي الله عنه قبول التحكيم مع معاوية رضي الله عنه.
Atau dengan ungkapan lain:[13]
الطائفة التى خرجت على علي بن أبي طالب قب معركة صفين بعد قبول التحكيم وقالوا بكفر معاوية وكفر الحكمين وكفر من رضي بالتحكيم وكفر عثمان وأصحاب الجمل.
Dalam term yang lebih komplek dalam pengertian khawarij secara khusus ini dapat dilihat dalam pengertian yang dungkapkan oleh Dr. ‘Ali Abdul Fattah al-Magribi[14]:
فالخوارج هم الذين خرجوا على علي بن أبي طالب وهم حزب سياسي ديني, قام في وجه السلطة القائمة من أجل الدين كما فهموه وهم لا يعدون أنفسهم خارحين عن الدين بل خارجين من أجل الدين ومن أجل إقامة شرع الله غير مبالين بما يحدث ذلك الخروج من فرقة وانقسام واحداث دامية وهم مجاهرون بدعوتهم متمسكين بمبداء الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر, غير مبالين بما يؤدي إليه تطبيق هذا المبداء, من قتل المخالفين سرا او علنا, ولقد تشبهوا بهذا المبداء وتطبيقه حتى أصبح علامة من علاماتهم وقامو إلى إقامة دولة إسلامية تقوم على الدين وأحكامه.
Selain  kata  khawarij[15],  ada  beberapa  nama-nama  lain  yang  disandarkan kepada kaum Khawarij[16] diantaranya: al-Muhakkimin[17], Syurah[18], Hururiyah[19] dan al-Mariqoh[20].
Dari pengertian umum dan khusus ini dapat kita tarik benang merahnya bahwa pengertian khawarij secara khusus adalah merupakan bahasan teologi khawarij klasik yaitu bahasan tentang firqah yang menentang  keputusan imam yang sah (Ali bin Abi Thalib) sehingga pada akhirnya meluas pada permasalahan aqidah. Sedangkan pengertian khawarij secara umum merupakan bahasan teologi khawarij modern yang mana ‘ainiyah dari firqah khawarij itu sendiri tidak ada atau tidak tampak namun sifat dan krakteristik firqah ini terlihat dengan jelas. Inilah yang nanti akan penulis singgung dalam bahasan noe-khawarijisme.

Kelahiran dan Perkembangan Firqah Khawarij
Firqah Khawarij ini muncul pada saat terjadinya perselisihan pada Muawiyah bin Abi Sufyan dengan Ali bin Abi Thalib, yang mencapai puncaknya dengan pecahnya perang Shiffin pada tahun 37 H. Kedua kelompok yang bertikai itu akhirnya sepakat untuk mengadakan tahkim (arbitrasi/perundingan) dan keduanya sepakat pula untuk kembali kepada kitabullah.
Sebelum peperangan meletus, ‘Ali sudah mengirim Jarir ibn Abdillah al-Bajuli untuk berunding dengan Mu’awiyah.[21] Tapi perundingan tidak berhasil mencegah peperangan karena tuntutan Mu’awiyah yang terlalu berat untuk dipenuhi oleh ‘Ali. Mu’awiyah menuntut dua hal: (1) ekstradisi dan penghukuman terhadap para pelaku pembunuhan Amir al Mu’minin ‘Utsman ibn ‘Afan; dan (2) pengunduran diri ‘Ali dari jabatan Imam (khalifah) dan dibentuk sebuah Syura untuk memilih khalifah baru.[22]
Pada mulanya Ali tidak mau menerima tawaran damai Mu’awiyah tersebut. Tetapi karena didesak oleh sebagian pengikutnya, terutama para qurra’ dan huffaz (penghafal), maka diputuskanlah untuk mengadakan arbitase[23].
Kedua belah pihak diputuskan diantara mereka sebagai hakam/penengah yaitu dua orang, pihak Ali diwakili oleh Abu Musa Al-Asy'ari dan pihak Muawiyah diwakili oleh Amr Ibnu Ash. Perundingan itu terjadilah pengelabuan yang dilakukan Amr Ibnu Ash terhadap Abu Musa Al-Asy'ari. Yakni Amr Ibnu Ash dalam perundingannya menyampaikan bahwa kedua belah pihak menyepakati penurunan keduanya (Muawiyah dan Ali) dari jabatan masing-masing, sementara pengangkatan Khalifah dan gubernur yang baru akan dibicarakan lain waktu. Kejadian ini menimbulkan pembangkangan yang dilakukan sekelompok muslim yang kebanyakan berasal dari Bani Thamim. Mereka kemudian menyatakan tidak puas terhadap proses dan hasil perundingan itu.[24]
Mereka pergi dan memisahkan diri dari laskarnya. Beberapa orang yang lari pertama kali dapat didamaikan oleh Ali, akan tetapi pelarian yang kedua berakhir dengan pembunuhan besar-besaran terhadap pengikut mereka. Banyak orang dari kalangan Ali yang keluar dan bergabung dengan kelompok yang dipimpin Abdulah bin Wahab. Ar-Rasibi. Yang menamakan dirinya Asy-Syuraat, yakni yang mempunyai sifat jelek, bermakna menjelekan diri mereka sendiri dengan mengharap keridhaan Allah SWT. Namun, tidak begitu lama setelah keluar dari kelompok Ali, mulai menunjukan cacat dalam ucapan maupun amaliahnya pandangan dan pemikiran mereka mulai menyimpang dari kebenaran. Mereka mengecam Ali, menjelekannya serta mengajukan protes terhadap kepemimpinan Ali maupun Usman bin Affan, serta mencela setiap orang yang tidak mau memusuhi Ali dan Orang-orang yang menyalahkan Usman.
Menghadapi pembangkangan tersebut Ali mengambil sikap tidak memerangi mereka, selama mereka tidak memulainya terlebih dahulu. Tetapi setelah pemimpin Khawarij Ibnu Wahab tewas terbunuh, pihak Khawarij mengutus Abdurrahman bin Maljam Al-Muradi untuk membunuh Ali bin Abi Thalib dan usaha itu berhasil, Ali terbunuh dalam masjid.
Sekarang kita kembali pada kelompok Qurrâ’. Setelah perundingan selesai mereka berbalik menentang Tahkîm, padahal tadinya mereka juga mendesak ‘Ali menerima Tahkîm. Sekarang mereka kemukakan alasan-alasan yang bersifat teologis, untuk mendukung pandangan dan sikap polotik mereka. Menurut mereka, Tahkîm salah karena hukum Allah tentang pertikaian mereka sudah jelas. Mereka yakin kubu ‘Ali lah (dalam konflik dengan kubu Mu’awiyah) yang berada di pihak yang benar. Kubu ‘Ali yang beriman. Tahkîm berarti meragukan kebenaran masing-masing pihak. Hal itu bertentangan dengan Al-Qur’an. Mereka teriakkan Lâ hukma illa lillah (tidak ada hukum kecuali hukum Allah). Mereka meminta ‘Ali mengaku salah, bahkan megakui bahwa dia telah kafir kerena menerima Tahkîm. Mereka desak ‘Ali supaya membatalkan hasil kesepakatan Tahkîm. Kalau tuntutan mereka dipenuhi mereka akan kembali berperang di pihak ‘Ali. Tentu saja ‘Ali menolak. Kesepakatan tidak boleh dilanggar. Agama memerintahkan kita untuk menepati janji. Kalau ‘Ali mungkir janji koalisinya akan semakin pecah. Lagipula bagaimana mungkin dia mau mengakui dirinya telah kafir, padahal dia tidak pernah berbuat musyrik semenjak beriman.[25]
Karena tuntutan mereka tidak dipenuhi ‘Ali, akhirnya mereka meninggalkan kamp ‘Ali di Kufah pergi ke luar kota menuju desa Harura yang tidak seberapa jauh dari Kufah. Dari nama desa Harura inilah, maka untuk pertama kali mereka itu dikenal dengan nama golongan Al-Harûriyah. Di Harura inilah mereka membentuk organisasi sediri dan memilih Abdullah ibn Wahab ar-Rasibi dari Banu ‘Azd sebagai pemimpin mereka.[26] Karena mereka keluar dari kubu ‘Ali itulah kemudian mereka dikenal dengan al-Khawârij, bentuk jama’ dari Khâriji (yang keluar).
Menurut Syahrastani, yang disebut Khârij, adalah siapa saja yang keluar dari (barisan) imam yang hak yang telah disepakati oleh jama’ah, baik ia keluar pada masa sahabat di bawah pimpinan al-Aimmah ar-Râsyiddîn atau pada masa tabi’in atau pada masa imam mana pun di setiap masa.[27]
Secara etimologis Syahrastani benar, tapi secara terminologi apalagi secara historis nama Khawarij hanya diberikan kepada kelompok yang keluar dari kubu ‘Ali seperti yang  disebut di atas, dan  disebut juga al-Harûriyah karena mereka pergi memisahkan diri ke Harura. Tapi dibanding dengan nama-nama lain[28] yang dipanggilkan kepada mereka maka nama Khawarij lah yang paling umum bisa dipakaikan untuk semua kelompok pecahan Khawarij, sebab dalam perkembangan selanjutnya kita akan lihat kelompok ini paling mudah memisahkan diri dari kelompok awalnya karena perbedaan pendapat yang kadang-kadang tidak prinsip. Khurûj sudah merupakan dustûr mereka.[29] Dalam bahasa Inggris Khawarij ditulis Kharijites dan dialihbahasakan menjadi Seceders, Rebels.[30]
Semakin lama kelompok yang memisahkan diri ke Harura semakin membesar, hingga bulan Ramadhan atau Syawal tahun 37 H jumlah mereka sudah mencapai 12.000 orang[31]. Dan kamp mereka kemudian pindah ke Jukha, sebuah desa yang terletak di tepi barat sungai Tigris. ‘Ali berusaha berunding dengan mereka tapi tidak membuahkan hasil. Secara diam-diam sebagian mereka pergi meninggalkan Jukha, berencana pindah ke-Al-Madain tapi ditolak oleh Gubernur setempat. Akhirnya mereka pergi ke Nahrawan. Jumlah mereka berkumpul di Nahrawan mencapai 4000 orang di bawah pimpinan ‘Abbdullah ibn Wahab ar-Rasibi. Semula ‘Ali tidak menanggapi secara serius gerakan-gerakan orang Khawarij ini, sampai dia mendengar berita tentang kekejaman mereka terhadap orang-orang Islam yang tidak mendukung pendapat mereka. Di antara yang menjadi korban adalah ‘Abdullah ibn Khabbab, salah seorang putera sahabat Nabi.
Khawarij resmi menjadi golongan dan keluar dari barisan kaum muslimin setelah terjadinya peristiwa tahkim lalu mereka berkumpul di Harura dan membentuk pemimpin perang yaitu Syabst bin Rabi’ al-Tamimi dan ‘Abdullah al-Kauka’I al-Yasykari sebagai pemimpin dalam shalat. Kemudian mereka pun membentuk kepemimpinan tersendiri yang mana ‘Abdullah bin Wahab al-Rasibi menjadi pilihan mereka dan ia menyetujui sehingga ia dibaiat pada tanggal 1 Syawwal tahun 73 H dan bertempat di Nahrawan sebagai basis pertahanan mereka untuk mengumpulkan pasukan sebanyak-banyaknya.[32]
‘Ali kemudian mengirim utusan membujuk dan menyadarkan mereka[33]. ‘Ali menawarkan kepada mereka untuk kembali bergabung dengannya bersama-sama menuju Syria, atau pulang ke kampung masing-masing. Sebagian memenuhi anjuran ‘Ali; ada yang bergabung kembali dan ada yang pulang kampung serta ada yang menyingkir ke daerah lain. Namun ada sekitar 1800 orang yang tetap membangkang. Mereka menyerang pasukan ‘Ali pada tanggal 9 Shafar 38 H yang dikenal dengan pertempuran Nahrawan yang mengenaskan itu[34]. Hampir semua mereka mati terbunuh. Hanya delapan orang saja yang selamat.[35]
Sejak peristiwa Nahrawan itu lah kelompok Khawarij yang terpencar di beberapa daerah semakin radikal dan kejam. ‘Ali sendiri kemudian menjadi korban dibunuh oleh ‘Abdurrahman ibn Muljam Al-Muradi, yang anggota keluarganya terbunuh di Nahrawan. Memang karena peristiwa Nahrawan ini, walaupun dari segi fisik ‘Ali dapat menumpas habis semua Khawarij yang berada di situ, telah mengakibatkan ‘Ali tidak pernah bisa berangkat ke Syria. Antara tahun 39 dan 40 H berulangkali orang-orang Khawarij membuat kegaduhan yang menguras ‘Ali untuk menghadapinya. Mu’awiyah pun, yang setelah ‘Ali wafat menjabat kedudukan Amirul Mu’minin dan terkenal hilm (lemah lembut dan ‘arif), selama pemerintahannya yang 20 tahun itu tidak mampu membujuk apalagi menumpas habis Khawarij.[36]

