Pages

Selasa, 07 Mei 2013

Penulisan Kitab Hadis

METODOLOGI PENULISAN KITAB HADITS

Muhammad Dainuri, S.Th.I*
Pendahuluan
Dalam rentang waktu yang cukup panjang telah banyak terjadi pemalsuan hadits yang dilakukan oleh orang-orang dan golongan tertentu dengan berbagai tujuan.[1] Maka tidaklah mengherankan jika umat Islam sangat memberikan perhatian yang khusus terhadap hadits terutama dalam usaha pemeliharaan jangan sampai punah atau hilang bersama dengan hilangnya generasi sahabat, mengingat pada sejarah awal Islam, hadits dilarang ditulis dengan pertimbangan kekhawatiran percampuran antara al-Quran dan hadits sehingga yang datang kemudian sulit untuk membedakan antara hadits dan al-Quran.[2]
Dalam berbagai riwayat menyebutkan bahwa kalangan sahabat pada masa itu cukup banyak yang menulis hadits secara pribadi, tetapi kegiatan penulisan tersebut selain dimaksudkan untuk kepentingan pribadi juga belum bersifat massal.[3]
Atas kenyataan inilah maka ulama hadits berusaha membukukan hadits Nabi. Dalam proses pembukuan selain harus melakukan perjalanan untuk menghubungi para periwayat yang terbesar diberbagai daerah yang jauh, juga harus mengadakan penelitian dan penyelesaian terhadap suatu hadits yang akan mereka bukukan. Karena itu proses pembukuan hadits secara menyeluruh mengalami waktu yang sangat panjang.
Adapun sejarah penulisan hadits secara resmi dan massal dalam arti sebagai kebijakan pemerintah barulah terjadi pada masa pemerintahan khalifah Umar Bin Abdul Aziz tahun 100 hijriyah, dengan alasan beliau khawatir terhadap hilangnya hadits nabi bersamaan dengan meninggalnya para ulama dimedan perang dan juga khawatir akan bercampurnya hadits-hadits sahih dengan hadits-hadits palsu. Dipihak lain bahwa dengan semakin meluasnya daerah kekuasaan Islam, sementara kemampuan antara tabi’in yang satu dengan lainnya tidak sama, maka dengan jelas memerlukan adanya kodofikasi atau pembukaan hadits.[4]
Sepanjang sejarah, hadits-hadits yang tercantum dalam berbagai kitab hadits, telah melalui proses penelitian yang sangat rumit, baru menghasilkan hadits yang diinginkan oleh para penghimpunnya. Sebagai implikasi dari penyeleksian dan pembukuan hadits-hadits tersebut, maka muncullah berbagai kitab hadits dengan berbagai macam corak dan metode seperti kitab Al Muwatta (al- Msusannaf), kitab shahih, kitab sunan, kitab musnad, kitab jami’, dan kitab ajza’. Kitab-kitab inipun merupakan implikasi dari nuansa dan perbedaan penyusunan dalam menggunakan pendekatan metode, kriteria dan teknik penulisan. Dalam usaha pembukuan hadits tentunya para ulama berbeda dalam memilih metode yang digunakan sesuai dengan argumen dan latar belakangnya yang berbeda-beda. Beberapa kitab hadits yang masyhur dikalangan ummat Islam adalah kitab Bukhari dan Muslim yang dikenal dengan sebutan al-Jami’ al-Shahih. Kita akan bertanya mengapa kitab Bukhari dan Muslim sangat terkenal.
Apapun bentuk metode dan pola penyusunan kitab hadits yang dilakukan Imam Bukhari dan Imam Muslim, sebagai insan akademis dunia memberikan apresiasi yang besar kepada kedua imam tersebut. Berkat jasa beliau berdualah kemurnian hadits dapat terjaga terutama dari kalangan orentalis yang selalu mengkritik dan menghujat para ahli hadits termasuk salah satunya adalah Imam Bukhari. Kitab Shahih Imam Bukhari banyak mendapat kritikan dan hujatan dari para orentalis yang berkaitan dengan metode dan pola punyusunan kitab tersebut. Imam Muslim merupakan salah satu murid dari Imam Bukhari, berdasarkan hal tersebut pola penyusunan kitab Shahih Imam Muslim banyak dipengaruhi oleh pola penyusunan kitab hadits yang dilakukan oleh gurunya yaitu Imam Bukhari. Pembukuan hadits yang di imami oleh Bukhari Muslim dengan metode yang belum pernah dilakukan para pendahulu mereka, kemudian di amini oleh para generasi sesudah mereka sehingga bermunculan metode-metode baru yang menjadikan urgensi pembukuan hadits semakin kompleks dan beragam baik dari era lasik sampai era modern.
Siapa-siapa saja imam-imam hadits yang meulis dan membukukah hadits dengan beragam metode, Bagaimana sajakah bentuk-bentuk penulisan yang dilakukan para imam hadits tersebut, metode-metode apa sajakah yang mereka terapkan dalam menulis dan membukukan hadits, apa saja keistimewaan-keistimewaan dari metode yang meraka terapkan dan bagaimana perkembangan penulisan dan pembukuan hadits dari era klasik sampai era modern. Metode-metode penulisan kitab-kitab hadits yang beragam tersebutlah dan permasalahannya yang akan menjadi bahasan pokok dalam penulisan makalah ini.






Metodologi Penulisan Kitab Hadits

Metodologi penulisan kitab hadits sangat berangam sesuai dengan perkembangan zaman dari era klasik sampai era modern yang dapat disimpulkan dalam metode-metode berikut:[5]

Pertama: Kitab-kitab yang ditulis sesuai dengan tema tertentu[6]
Kitab-kitab yang ditulis sesuai dengan tema tertentu juga disebut dengan al-Ashnaf.[7] Metodologi penulisan sesuai dengan tema ini sebagaimana yang diungkap oleh Nuruddin ‘Itir adalah:[8]
أن تجمع الأحاديث ذات الموضوع العام الواحد إلى بعضها البعض, تحت عنوان عام يجمعها, مثل كتاب الصلاة, كتاب الزكاة, كتاب البيوع, ثم توزع الأحاديث على أبواب يضم كل باب حديثا أو احاديث في مسألة جزئية, ويوضع لهذا الباب عنوان يدل على الموضوع مثل باب مفتاح الصلاة الطهور ويسمى المحدثون العنوان ترجمة.
Maksudnya adalah bahwa hadits-hadits bertema umum yang sama kemudian digabungkan dalam sebuah judul tema seperti Kitab al-Shalah, Kitab al-Zakah dan Kitab al-Buyu’ kemudian hadits-hadits tersebut dibagi dalam bab-bab yang mencakup satu hadits atau beberapa hadits yang berbicara tentang masalah-masalah, kemudian diberikan sub judul dari tema tersebut seperti Bab Miftah al-Shalah al-Thuhur, sub judul ini dalam istilah muhadditsin disebut al-Tarjamah.
Keistimewaan metode ini adalah kemudahan dalam merujuk terhadap hadits-hadits yang berhubungan masalah-masalah tertentu karena hadits-haditsnya sudah terkelompok-terkelompok dalam bab-bab dan sub bab.
Penulisan hadits dengan metode ini ada beberapa bentuk, yaitu:

1.   Al-Jawami’
Al Jawami’ jamak dari jaami’. Jam’i berarti sesuatu yang mengumpulkan, mencakup dan menggabungkan. Kitab Jami’ dalam terminologi muhadditsin adalah kitab hadits yang metode penyusunannya mencakup seluruh topik-topik keagamaan, baik Aqidah, Thaharah, Ibadah, Mu’amalah, pernikahan, Sirah, Riwayat Hidup, Tafsir, Tazkiyatun Nafs, dan Lain-lain.[9] Dengan ungkapan lain yaitu:[10]
الجامع في إصطلاح المحدثين هو كتاب الحديث المرتب على الأبواب الذي يوجد في أحاديث في جميع موضوعات الدين وأبوابه, وعددها ثمانية أبواب رئيسة هي العقائد والأحكام والسير والأدب والتفسير والفتن وأشراط الساعة والمناقب.
Kitab-kitab Jami’ yang terkenal adalah:
  1.       Al Jami’ Ash-Shahih, karya Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ismail Al Bukhari (W 256 H), orang yang pertama menyusun dan membukukan hadits shahih, akan tetapi belum mencakup semuanya. Kitab ini disusun berdasarkan urutan bab, diawali dengan kitab Bad’u Al Wahyu, dan Kitabul Iman. Kemudian dilanjutkan dengan Kitabul Ilmi dan lainnya hingga berakhir Kitabut Tauhid.[11] Jumlah semuanya ada 97 kitab yang kemudian dibagi menjadi 4550 bab dengan jumlah secara kesuluruhan 7275 buah hadits dan termasuk 4000 hadits yang berulang.[12]
Kitab Shahih Bukhari ini mendapat perhatian yang cukup besar dari para ulama, di antaranya dengan membuat syarahnya, dan syarh yang paling baik adalah kitab Fathul Bari bi Syarhi Shahihi Al Bukhari, karya Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani (W 852 H), dan Umdatul Qari, karya Badrudin Al Aini (W 855 H), dan Irsyadus Sari Ila Shahihi Al Bukhari, karya Al Qasthalani (W 922 H). Semuanya dicetak.

    2.        Al Jami’ Ash-Shahih, karya Imam Abul Husain Muslim bin Hajjaj Al Qusyairi An Naisaburi (W 261 H), berisi kumpulan riwayat hadits yang shahih saja sesuai dengan syarat yang ditentukan oleh Imam Muslim, dimulai dengan Kitab Iman, kemudian Kitab Thaharah, Kitab Haid, Kitab Shalat, dan dikahiri dengan Kitab Tafsir. Jumlah semuanya ada 54 kitab. Setiap kitab meliupti beberapa bab, dan pada setiap bab terdiri dari sejumlah hadits.[13]
Menurut para jumhur ulama hadits, Shahih Muslim menempati peringkat kdeua setelah Shahih Bukhari. Sedangkan menurut sebagian ulama wilayah Maghrib Shahih Muslim lebih tinggi dari Shahih Bukhari.
Shahih Muslim juga mendapat penerimaan dan perhatian yang sangat besar oleh para ulama, di antaranya dengan cara membuat syarh terhadap kitab tersebut. Di antaranya kitab syarah yang terbaik adalah: “Al Minhaj fi Syarh Shahih Muslim.”, karya Al Qadhi ‘Iyadh (W 544 H), dan kitab “Ad Dibaj ‘Ala Shahih Muslim bin Al Hajjaj” karya Imam Jalaludin Abdurrahman bin Abu Bakar As Suyuthi (W 911 H), sudah dicetak.
Dua kitab Jami’ ini di samping adanya syarah dari dua kitab ini juga telah ditulis kitab-kitab mustakhraj atas Shahih Bukhari, Shahih Muslim, atau keduanya secara bersama. Di samping itu juga telah ditulis kitab-kitab mustadrak atas kitab jami’. Yang paling masyhur di antaranya adalah: Al Mustadrak ‘Ala Ash Shahihain karya Abu Abdillah Al Hakim (W 405 H).

    3.        “Al Jami Ash-Shahih” karya Imam Abu Isa Muhammad bin Isa At Tirmidzi (W 279 H), merupakan kumpulan hadits shahih, hasan, dan dhaif. Namun sebagian besar dijelaskan derajat hadits tersebut, dengan urutan bab-bab berikut: bab Thaharah, bab Shalat, bab Witir, bab Shalat Jumat, bab Shalat ‘Idain (Dua hari raya), bab Safar, bab Zakat, bab Puasa, bab Haji, bab Jenazah, bab Nikah, bab Persusuan, bab Talak dan Li’an, bab Jual-beli, hingga diakhiri dengan bab Al Manaqib.[14]
Di antara syarh dari kitab Tirmidzi ini: “Aridhatul Ahwadzi ‘Ala At Tirmidzi” karya Al Hafidz Abu Bakar Muhammad bin Abdullah Al Isybili, atau yang lebih dikenal dengan Ibnu Arabi Al Maliki (W 543 H). Kemudian disyarh oleh Al Hafidz Abdurrahman bin Ahmad Ibnu Rajab Al Hanbali (W 795 H). Kitab “Jami’ At Tirmidzi” ini biasanya dinamakan dengan “Sunan At Tirmidzi” karena pengarangnya lebih menekankan kepada hadits-hadits hukum[15].