Krakteristik Kaum Khawarij
Krakteristik yang paling terlihat dari golongan khawarij ini diantaranya[37]:
1.    Bodoh dalam hal keagamaan khususnya tidak memahami betul-betul terhadap nash-nash alquran  dan Hadist.
2.    Merasa ‘Ujub terhadap diri mereka dan merasa tinggi dibanding orang lain.
3.    Buruk sangka
4.    Sering terjadi perbedaan pendapat dalam intern golongan mereka sendiri.
5.    Cepat mengkafirkan golongan lain.
Untuk melihat karakteristik mereka lebih jauh, kita lihat hadits‑hadits Rasul saw. yang membicarakan hal ini, diantaranya:
عن أبي سعيد الخذري قال: بينما نحن عند رسول الله (ص) وهو يقسم قسما أتاه ذوالقويصرة وهو رجل من بني تميم فقال: يا رسول الله اعدل. قال رسول الله (ص) ويلك ومن يعدل إن لم اعدل؟ قد خبتُ وخسرتُ إن لم اعدل. فقال عمر بن خطاب (ض) يا رسول الله ائذن لي فيه اضرب عنقه. قال رسول الله (ص) دعه فإن له أصحابا يحقر أحدكم صلاته مع صلاتهم وصيامه مع صيامهم يقرئون القران لا يجاوز تراقيهم ويمرقون من الإسلام كما يمرق السهم من الرمية
Dari Abi Said Al‑Khudry berkata, Tatkala kami bersama Rasulullah saw. dan beliau sedang membagikan ghanimah, datang Dzul Khuwaishirah salah seorang dari Bani Tamim dan berkata, “Wahai Rasulullah berbuat adillah!” Berkata Rasulullah saw., “Celaka! Siapa yang akan berbuat adil jika saya tidak berbuat adil? Niscaya saya celaka dan binasa jika saya tidak adil.” Berkata Umar bin Khattab, “Wahai Rasulullah! Ijinkan saya memenggal lehernya.” Berkata Rasulullah saw., “Biarkanlah dia. Sesunggulinya dia mempunyai banyak teman, dirnana dianggap remeh shalat di antara kalian dibanding shalat mereka, puasa kalian dibanding puasa mereka, mereka membaca Al‑Qur’an tidak sampai kecuali pada tenggorokan mereka. Mereka keluar dari Islam sebagaimana lepasnya anak panah dari busur.” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Pada hari Hunain Rasulullah saw. mengutamakan sebagian manusia dalam pembagian ghanimah. Beliau memberi Al‑Aqra bin Habis Al‑Handhaly 100 unta, memberi Uyainah bin Badrul Fijary dengan jumlah yang serupa dan memberi para pembesar Arab, beliau mengutamakan mereka dalam pembagian. Maka berkata salah seorang, “Demi Allah, pembagian ini tidak adil dan tidak bertujuan untuk mencari ridha Allah!” (HR. Muslim)

وفي رواية: إن من ضئضئ هذا قوما يقرئون القرآن لا يجاوز حناجرهم يقتلون أهل الإسلام ويدعون أهل الأوثان يمرقون الإسلام كما يمرق السهم من الرمية لئن أدركتهم لأقتلنهم قتل عاد
Dalam riwayat yang lain: “Sesungguhnya dari keturunan ini ada kaum yang membaca Al-Qur’an yang tidak sampai kecuali pada kerongkongan, mereka membunuh orang Islam dan membiarkan penyembah berhala, mereka keluar dari Islam sebagaimana lepasnya anak panah dari busurnya, jika saya menjumpai mereka pasti akan saya bunuh mereka seperti membunuh kaum Aad.” (HR. Bukhari dan Muslim)
سيخرج في آخر الزمان قوم أحدث الأسنان سفهاء الأحلام
“Akan keluar di akhir zaman suatu kaum yang usia mereka masih muda, dan bodoh, mereka mengatakan sebaik‑baiknya perkataan manusia, membaca Al‑Qur’an tidak sampai kecuali pada kerongkongan mereka. Mereka keluar dari din (agama Islam) sebagaimana anak panah keluar dan busurnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
يخرج قوم من أمتي يقرئون القرآن يحسبون لهم وهو عليهم لاتجاوز صلاتهم تراقيهم
“Suatu kaum dari umatku akan keluar membaca Al‑Qur’an, mereka mengira bacaan Al-Qur’an itu menolong dirinya padahal justru membahayakan dirinya. Shalat mereka tidak sampai kecuali pada kerongkongan mereka.” (HR. Muslim)
يحسنون القيل ويسيئون الفعل يدعون إلى كتاب الله وليسوا منه في شيء
“Mereka baik dalam berkata tapi jelek dalam berbuat, mengajak untuk mengamalkan kitab Allah padahal mereka tidak menjalankannya sedikitpun.” (HR. Al-Hakim)
لايزالون يخرجون حتى يخرج آخرهم مع المسيح الدجال
“Mereka akan senantiasa keluar sampai pada yang terakhir bersama Al-Masih Ad-Dajjal. Jika kalian bertemu mereka, maka bunuhlah; merekalah sejelek-jelek penciptaan dan sejelek-jelek makhluk.” (HR. An-Nasa’i dan Al-Hakim)
الخوارج كلاب أهل النار
“Al-Khawarij adalah anjingnya ahli neraka.”

Dari hadits-hadits di atas dapat disimpulkan sifat-sifat, nilai, fenomena, dan kedudukan mereka:
1.    Mencela dan Menyesatkan (الطعن والتضليل)
Orang‑orang Khawarij sangat mudah mencela dan menganggap sesat Muslim lain, bahkan Rasul saw. sendiri dianggap tidak adil dalam pembagian ghanimah. Kalau terhadap Rasul sebagai pemimpin umat berani berkata sekasar itu, apalagi terhadap Muslim yang lainnya, tentu dengan mudahnya mereka menganggap kafir. Mereka mengkafirkan Ali, Muawiyah, dan sahabat yang lain. Fenomena ini sekarang banyak bermunculan. Efek dari mudahnya mereka saling mengkafirkan adalah kelompok mereka mudah pecah disebabkan kesalahan kecil yang mereka perbuat.
2.    Buruk Sangka (سوء الظن)
Fenomena sejarah membuktikan bahwa orang‑orang Khawarij adalah kaum yang paling mudah berburuk sangka. Mereka berburuk sangka kepada Rasulullah saw. bahwa beliau tidak adil dalam pembagian ghanimah, bahkan menuduh Rasulullah saw. tidak mencari ridha Allah. Mereka tidak cukup sabar menanyakan cara dan tujuan Rasulullah saw. melebihkan pembesar‑pembesar dibanding yang lainnya. Padahal itu dilakukan Rasulullah saw. dalam rangka dakwah dan ta’liful qulub. Mereka juga menuduh Utsman sebagai nepotis dan menuduh Ali tidak mempunyai visi kepemimpinan yang jelas.
3.              Berlebih‑lebihan dalam ibadah (المبالغة في العبادة)
Ini dibuktikan oleh kesaksian Ibnu Abbas. Mereka adalah orang yang sangat sederhana, pakaian mereka sampai terlihat serat‑seratnya karena cuma satu dan sering dicuci, muka mereka pucat karena jarang tidur malam, jidat mereka hitam karena lama dalam sujud, tangan dan kaki mereka ‘kapalan’. Mereka disebut quro’ karena bacaan Al-Qur’annya bagus dan lama. Bahkan Rasulullah saw. sendiri membandingkan ibadah orang‑orang Khawarij dengan sahabat yang lainnya, termasuk Umar bin Khattab, masih tidak ada apa‑apanya, apalagi kalau dibandingkan dengan kita. Ini menunjukkan betapa sangat berlebih‑lebihannya ibadah mereka.
4.    Keras terhadap sesama Muslim dan memudahkan yang lainnya
(التشدد على المسلمين والترخص على غيرهم)
Hadits Rasulullah saw. menyebutkan bahwa mereka mudah membunuh orang Islam, tetapi membiarkan penyembali berhala. Ibnu Abdil Bar meriwayatkan, “Ketika Abdullah bin Habbab bin Al‑Art berjalan dengan isterinya bertemu dengan orang Khawarij dan mereka meminta kepada Abdullah untuk menyampaikan hadits‑hadits yang didengar dari Rasulullah saw., kemudian Abdullah menyampaikan hadits tentang terjadinya fitnah,
القاعد فيها خير من القائم والقائم فيها خير من الماشي
“Yang duduk pada waktu itu lebih baik dari yang berdiri, yang berdiri lebih baik dari yang berjalan….”
Mereka bertanya, “Apakah Anda mendengar ini dari Rasulullah?” “Ya,” jawab Abdullah. Maka serta-merta mereka langsung memenggal Abdullah. Dan isterinya dibunuh dengan mengeluarkan janin dari perutnya.
Di sisi lain tatkala mereka di kebun kurma dan ada satu biji kurma yang jatuh kemudian salah seorang dari mereka memakannya, tetapi setelah yang lain mengingatkan bahwa kurma itu bukan miliknya, langsung saja orang itu memuntahkan kurma yang dimakannya. Dan ketika mereka di Kuffah melihat babi langsung mereka bunuh, tapi setelah diingatkan bahwa babi itu milik orang kafir ahli dzimmah, langsung saja yang membunuh babi tadi mencari orang yang mempunyai babi tersebut, meminta maaf dan membayar tebusan.
5.              Sedikit pengalamannya (قلة التجربة)
Hal ini digambarkan dalam hadits bahwa orang‑orang Khawarij umurnya masih muda‑muda yang hanya mempunyai bekal semangat.
6.    Sedikit pemahamannya (قلة الفقه)
Disebutkan dalam hadits dengan sebutan Sufahaa-ul ahlaam (orang bodoh), berdakwah pada manusia untuk mengamalkan Al‑Qur’an dan kembali padanya, tetapi mereka sendiri tidak mengamalkannya dan tidak memahaminya. Merasa bahwa Al‑Qur’an akan menolongnya di akhirat, padahal sebaliknya akan membahayakannya.
7.    Nilai Khawarij
Orang‑orang Khawarij keluar dari Islam sebagaimana yang disebutkan Rasulullah saw., “Mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah keluar dari busurnya.”
8.    Fenomena Khawarij
Mereka akan senantiasa ada sampai hari kiamat. “Mereka akan senantiasa keluar sampai yang terakhir keluar bersama Al‑Masih Ad‑Dajjal”
9.    Kedudukan Khawarij
Kedudukan mereka sangat rendah. Di dunia disebut sebagai seburuk-buruk makhluk dan di akhirat disebut sebagai anjing neraka.
10.  Sikap terhadap Khawarij
Rasulullah saw. menyuruh kita untuk membunuh jika menjumpai mereka. “Jika engkau bertemu dengan mereka, maka bunuhlah mereka.”