2.   Al-Sunan
“As Sunan” yaitu:[16]
الكتب التي تجمع أحاديث الأحكام المرفوعة مرتبة على أبواب الفقه
Kitab-kitab hadits yang disusun berdasarkan bab-bab tentang fikih, dan hanya memuat hadits yang marfu’ [17] saja agar dijadikan sebagai sumber bagi para fuqaha’ dalam mengambil kesimpulan hukum. As-sunan berbeda dengan Al-Jawami’. Dalam As Sunan tidak terdapat pembahasan tentang akidah, sirah, manaqib, dan lain sebagainya, tapi hanya terbatas pada masalah fikih dan hadits-hadits hukum saja.
Al Kittani mengatakan bahwa sebagian kitab-kitab yang dikenal dengan nama As Sunan, menurut istilah mereka, adalah kitab-kitab yang disusun berdasarkan urutan bab-bab tentang fikih mulai dari bab Iman, Thaharah, Zakat, dan seterusnya. Tidak ada di dalamnya sedikit pun hadits yang mauquf, sebab mauquf menurut mereka tidak dinamakan sunnah, tapi hadits. [18]
Kitab-kitab “As Sunan” yang terkenal adalah:
  1. Sunan Abi Dawud”, karya Sulaiman bin Asy’ats As Sijistani (W 275 H)
  2. “Sunan An Nasa’i” yang dinamakan dengan “Al Mujtaba”, karya Abdurrahman Ahmad bin Syu’aib An Nasa’I (W 303 H).
  3. “Sunan Ibnu Majah” karya Muhammad bin Yazid bin Majah Al Qazwini (W 204 H)
Ketiga kitab sunan ini biasanya dikenal dengan istilah al-Sunan al-Arba’ah dengan menambah sunan al-Tirmidzi. Ada beberapa istilah popular dikalangan muhadditsin yaitu:
a.    Al-Arba’ah berarti Sunan Abi Dawud, Sunan al-Turmuzdi, Sunan al-Nasai dan Sunan Ibnu majah.
b.    Al-Tslatsah berarti Sunan Abi Dawud, Sunan al-Turmuzdi dan Sunan al-Nasai.
c.    Al-Khamsah berarti berarti Sunan Abi Dawud, Sunan al-Turmuzdi, Sunan al-Nasai, Sunan Ibnu majah dan Musnad Ahmad.
d.    Al-Sittah berarti Jami’ Bukhari, Jami’ Muslim, Sunan Abi Dawud, Sunan al-Turmuzdi, Sunan al-Nasai, Sunan Ibnu majah.[19]
  1. “Sunan Ad Darimi” karya Abdullah bin Abdurrahman Ad Darimi (W 255 H)
  2. “Sunan Asd Daruquthni” karya Ali bin Umar Ad Daruquthni (W 385 H)
  3. “Sunan Al Baihaqi”karya Abu Bakar Ahmad bin Husein Al Baihaqi (W 458 H).



3.   Al-Mushannafat
Al-Mushannafat, jamak Mushannaf. Menurut istilah ahli hadits adalah:[20]
كتب مرتبة على الأبواب لكنها تشتمل على الحديث الموقوفة والحديث المقطوع بالإضافة إلى الحديث المرفوع.
Sebuah kitab yang disusun berdasarkan urutan bab-bab tentang fikih, yang meliputi hadits marfu’, mauquf’, dan maqthu’, atau di dalamnya terdapat hadits-hadits Nabi, perkataan sahabat, fatwa-fatwa tabi’in, dan terkadang fatwa tabi’ut tabi’in. Perbedaan antara mushannaf dengan sunan, bahwa mushannaf mencakup hadits-hadits marfu’, mauquf, dan maqthu’. sedangkan kitab sunan tidak mencakup selain hadits yang marfu’ kecuali sedikit sekali.
Karya-karya yang terkenal dalam metode penulisan ini adalah:
  1. “Al-Mushannaf” karya Abu Bakar Abdurrazaq bin Hammam Ash Shan’ani (W 211 H).
  2. “Al-Mushannaf” karya Abu Bakar Abdullah bin Muhammad bin Abi Syaibah Al Kufi (W 235 H).
  3. “Al-Mushannaf” karya Baqiyy bin Makhlad Al Qurthubi (W 276 H)
Dalam term Mushannafat ada istilah muhaddisin dengan Muwaththa’at. Muwaththa’at Jamak dari Muwaththa’.[21] Menurut istilah ahli hadits adalah sebuah kitab yang tersusun berdasarkan urutan bab-bab fikih dan mencakup hadits-hadits marfu’, mauquf, dan maqthu’, sama seperti mushannaf, meskipun namanya berbeda.
Karya-karya muwaththa’at yang terkenal:
  1. Al Muwaththa’ karya Imam Malik bin Anas Al Madani (W 179 H), dicetak berulang kali.
  2. Al Muwaththa’ karya Ibnu Abi Dzi’ib Muhammad bin Abdurrahman Al Madani (W 158 H)
  3. Al Muwaththa’ karya Abu Muhammad Abdullah bin Muhammad Al Marwazi (293 H).

4.   Al-Mustadrakat
Mustadrak merupakan bentuk jamak dari Mustadrak yang berarti orang yang memperbaiki.[22] Dalam terminologi Muhaddittsin Mustadrak adalah: [23]
كتاب يخرج صاحبه أحاديث لم يخرجها كتاب معين من كتب السنة وهي على شرط ذلك الكتاب اي رجالها يروي لهم ذلك الكتاب.
Jadi, mustadrak[24] adalah salah satu bentuk penyusunan kitab di kalangan muhaddisin, yang memperbaiki (meriwayatkan) hadits dari satu kitab berdasarkan syarat atau ketentuan kitab aslinya. Adapun syarat al-Mustadrak yaitu: rijal isnad merupakan orang yang mengeluarkan hadits dari kitab aslinya, tanpa/tidak melalui perantara (wasilah).[25] Kitab Mustadrak juga merupakan kitab yang mencatat hadits-hadits yang tidak disebutkan oleh ulama-ulama yang sebelumnya, padahal hadits tersebut sahih menurut syarat yang dipergunakan oleh ulama itu.[26]
          Mustadrak yang paling popular adalah Mustadrak ‘ala Shohihain karya Hakim Abu Abdillah Muhammad bin Muhammad al-Naisaburi (W 405 H) namun ia dianggap mutasahil.
          Manfaat dari penyusunan hadits melalui metode mustadrak ini adalah memperkaya matan hadits.[27]

5.   Al-Mustakhraj
Mustakhraj dalam istilah muhaddisin adalah: [28]
المستخرجات أو المخرج كتاب يروى فيه صاحبه أحاديث كتاب معين بأسانيد لنفسه يلتقي في اثنآء السند مع صاحب الكتاب الاصل في شيخه أو من فوقه ويرويه حسب لفظ السند الذي وقع.
Menurut Syuhudi Ismail Mustakkhraj adalah kitab hadits yang memuat matan-matan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhary atau Muslim atau kedua-duanya atau lainnya, kemudian sipenyusun meriwayatkan matan-matan hadits tersebut dengan sanad sendiri yang berbeda. Misalnya: mustakhraj shahih bukhary susunan Al Jurjaniy.[29]
Manfaat dari penyusunan hadits melalui metode mustakhraj ini adalah memperkaya sanad hadits atau thruruk al-Riwayah.[30] Dengan adanya mustakhraj dapat menjelaskan kesenjangan-kesenjangan dalam sanad yang shahih seperti menjelaskan tadlis dalam periwayatan yang diterima melalui sima’ah dan menjelaskan yang mubham atau belum jelas dan masih banyak lagi fari manfaat mustakhraj ini.[31]

Kedua: Kitab-kitab yang ditulis sesuai dengan urutan nama sahabat
Metode penulisan kitab hadits yang ditulis dengan urutan nama sahabat maksudnya adalah:[32]
كتب تجمع الأحاديث التي يرويها كل صحابي في موضع خاص تحمل إسم راويها الصحابي
          Manfaat dari metode ini adalah kemudahan dalam mengetahui jumlah periwayat dan riwayat dari sahabat, sehingga dapat diketahui sahabat-sahabta yang banyak meriwayatkan hadits-hadits nabi, seperti Jabir bin Abdullah, Abu Hurairah, ‘Aisyah dan lain-lain. Model penulisan kitab hadits dalam metode ini ada dua macam, yaitu:
1.   Al-Masanaid[33]
Al Masanid, jamak dari Musnad, maksudnya adalah: [34]
الكتاب الذي تذكر فيه الأحاديث على ترتيب الصحابة رضي الله عنهم بحيث توافق حروف الهجاء أو ما يوافق السوابق الإسلامية أو شرافة النسب.

Urutan nama-nama para sahabat di dalam musnad kadang berdasarkan huruf hijaiyah atau alfabet sebagaimana dilakukan oleh banyak ulama, dan ini paling mudah dipahami, kadang juga berdasarkan pada kabilah dan suku, atau berdasarkan yang paling dahulu masuk Islam, atau berdasarkan negara. Pada sebagian musnad kadang hanya terdapat kumpulan hadits salah seorang sahabat saja, atau hadits sekelompok para sahabat seperti sepuluh orang yang dijamin masuk surga.[35]
Al Masanid yang dibuat oleh para ulama hadits jumlahnya banyak Al Kittani dalam kitabnya Ar Risalah Al Mustathrafah menyebutkan jumlahnya sebanyak 82 musnad bahkan lebih.[36]
Adapun musnad-musnad yang paling terkenal adalah:
1.    Musnad Abu Dawud Sulaiman bin Dawud At Thayalisi (W 204 H)
2.    Musnad Abu Bakar Abdullah bin Az Zubair Al Humaidy (W 219 H)
3.    Musnad Imam Ahmad bin Hanbal (wagat 241 H)
4.    Musnad Abu Bakar Ahmad bin Amru Al Bazzar (W 292 H)
5.    Musnad Abu Ya’la Ahmad bin Ali Mutsanna Al Mushili (W 307 H).
Musnad-musnad ini tidak hanya berisi kumpulan hadits shahih saja, tetapi mencakup semua hadits shahih, hasan dan dhaif, dan tidak berurutan berdasarkan bab-bab fikih, karena urutan tersebut harus menggabungkan musnad setiap sahabat tanpa melihat objek pembahasan riwayatnya. Hal ini akan mempersulit bagi orang yang ingin mempelajarinya karena kesulitan mendapatkan hadits-hadits hukum fikih itu sendiri, atau hadits-hadits tentang suatu permasalahan.[37]

2.   Al-Athraf
Al-Athraf adalah:[38]
الأطراف جمع طرف، وطرف الحديث: الجزء الدال على الحديث، أو العبارة الدالة عليه، مثل حديث الأعمال بالنيات، وحديث الخازن الأمين، وحديث سؤال جبريل. وكتب الأطراف: كتب يقتصر مؤلفوها على ذكر طرف الحديث الدال عليه، ثم ذكر أسانيده في المراجع التي ترويه بإسنادها، وبعضهم يذكر الإسناد كاملا، وبعضهم يقتصر على جزء من الإسناد.
Maksudnya al-Athraf adalah kumpulan hadits dari beberapa kitab induknya dengan cara mencantumkan bagian atau potongan hadits yang diriwayatkan oleh setiap sahabat. Penyusunan hanyalah menyebutkan beberapa kata atau pengertian yang menurutnya dapat dipahami hadits yang dimaksud. Sedangkan sanad-sanadnya terkadang ada yang menulisnya dengan lengkap dan ada yang menulisnya dengan mencantumkan sebagiannya saja. Kitab athraf juga adalah kitab hadits yang hanya menyebut sebagian dari matan-matan hadits tertentu kemudian menjelaskan seluruh sanad dari matan itu, baik sanad yang berasal dari kitab hadits yang dikutip matannya maupun dari kitab lainnya.
Model penulisan kitab hadits dalam bentuk Athraf yang paling popular adalah:
1.    Tuhfa al-Asyraf bi Ma’rifah Al-Athraf karya al-Hafidz al-Imam Abi al-Hajjaj Yusuf bin Abdurrahman al-Muzi (W 742 H). dalam kitab ini menghimpun Athraf dari Kutub al-Sittah dan mulhaqnya yaitu:
a.    Muqaddimah Shahih Muslim
b.    Al-Marasil Li Abi Dawud al-Sajistani
c.    Al-‘Ilal al-Shaghir Li al-Turmudzi
d.    Al-Syamail li al-Turmudzi
e.    ‘Amal al-Yaum Wa al-lailah Li an-Nasai
2.    Dzakhair al-Mawarits Fi al-Dilalah ‘Ala Mawadi’I al-Hadits karya Syaikh Abdul al-‘Ani al-Nabilsy (W 114 H). dalam kitab ini menghimpun Athraf dari Kutub al-Sittah dan al-Muwaththa (Malik).
Metode athraf ini sangat memudahkan mengetahui sanad-sanad hadits karena terkmpul dalam satu tema dan juga memudahkan untuk mengetahui mukharrij asal dan letak bab-bab pembahsannya.[39]

Ketiga: Al-Ma’ajim
Al-Ma’ajim adalah jamak dari Mu’jam. Adapun menurut istilah para ahli hadits adalah:[40]
كتاب تذكر فيه الأحاديث على ترتيب الشيوخ، والغالب عليها اتباع الترتيب على حروف الهجاء، فيبدأ المؤلف المعجم بالأحاديث التي يرويها عن شيخه أبان، ثم إبراهيم، وهكذا.
Kitab yang berisi kumpulan haidts-hadits yang berurutan berdasarkan nama-nama sahabat, atau guru-guru penyusun, atau negeri, sesuai dengan huruf hijaiyah.
Adapun kitab-kitab muj’am yang terkenal, antara lain adalah:
1.    Tiga Mu’jam Abul Qasim Sulaiman bin Ahmad At Thabarani (W 360 H):
a.    Al-Mu’jam Al-Kabir, adalah berisi musnad-musnad para sahabat yang disusun berdasarkan huruf mu’jam (kamus), kecuali musnad Abu Hurairah karena disendirikan dalam satu buku. Ada yang mengatakan: Berisi 60.000 hadits. Ibnu Dihyah berkata bahwa dia adalah mu’jam terbesar di dunia. Jika mereka menyebut “Al Mu’jam”, maka kitab inilah yang dimaksud. Tapi jika kitab lain yang dimaksud maka ada penjelasan dengan kata lain.
b.    Al-Mu’jam Al-Awsath, disusun berdasarkan nama-nama gurunya yang jumlahnya sekitar 2000 orang. Ada yang mengatakan: di dalamnya terdapat 30.000 hadits.
c.    Al-Mu’jam As-Shaghir, berisi 1000 orang dari para gurunya, kebanyakan setiap satu hadits diriwayatkan dari satu gurunya. Ada yang mengatakan: berisi 20000 hadits.
Mu’jam-mu’jam at-Thabrani ini sangant masyhur, namun perlu dibedakan dalam penggunaan istilahnya, yaitu apabila disebutkan al-Mujam atau Akhrajahu al-Thabrani berarti yang dimaksud adalah Mu’jam al-Kabir.[41]
2.    Mu’jam Al Buldan, karya Abu Ya’la Ahmad bin Ali Al Mushili (W 307 H).

Keempat: Kitab-kitab yang ditulis sesuai Huruf di awal Hadits
Pengertian dari Kitab-kitab yang ditulis sesuai Huruf di awal Hadits adalah:[42]
كتب مرتبة على حروف المعجم، بحسب أول كلمة من الحديث، تبدأ بالهمزة، ثم بالباء، وهكذا....
Mengunakan metode ini sangat memudahkan untuk merujuk hadits-hadits yang diriwayatkan asalkan mengetahui lafadz kalimat pertama dari sebuah matan hadits apabila tidak maka akan sangat menyulitkan.[43] Diantara penulisan kitab hadits yang tergolong dalam klasifikasi diantara adalah:
1.   Majami’
Majami’ adalah:
كتب تجمع أحاديث عدة كتب من مصادر الحديث
Dalam metode ini ada dua model penulisan:[44]
1.    Model penulisan sesuai tema (Maudhu’)
Penulis yang menerapkan model penulisan ini adalah:
a.  Ibnu Atsir al-Mubarak bin Muhammad al-Jazri (W 606 H) dalam karyanya Jami’ al-Ushul min Ahadits al-Rasul yang menghimpun hadits-hadits bukhari muslim, Muwaththa, Sunan Abi Dawud, Sunan al-Turmuzdi dan Sunan al-Nasai.
b.  Syaikh al-Muhaddits ‘Ali bin Hisam al-Muttaqi al-Hindi (W 975 H) dalam karyanya Kanzu al-‘Ummal Fi al-Sin al-Aqwal Wa al-Af’al yang menghimpun lebih dari 93 kitab rujukan.
2.    Model penulisan sesuai kalimat di awal hadits
Model penulisan sesuai kalimat di awal hadits ini sesuai dengan huruf alphabet bahasa Arab. Penulis yang menerapkan model penulisan ini adalah:
a.    Al-Imam al-Hafidz Jaluddin al-Suyuthi (W 911 H) dalam dua karya monumentalnya:
                                 1.    al-Jami’ al-Kabir atau yang lebih dikenal dengan sebutan Jam’u al-Jawami’ atau dalam versi cetaknya disebut dengan Jami’ al-Ahadits yang terangkum dalam 18 jilid.
                                 2.    Al-Jami’ al-Shagir Li Ahadits al-Basyir al-Nadzir yang memuat lebih dari 10031 hadits.
2.   Kitab Hadits yang masyhur dalam perkataan
Kitab Hadits yang masyhur dalam perkataan maksudnya adalah hadits-hadits yang beredar dikalangan masyarakat luas. Penulis yang menerapkan model penulisan ini adalah: [45]
a.    Al-Imam al-Hafidz Syamsuddin Muhammad bin Abdurrahman al-Sakhawi (W 902 H) dalam karyanya al-Maqashid al-hasanah Fi al-Ahadits al-Musytaharah ‘Ala al-Alsinah yang memuat lebih dari 1356 hadits.
b.    Al-‘Allamah al-Muhaddits Ismma’il bin Muhammad al-‘Ajluni dalam karyanya Kasyf al-Khafa Wa Muzil al-Ilbas ‘Amma Isytahara Min al-Hadits ‘Ala al-Sinah al-Nash yang memuat kurang lebih 3250 hadits.
3.   Mafatih wa Faharits (Karya-karya Kunci dan Indeks)
Karya-karya kunci (mafatih), indeks (faharis) yang disusun oleh ulama terhadap karya-karya tertentu merupakan salah satu metode modern. Di antara contoh-contohnya adalah: [46]
1.    Miftah al-Shahihain oleh Muhammad al-Syarif ibn Mushthafa al-Tauqadi.
2.    Miftah al-Tartib li Ahadits Tarikh al-Khathib oleh Sayyid Ahmad ibn Sayyid Muhammad ibn Sayyid al-Shadiq al-Ghumari al-Maghribi;
3.    al-Bughyah fi Tartib Ahadits al-Hilyah oleh Sayyid Abdul Aziz ibn Sayyid Muhammad ibn Sayyid Shadiq al-Ghumari;
4.    Fihris li Tartib Ahadits Shahih Muslim oleh Muhammad Fu’ad Abdulbaqi;
5.    Miftah li Ahadits Muwaththa’ Malik oleh Muhammad Fuad Abdul Baqi;
6.    Fihris li Tartib Ahadits Sunan Ibn Majah oleh Muhammad Fu’ad Abdulbaqi.

KeLIMA: al-Zawaid (al-Mushannafat al-Zawaid)
Pengertian dari al-Zawaid (al-Mushannafat al-Zawaid) adalah:[47]
وهي مصنفات تجمع الأحاديث الزائدة في بعض الحديث على أحاديث كتب أخرى، دون الأحاديث المشتركة بين المجموعتين.
Sebuah hadits terkadang ditulis oleh sejumlah penulis hadits secara bersama-sama dalam kitab mereka. Ada pula hadits yang hanya ditulis oleh seorang penulis hadits saja, sementara penulis hadits yang lain tidak menuliskannya. Maka hadits-hadits jenis kedua ini menjadi lahan penelitian para pakar hadits yang datang kemudian. Hadits-hadits ini kemudian dihimpunnya dalam suatu kitab tersendiri. Metode penulisan ini disebut zawaid yang berarti tambahan-tambahan. tambahan bagi sebagian karya-karya hadits yang ditemukan pada karya-karya lain. Diantara karya-karya yang menggunakan model penulisan ini adalah:
     1.    Majma’ al-Zawaiid Wa Manba’ al-Fawaid karya al-Hafidz Nuruddin ‘Ali bin Abi Bakar al-Haitsami (W 807 H). karya ini ia menambahkan hadits-hadits yang tercantum dalam Kutub al-Sittah dan enam kitab lainnya, yaitu: Musnad Ahmad, Musnad Abi Ya’la dan 3 Mu’’jam al-Tabrani. Ia juga menjelaskan kualitas hadits-hadits yang dimuat baik itu shahih, hasan atau dhoiff, muththashil maupun munqathi’.
     2.    Al-Mathalib al-‘Aliah Bi Zawaid al-Masanid al-Tsamaniah karya al-Hafidz Ahmad bin ‘Ali Ibnu Hajar al-‘Atsqalani. Karya ini menghimpun zawaid dari kutub al-Sittah dan delapan Musna yang lain, yaitu: Musnad Abu Daud al-Thayalasi, Musnad al-Humaidi, Musnad Ibn Abi ‘Amr, Musnad Musaddad, Musnad Ahmad bin Muni’, Musnad Abu Baka bin Abi Syaibah, Musnad Abd bin Humaid, Musnad al-Harits dan Musnad Abi Usamah.

Keenam: Kitab al-Takhrij
Kitab takhrij adalah kitab hadits yang ditulis untuk mentakhrij kitab tertentu, seperti:
1.    Nashbu al-Riwayah Li Ahadits al-Hidayah oleh al-Imam al-Hafidz Abi Muhammad Abdillah bin yusuf al-Zaila’I al-hanafi. Kitab ini mentakhrij hadits-hadits yang ada dala kit al-Hidayah fi Fiqh al-Hanafi karya ‘Ali bin Abi Bakar al-Marighani fuqaha madzhab Hanafi.
2.    Mughni ‘An Haml al-Asfar Fi al-Asfar Fi Takhrij Ma Fi al-Ihya Min al-Akhbar oleh al-Imam Abdurrahman bin al-Husin al-‘Iraqi (W 806 H). dalam karyanya ini ia mentakhrij hadits-hadits yang ada dalam Ihya Ulumiddin karya Abu Hamid Al-Ghazali dengan menjelaskan perawinya dan kualitas haditsnya.
3.    Al-Talkhish al-Khabir Fi Takhrij Ahadits al-Rafi’I al-Kabir karya al-Hafidz Ahmad bin Ali bin Hajar al-‘Astqalani (W 852 H).[48]

Ketujuh: al-Ajzai
الجزء: في اصطلاح المحدثين: هو تأليف يجمع الأحاديث المروية عن رجل واحد سواء كان ذلك الرجل من طبقة الصحابة أو من بعدهم: كجزء حديث أبي بكر -وجزء حديث مالك..
Ajza’ menurut istilah muhaddisin adalah kitab yang disusun untuk menghimpun hadits-hadits yang diriwayatkan oleh satu orang, baik dari generasi sahabat maupun dari generasi sesudahnya. Seperti Juz Hadits Abu Bakar dan Juz Hadits Malik.[49] Pengertian yang lain adalah kitab hadits yang memuat hadits-hadits tentang tema-tema tertentu, seperti Al-juz’u fi Qiyamil lailiy, karya Al-Marwazi dan Fawaidul Haditsiyah, juga kitab Al-wildan karya Imam Muslim dan Yang lainnya.[50]

Kedelapan: Musyayyakhat (Sesuai urutan nama guru)
Musyayyakhat adalah kitab hadits yang dihimpunkan oleh muhaddisin sesuai dengan urutan nama syaikh atau guru mereka. Metode penulisan ini teradang juga disebut Fahras atau Tasabat.
وهي كتب يجمع فيها المحدثون أسماء شيوخهم، وما تلقوه عليهم من الكتب أو الأحاديث مع إسنادهم إلى مؤلفي الكتب التي تلقوها.
Diantara contoh musyayyakhat ini adalah Fahratsat al-Imam Abi Bakar Muhammad bin Khairr dan al-Irad Li Nubdzah al-Mustafad Min al-Riwayah Wa al-Isnad.

Kesembilan: al-‘Ilal
Al-‘Ilal adalah kitab hadits yang menghimpun hadits-hadits yang bermaslah atau cacat namun diterangkan kecacatannya. [51]
وهي الكتب التي يجمع فيها الأحاديث المعلة مع بيان عللها
Contoh karya dalam bentuk ini adalah:
1.    Al-‘Ilal al-Kabir Karya al-Imam Muhammad bin ‘Isa al-Turmudzi.
2.    Al-‘Ilal karya Ibn Abi Hatim al-Razi yang disusun berdasarkan bab-bab fikih.
3.    Al-‘Ilal al-Waridadh Fi al-Hadits al-Nabawiyah karya al-Daraquthni.

Kesepuluh: Ma’ajim al-Alfhadz al-Ahadits
Ma’ajim al-Alfhadz al-Ahadits adalah cara penulisan modern terhadap kitab-kitab hadits dalam bentuk ma’ajim yang mencakup semua lafadz-lafadz hadits bahkan yang gharib sekalipun dan juga menyebut rincian hal-hal yang berhubungan dengan hadits tersebut pada kitab aslinya. Dalam metode ini terdapat empat model penulisan:[52]
1.    Ma’ajim Mufahras yang ditulis sesuai dengan lafadz hadits
2.    Ma’ajim Mufahras yang ditulis sesuai dengan tema hadits
3.    Ma’ajim Mufahras yang ditulis sesuai dengan Awail al-Hadits (kalimat depat hadits)
4.    Ma’ajim Mufahras yang ditulis sesuai dengan Masanid (nama perawi).
Metode penyusunan ini di populerkan oleh para Orientalis sejak abad ke-20,di antaranya kitab-kitab tersebut adalah:

1.   Al-Mu’jam al-Mufahras Li al-Fadz al-Hadits al-Nabawi[53]
Untuk mengetahui sistematika urutan materi-materi dalam Mu’jam al-Mufahras ini sebagaimana terdapat dalam jilid ke-7 adalah:[54]
  1. Kata-kata kerja (al-af’al): madli (lampau), mudlari’ (sekarang), amr (perintah). (ism al-fa’il) ism al-maf’ul dan beberapa bentuk kata berikutnya sesuai dengan dlamir-nya.
a.    Bentuk fi’il mabni ma’lum tanpa tambahan huruf sisipan (lawahiq)
b.    Bentuk fi’il mabni ma’lum dengan tambahan huruf sisipan (lawahiq)
c.    Bentuk fi’il mabni majhul dengan dan tanpa tambahan huruf sisipan (lawahiq)
2.    Kata-kata benda (ism), yakni:
a.    Kata benda (ism) yang dibaca rafa’ dalam bentuk tanwin
b.    Kata benda (ism) yang dibaca rafa’ dalam bentuk tidak tanwin
c.    Kata benda (ism) yang dibaca rafa’ dengan tambahan huruf sisipan
d.    Kata benda (ism) yang dibaca jar karena di mudlaf-kan dalam bentuk tanwin.
e.    Kata benda (ism) yang dibaca jar karena di mudlaf-kan dalam bentuk tidak tanwin dan tidak ada tambahan sisipan huruf.
f.     Kata benda (ism) yang dibaca jar karena di mudlaf-kan yang disertai tambahan huruf sisipan.
g.    Kata benda (ism) yang dibaca jar karena terdapat huruf jar.
h.    Kata benda (ism) yang dibaca nasab dalam bentuk tanwin.
i.      Kata beda (ism) yang dibaca nasab tidak dalam bentuk tanwin tanpa tambahan sisipan huruf.
j.     Kata benda (ism) yang dibaca nasab beserta tabahan sisipan huruf.
Bentuk-bentuk kata benda (ism) tersebut disebutkan bentuk mufrad (tunggal)-nya terlebih dahulu, kemudian bentuk mtsanna (berbilang dua)-nya, dan diakhiri bentuk jama’ (plural/berbilang banyak) dengan urutan yang berlaku di kalangan ahli tata bahasa (sharfI).
3.    Kata-kata bentukan (Musytaqqat)
a.    Kata-kata bentukan (musytaqqat) yang tidak disandarkan pada huruf mati.
b.    Kata-kata bentukan (musytaqqat) yang disandarkan pada huruf mati.
Di samping itu ada beberapa hal yang harus diperhatikan terkait dengan penggunaan Mu’jam tersebut, yaitu:
         1.    Pengurungan huruf terletak di antara teks (nash) dan kitab rujukan yang telah dijelaskan sebelumnya.
         2.    Dua tanda bintang (**) merupakan tanda pengulangan redaksi (lafaz) hadits, bab, atau halaman.
         3.    Kitab-kitab hadits yang menjadi obyek kajian (rujukan) Mu’jam ada sembilan kitab hadits dan disimbolisasikan dengan rumus tertentu, yaitu:
a.    خ   : untuk Shahih Bukhari
b.    م   : untuk Shahih Muslim.
c.    ت  : untuk Jami’ al-Tirmidzi
d.    د   : untuk Sunan Abu Dawud.
e.    ن   : untuk Sunan al-Nasa’i.
f.     جه : untuk Sunan Ibn Majah.
g.    ط   : untuk al-Muwatha’ Imam Malik.
h.    حم : untu Musnad Ahmad bin Hanbal.
i.      دي : untuk Musnad al-Darimi.
Rumus-rumus tersebut selalu dituliskan di bagian bawah dalam setiap dua halaman kitab Mu’jam. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan kemudahan bagi pengguna kitab Mu’jam ini.
Hasil dari sebuah pelacakan kata hadits dalam setiap hadits-hadits yang ditemukan dalam 9 kitab hadits tersebut kemudian ditunjukkan tempatnya, yaitu dengan menunjukkan nama kitab hadits yang memuatnya dan disertai nama bahasan hadits (yang disebut kitab) yang diikuti nomor bab-nya. Hal ini diterapkan pada seluruh kitab hadits rujukan, kecuali Musnad Ahmad bin Hanbal dengan menunjukkan Jilid dan nomor halamannya, Muslim dan Muwatha’ dengan menunjukkan nomor haditsnya.
          Manfaat dari penulisan dengan menggunakan metode ini adalah:
1.    Penulisan seperti Mu’jam sehingga memudahkan untuk mengetahui lafad hadits.
2.    Mengandung sejumlah kitab rujukan utama dalam hadits.
3.    Memudahkan bagi orang yang tidak ada keahlian dalam kitab-kitab hadits secara langsung.

   2.        Miftah Kunuz al-Sunnah[55]
Upaya mencari hadits terkadang tidak didasarkan pada lafal matan (materi) hadits, tetapi didasarkan pada topik masalah. Pencarian matan hadits berdasarkan topik masalah sangat menolong pengkaji hadits yang ingin memahami petunjuk-petunjuk hadits dalam segala konteksnya.
Pencarian matan hadits berdasarkan topik masalah tertentu itu dapat ditempuh dengan cara membaca berbagai kitab himpunan kutipan hadits, namun berbagai kitab itu biasanya tidak menunjukkan teks hadits menurut para periwayatnya masing-masing. Padahal untuk memahami topik tertentu tentang petunjuk hadits, diperlukan pengkajian terhadap teks-teks hadits menurut periwayatnya masing-masing. Dengan bantuan kamus hadits tertentu, pengkajian teks dan konteks hadits menurut riwayat dari berbagai periwayat akan mudah dilakukan. Salah satu kamus hadits itu ialah: Miftah Kunuz al-Sunnah yang memuat empat belas kitab hadits dan kitab tarikh Nabi.
Bahasa asli dari kitab Miftah Kunuzis-Sunnah adalah bahasa Inggris yang juga dikarang oleh tim Dr. A.J. Wensinck (W 1939 M), dengan judul a Handbook of Early Muhammadan. Kamus hadits yang berbahasa Inggris tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Arab sebagaimana tercantum di atas oleh Muhamad Fuad Abdul-Baqi. Muhamad Fuad tidak hanya menerjemahkan saja, tetapi juga mengoreksi berbagai data yang salah.
Naskah yang berbahasa inggris diterbitkan untuk pertama kalinya pada tahun 1927 dan terjemahannya pada tahun 1934. Dalam kamus hadits tersebut dikemukakan berbagai topik, baik yang berkenaan dengan masalah-masalah yang berkaitan dengan petunjuk Nabi maupun yang berkenaan dengan masalah-masalah yang berkaitan dengan nama. Untuk setiap topik biasanya disertakan beberapa subtopik, dan untuk setiap subtopik dikemukakan data hadits dan kitab yang menjelaskannya.
Kitab-kitab yang menjadi rujukan kamus Miftahu Kunuz al-Sunnah ini tidak hanya kitab-kitab hadits saja, tetapi juga kitab-kitab sejarah (tarikh) Nabi. Jumlah kitab rujukan itu ada empat belas kitab, yakni: Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abi aud, Sunan al-Turmudzi, Sunan al-Nasa’I, Sunan Ibnu Majah, Sunan al-Darimi, Muwaththa Malik, Musnad Ahmad bin Hambal, Musnad Abu Daud al-Thayalasi, Musnad Zaid bin Ali, Sirah Ibnu Hisyam, Maghazi al-Waqidi dan Thabaqat Ibnu Sa’ad.
Dalam kamus, nama dan beberapa hal yang berhubungan dengan kitab-kitab tersebut dikemukakan dalam bentuk lambang. Contoh berbagai lambang yang dipakai dalam kamus hadits Miftah Kunuzis-Sunnah, yaitu:
أول      : Juz pertama
ب       : Bab
بخ       : Bukhari
ثالث     : Juz ketiga
ثان      : Juz kedua
ج        : Juz
ح        : Hadits
خامس  : Juz kelima
رابع      : Juz keempat
سادس  : Juz keenam
ص      : Halaman
نس      : Nasa’i
ق        : Bagian Kitab
قا       : Konfirmasi data sebelumnya dan
sesudahnya
تر       : Tarmiji
حم      : Ahmad
بل       : Abu Daud
ط       : Abi Daud al-Thayalasi
عد      : Tabaqat Ibnu Sa’ad
قد           : Maghazi al-Waqidi
ز        : Musnad Zaid bin Ali
ما       : Muwaththa Malik
مج      : Ibnu Majah
مس     : Muslim
مي       : Ad-Darimi
هش     : Ibnu Hisyam
ك       : Kitab
م م م   : hadits terulang beberapa kali
Setiap halaman kamus terbagi dalam tiga kolom. Setiap kolom memuat topik; Setiap topik biasanya mengandung beberapa subtopik; dan pada setiap subtopik dikemukakan data kitab yang memuat hadits yang bersangkutan.
          Metodologi penulisan seperti ini kemudia dikembang oleh peneliti muslim sehingga melahirkan karya-karya yang meimbangi karya-karya tersebut, diantaranya:[56]
1.    Al-Mu’jam al-Mufahras Li Alfadz al-Jami’ al-Shahih Li al-Imam Muslim bin al-Hajjaj oleh Dr. Said al-Marshafi.
2.    Miftah al-Mu’jam al-Mufahras oleh al-Ustadz Ma’mun Shagharji.
3.    Fahras Ahammu Alfadz Shhahih Muslim oleh Muhammad Fuad ‘Abdul Baqi.
4.    Fahras Alfadz Sunan al-Turmuji oleh la-Ustadz al-Bik.

Kesebelas: al-Barnamaj al-Aliyah (Komputerisasi) [57]
Al-Barnamaj al-Aliyah (Komputerisasi) ialah menggunakan fasilitas komputer (al-Hasib al-Aly) dalam melacak hadits-hadits yang dicari. Cara ini sangat efektif untuk menelusuri hadits, karena dengan menggunakan komputer kita tidak perlu repot-repot membuka kitab akan tetapi kita tinggal mengetik apa saja yang terdapat dalam hadits yang hendak ditelusuri; nama sahabat, kata yang terdapat alam hadits tersebut, perawi dan lain sebagainya. Maka secara otomatis komputer akan menampilkan obyek yang kita cari secara detail dari seluruh kitab (kitab hadits maupun yang lain) yang memuat kata yang kita masukkan, halaman dan juz dll.
Komputerisasi hadits ini sangat memudahkan sekali dalam mempelajari dan mentakhrij hadits-hadits yang diinginkan bahkan dalam waktu yang sangat singkat, oleh karena itulah ada beberapa manfaat yanag jelas dari pemanfaatan terhadap program ini, diantarana:
1.    Cepat dalam menemukan hadits atau masalah yang di inginkan.
2.    Menghemat waktu.
3.    Menghemat finansial
4.    Menghemat tempat
5.    Mudah mempelajari ilmu-ilmu yang lain.
Namun dalam penggunaan fasilitas ini wajib merujuk pada kitab aslinya, karena hal ini hanya sebagai media untuk mempermudah. Ada beberapa alasan yang mendasar mengapa pengguna fasilitas ini wajib merujuk kepada kitab aslinya, diantaranya:
1.    Secara akademis ilmiah bahwa merujuk pada rujukan asli merupakan sebuah kewajiban sebagai pertanggung jawaban sedangkan fasilitas cuma sebagai pembuka jalan dan alat untuk mempermudah sehingga dapat menghemat waktu.
2.    Menghindari kesamaan nama-nama perawi dan lafadz-lafadz hadits satu sama lain sehingga mempunyai kepastian.
3.    Pembuat program itu terkadang dan hampir dipastikan kebanyakannya adalah orang-orang yang tidak menguasai ilmu hadits lebih khusus lagi seluk beluk ilmu hadits Dirayah.

Simpulan
     1.       Jam’i berarti sesuatu yang mengumpulkan, mencakup dan menggabungkan. Al Jawami’ jamak dari jaami’. Kitab Jami’ dalam terminologi muhadditsin adalah kitab hadits yang metode penyusunannya mencakup seluruh topik-topik keagamaan, baik Aqidah, Thaharah, Ibadah, Mu’amalah, pernikahan, Sirah, Riwayat Hidup, Tafsir, Tazkiyatun Nafs, dan Lain-lain.
     2.       kitab-kitab yang disusun berdasarkan bab-bab tentang fikih, dan hanya memuat hadits yang marfu’ saja agar dijadikan sebagai sumber bagi para fuqaha’ dalam mengambil kesimpulan hukum.
     3.       Mushannaf adalah sebuah kitab hadits yang disusun berdasarkan bab-bab fiqhi, yang didalamnya terdapat hadits marfu’, mauquf dan maqtu’. Karena mushannaf adalah kitab hadits yang disusun berdasarkan kitab fiqhi, maka muwatta’ termasuk didalamnya.
     4.       Dinamakan musnad apabila ia memasukkan semua hadits yang pernah ia terimah dengan tanpa menerangkan derajat ataupun menyaring hadits-hadits tersebut. Kiitab musnad berisi tentang kumpulan hadits-hadits, baik itu hadits shahih, hasan dan dhaif.
     5.       Sunan yaitu kitab-kitab yang disusun berdasarkan bab tentang fiqhi, dan hanya memuat hadits-hadits yang marfu’ saja agar dijadikan sebagai sumber bagi para fuqaha dalam mengambil kesimpulan. Sunan tidak terdapat pembahasan tentang sirah, aqidah, manaqib, dan lain-lain.
     6.       Ajza’ menurut istilah muhaddisin adalah kitab yang disusun untuk menghimpun hadits-hadits yang diriwayatkan oleh satu orang, baik dari generasi sahabat maupun generasi sesudahnya. Seperti Juz hadits abu Bakar, dan juz hadits Malik. Pengertian yang lain adalah kitab hadits yang memuat hadits-hadits tentang tema-tema tertentu.
     7.       Yang dimaksud dengan jenis al athraf adalah kumpulan hadits dari beberapa kitab induknya dengan cara mencantumkan bagian atau potongan hadits yang diriwayatkan oleh setiap sahabat. Penyusunan hanyalah menyenbutkan beberapa kata atau pengertian yang menurutnya dapat dipahami hadits yang dimaksud. Sedangkan sanad-sanadnya terkadang ada yang menulisnya dengan lengkap dan ada yang menulisnya dengan mencantumkan sebagiannya saja.
     8.       Mustakhraj adalah kitab hadits yang memuat matan-matan hadits ya ng diriwayatkan oleh Bukhary atau Muslim atau kedua-duanya atau lainnya, kemudian sipenyusun meriwayatkan matan-matan hadits tersebut dengan sanad sendiri yang berbeda. Misalnya: mustakhraj shahih bukhary susunan Al Jurjaniy.


