Tokoh-tokoh Khawarij[38]
            1.   Abdullah ibn Wahhab Al-Rasyibi pemimpin sekte Al-Muhakkimat. Beliau adalah tokoh utama dari 12.000 orang yang keluar dari barisan Ali r.a. dan menjadikan Haruriah sebagai basis pergerakan. Di desa itu, Abdullah bersama kroninya mendirikan “khilafah baru” dengan pemimpinnya Abdulllah sendiri.
            2.   Nafi’ ibn al-Azraq merupakan salah seorang pengikut sekte Muhakkimah yang tersisa dalam peprangan di Nahrawan. Bersama kroni-kroninya, ia kembali menyebarkan paham khawarij dengan berganti baju Al-Azariqah
            3.   Najdah ibn Amir al-Hanafi, pemimpin sekte al-Najd, merupakan koalisi dari beberapa tokoh Khawarij –seperti Abu Fudaik, Rasyid Al-Tawil, Atiah Al-Hanafi, dan Najdah sendiri– akibat kekecewaan terhadap kepemimpinan Nafi’ Al-Azraq.
            4.   Urwah bin Hudair
            5.   Mustarid bin sa’ad
            6.   Hausarah al-Asadi
            7.   Quraib bin Maruah
            8.   Abdullah bin Basyir
            9.   Zubair bin Ali
         10.   Qathari bin Fujaah
         11.   Abd al-Rabih
         12.   Abd al Karim bin ajrad
         13.   Zaid bin Asfar
         14.   Abdullah bin ibad
Sekte-Sekte Khawarij
Sepeninggal Ali, kelompok ini membangun kekuatan untuk selalu melakukan pemberontakan pada masa kekuasaan Islam pasca Ali. Sebagaimana tertulis dalam sejarah, kaum khawarij selalu menjadi oposan atau bahkan yang memberontak pada masa dinasti Umawiyyah maupun dinasti Abbasiyah[39].
Meskipun pada mulanya khawarij muncul karena persoalan politik, dalam perkembangannya ia lebih bercorak teologis. Alasan mendasar yang membuat kelompok ini keluar dari barisan Ali dan kemudian membentuk barisan sendiri adalah ketidaksetujuan mereka terhadap arbitrasi  atau tahkim. Selanjutnya kaum khawarij menyinggung soal iman dan kafir. Iman menurut mereka tidak cukup dengan pengakuan bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rosul-Nya, melainkan harus disertai dengan amal sholeh. Kafir adalah pengingkaran terhadap adanya Allah SWT dan Rasul-Nya serta berbuat dosa besar. Pada mulanya yang mereka pandang kafir hanyalah orang-orang yang menyetujui arbitrasi, tetapi kemudian mereka mengembangkan artinya sehingga termasuk semua orang yang berdosa besar. Yang termasuk dosa besar antara lain membunuh tanpa alasan yang sah dan berzinah. Jadi sungguhpun seorang telah mengucapkan dua kalimat syahadat namun karena berdosa besar, ia tetap dipandang kafir dan keluar dari Islam.[40]
Dalam perjalanannya, kelompok ini terpecah menjadi sekitar 20 aliran[41]. Diantara kelompok yang terlihat besar memberikan peranan dari segi politik maupun teologis dalam sejarah Islam ada tiga aliran besar yaitu[42]: Azariqah, Shufriyyah  dan Ibadhiyah. Terpecahnya Khawarij ini menjadi beberapa sekte, mengawali dan mempercepat kehancurannya dan sehingga Aliran ini hanya tinggal dalam catatan sejarah. As-Sahrastani[43] dalam Al-Milal wa Al- Nihal menulis bahwa kelompok Khawarij terbagi menjadi delapan kelompok[44], yaitu:

1.    Al Muhakamiyah[45]
Al  Muhakkimiyah,  mereka  berkata  :  "Siapa  yang  berhukum  kepada  makhluk adalah kafir." Kelompok  muhakamiyah  adalah  mereka  yang  tidak  menaati  ali  ibnu  abi  thalib setelah terjadinya tahkim (arbitrasi). Mereka berkumpul di sebuah desa bernama Harurah. Kelompok  ini  dipimpin  oleh  Abdullah  ibn  al  Kawa,  Atab  ibn  al  Awar,  Abdullah  ibn Wahab Al Razi, Urwah ibn Jarir, Yazid ibn Abi Ashim Al Muharibi, Harqus ibn Zuhair Al Bahali, yang dikenal dengan An Najdiah. Jumlah kelompok ini sekitar dua belas ribu yang taat melakukan shalat dan puasa. Kelompok ini menciptakan dua macam bid’ah:
a.    Bid’ah  yang  mereka buat tentang imamah.  Menurut mereka imam boleh saja selain dari quraisy.
b.    Ali bin abi thalib menurut mereka telah banyak melakukan kekeliruan di antaranya  menerima  konsep  arbitrasi,  yakni  menerima  hukuman  yang dibuat manusia bukan hukum Allah

2.    Al Azariqah[46]
Kelompok ini dinisbatkan kepada nama pendirinya, Nafi’I Ibn Azraq Al-Tamimy. Kelompok ini sering disebut sebagai aliran ter-ekstrem. Adapun salah satu pendirian penting dari aliran bahwa tidak boleh bagi para pengikutnya yang mukmin menerima ajakan sholat dari pihak lain (di luar aliran tersebut). Sedangkan beberapa keyakinan lain adalah Mereka mengharamkan sholat melakukan perkawinan dengan orang diluar mereka demikian juga memakan daging sembelihan orang-orang luar mereka. Lebih jauh lagi, mereka menggangap anak orang kafir akan kekal dineraka, mereka menggangap pelaku dosa besar adalah kafir dan kekal didalam neraka, namun mereka meniadakan hukum rajam bagi pelaku perzinaan dan meniadakan hukuman bagi pelaku perzinaan dan meniadakan hukuman bagi pelaku penuduhan zina.[47]
Selanjutnya yang dipandang musyrik adalah orang Islam yang melakukan dosa besar atau tidak mau hijrah dan berperang bersama mereka. Anggota kelompok ini dinyatakan muslim sejati; wilayah mereka disebut sebagai “Dar Al-Islam” yaitu tempat Islam dilaksanakan secara benar. Mereka yang tetap dirumah asal dan tidak mau berpindah ke wilayah mereka adalah kafir musyrik dan berada diluar masyarakat Islam. Ajaran Hijrah ini mereka anggap sejalan dengan hijrah Muhammad dari Mekkah ke Madinah pada tahun 622 M.
Al Azariqah, mereka berkata : "Kami tidak tahu seorang pun yang Mukmin." Dan mereka mengkafirkan kaum Muslimin (Ahli Qiblat) kecuali orang yang sepaham dengan mereka. Al Azariqah adalah kelompok pendukung Abu Rayid Nafi ibn Al Azraq (60 H), yang memberontak terhadap pemerintahan Ali ibn abi thalib. Ia melarikan diri dari Basrah ke Ahwaz dan kemudian berhasil menguasai Ahwaz dan daerah daerah sekelilingannya seperti  kirman  di  masa  Abdullah  ibn  Zuhair  sesudah  berhasil  membunuh  gubernurnya. Kelompok ini mengkafirkan utsman, Thalhah, Zubair, Aisyah, Abdullah ibn Abbas dan kaum muslim yang tidak sependapat dengan mereka dan menganggap orang yang tidak sependapat dengan mereka sebagai musuh dan kekal di dalam neraka.
a.    Mereka mengkafirkan setiap orang yang tidak ikut bertempur.
b.    Dalam   bertempur   mereka   memperbolehkan   membunuh   anak-anak perempuan.
c.    Mereka  tidak  mengakui  hukum  rajam  dengan  alasan  bahwa  hukuman tersebut tidak tercantum dalam Al-Quran.
d.    Mereka berpendapat bahwa anak orang musyrik bersama orang tuanya di dalam neraka.
e.    Menurut  mereka,  Allah  boleh  saja  mengangkat  seorang  nabi  yang  Allah telah  mengetahuinya  akan  menjadi  orang  yang  kafir  setelah  diangkat menjadi nabi.
f.     Menurut mereka taqiah(berpura-pura) tidak diperbolehkan.
g.   Semua  kelompok  al  Azariqah  sependapat  orang  yang  melakukan  dosa besar hukumnya kafir.

3.    An Najadaat Al ‘Aziriah[48]
Kelompok ini adalah kelompok yang mengikuti pemikiran seorang yang bernama Nazdah ibn Amir Al-Hanafi yang menetap di Yaman. Ajaran agama menurut kelompok ini terdiri dari dua hal:
a.    Pertama   mengenal  Allah,  para  Rasul,  haram  membunuh  sesama   muslim, mengakui  secara  umum  apa  yang  di  turunkan  Allah.semua  ini  wajib  bagi  setiap  orang mengenalnya, kejahilan tidak dapat dijadikan alasan.
b.    Kedua, selain yang yang disebut di atas, kejahilan dapat dijadikan alasan seperti dalam menetapkan yang halal dan haram. Menurut mereka kemungkinan saja mujtahid  salah  dalam  menetapka  hukum  kepadanya  dapat  dikenakan  hukuman  sebelum  adanya bukti yang kuat memberatkan dirinya sebagai orang yang kafir.
Nama lain kelompok An-najdah  adalah  Al-Azariah  karena  menurut  mereka  kejahilan  tidak  dapat  dijadikan  uzur dalam penerapan hukum fiqih.

4.    Al-Baihasiah[49]
Kelompok ini adalah kelomp[ok yang mengikuti pendapat-pendapat Abu Baihas Al-Haisham   ibn   jabir   salah   seorang   dari   suku   bani   Saad   Dhubai’ah.   Di   masa pemerintahan  khalifah  halifah  Al-Walid,  dia  selalu  dicari-cari  Al-Hajjaj  namun  dia berhasi melarikan diri dan bersembunyi di Madinah, namun dapat ditangkap oleh Utsman ibn Hayan Al- Muzani. Ia dipenjara kemudian dipotong tangan dan kakinya lalu dibunuh.
Iman  menurut  Abu  Baihas  adalah  pengetahuan  terhadap  yang  benar  dan  batil, sedangkan  pengetahuan  bukan  termasuk  perbuatan  dan  ucapan.  Menurut  sebagian mereka,  tidak  ada  yang  haram  melainkan disebutkan  didalam  al  qur’an  dan  yang  tidak disebutkan dalam al quran tentang haramnya berarti halal. Kelompok  al  baihasiah  mempunyai  cabang  yaitu  kelompok  al  auniyah  yang terbagi menjadi dua kelompok kecil : 
              a.    kelompok  yang  mengatakan  siapa  yang  keluar  dari  darul  hijrah karena tidak ingin berperang, kami menganggapnya bukan muslim.
              b.    kelompok  yang  mengatakan  bahwa  kami  menganggap  mereka masih  muslim  karena  mereka  kembali  kepada  sesuatu  yang  halal bagi mereka.
Dari  kedua  kelompok  ini  sependapat  bahwa  kepala  negara  orang  kafir,  maka seluruh  warga  negaranya  kafir,  baik  yang  berada  di  negara  itu  maupun  yang  berada  di luar. Sebagian  al  baihasiah  berkata  kalau  seorang  terjerumus  kedalam  yang  haram  ia tidak  dikatakan  kafir  sampai  perkaranya  disampaikan  kepada  kepala  negara  dan  telah diputuskan  hukumannya.  Dan  setiap  perbuatan  yang  belum  diputuskan  hukumannya dianggap dimaafkan. Kelompok al auniyah mengatakan mabuk menyebabkan seseorang menjadi kafir, dan baru dikatakan kafir kalau ia telah melakukan dosa besar seperti meninggalkan shalat pada saat mabuk.

5.    Al ’Ajaridah[50]
Kelompok  al  ’Ajaridah  adalah  kelompok  yang  dipimpin  oleh  seorang  yang bernama Abd Al karim ’Araj yang isi ajarannya mirip dengan An Najdiah. Ia termasuk sahabat  dekat  Baihas,  namun  kemudian  memisah  diri  dan  mendirikan  kelompok tersendiri. Menurut ajaran kelompok ini, kita tidak boleh mengatakan kafir atau muslim terhadap  anak  seorang  muslim  sampai  ia  telah  diajak  memeluk  islam  dan  wajib  wajib memeluk islam ketika ia sudah mencapai usia balig. Sedangkan anak orang kafir bersama orang tuanya berada di dalam neraka.
Menurutnya  berhijrah  tidak  wajib  tetapi  termasuk  keutamaan  dan  orang  yang melakukan  dosa  besar  termasuk  orang  kafir.  Keompok  ini  terbagi  menjadi  menjadi beberapa   kelompok  kecil,  kelompok  Ash  Shalthiah,   kelompok  Al  maimuniyyah, kelompok Al Hamziyyah, kelompok Al khallafiyyah, kelompok Al Athrafiyah, kelompok Asyuaibiyah, dan kelompok Al Hamjiyyah.



6.    Ats Tsa’alibah[51]
Ats  Tsa'labiyah,  mereka  berkata  :  "Sesungguhnya  Allah  tidak  ada  menetapkan Qadha dan Qadar." Pendiri  kelompok  ini  adalah  Tsa’labah  ibn  ’Amir  yang  dahulunya  sependapat dengan abd Al Karim ibn ’Araj dalam beberapa hal yang diantaranya tentang posisi anak. Ia  berkata:  menurut  kami  anak  tidak  bertanggung  jawab  semenjak  kecil  sampai  usia menjelang dewasa, namun kami menyadari anak anak lebih condong berbuat kebathilan dan  kebaikan.  Kelompok  ini  terbagi  lagi  :  Al-  Akhnasiyyah,  Al  Ma’badiyyah,  Al Rusadiyah, asy Syaibaniyah, Al Mukaramiyah, Al Maimuniyyah, Al Bid’iyyah.

7.    Ash Shufriyyah Az Ziyadiyyah[52] 
Pemimpin kelompok ini adalah Ziyad bin Ashfan kelompok ini dinamakan shufriyyah. Bertolak belakang dengan Azariqah, pandangan mereka tentang hukum mendekati kepada jalan yang lurus, mereka tidak mengkafirkan orang-orang yang tidak ikut perang, mengakui hukum rajam, serta berpandangan bahwa pelaku dosa besar telah berbuat maksiat kepada Allah tetapi tidak kafir.

8.    Al Ibadhiyah[53]
Ibadhiyyah adalah nama salah satu dari kelompok khawarij yang paling terkenal. Kelompok ini hingga sekarang masih terdapat diwilayah Oman, Zanzibar, dan afrika utara. Ibadhiyyah adalah pengikut Abdullah bin Ibadh. Pemimpin kelompok ini mereka mempunyai asal usul yang kaitan yang erat dengan Jazirah Arabiah, terutama Hadiyahmaut, Sahan, Makkah dan Madinah Al- Munawarroh. 
Pemahaman akidah kelompok ibadiyyah tidak jauh berbeda dengan ahli sunnah. Dapat dikatakan bahwa lebih banyak persamaan dan sedikit sekali perbedaan diantara keduanya. Mereka mengakui bahwa Al-Qur'an dan Sunnah Nabawwiyyah adalah sumber utama ilmu dan ajaran Islam namun mereka lebih mengutamakan ijtihad (ra'yu) dari pada ijma' dan qiyas.
Ibadhiyah,  mereka  berkata  :  "Siapa  yang  menerima  pendapat  kita  adalah  orang yang Mukmin dan siapa yang berpaling adalah orang munafik." Kelompok  ini  adalah  pengikut  Abd  ibn  Ibadh  yang  memberontak  terhadap pemerintahan  khalifah  marwan  ibn  Muhammad.  Menurut  ajaran  ini,  orang  islam  yang menyalahi ajaran  kami dihukumkan  kafir, namun bukan  kafir  musrik,  karena itu masih diprbolehkan  menikahi  wanitanya,  boleh  saling  mewarisi,  senjata  dan  perisai  yang dirampas dalam peperangan halal dimliki dan selain itu haram membunuh dan menawan, kecuali  kalau  terjadi  peperangan.  Yang  termasuk  kelompok  ini  yaitu  Al  Hafsiyyah,  Al Hariziyah, Al Yazidiyah.