DAFTAR PUSTAKA

Abdurahman bin Abi Bakar al-Suyuthi, Tadrib al-Rawi, Bairut: Dar al-Fikr, 1999.
Abdurrahman al-Suyuthi, Syarah Al- Fiayah al-Suyuthi, Bairut: Dar al-Fikr, 1987.
Abu Bakar Kafi, Manhaj al-Imam al-Bukhari Fi Tashhih al-Haditst Wa Ta’liliha, Mesir: Dar Ibn Hajam, tt.
Abu Isa Muhammad bin Isa At Tirmidzi, Al Jami Ash-Shahih, Bairut: Dar al-Fikr, 1988.
Akram Dhiya, Buhuts Fi al-Tarikh al-Sunnah al-Musyarrafah, Madinah: Maktab al-hukm wa al-Hikam, tt.
Ali Mustafa Ya’qub, Kritik Hadits, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000.
Arifuddin Ahmad, Paradigma Baru Memahami Hadits Nabi Jakarta: Insan Cemerlang, tth.
Hasan Maqbul al-Ahdal, Mushthala al-Hadits Wa Rijaluh, Shan’a: Maktan al-Jail al-Jadid, 1993
Hasbi al-Shiddiq, Pokok-Pokok Ilmu Dirayah Hadits, Jakarta: Bulan Bintang, 1994.
Lihat Muslim bin al-Hajjaj al-Naisaburi, Shahih Muslim, Bairut: Dar al-Fikr, 1990.
Lihat Mustafa Assiba’iy, Al-Sunnah Wa Makanatuh Fi Altasyriy’ Al Islami, diterjemahkan oleh Nur Kholis Majid dengan judul Sunnah Dan Peranannya Dalam Penetapan Hukun Islam: Sebuah Pembelaan Kaum Sunni, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1992.
Lihat Sa’id bin ‘Abdullah, Manahij al-Muhaddistin, Jeddah: Daar ‘Ulum, tt.
M. Abdurrahman, Studi Kitab Hadits, Yogyakarta: Teras, 2003.
M. Hasbi Ash shiddiqiy, Sejarah Pengantar Ilmu Hadits, Semarang:pustakarizki putra, 2001.
M. Nor Sulaiman, Antologi Ilmu Hadits, Jakarta: Gaung Persada Press, 2008.
Mahmud al-Tahhan, al-Manhaj al-Hadits Fi Mushthalah al-Hadits, Riyadh: Maktab al-Ma’arif, tt.
Mahmud al-Tahhan, Taisir al-Mushthlah al-Hadits, Bairut: Dar al-Fikir, tt.
Muhammad Abu Syuhbah,al-Wasith Fi ‘Ulum Wa Mushthalah al-Hadits, Bairut: ‘Alam alma’rifah.
Muhammad Ajjaj Al-Khatib, Ushul al-Hadits, ‘Ulumuhu Wa Musthalhuh, Bairut: Dar al-Fikr, 1990.
Muhammad al-Thayyib al-Najjar, Tadwin al-Sunnah, tt: Kutub Islamiyyah, 1964.
Muhammad bin ‘Abdul al-‘Aziz al-Khaulani, Tarikh Funun al-Hadits al-Nabawi, Damsyiq: Daar Ibn Katsir, tt.,
Muhammad bin Isma’il al-Bukhari, Shahih al Bukhari, Dar al-Fikr, Bairut, 1991.
Muhammad bin Isma’il al-Shan’ani, Taudhih al-Afkar, Bairut: Dar al-Fikr, tt.
Muhammad bin Ja’far Al Kittani, Ar Risalah Al-Mustathrafah, Bairut: Dar al-Fikr, 1989.
Muhammad Dhiyau rahman al-a’zami, Mu’jam mustalah hadits wa lataifi al-asanid, Riyad: maktabah adwau al-salaf, cet. I, 1999.
Muhammad Mubarak, Manahij al-Muhaddistin, Mesir: Dar al-Thiba’ah al-haditstah, 1973.,
Munzier Suparta, Ilmu Hadits, Jakarta: PT Raja Grapindo Prasada, 2006.
Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, Bairut: Dar al-Fikr. 1989.
Nuruddin ‘Ithir, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, Damsik: Dar al-Fikr, 1997.
Shubhi al-Shalih, ‘Ulum al-Hadits wa Mushthalahuhu, Bairut: Dar al-‘Ilm li al-Malayin, 1988.
Subhi Al-Shalih, Ulumul Hadits Wa Mustalahuhu, Bairut: Dar Al-Ilm Al-Malayin, 1988.
Totok Jumantoro, Kamus Ilmu Hadits, Jakarta: Bumi Aksara, 1997.


* Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Antasari Konsentrasi Filsafat Hukum Islam
[1] Arifuddin Ahmad, Paradigma Baru Memahami Hadis Nabi (Jakarta: Insan Cemerlang, tth), h, 63.
[2] Lihat Mustafa Assiba’iy, Al-Sunnah Wa Makanatuh Fi Altasyriy’ Al Islami, diterjemahkan oleh Nur Kholis Majid dengan judul Sunnah Dan Peranannya Dalam Penetapan Hukun Islam: Sebuah Pembelaan Kaum Sunni (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1992), h. 32
[3] Subhi Al-Shalih, Ulumul Hadis Wa Mustalahuhu, (Bairut: Dar Al-Ilm Al-Malayin, 1988), h. 24.
[4] Munzier Suparta, Ilmu Hadis, (Jakarta: PT Raja Grapindo Prasada, 2006), h. 90. Lihat juga Subhi al-Shalih, Ulumul Hadis Wa Mustalahuhu, h. 45.
[5] Dalam pembahasan makalah ini, penulis memaparkan metodologi penulisan kitab hadis bukan meLihat dari kronologi sejarah baik itu dari abad pertama hijriah, kedua ketiga dan seterus, namun lebih menekankan pada bentuk dan pola metodologi yang diterapkan dan dikembangkan oleh ulama-ulama pengumpul dan penulis hadis. Untuk lebih jelas melihat penulisan hadis dengan berbagai macam metodenya secara kronologi sejarah dapat diLihat pembahasan Ahamm Kutub al-Riwayah Fi al-Qarnain: al-Stani wa al-Tsalits al-Hijriyayni, dalam Hasan Maqbul al-Ahdal, Mushthala al-Hadits Wa Rijaluh, (Shan’a: Maktan al-Jail al-Jadid, 1993), h. 66-91. Bandingkan dengan Muhammad Abu Syuhbah,al-Wasith Fi ‘Ulum Wa Mushthalah al-Hadits, (Bairut: ‘Alam alma’rifah, tt), dalam pembahasan al-Tadwin Fi al-Qarn al-Tsani, h. 67-68, al-Talif Fi al-Qarn al-Tsalist, h. 69-70, al-Tadwin Fi alQarn al-Rabi’, h. 70. Lihat juga pembahasan Kutub al-Hadits al-Muhimmah Ba’da al-Qarn al-Tsalits, h. 347-370, dalam Akram Dhiya, Buhuts Fi al-Tarikh al-Sunnah al-Musyarrafah, (Madinah: Maktab al-hukm wa al-Hikam, tt). Bandingkan dengan Muhammad bin ‘Abdul al-‘Aziz al-Khaulani, Tarikh Funun al-Hadits al-Nabawi, (Damsyiq: Daar Ibn Katsir, tt), dalam pembahasan Kutub al-Sunnah Fi al-Qarn al-Tsalits, h. 60-63, Kutub al-Sunnah Fi al-Qarn al-Rabi’i, h. 64.
[6] Dalam literatur lain juga disebut dengan istilah Penulisan Hadits Berdasarkan Pembahasan Fikih walaupun ada hal-hal yang tidak termasuk dalam istilah ini. Karya ini tidak mencakup semua pembahasan agama, tapi sebagian besarnya saja, khususnya masalah fikih. Metode yang dipakai dalam penyusunan kitab ini adalah dengan menyebutkan bab-bab fikih secara berurutan, dimulai dengan kitab Thaharah, kemudian kitab Shalat, Ibadah, Muamalat, dan seluruh bab yang berkenaan dengan hukum dan fikih. Dan kadang pula menyebutkan judul yang tidak berkaitan dengan masalah fikih seperti: kitab Iman, atau Adab.
[7] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, (Bairut: Dar al-Fikr. 1989), H. 57, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin,(Damsik: Dar al-Fikr, 1997) H. 197.
[8] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 57, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 197.
[9] M. Abdurrahman, Studi Kitab Hadis, (Yogyakarta: Teras, 2003), h. 93. Lihat juga Muhammad Ajjaj Al-Khatib, Ushul al-Hadits, ‘Ulumuhu Wa Musthalhuh, (Bairut: Dar al-Fikr, 1990), h….., Lihat juga M. Hasbi Ash shiddiqiy, Sejarah Pengantar Ilmu Hadis, (Semarang:pustakarizki putra, Cet.VIII, 2001), h. 194.
[10] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 58, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 198. Lihat juga, Mahmud al-Tahhan, al-Manhaj al-Hadits Fi Mushthalah al-Hadits,(Riyadh: Maktab al-Ma’arif, tt), h. 122.
[11] Lihat Muhammad bin Isma’il al-Bukhari, Shahih al Bukhari, (Dar al-Fikr, Bairut, 1991).
[12] M. Abdurrahman, Studi Kitab Hadis, h. 93
[13] Lihat Muslim bin al-Hajjaj al-Naisaburi, Shahih Muslim, (Bairut: Dar al-Fikr, 1990).
[14] Abu Isa Muhammad bin Isa At Tirmidzi, Al Jami Ash-Shahih, (Bairut: Dar al-Fikr, 1988).
[15] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 59, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 199.
[16] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 59, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 199. Lihat juga, Mahmud al-Tahhan, al-Manhaj al-Hadits Fi Mushthalah al-Hadits, h. 123.
[17] Sedangkan hadis Mauquf dalam Ishtilah sunan tidak termasuk, karena ulama hadist tidak memasukkan hadist mauquf dalam istilah Sunan. Lihat Abu Bakar Kafi, Manhaj al-Imam al-Bukhari Fi Tashhih al-Hadist Wa Ta’liliha, ( Mesir: Dar Ibn Hajam, tt), h. 22.
[18] Muhammad bin Ja’far Al Kittani, Ar Risalah Al-Mustathrafah, (Bairut: Dar al-Fikr, 1989), h. 20.
[19] Dalam beberapa penggunaan biasanya untuk di rumuskan dengan خ untuk Bukhari, م untuk Muslim, د untuk Abu Dawud, ت untuk Turmudzi, س untuk al-Nasai, هـ untuk Ibnu Majah, ع untuk Kutub al-Sittah, عـــه untuk Sunan al-Arba’ah. Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 59, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 200. setelah kemunculan Kutub la-Sittah, Muwattha Malik dan Musnad Ahmad bin Hannbal orientasi ulama hadir makin berkembang sehingga mereka mengalihkan perhatian dan menyusun dalam hadis bentuk Jawami’, syarah dan muktashar, Athraf dan zawaid. Lihat M. Nor Sulaiman, Antologi Ilmu Hadits, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2008), h. 47.
[20] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 60, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 199.
[21] Sejak penulisan kitab hadis dalam pola Muwaththa yang lebih tepat lagi adalah Muwaththa Malik maka pergerakan rihlah al-Hadist semakin berkembang khususnya ke kota Madinah bahkan disebut dalam riwayat diperkirakan bahwa yang meriwayatkan kepada Imam Malik hampir 1000 orang dalam satu waktu. Lihat Muhammad al-Thayyib al-Najjar, Tadwin al-Sunnah, (tt: Kutub Islamiyyah, 1964), h. 40.
[22] Totok Jumantoro, Kamus Ilmu Hadis, (Jakarta: Bumi Aksara, 1997), h. 34.
[23] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 60, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 200. Lihat juga dalam Akram Dhiya, Buhuts Fi al-Tarikh al-Sunnah al-Musyarrafah, h. 353.
[24] Mustadrak menurut Shubhi Shalih berarti menyusulkan hadis-hadis yang terlewatkan oleh seorang penulis hadis dalam kitabnya berdasarkan syarat yang digunakan penulis kitab hadis itu. Sementara menurut Ali Mustafa Ya’qub, metode mustadrak berarti menyusulkan hadis-hadis yang tidak tercantum dalam suatu kitab hadis yang lain. Namun dalam menuliskan hadis-hadis susulan itu penulis kitab pertama mengikuti persyaratan hadis yang dipakai oleh kitab yang lain itu. Jenis-jenis kitab hadis selain mustadrak adalah kutub al-shihhâh, al-Jawâmi’ (al-jâmi’) dan al-masanid (al-musnad), al-ma’ajim (al-mu’jam), al-mustakhrajat (al-mustakhraj) dan al-ajza` (juz`). Lihat pengertian istilah-istilah ini pada: Shubhi al-Shalih, ‘Ulum al-Hadits wa Mushthalahuhu, (Bairut: Dar al-‘Ilm li al-Malayin, 1988), h. 117-125. Lihat juga pengertian istilah-istilah jenis kitab hadis ini pada: Ali Mustafa Ya’qub, Kritik Hadis, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000), h. 76-80. Namun pada Ali Mustafa Ya’qub terdapat beberapa istilah yang tidak ada pada Shubhi al-Shalih, yaitu metode Muwaththa`, mushannaf, sunan, majma’ dan zawa`id.
[25] Muhammad Dhiyau rahman al-a’zami, Mu’jam mustalah hadis wa lataifi al-asanid, (Riyad: maktabah adwau al-salaf, cet. I, 1999), h. 404.
[26] Hasbi al-Shiddiq, Pokok-Pokok Ilmu Dirayah Hadis, (Jakarta: Bulan Bintang, 1994), h. 324.
[27] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 60, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 200.
[28] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 60, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 200. Lihat Juga Mahmud al-Tahhan, Taisir al-Mushthlah al-Hadits, Bairut: Dar al-Fikir, tt), h. 35.
[29] M. Suhudi Ismail, Cara Praktis Mencari Hadis, (Cet, I;Yogyakarta: Teras, 2003), h. 15
[30] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 60, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 200.
[31] Pengarang Tadrib al-Rawi menyebutkan ada 7 manfaat, Lihat Abdurahman bin Abi Bakar al-Suyuthi, Tadrib al-Rawi, (Bairut: Dar al-Fikr, 1999), h. 45, bahkan Shan’ani menyebutkan 10 manfaat dari mustakhraj ini, Lihat Muhammad bin Isma’il al-Shan’ani, Taudhih al-Afkar, (Bairut: Dar al-Fikr), h. 90. Lihat juga Abdurrahman al-Suyuthi, Syarah Al- Fiayah al-Suyuthi, (Bairut: Dar al-Fikr, 1987), h. 87.
[32] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 60, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 200.
[33] Kemunculan penlisan dengan pola Masanid ini di perkirakan pada akhir abad kedua dan wal abad ketiga hijriah, Lihat pembahasan Marhalah Tadwin al-Masanid, Awwalu Man allafa ‘Ala Thariq al-Masanid danAsyharu Man Allafa ‘Ala Thariq al-Masanid dalam Muhammad Mubarak al-Sayyid, Manahij al-Muhaddistin, (Mesir: Dar al-Thiba’ah al-hadistah, cet I, 1973), h. 49-61
[34] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 61, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 201.
[35] Sepuluh orang yang dijamin masuk surga adalah: Abu Bakar Ash-Shidiq, Umar bin Al Khatthab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib (mereka adalah Khulafaur Rasyidun), Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awam, Sa’ad bin Abi Waqqash, Sa’id bin Zaid bin Amru bin Tufail, Abdurrahman bin ‘Auf, Abu Ubaidah bin Jarrah- namanya Amir bin Abdullah Radhiyallahu anhum.
[36] Muhammad bin Ja’far Al Kittani, Ar Risalah Al Mustathrafah, h. 89.
[37] Lihat Sa’id bin ‘Abdullah, Manahij al-Muhaddistin, (Jeddah: Daar ‘Ulum, tt), h. 10.
[38] Akram Dhiya, Buhuts Fi al-Tarikh al-Sunnah al-Musyarrafah, h. 353. Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 61, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 201.
[39] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 62, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 202.
[40] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 63, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 203. Lihat juga, Mahmud al-Tahhan, al-Manhaj al-Hadits Fi Mushthalah al-Hadits, h. 123.
[41] Muhammad Abu Syuhbah,al-Wasith Fi ‘Ulum Wa Mushthalah al-Hadits, h. 71, Lihat juga Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 63, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 203.
[42] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 63, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 203.
[43] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 63, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 203.
[44] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 66, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 205.
[45] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 64, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 204.
[46] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 65, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 205.
[47] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 67, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 206.
[48] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 69, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 207-208.
[49] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 70, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 209.
[50] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 71, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 210.
[51] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 71, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 210. Lihat juga, Mahmud al-Tahhan, al-Manhaj al-Hadits Fi Mushthalah al-Hadits, h. 123.
[52] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 72.
[53] Kitab ini disusun oleh sejumlah Orientalis yang dipimpin oleh A.J. Wensinck, seorang dosen Bahasa Arab di Universitas Leiden, dan diterbitkan oleh Penerbit Brill Leiden Belanda, termasuk di antara tim penerbitnya adalah Muhammad Fu’ad Abdulbaqi. Proyek ini didukung oleh sejumlah lembaga ilmiah Britania, Denmark, Swedia, Belanda, UNESCO, Alexander Pasa, Lembaga Ilmiah dan Penelitian Belanda, dan lembaga-lembaga ilmu pengetahuan lainnya. Buku ini terdiri dari 7 jilid besar di mana jilid pertama diterbitkan pada tahun 1939 M dan jilid terakhir diterbitkan tahun 1969 M. Jadi masa penerbitannya memakan waktu sekitar 33 tahun.
[54] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 73.
[55] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 72.
[56] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 73.
[57] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 75-77.
METODOLOGI PENULISAN KITAB HADITS