Ideologi Sekte Abbadhiyyah[54]
عقائد الإباضية بشكل عام
المبحث
هم معتزلة في هذا الباب فيقومون بتعطيل الصفات وينسبون ذلك للصحابة ومن أقوالهم ومعتقدتهم: 1. الله في كل مكان, 2. نفي الرؤية, 3. نفي اليد وتأويلها بالقدرة, 4. نفي الإستوآء على العرش, 5. نفي العين والنفس.
الاسمآء والصفات
اباضية المغرب معتزلة يقولون بخلق القرآن
اباضية عمان يقولون القرآن غيلا مخلوق لكن على رأي الأشاعرة يقولون بأنه كلام نفسي إلا أن معاصرهم الخليلي نصر قول الجهمية فقال بخلق القرآن, ومنهم الواقفة.
القرآن
ينكرون رؤية الله تعالى يوم القيامة
الرؤية
قول وعمل وركن لا يزيد ولا ينقص
الإيمان
في الدنيا كافر كفر النعمة
في الآخرة خالد مخلد في النار
مرتكب الكبائر
لا تنال اصحاب الكبائر
الشفاعة
الطعن في عثمان, وعلي, وعمرو, ومعاوية, وطلحة, والزبير واصحاب الجمل.
الصحابة
يقدحون في غمامة عثمان وعلي
يؤيدن خروج اسلافهم وأهل النهروان
يرون ان الإمام إذا إرتكب كبيرة حل دمه وجاز الخروج عليه.
الأئمة والخروج
لا يحتاجون بحديث الآحاد في العقائد
حديث الآحاد
يعطلون أإلب السنة النبوية إحتجاجا بحديث جاء في مسند الربيع بن حبيب (إنكم ستختلفون من بعدي فما جاءكم عني فأعرضوه على كتاب الله فما وافقه فمني وما خالفكم فليس عني)
السنة النبوية
يؤولونهما بالعدل
الميزان والصراط
تكون عند الحاجة, ولذا فهم يكتمون أحكامهم القاسية تجاه الآخرين المخالفين.
التقية



Ringkasan Pokok Pemikiran Sekte Khawarij[55]
نبذة موجزة عنها
القائد لها
الفرقة
o      انحازوا إلى حرورآء بعد أن انفصلوا عن جيش علي ورفعوا شعار "لا حكم إلا الله" وفضوا التحكيم.
o      تولوا أبا بكر وعمر وعثمان في سنية الأولى وعليا قبل التحكيم
o      حدثت بينهم وبين علي موقعة النهروان
عبد الله بن وهب الراسبي الأمير العام
المحكمة الأولى (الحرورية)
o      تكفير علي بن أبي طالب
o      صاحب الكبيرة كافر, خارج من الإسلام, مخلد في نار جهنم
o      المخالف مشرك هو وأطفاله, ودارهم دار حرب
o      تكفير القعدة ممن كان على رايهم ولم يلحق بمسكرهم
نافع بن الأزرق الحنفي
الأزاررقة
o      الذنوب التى حدها مقرر كالزنا فلا يتجاوز ما سماه الله به من أنه زاني بخلاف الذنوب التي ليس فيها حد مقرر فهي كفر
زياد بن الأصفر
الصفرية
o      إنكار تكفير القعدة
o      إنكار إستباحة قتل الأطفال
o      جواز التقية
نجدة بن عامر الحنفي
النجدات
o      الفرقة الوحيدة من الخوارج الباقية إلى اليوم, ويتواجدون في عما ولهم السطة
o      يعتقدون أن مخالفيهم كفار نعمة, فيبيحون الزواج منهم, والتامل معهم, ولكنهم يرونهم خالدين مخلدين في النار
o      في باب الأسمآء  والصفآت على عقيدة المعتزلة وبعضهم على عقيدة الأشعرية.
عبد الله بن أباض
الأباضية

NEO-KHAWARIJISME
Fenomena sikap Khawarij banyak terjadi sekarang dan biasa disebut Neokhawarijisme bahkan bisa jadi dekat dengan kita, apalagi hal itu telah diprediksi oleh Rasulullah saw.
لايزالون يخرجون حتى يخرج آخرهم مع المسيح الدجال
“Mereka akan senantiasa keluar sampai pada yang terakhir bersama Al-Masih Ad-Dajjal. Jika kalian bertemu mereka, maka bunuhlah; merekalah sejelek-jelek penciptaan dan sejelek-jelek makhluk.” (HR. An-Nasa’i dan Al-Hakim)
Ibnu Abbas ketika mengadakan dialog dengan mereka menyebutkan beberapa ciri‑ciri di antaranya: Mereka sangat wara’, pakaiannya sangat sederhana, muka mereka pucat karena jarang tidur malam, jidatnya hitam, telapak tangan dan kakinya kapalan, dan meraka disebut qura’ yaitu orang yang bagus bacaannya dan lama bila membaca Al-Qur’an.
           Eksistensi  Firqah  Khawarij  memang  sudah  tidak  ada,  namun  pemikirannya sedikit-demi sedikit masih mengalir di beberapa Firqah Islam masa kini. Sudah menjadi rahasia  umum,  dewasa  ini  ada  beberapa  firqah,  harakah,  jama'ah,  atau  organisasi  yang dengan  tegas  menyatakan  bahwa  siapa  saja  yang  berbeda  pemahaman  dengan  mereka maka siapapun itu walau orangtua mereka sekalipun maka mereka adalah kafir.
           Kaidah  takfir  ini  seakan-akan  menjadi  santapan  ringan  bagi  mereka,  dengan mudah  mereka  mengklaim  kaum  muslimin  yang  tidak  sepaham  dengan  mereka  sebagai kafir. Tentu saja hal ini bukan masalah ringan bagi ummat muslimin saat ini.
Muhammad  Ali  Ishmah  Al  Medani  menyatakan  bahwa  saat  ini  banyak  sekali harakah-harakah  atau  organisasi  islam  yang  terjangkit  pemikiran  khawarij.  Diantaranya adalah  Harakah  Hijrah  wat  Takfir-nya  DR.  Umar  Abdurrahman,  DI/TII/NII,  Islam Jamaah  atau  Darul  Hadits  atau  Lemkari  atau  LDII  serta  organisasi-organisasi  lainnya yang masih terjangkit pemikiran sesat ini.
Paparan di atas adalah sedikit gambaran sikap keberagamaan Syekh Ibnu Abdil Wahab dan para pengikutnya yang kelihatan sangat ekstrim dan cenderung menyalahi konsensus dakwah jumhur ulama. Dengan adanya sebuah sikap yang demikian ektrim, maka tidak heran jika para ulama sering menyebutnya sebagai neo-khawarij dalam masalah takfir, dan neo-mujassimah musyabbihah dalam masalah akidah.
Dalam sebuah tulisan yang bertajuk Wahabi oleh alumnus Universitas Al Azhar Kairo Fak. Lughah Arabiyah. Saat ini sedang menyelesaikan pendidikannya di program pascasarjana Jurusan Syari'ah Darul Ifta' Kairo yang menghubungkan bahwa aliran wahabi merupakan neo-khawarijisme jauh hari sudah disinyalir oleh Syekh Sulaiman bin Abdul Wahab dalam kitabnya “As Shawaiq Al Ilahiyyah Fi Raddi ‘Alal Wahabiyyah”. Kesimpulan yang sama diambil oleh Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan dalam “Ad Durar As Sunniyyah Fi Raddi ‘Alal Wahabiyyah” [56], Imam As Shawi dalam tafsirnya[57]. Juga Ibnu ‘Abidin dalam hasyiyahnya[58], serta Imam Abu Zahrah dalam tarikhnya[59]. Tidak mau ketinggalan ulama ahlussunnah kontemporer juga semakin meramekan untuk ikut-ikutan menstempel aliran wahabi ini dengan sebutan neo-khawarij, seperti DR. Abdullah Umar Kamil yang menulis risalah kecil bertajuk “Al Khawarij Al Judud”. Tidak mau ketinggalan Sayyid Muhammad Zaki Ibrahim juga menulis risalah kecil berjudul “As Salafiyyah Al Mu’ashirah Ila Aina? Wa Man Hum Ahlussunnah? [60]. Dan masih banyak lagi. Begitu juga dalam sebuah tulisan yang bertajuk “Kalam Khawarij dan Radikalisme Islam Kontemporer: sebuah Perbandingan antara Khawarij dan  Hizbu Tahrir” menggolongkan Hizbuttahrir juga dari bagian Neo-Khawarijisme.
Isu Noe-Khawarijisme ini merupakan isu kontemporer kalam modern yang sudah barang tentu pembahasa ini bukan menjadi tujuan utama dalam pembahasan makalah ini yang mana menghajatkan penelitian dan pembahasan yang konprehensif.

Penutup
Dari uraian di atas penulis dapat megambil kesimpulan bahwa pemikiran politik dan teologi serta sikap ekstrem Khawarij lahir terutama disebabkan oleh latar belakang sosio-kultural mereka sebagai orang-orang Arab Badawi yang punya watak keras, kasar dan berani sehingga mereka tidak gentar mati walaupun untuk hal-hal yang tidak perlu. Dari sejarah Khawarij itu kita dapat mengambil pelajaran bahwa persoalan-persoalan sosial politik kalau dibungkus dengan agama bisa mendatangkan bahaya yang lebih besar, apalagi kalau dilakukan oleh orang-orang yang pemahaman dan penguasaannya terhadap ajaran Islam sangat terbatas bahkan sangat sempit. Wawasan yang sangat sempit dan tertutup dapat melahirkan ekstremitas tidak hanya pemikiran tapi juga sikap dan tindakan.
Peristiwa di atas mengilhamkan seseorang untuk memahami hubungan elite-masa. Karena sumber persoalan yang terjadi pada awal sejarah Islam adalah terdapat jurang pemisah antara nilai-nilai kerakyatan suku baduwi dan kultur pemerintahan suku Quraisy.
Secara garis besar pemikiran mereka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.  Menganggap kafir orang-orang yang berseberangan dengan mereka, terutama yang terlibat dalam Perang Shiffin. Karenanya, tidak ada istilah damai untuk penentang Khawarij, mengingat yang dimaksud ishlah dalam QS. Al-Hujurat: 9 adalah sesama orang Islam, tidak dengan orang kafir.
2.  Orang Islam yang berbuat dosa besar, seperti berzina dan pembunuh adalah kafir dan selamanya masuk neraka.
3.  Hak khilafah tidak harus dari kerabat nabi atau suku Quraisy khususnya, dan orang Arab umumnya. Seorang khalifah harus dipilih oleh kaum Muslimin melalui pemilihan yang bebas. Khalifah yang taat kepada Tuhan wajib ditaati. Sebaliknya, khalifah yang mengingkari Tuhan dan umat yang durhaka kepada khilafah yang wajib ditaati, boleh diperangi dan dibunuh.
4.  Mereka menganggap bahwa hanya daerahnya yang disebut dar al-Islam, dan daerah orang yang melawan mereka adalah dar al-harb. Karenanya, orang yang tinggal dalam wilayah dar al-harb, baik anak-anak maupun wanita, boleh dibunuh
5.  Orang musyrik adalah yang melakukan dosa besar, tidak sepaham dengan mereka, atau orang yang sepaham tetapi tidak ikut hijrah dan berperang bersama mereka. Orang musyrik itu halal darahnya. Nasib mereka bersama anak-anaknya akan kekal di neraka.
6.  Ajaran agama yang harus diketahui hanya ada dua, yakni mengetahui Allah dan rasul-Nya. Selain dua hal itu tidak wajib diketahui.
7.  Dosa kecil yang dilakukan secara terus menerus akan berubah menjadi dosa besar dan pelakunya menjadi musyrik.
8.  Imam dan khilafah bukanlah suatu keniscayaan. Tanpa imam dan khilafah, kaum muslimin bisa hidup dalam kebenaran dengan cara saling menasihati dalam hal kebenaran.