Muhammad Dainuri, S.Th.I*
Pendahuluan
Dalam rentang waktu yang cukup panjang telah banyak terjadi pemalsuan hadits yang dilakukan oleh orang-orang dan golongan tertentu dengan berbagai tujuan.[1] Maka tidaklah mengherankan jika umat Islam sangat memberikan perhatian yang khusus terhadap hadits terutama dalam usaha pemeliharaan jangan sampai punah atau hilang bersama dengan hilangnya generasi sahabat, mengingat pada sejarah awal Islam, hadits dilarang ditulis dengan pertimbangan kekhawatiran percampuran antara al-Quran dan hadits sehingga yang datang kemudian sulit untuk membedakan antara hadits dan al-Quran.[2]
Dalam berbagai riwayat menyebutkan bahwa kalangan sahabat pada masa itu cukup banyak yang menulis hadits secara pribadi, tetapi kegiatan penulisan tersebut selain dimaksudkan untuk kepentingan pribadi juga belum bersifat massal.[3]
Atas kenyataan inilah maka ulama hadits berusaha membukukan hadits Nabi. Dalam proses pembukuan selain harus melakukan perjalanan untuk menghubungi para periwayat yang terbesar diberbagai daerah yang jauh, juga harus mengadakan penelitian dan penyelesaian terhadap suatu hadits yang akan mereka bukukan. Karena itu proses pembukuan hadits secara menyeluruh mengalami waktu yang sangat panjang.
Adapun sejarah penulisan hadits secara resmi dan massal dalam arti sebagai kebijakan pemerintah barulah terjadi pada masa pemerintahan khalifah Umar Bin Abdul Aziz tahun 100 hijriyah, dengan alasan beliau khawatir terhadap hilangnya hadits nabi bersamaan dengan meninggalnya para ulama dimedan perang dan juga khawatir akan bercampurnya hadits-hadits sahih dengan hadits-hadits palsu. Dipihak lain bahwa dengan semakin meluasnya daerah kekuasaan Islam, sementara kemampuan antara tabi’in yang satu dengan lainnya tidak sama, maka dengan jelas memerlukan adanya kodofikasi atau pembukaan hadits.[4]
Sepanjang sejarah, hadits-hadits yang tercantum dalam berbagai kitab hadits, telah melalui proses penelitian yang sangat rumit, baru menghasilkan hadits yang diinginkan oleh para penghimpunnya. Sebagai implikasi dari penyeleksian dan pembukuan hadits-hadits tersebut, maka muncullah berbagai kitab hadits dengan berbagai macam corak dan metode seperti kitab Al Muwatta (al- Msusannaf), kitab shahih, kitab sunan, kitab musnad, kitab jami’, dan kitab ajza’. Kitab-kitab inipun merupakan implikasi dari nuansa dan perbedaan penyusunan dalam menggunakan pendekatan metode, kriteria dan teknik penulisan. Dalam usaha pembukuan hadits tentunya para ulama berbeda dalam memilih metode yang digunakan sesuai dengan argumen dan latar belakangnya yang berbeda-beda. Beberapa kitab hadits yang masyhur dikalangan ummat Islam adalah kitab Bukhari dan Muslim yang dikenal dengan sebutan al-Jami’ al-Shahih. Kita akan bertanya mengapa kitab Bukhari dan Muslim sangat terkenal.
Apapun bentuk metode dan pola penyusunan kitab hadits yang dilakukan Imam Bukhari dan Imam Muslim, sebagai insan akademis dunia memberikan apresiasi yang besar kepada kedua imam tersebut. Berkat jasa beliau berdualah kemurnian hadits dapat terjaga terutama dari kalangan orentalis yang selalu mengkritik dan menghujat para ahli hadits termasuk salah satunya adalah Imam Bukhari. Kitab Shahih Imam Bukhari banyak mendapat kritikan dan hujatan dari para orentalis yang berkaitan dengan metode dan pola punyusunan kitab tersebut. Imam Muslim merupakan salah satu murid dari Imam Bukhari, berdasarkan hal tersebut pola penyusunan kitab Shahih Imam Muslim banyak dipengaruhi oleh pola penyusunan kitab hadits yang dilakukan oleh gurunya yaitu Imam Bukhari. Pembukuan hadits yang di imami oleh Bukhari Muslim dengan metode yang belum pernah dilakukan para pendahulu mereka, kemudian di amini oleh para generasi sesudah mereka sehingga bermunculan metode-metode baru yang menjadikan urgensi pembukuan hadits semakin kompleks dan beragam baik dari era lasik sampai era modern.
Siapa-siapa saja imam-imam hadits yang meulis dan membukukah hadits dengan beragam metode, Bagaimana sajakah bentuk-bentuk penulisan yang dilakukan para imam hadits tersebut, metode-metode apa sajakah yang mereka terapkan dalam menulis dan membukukan hadits, apa saja keistimewaan-keistimewaan dari metode yang meraka terapkan dan bagaimana perkembangan penulisan dan pembukuan hadits dari era klasik sampai era modern. Metode-metode penulisan kitab-kitab hadits yang beragam tersebutlah dan permasalahannya yang akan menjadi bahasan pokok dalam penulisan makalah ini.






Metodologi Penulisan Kitab Hadits

Metodologi penulisan kitab hadits sangat berangam sesuai dengan perkembangan zaman dari era klasik sampai era modern yang dapat disimpulkan dalam metode-metode berikut:[5]

Pertama: Kitab-kitab yang ditulis sesuai dengan tema tertentu[6]
Kitab-kitab yang ditulis sesuai dengan tema tertentu juga disebut dengan al-Ashnaf.[7] Metodologi penulisan sesuai dengan tema ini sebagaimana yang diungkap oleh Nuruddin ‘Itir adalah:[8]
أن تجمع الأحاديث ذات الموضوع العام الواحد إلى بعضها البعض, تحت عنوان عام يجمعها, مثل كتاب الصلاة, كتاب الزكاة, كتاب البيوع, ثم توزع الأحاديث على أبواب يضم كل باب حديثا أو احاديث في مسألة جزئية, ويوضع لهذا الباب عنوان يدل على الموضوع مثل باب مفتاح الصلاة الطهور ويسمى المحدثون العنوان ترجمة.
Maksudnya adalah bahwa hadits-hadits bertema umum yang sama kemudian digabungkan dalam sebuah judul tema seperti Kitab al-Shalah, Kitab al-Zakah dan Kitab al-Buyu’ kemudian hadits-hadits tersebut dibagi dalam bab-bab yang mencakup satu hadits atau beberapa hadits yang berbicara tentang masalah-masalah, kemudian diberikan sub judul dari tema tersebut seperti Bab Miftah al-Shalah al-Thuhur, sub judul ini dalam istilah muhadditsin disebut al-Tarjamah.
Keistimewaan metode ini adalah kemudahan dalam merujuk terhadap hadits-hadits yang berhubungan masalah-masalah tertentu karena hadits-haditsnya sudah terkelompok-terkelompok dalam bab-bab dan sub bab.
Penulisan hadits dengan metode ini ada beberapa bentuk, yaitu:

1.   Al-Jawami’
Al Jawami’ jamak dari jaami’. Jam’i berarti sesuatu yang mengumpulkan, mencakup dan menggabungkan. Kitab Jami’ dalam terminologi muhadditsin adalah kitab hadits yang metode penyusunannya mencakup seluruh topik-topik keagamaan, baik Aqidah, Thaharah, Ibadah, Mu’amalah, pernikahan, Sirah, Riwayat Hidup, Tafsir, Tazkiyatun Nafs, dan Lain-lain.[9] Dengan ungkapan lain yaitu:[10]
الجامع في إصطلاح المحدثين هو كتاب الحديث المرتب على الأبواب الذي يوجد في أحاديث في جميع موضوعات الدين وأبوابه, وعددها ثمانية أبواب رئيسة هي العقائد والأحكام والسير والأدب والتفسير والفتن وأشراط الساعة والمناقب.
Kitab-kitab Jami’ yang terkenal adalah:
  1.       Al Jami’ Ash-Shahih, karya Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ismail Al Bukhari (W 256 H), orang yang pertama menyusun dan membukukan hadits shahih, akan tetapi belum mencakup semuanya. Kitab ini disusun berdasarkan urutan bab, diawali dengan kitab Bad’u Al Wahyu, dan Kitabul Iman. Kemudian dilanjutkan dengan Kitabul Ilmi dan lainnya hingga berakhir Kitabut Tauhid.[11] Jumlah semuanya ada 97 kitab yang kemudian dibagi menjadi 4550 bab dengan jumlah secara kesuluruhan 7275 buah hadits dan termasuk 4000 hadits yang berulang.[12]
Kitab Shahih Bukhari ini mendapat perhatian yang cukup besar dari para ulama, di antaranya dengan membuat syarahnya, dan syarh yang paling baik adalah kitab Fathul Bari bi Syarhi Shahihi Al Bukhari, karya Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani (W 852 H), dan Umdatul Qari, karya Badrudin Al Aini (W 855 H), dan Irsyadus Sari Ila Shahihi Al Bukhari, karya Al Qasthalani (W 922 H). Semuanya dicetak.

    2.        Al Jami’ Ash-Shahih, karya Imam Abul Husain Muslim bin Hajjaj Al Qusyairi An Naisaburi (W 261 H), berisi kumpulan riwayat hadits yang shahih saja sesuai dengan syarat yang ditentukan oleh Imam Muslim, dimulai dengan Kitab Iman, kemudian Kitab Thaharah, Kitab Haid, Kitab Shalat, dan dikahiri dengan Kitab Tafsir. Jumlah semuanya ada 54 kitab. Setiap kitab meliupti beberapa bab, dan pada setiap bab terdiri dari sejumlah hadits.[13]
Menurut para jumhur ulama hadits, Shahih Muslim menempati peringkat kdeua setelah Shahih Bukhari. Sedangkan menurut sebagian ulama wilayah Maghrib Shahih Muslim lebih tinggi dari Shahih Bukhari.
Shahih Muslim juga mendapat penerimaan dan perhatian yang sangat besar oleh para ulama, di antaranya dengan cara membuat syarh terhadap kitab tersebut. Di antaranya kitab syarah yang terbaik adalah: “Al Minhaj fi Syarh Shahih Muslim.”, karya Al Qadhi ‘Iyadh (W 544 H), dan kitab “Ad Dibaj ‘Ala Shahih Muslim bin Al Hajjaj” karya Imam Jalaludin Abdurrahman bin Abu Bakar As Suyuthi (W 911 H), sudah dicetak.
Dua kitab Jami’ ini di samping adanya syarah dari dua kitab ini juga telah ditulis kitab-kitab mustakhraj atas Shahih Bukhari, Shahih Muslim, atau keduanya secara bersama. Di samping itu juga telah ditulis kitab-kitab mustadrak atas kitab jami’. Yang paling masyhur di antaranya adalah: Al Mustadrak ‘Ala Ash Shahihain karya Abu Abdillah Al Hakim (W 405 H).