* Mahasiswa Program Pasca Sarjana IAIN Antasari Konsentrasi Filsafat Hukum Islam
[1] Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam, cet.9, jilid ke 3. Jakarta:Ichtiar Baru Van Hoeve, 2001, hal 47
[2] M. Abu Zahra, Sejarah Aliran-aliran dalam Islam Bidang Politik dan Aqidah, diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Shobahussurur Gontor : PSIA, 1991 hal 77.
[3] Ghalib Bin ‘Ali, Firaqun Mu’ashiratun, h.227
[4] Ghalib Bin ‘Ali, Firaqun Mu’ashiratun, h.227
[5] Abdul Mun’im, Mausu’ah firaq wa al jama’ah Wa al-Madzahib al-Islamiyah, h..215.
[6] Ghalib Bin ‘Ali, Firaqun Mu’ashiratun,H.228
[7] Ghalib Bin ‘Ali, Firaqun Mu’ashiratun,H.228
[8] Abdul lathif, Ta’sir al-Mu’tazilah fi al-khawarij wa al-Syi’ah asbabuhu wa madzohiruhu, H.303-305.
[9] Sahrastani, al-Milal wa al-Nihal, H. 113 Juz. 1
[10] Ibnu Qayyim al-Jauziah, Talbis al-iblis, H. 72 Juz 1
[11] Abu Jayid, Maddah Maqalat al-Firah, H. 30
[12] al-Taudhihat al-Kasyifat ‘Ala Kasyf al-Syubhat, H. 227 juz. 1
[13] Abu Jayid, Maddah Maqalat al-Firah, H. 30, lihat juga Muhammad Ustman, Al-Farq baina al-Firaq. H. 73 dan Sahrastani, Al-Milal wa al-NiH. H.114, Juz 1
[14] ‘Ali Abdul Fattah, al-Firaq al-kalamiah al-Islamiyah: Madkhal wa Dirasah, H. 169
[15] Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam, H. 47
[16] Khawarij merupa nama popular dari sekte ini yang mereka sandarkan dari firman Allah SWT:
وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الأرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا.
Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang Luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya sebelum sampai ke tempat yang dituju, Maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Lihat Ghalib Bin ‘Ali, Firaqun Mu’ashiratun, H.229.
[17] Al-Muhakkimah berasal dari semboyan mereka yang terkenal la Hukma illa li Allah tiada hukum kecuali hukum Allah  atau la hakama illa li Allah tiada pembuat hukum kecuali Allah. Alasan ini kemudian sebagai bekal untuk menolak keputusan Ali, yang berhak menentukan perkara hanya Allah bukan arbitase atau tahkim sebagaimana yang dijalankan Ali. Lihat  Ghalib Bin ‘Ali, Firaqun Mu’ashiratun, H.230-231, Lihat juga ‘Ali Abdul Fattah, al-Firaq al-kalamiah al-Islamiyah: Madkhal wa Dirasah, H. 169.
[18] berasal dari bahasa arab yasyri menjual. Penanaman ini didasarkan pada surah al-Baqarah ayat 207 yang artinya: “ada manusia yang mengorbankan dirinya untuk memperoleh keridhoan Allah”. golongan khawarij ini kemudian menganggap mereka sebagai orang-orang yang tercantum dalam ayat tersebut. Ghalib Bin ‘Ali, Firaqun Mu’ashiratun, H.230-231 Lihat juga ‘Ali Abdul Fattah, al-Firaq al-kalamiah al-Islamiyah: Madkhal wa Dirasah, H. 169.
[19] Berasal dari hurura yang berarti tempat mereka berkumpul setelah meninggalkan ali dan kemudian tempat tersebut dijadikan sebagai pusat kegiatan. Ghalib Bin ‘Ali, Firaqun Mu’ashiratun, H.230-231.
[20] Artinya “anak panah keluar dari busurnya”. Nama ini diberikan oleh lawan-lawan mereka. Ghalib Bin ‘Ali, Firaqun Mu’ashiratun, H.230-231 Lihat juga ‘Ali Abdul Fattah, al-Firaq al-kalamiah al-Islamiyah: Madkhal wa Dirasah, H. 169.
[21] Mahayuddin Haji Yahaya, Sejarah Awal Perpecahan Umat Islam 11 – 78 H/632 – 698 M Kualalumpur : Dewan Bahasa dan Pustaka, 1986 H. 108.
[22] Nouruzzaman Shiddiqi, Syi’ah dan Khawarij dalam Perspektif Sejarah, Yogyakarta, PLP2M, cet, I, 1985. H. 36.
[23] Lihat Sahrastani, al-Milal wa al-Nihal, H. 155-156, Juz. 1. Lihat juga ‘Ali Abdul Fattah, al-Firaq al-kalamiah al-Islamiyah: Madkhal wa Dirasah, H. 170.
[24] Yusran Asmuni, Dirasah Islamiyah: Pengantar Studi Sejarah Kebudayaan Islam dan Pemikiran, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996), h. 75
[25] Ahmad Amin, Fajr al-Islâm, Cairo : Dar al-Kutub, 1975 H. 256.
[26] Nouruzzaman Shiddiqi, Syi’ah dan Khawarij dalam Perspektif Sejarah,H. 39.
[27] Sahrastani, al-Milal wa al-Nihal, H. 144.
[28] Di samping Al-Khawarij dan Al-Haruriyah, mereka juga dikenal dengan nama-nama : Asy-Syurah karena mengatakan kami telah menjual diri untuk taat kepada Allah, tampaknya mereka ambilkan dari Q.S.2:207: “Ada manusia yang menjual dirinya untuk memperoleh keridhaan Allah”, Al-Mariqah karena mereka lepas dari agama seperti lepasnya anak panah dari busurnya, tapi mereka menolak nama ini karena menurut mereka, merekalah orang-orang yang beriman, sedangkan para penentangnya lah yang kafir dan musyrik dan Al-Muhakkimah karena mereka bersemboyankan La hukma illa lillah. ‘Ali Mushthafa Al-Ghazaly, Târîkh al-Firaq al-Islamiyah wa Nasyah ‘Ilmi ‘l-Kalâm inda al-Muslimîn Cairo: Maktabah Muhammad ‘Ali Shabij wa  Aulâduh, 1958 H. 246 – 265.
[29] Mushthafa Al-Ghazaly, Târîkh al-Firaq al-Islamiyah….H. 265.
[30] G.E. Von Grunebaum, Cassical Islam, A History 600 A.D.-1258 A.D., diterjemahkan dari bahasa Jerman ke bahasa Inggris oleh Katherine Watson Chicago : Aldine Publising Compay, 1970 H. 60.
[31] Lihat Muhammad Ustman, Al-Farq baina al-Firaq H. 74. Dicatat dalam sejarah bahwa pertama kali tiba di Haruriah adalah 4000 orang  kemudian bergabung dengan mereka 8000 orang sehingga mereka berjumlah 12000 orang. Lihat albir al-Nashri Kitab al-Mila Wa al-Nihal. H. 59.
[32] Abu Jayid, Maddah Maqalat al-Firah, H. 31.
[33] Untuk lebih jelas dapat dilihat dalam pembahasan khusus tentang “Muhawarat al-Imam ‘Ali li al-Khawarij Fi Nahrawan” dalam Ghalib Bin ‘Ali, Firaqun Mu’ashiratun, H. 235-237.
[34] Sejak  peristiwa Nahrawan inilah semua golongan yang membangkang Ali bn Abi Thalib disebut Khawarij. Lihat Hasan al-Nabakhti dan  S’aat Abdulla al-Qumi, Kitab Firaq al-Syi’ah, H. 19.
[35] Lihat ouruzzaman Shiddiqi, Syi’ah dan Khawarij dalam Perspektif Sejarah, H. 39 – 41.lihat juga Abdul Mun’im, Mausu’ah firaq wa al jama’ah Wa al-Madzahib al-Islamiyah, H.216-217.
[36] Nouruzzaman Shiddiqi, Syi’ah dan Khawarij dalam Perspektif Sejarah, H. 41.
[37] Abu Jayid, Maddah Maqalat al-Firah, H. 31.
[38] Sahrastani membagi tokoh khawarij dalam dua bagian, Mutaqaddimin yaitu ‘Ikrimah, Abu Harun al-‘Abdi, Abu al-Sya’sana dan Isma’il bin sami’ dan Mutaakhkhirin yaitu: al-Yaman bin Rabbab, Sta’labi baihasi, ‘Abdullah bin Zaid, Muhammad bin Harb, dan Yahya bin Kamil al-Ibadhi. Ia juga menyebutkan para penyair dari kelompok khawarij’Imran bin Khatthan, Hubaib bin Murrah, Jaham bin SHofwan, Abu Marwan Ghailan bin Muslim, Muhammad bin ‘Isa Yargust, Abu al-Hasan Kulstum bin Hubaibb al-Malabi, Abu Bakar Muhammad bin ‘Abdullah bin Syubaib al-Bashri dan lain-lain. Lihat Sahrastani, al-Milal wa al-Nihal, H. 160. Juz. 1.
[39] Muntoha, dkk, Pemikiran dan Peradaban Islam, Yogyakarta: UII Press, 1997, H. 54
[40] Ensiklopedi Islam, Dewan. H. 48
[41] Lihat Muhammad Ustman, Al-Farq baina al-Firaq H.72.
[42] Joesoef Sou’ch, Sejarah Daulat Khulafaur Rasyidin, Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1979, H. 535.
[43] Sahrastani, al-Milal wa al-Nihal, H.133-159. Lihat juga Abdul lathif, Ta’sir al-Mu’tazilah fi al-khawarij wa al-Syi’ah asbabuhu wa madzohiruhu,H. 307-313.
[44] Dalam pembagian sekte khawarij ini dapat dibagi dalam dua bagian sekte pokok dan sekte cabang. Dalam sekte poko maupun sekte cabang dlam literatur yang membahas tentang khawarij berbeda-beda ada yang membaginya dalam 4 bagian seperti Asy’ari, ada yang mengatakan lima sekte, ada yang mengatakan delapan sekte seperti al-Sahrastani bahkan ada yang membaginya sampai dua puluh lima dan tiga puluh sekte, hal ini menurut pengarang Firaq Mu’ashirah ada beberapa sebab
1.   Khawarij ada golongan perang yang berpindah-pindah sehingga sulit untuk menentukan mereka.
2.   Khawarij ada golongan yang sering terjadi perpecahan didalam tubuhnya terkadang disebabkan perbedaan hal-hal yang kecil.
3.   Khawarij adalah golongan yang menyembunyikan literature yang berhubungan dengan golongan mereka, sehingga untuk mempelajarinya sanga-sangat sulit. Lihat Ghalib Bin ‘Ali, Firaqun Mu’ashiratun, H. 232-233.
[45] Sahrastani, al-Milal wa al-Nihal, H.133-137, Lihat juga Muhammad Ustman, Al-Farq baina al-Firaq, H. 73-78, Lihat juga Albir al-Nashri Kitab al-Mila Wa al-Nihal. H. 58-62.
[46] Sahrastani, al-Milal wa al-Nihal, H.137-141, Lihat juga Abdul lathif, Ta’sir al-Mu’tazilah fi al-khawarij wa al-Syi’ah asbabuhu wa madzohiruhu, H.180-182. Lihat juga Muhammad Ustman, Al-Farq baina al-Firaq, H. 78-81. Lihat juga Albir al-Nashri Kitab al-Mila Wa al-Nihal. H. 63-64.
[47] http://zanikhan.multiply.com/journal/item/1748/Khawarij.
[48] Sahrastani, al-Milal wa al-Nihal, H.141-144 Lihat juga ‘Ali Abdul Fattah, al-Firaq al-kalamiah al-Islamiyah: Madkhal wa Dirasah, H.182-185. Lihat juga Muhammad Ustman, Al-Farq baina al-Firaq, H. 81-84. Lihat juga Albir al-Nashri Kitab al-Mila Wa al-Nihal H. 65-67.
[49] Sahrastani, al-Milal wa al-Nihal, H.144-148
[50] Sahrastani, al-Milal wa al-Nihal, H.148-152 Lihat juga ‘Ali Abdul Fattah, al-Firaq al-kalamiah al-Islamiyah: Madkhal wa Dirasah, H.185-188.
[51] Sahrastani, al-Milal wa al-Nihal, H.152-156
[52] Sahrastani, al-Milal wa al-Nihal, H.159-160, Lihat juga Muhammad Ustman, Al-Farq baina al-Firaq, H. 84-86. Lihat juga Kitab al-Milal Wa al-Nihal, H. 67-68.
[53] Sahrastani, al-Milal wa al-Nihal, H.156-159, Lihat juga ‘Ali Abdul Fattah, al-Firaq al-kalamiah al-Islamiyah: Madkhal wa Dirasah, H.188-195.
[54] Lihat Abu Jayid, Maddah Maqalat al-Firah, H.38
[55] Lihat Abu Jayid, Maddah Maqalat al-Firah, H.39
[56] Lihat: Ahmad bin Sayyid Zaini Dahlan, Ad Durar As Sunniyyah Fi Raddi ‘Alal Wahabiyyah, Darul Jawami’ul Kalim. Kairo- Mesir. hal 169- 187.
[57] Ini sebagaimana yang dinukil oleh Syekh Abdullah Harari dalam maqalatnya. Lihat: Al Maqalat As Sunniyyah, hal: 58.
[58] Lihat: Imam Ibnu ‘Abidin, Raddu Al Muhtar ‘Ala Ad Durri Al Mukhtar, Maktabah Musthafa Al Babi Al Halaby. Kairo- Mesir. Juz. 4, H. 262.
[59] Lihat: Abu Zahrah, Tarikh Al Madzahib Al Islamiyyah, Darul Fikr Arabi. Kairo- Mesir. H. 212.
[60] Lihat: Sayyid Muhammad Zaki Ibrahim, As Salafiyyah Al Mu’ashirah Ila Aina? Wa Man Hum Ahlussunnah?, Muassasah Ihyaut Turast As Shufi. Kairo- Mesir.H. 7- 8.