    3.        “Al Jami Ash-Shahih” karya Imam Abu Isa Muhammad bin Isa At Tirmidzi (W 279 H), merupakan kumpulan hadits shahih, hasan, dan dhaif. Namun sebagian besar dijelaskan derajat hadits tersebut, dengan urutan bab-bab berikut: bab Thaharah, bab Shalat, bab Witir, bab Shalat Jumat, bab Shalat ‘Idain (Dua hari raya), bab Safar, bab Zakat, bab Puasa, bab Haji, bab Jenazah, bab Nikah, bab Persusuan, bab Talak dan Li’an, bab Jual-beli, hingga diakhiri dengan bab Al Manaqib.[14]
Di antara syarh dari kitab Tirmidzi ini: “Aridhatul Ahwadzi ‘Ala At Tirmidzi” karya Al Hafidz Abu Bakar Muhammad bin Abdullah Al Isybili, atau yang lebih dikenal dengan Ibnu Arabi Al Maliki (W 543 H). Kemudian disyarh oleh Al Hafidz Abdurrahman bin Ahmad Ibnu Rajab Al Hanbali (W 795 H). Kitab “Jami’ At Tirmidzi” ini biasanya dinamakan dengan “Sunan At Tirmidzi” karena pengarangnya lebih menekankan kepada hadits-hadits hukum[15].

2.   Al-Sunan
“As Sunan” yaitu:[16]
الكتب التي تجمع أحاديث الأحكام المرفوعة مرتبة على أبواب الفقه
Kitab-kitab hadits yang disusun berdasarkan bab-bab tentang fikih, dan hanya memuat hadits yang marfu’ [17] saja agar dijadikan sebagai sumber bagi para fuqaha’ dalam mengambil kesimpulan hukum. As-sunan berbeda dengan Al-Jawami’. Dalam As Sunan tidak terdapat pembahasan tentang akidah, sirah, manaqib, dan lain sebagainya, tapi hanya terbatas pada masalah fikih dan hadits-hadits hukum saja.
Al Kittani mengatakan bahwa sebagian kitab-kitab yang dikenal dengan nama As Sunan, menurut istilah mereka, adalah kitab-kitab yang disusun berdasarkan urutan bab-bab tentang fikih mulai dari bab Iman, Thaharah, Zakat, dan seterusnya. Tidak ada di dalamnya sedikit pun hadits yang mauquf, sebab mauquf menurut mereka tidak dinamakan sunnah, tapi hadits. [18]
Kitab-kitab “As Sunan” yang terkenal adalah:
  1. Sunan Abi Dawud”, karya Sulaiman bin Asy’ats As Sijistani (W 275 H)
  2. “Sunan An Nasa’i” yang dinamakan dengan “Al Mujtaba”, karya Abdurrahman Ahmad bin Syu’aib An Nasa’I (W 303 H).
  3. “Sunan Ibnu Majah” karya Muhammad bin Yazid bin Majah Al Qazwini (W 204 H)
Ketiga kitab sunan ini biasanya dikenal dengan istilah al-Sunan al-Arba’ah dengan menambah sunan al-Tirmidzi. Ada beberapa istilah popular dikalangan muhadditsin yaitu:
a.    Al-Arba’ah berarti Sunan Abi Dawud, Sunan al-Turmuzdi, Sunan al-Nasai dan Sunan Ibnu majah.
b.    Al-Tslatsah berarti Sunan Abi Dawud, Sunan al-Turmuzdi dan Sunan al-Nasai.
c.    Al-Khamsah berarti berarti Sunan Abi Dawud, Sunan al-Turmuzdi, Sunan al-Nasai, Sunan Ibnu majah dan Musnad Ahmad.
d.    Al-Sittah berarti Jami’ Bukhari, Jami’ Muslim, Sunan Abi Dawud, Sunan al-Turmuzdi, Sunan al-Nasai, Sunan Ibnu majah.[19]
  1. “Sunan Ad Darimi” karya Abdullah bin Abdurrahman Ad Darimi (W 255 H)
  2. “Sunan Asd Daruquthni” karya Ali bin Umar Ad Daruquthni (W 385 H)
  3. “Sunan Al Baihaqi”karya Abu Bakar Ahmad bin Husein Al Baihaqi (W 458 H).



3.   Al-Mushannafat
Al-Mushannafat, jamak Mushannaf. Menurut istilah ahli hadits adalah:[20]
كتب مرتبة على الأبواب لكنها تشتمل على الحديث الموقوفة والحديث المقطوع بالإضافة إلى الحديث المرفوع.
Sebuah kitab yang disusun berdasarkan urutan bab-bab tentang fikih, yang meliputi hadits marfu’, mauquf’, dan maqthu’, atau di dalamnya terdapat hadits-hadits Nabi, perkataan sahabat, fatwa-fatwa tabi’in, dan terkadang fatwa tabi’ut tabi’in. Perbedaan antara mushannaf dengan sunan, bahwa mushannaf mencakup hadits-hadits marfu’, mauquf, dan maqthu’. sedangkan kitab sunan tidak mencakup selain hadits yang marfu’ kecuali sedikit sekali.
Karya-karya yang terkenal dalam metode penulisan ini adalah:
  1. “Al-Mushannaf” karya Abu Bakar Abdurrazaq bin Hammam Ash Shan’ani (W 211 H).
  2. “Al-Mushannaf” karya Abu Bakar Abdullah bin Muhammad bin Abi Syaibah Al Kufi (W 235 H).
  3. “Al-Mushannaf” karya Baqiyy bin Makhlad Al Qurthubi (W 276 H)
Dalam term Mushannafat ada istilah muhaddisin dengan Muwaththa’at. Muwaththa’at Jamak dari Muwaththa’.[21] Menurut istilah ahli hadits adalah sebuah kitab yang tersusun berdasarkan urutan bab-bab fikih dan mencakup hadits-hadits marfu’, mauquf, dan maqthu’, sama seperti mushannaf, meskipun namanya berbeda.
Karya-karya muwaththa’at yang terkenal:
  1. Al Muwaththa’ karya Imam Malik bin Anas Al Madani (W 179 H), dicetak berulang kali.
  2. Al Muwaththa’ karya Ibnu Abi Dzi’ib Muhammad bin Abdurrahman Al Madani (W 158 H)
  3. Al Muwaththa’ karya Abu Muhammad Abdullah bin Muhammad Al Marwazi (293 H).

4.   Al-Mustadrakat
Mustadrak merupakan bentuk jamak dari Mustadrak yang berarti orang yang memperbaiki.[22] Dalam terminologi Muhaddittsin Mustadrak adalah: [23]
كتاب يخرج صاحبه أحاديث لم يخرجها كتاب معين من كتب السنة وهي على شرط ذلك الكتاب اي رجالها يروي لهم ذلك الكتاب.
Jadi, mustadrak[24] adalah salah satu bentuk penyusunan kitab di kalangan muhaddisin, yang memperbaiki (meriwayatkan) hadits dari satu kitab berdasarkan syarat atau ketentuan kitab aslinya. Adapun syarat al-Mustadrak yaitu: rijal isnad merupakan orang yang mengeluarkan hadits dari kitab aslinya, tanpa/tidak melalui perantara (wasilah).[25] Kitab Mustadrak juga merupakan kitab yang mencatat hadits-hadits yang tidak disebutkan oleh ulama-ulama yang sebelumnya, padahal hadits tersebut sahih menurut syarat yang dipergunakan oleh ulama itu.[26]
          Mustadrak yang paling popular adalah Mustadrak ‘ala Shohihain karya Hakim Abu Abdillah Muhammad bin Muhammad al-Naisaburi (W 405 H) namun ia dianggap mutasahil.
          Manfaat dari penyusunan hadits melalui metode mustadrak ini adalah memperkaya matan hadits.[27]

5.   Al-Mustakhraj
Mustakhraj dalam istilah muhaddisin adalah: [28]
المستخرجات أو المخرج كتاب يروى فيه صاحبه أحاديث كتاب معين بأسانيد لنفسه يلتقي في اثنآء السند مع صاحب الكتاب الاصل في شيخه أو من فوقه ويرويه حسب لفظ السند الذي وقع.
Menurut Syuhudi Ismail Mustakkhraj adalah kitab hadits yang memuat matan-matan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhary atau Muslim atau kedua-duanya atau lainnya, kemudian sipenyusun meriwayatkan matan-matan hadits tersebut dengan sanad sendiri yang berbeda. Misalnya: mustakhraj shahih bukhary susunan Al Jurjaniy.[29]
Manfaat dari penyusunan hadits melalui metode mustakhraj ini adalah memperkaya sanad hadits atau thruruk al-Riwayah.[30] Dengan adanya mustakhraj dapat menjelaskan kesenjangan-kesenjangan dalam sanad yang shahih seperti menjelaskan tadlis dalam periwayatan yang diterima melalui sima’ah dan menjelaskan yang mubham atau belum jelas dan masih banyak lagi fari manfaat mustakhraj ini.[31]

Kedua: Kitab-kitab yang ditulis sesuai dengan urutan nama sahabat
Metode penulisan kitab hadits yang ditulis dengan urutan nama sahabat maksudnya adalah:[32]
كتب تجمع الأحاديث التي يرويها كل صحابي في موضع خاص تحمل إسم راويها الصحابي
          Manfaat dari metode ini adalah kemudahan dalam mengetahui jumlah periwayat dan riwayat dari sahabat, sehingga dapat diketahui sahabat-sahabta yang banyak meriwayatkan hadits-hadits nabi, seperti Jabir bin Abdullah, Abu Hurairah, ‘Aisyah dan lain-lain. Model penulisan kitab hadits dalam metode ini ada dua macam, yaitu:
1.   Al-Masanaid[33]
Al Masanid, jamak dari Musnad, maksudnya adalah: [34]
الكتاب الذي تذكر فيه الأحاديث على ترتيب الصحابة رضي الله عنهم بحيث توافق حروف الهجاء أو ما يوافق السوابق الإسلامية أو شرافة النسب.

Urutan nama-nama para sahabat di dalam musnad kadang berdasarkan huruf hijaiyah atau alfabet sebagaimana dilakukan oleh banyak ulama, dan ini paling mudah dipahami, kadang juga berdasarkan pada kabilah dan suku, atau berdasarkan yang paling dahulu masuk Islam, atau berdasarkan negara. Pada sebagian musnad kadang hanya terdapat kumpulan hadits salah seorang sahabat saja, atau hadits sekelompok para sahabat seperti sepuluh orang yang dijamin masuk surga.[35]
Al Masanid yang dibuat oleh para ulama hadits jumlahnya banyak Al Kittani dalam kitabnya Ar Risalah Al Mustathrafah menyebutkan jumlahnya sebanyak 82 musnad bahkan lebih.[36]
Adapun musnad-musnad yang paling terkenal adalah:
1.    Musnad Abu Dawud Sulaiman bin Dawud At Thayalisi (W 204 H)
2.    Musnad Abu Bakar Abdullah bin Az Zubair Al Humaidy (W 219 H)
3.    Musnad Imam Ahmad bin Hanbal (wagat 241 H)
4.    Musnad Abu Bakar Ahmad bin Amru Al Bazzar (W 292 H)
5.    Musnad Abu Ya’la Ahmad bin Ali Mutsanna Al Mushili (W 307 H).
Musnad-musnad ini tidak hanya berisi kumpulan hadits shahih saja, tetapi mencakup semua hadits shahih, hasan dan dhaif, dan tidak berurutan berdasarkan bab-bab fikih, karena urutan tersebut harus menggabungkan musnad setiap sahabat tanpa melihat objek pembahasan riwayatnya. Hal ini akan mempersulit bagi orang yang ingin mempelajarinya karena kesulitan mendapatkan hadits-hadits hukum fikih itu sendiri, atau hadits-hadits tentang suatu permasalahan.[37]

2.   Al-Athraf
Al-Athraf adalah:[38]
الأطراف جمع طرف، وطرف الحديث: الجزء الدال على الحديث، أو العبارة الدالة عليه، مثل حديث الأعمال بالنيات، وحديث الخازن الأمين، وحديث سؤال جبريل. وكتب الأطراف: كتب يقتصر مؤلفوها على ذكر طرف الحديث الدال عليه، ثم ذكر أسانيده في المراجع التي ترويه بإسنادها، وبعضهم يذكر الإسناد كاملا، وبعضهم يقتصر على جزء من الإسناد.
Maksudnya al-Athraf adalah kumpulan hadits dari beberapa kitab induknya dengan cara mencantumkan bagian atau potongan hadits yang diriwayatkan oleh setiap sahabat. Penyusunan hanyalah menyebutkan beberapa kata atau pengertian yang menurutnya dapat dipahami hadits yang dimaksud. Sedangkan sanad-sanadnya terkadang ada yang menulisnya dengan lengkap dan ada yang menulisnya dengan mencantumkan sebagiannya saja. Kitab athraf juga adalah kitab hadits yang hanya menyebut sebagian dari matan-matan hadits tertentu kemudian menjelaskan seluruh sanad dari matan itu, baik sanad yang berasal dari kitab hadits yang dikutip matannya maupun dari kitab lainnya.
Model penulisan kitab hadits dalam bentuk Athraf yang paling popular adalah:
1.    Tuhfa al-Asyraf bi Ma’rifah Al-Athraf karya al-Hafidz al-Imam Abi al-Hajjaj Yusuf bin Abdurrahman al-Muzi (W 742 H). dalam kitab ini menghimpun Athraf dari Kutub al-Sittah dan mulhaqnya yaitu:
a.    Muqaddimah Shahih Muslim
b.    Al-Marasil Li Abi Dawud al-Sajistani
c.    Al-‘Ilal al-Shaghir Li al-Turmudzi
d.    Al-Syamail li al-Turmudzi
e.    ‘Amal al-Yaum Wa al-lailah Li an-Nasai
2.    Dzakhair al-Mawarits Fi al-Dilalah ‘Ala Mawadi’I al-Hadits karya Syaikh Abdul al-‘Ani al-Nabilsy (W 114 H). dalam kitab ini menghimpun Athraf dari Kutub al-Sittah dan al-Muwaththa (Malik).
Metode athraf ini sangat memudahkan mengetahui sanad-sanad hadits karena terkmpul dalam satu tema dan juga memudahkan untuk mengetahui mukharrij asal dan letak bab-bab pembahsannya.[39]

Ketiga: Al-Ma’ajim
Al-Ma’ajim adalah jamak dari Mu’jam. Adapun menurut istilah para ahli hadits adalah:[40]
كتاب تذكر فيه الأحاديث على ترتيب الشيوخ، والغالب عليها اتباع الترتيب على حروف الهجاء، فيبدأ المؤلف المعجم بالأحاديث التي يرويها عن شيخه أبان، ثم إبراهيم، وهكذا.
Kitab yang berisi kumpulan haidts-hadits yang berurutan berdasarkan nama-nama sahabat, atau guru-guru penyusun, atau negeri, sesuai dengan huruf hijaiyah.
Adapun kitab-kitab muj’am yang terkenal, antara lain adalah:
1.    Tiga Mu’jam Abul Qasim Sulaiman bin Ahmad At Thabarani (W 360 H):
a.    Al-Mu’jam Al-Kabir, adalah berisi musnad-musnad para sahabat yang disusun berdasarkan huruf mu’jam (kamus), kecuali musnad Abu Hurairah karena disendirikan dalam satu buku. Ada yang mengatakan: Berisi 60.000 hadits. Ibnu Dihyah berkata bahwa dia adalah mu’jam terbesar di dunia. Jika mereka menyebut “Al Mu’jam”, maka kitab inilah yang dimaksud. Tapi jika kitab lain yang dimaksud maka ada penjelasan dengan kata lain.
b.    Al-Mu’jam Al-Awsath, disusun berdasarkan nama-nama gurunya yang jumlahnya sekitar 2000 orang. Ada yang mengatakan: di dalamnya terdapat 30.000 hadits.
c.    Al-Mu’jam As-Shaghir, berisi 1000 orang dari para gurunya, kebanyakan setiap satu hadits diriwayatkan dari satu gurunya. Ada yang mengatakan: berisi 20000 hadits.
Mu’jam-mu’jam at-Thabrani ini sangant masyhur, namun perlu dibedakan dalam penggunaan istilahnya, yaitu apabila disebutkan al-Mujam atau Akhrajahu al-Thabrani berarti yang dimaksud adalah Mu’jam al-Kabir.[41]
2.    Mu’jam Al Buldan, karya Abu Ya’la Ahmad bin Ali Al Mushili (W 307 H).

Keempat: Kitab-kitab yang ditulis sesuai Huruf di awal Hadits
Pengertian dari Kitab-kitab yang ditulis sesuai Huruf di awal Hadits adalah:[42]
كتب مرتبة على حروف المعجم، بحسب أول كلمة من الحديث، تبدأ بالهمزة، ثم بالباء، وهكذا....
Mengunakan metode ini sangat memudahkan untuk merujuk hadits-hadits yang diriwayatkan asalkan mengetahui lafadz kalimat pertama dari sebuah matan hadits apabila tidak maka akan sangat menyulitkan.[43] Diantara penulisan kitab hadits yang tergolong dalam klasifikasi diantara adalah:
1.   Majami’
Majami’ adalah:
كتب تجمع أحاديث عدة كتب من مصادر الحديث
Dalam metode ini ada dua model penulisan:[44]
1.    Model penulisan sesuai tema (Maudhu’)
Penulis yang menerapkan model penulisan ini adalah:
a.  Ibnu Atsir al-Mubarak bin Muhammad al-Jazri (W 606 H) dalam karyanya Jami’ al-Ushul min Ahadits al-Rasul yang menghimpun hadits-hadits bukhari muslim, Muwaththa, Sunan Abi Dawud, Sunan al-Turmuzdi dan Sunan al-Nasai.
b.  Syaikh al-Muhaddits ‘Ali bin Hisam al-Muttaqi al-Hindi (W 975 H) dalam karyanya Kanzu al-‘Ummal Fi al-Sin al-Aqwal Wa al-Af’al yang menghimpun lebih dari 93 kitab rujukan.
2.    Model penulisan sesuai kalimat di awal hadits
Model penulisan sesuai kalimat di awal hadits ini sesuai dengan huruf alphabet bahasa Arab. Penulis yang menerapkan model penulisan ini adalah:
a.    Al-Imam al-Hafidz Jaluddin al-Suyuthi (W 911 H) dalam dua karya monumentalnya:
                                 1.    al-Jami’ al-Kabir atau yang lebih dikenal dengan sebutan Jam’u al-Jawami’ atau dalam versi cetaknya disebut dengan Jami’ al-Ahadits yang terangkum dalam 18 jilid.
                                 2.    Al-Jami’ al-Shagir Li Ahadits al-Basyir al-Nadzir yang memuat lebih dari 10031 hadits.
2.   Kitab Hadits yang masyhur dalam perkataan
Kitab Hadits yang masyhur dalam perkataan maksudnya adalah hadits-hadits yang beredar dikalangan masyarakat luas. Penulis yang menerapkan model penulisan ini adalah: [45]
a.    Al-Imam al-Hafidz Syamsuddin Muhammad bin Abdurrahman al-Sakhawi (W 902 H) dalam karyanya al-Maqashid al-hasanah Fi al-Ahadits al-Musytaharah ‘Ala al-Alsinah yang memuat lebih dari 1356 hadits.
b.    Al-‘Allamah al-Muhaddits Ismma’il bin Muhammad al-‘Ajluni dalam karyanya Kasyf al-Khafa Wa Muzil al-Ilbas ‘Amma Isytahara Min al-Hadits ‘Ala al-Sinah al-Nash yang memuat kurang lebih 3250 hadits.
3.   Mafatih wa Faharits (Karya-karya Kunci dan Indeks)
Karya-karya kunci (mafatih), indeks (faharis) yang disusun oleh ulama terhadap karya-karya tertentu merupakan salah satu metode modern. Di antara contoh-contohnya adalah: [46]
1.    Miftah al-Shahihain oleh Muhammad al-Syarif ibn Mushthafa al-Tauqadi.
2.    Miftah al-Tartib li Ahadits Tarikh al-Khathib oleh Sayyid Ahmad ibn Sayyid Muhammad ibn Sayyid al-Shadiq al-Ghumari al-Maghribi;
3.    al-Bughyah fi Tartib Ahadits al-Hilyah oleh Sayyid Abdul Aziz ibn Sayyid Muhammad ibn Sayyid Shadiq al-Ghumari;
4.    Fihris li Tartib Ahadits Shahih Muslim oleh Muhammad Fu’ad Abdulbaqi;
5.    Miftah li Ahadits Muwaththa’ Malik oleh Muhammad Fuad Abdul Baqi;
6.    Fihris li Tartib Ahadits Sunan Ibn Majah oleh Muhammad Fu’ad Abdulbaqi.

KeLIMA: al-Zawaid (al-Mushannafat al-Zawaid)
Pengertian dari al-Zawaid (al-Mushannafat al-Zawaid) adalah:[47]
وهي مصنفات تجمع الأحاديث الزائدة في بعض الحديث على أحاديث كتب أخرى، دون الأحاديث المشتركة بين المجموعتين.
Sebuah hadits terkadang ditulis oleh sejumlah penulis hadits secara bersama-sama dalam kitab mereka. Ada pula hadits yang hanya ditulis oleh seorang penulis hadits saja, sementara penulis hadits yang lain tidak menuliskannya. Maka hadits-hadits jenis kedua ini menjadi lahan penelitian para pakar hadits yang datang kemudian. Hadits-hadits ini kemudian dihimpunnya dalam suatu kitab tersendiri. Metode penulisan ini disebut zawaid yang berarti tambahan-tambahan. tambahan bagi sebagian karya-karya hadits yang ditemukan pada karya-karya lain. Diantara karya-karya yang menggunakan model penulisan ini adalah:
     1.    Majma’ al-Zawaiid Wa Manba’ al-Fawaid karya al-Hafidz Nuruddin ‘Ali bin Abi Bakar al-Haitsami (W 807 H). karya ini ia menambahkan hadits-hadits yang tercantum dalam Kutub al-Sittah dan enam kitab lainnya, yaitu: Musnad Ahmad, Musnad Abi Ya’la dan 3 Mu’’jam al-Tabrani. Ia juga menjelaskan kualitas hadits-hadits yang dimuat baik itu shahih, hasan atau dhoiff, muththashil maupun munqathi’.
     2.    Al-Mathalib al-‘Aliah Bi Zawaid al-Masanid al-Tsamaniah karya al-Hafidz Ahmad bin ‘Ali Ibnu Hajar al-‘Atsqalani. Karya ini menghimpun zawaid dari kutub al-Sittah dan delapan Musna yang lain, yaitu: Musnad Abu Daud al-Thayalasi, Musnad al-Humaidi, Musnad Ibn Abi ‘Amr, Musnad Musaddad, Musnad Ahmad bin Muni’, Musnad Abu Baka bin Abi Syaibah, Musnad Abd bin Humaid, Musnad al-Harits dan Musnad Abi Usamah.

Keenam: Kitab al-Takhrij
Kitab takhrij adalah kitab hadits yang ditulis untuk mentakhrij kitab tertentu, seperti:
1.    Nashbu al-Riwayah Li Ahadits al-Hidayah oleh al-Imam al-Hafidz Abi Muhammad Abdillah bin yusuf al-Zaila’I al-hanafi. Kitab ini mentakhrij hadits-hadits yang ada dala kit al-Hidayah fi Fiqh al-Hanafi karya ‘Ali bin Abi Bakar al-Marighani fuqaha madzhab Hanafi.
2.    Mughni ‘An Haml al-Asfar Fi al-Asfar Fi Takhrij Ma Fi al-Ihya Min al-Akhbar oleh al-Imam Abdurrahman bin al-Husin al-‘Iraqi (W 806 H). dalam karyanya ini ia mentakhrij hadits-hadits yang ada dalam Ihya Ulumiddin karya Abu Hamid Al-Ghazali dengan menjelaskan perawinya dan kualitas haditsnya.
3.    Al-Talkhish al-Khabir Fi Takhrij Ahadits al-Rafi’I al-Kabir karya al-Hafidz Ahmad bin Ali bin Hajar al-‘Astqalani (W 852 H).[48]

Ketujuh: al-Ajzai
الجزء: في اصطلاح المحدثين: هو تأليف يجمع الأحاديث المروية عن رجل واحد سواء كان ذلك الرجل من طبقة الصحابة أو من بعدهم: كجزء حديث أبي بكر -وجزء حديث مالك..
Ajza’ menurut istilah muhaddisin adalah kitab yang disusun untuk menghimpun hadits-hadits yang diriwayatkan oleh satu orang, baik dari generasi sahabat maupun dari generasi sesudahnya. Seperti Juz Hadits Abu Bakar dan Juz Hadits Malik.[49] Pengertian yang lain adalah kitab hadits yang memuat hadits-hadits tentang tema-tema tertentu, seperti Al-juz’u fi Qiyamil lailiy, karya Al-Marwazi dan Fawaidul Haditsiyah, juga kitab Al-wildan karya Imam Muslim dan Yang lainnya.[50]

Kedelapan: Musyayyakhat (Sesuai urutan nama guru)
Musyayyakhat adalah kitab hadits yang dihimpunkan oleh muhaddisin sesuai dengan urutan nama syaikh atau guru mereka. Metode penulisan ini teradang juga disebut Fahras atau Tasabat.
وهي كتب يجمع فيها المحدثون أسماء شيوخهم، وما تلقوه عليهم من الكتب أو الأحاديث مع إسنادهم إلى مؤلفي الكتب التي تلقوها.
Diantara contoh musyayyakhat ini adalah Fahratsat al-Imam Abi Bakar Muhammad bin Khairr dan al-Irad Li Nubdzah al-Mustafad Min al-Riwayah Wa al-Isnad.

Kesembilan: al-‘Ilal
Al-‘Ilal adalah kitab hadits yang menghimpun hadits-hadits yang bermaslah atau cacat namun diterangkan kecacatannya. [51]
وهي الكتب التي يجمع فيها الأحاديث المعلة مع بيان عللها
Contoh karya dalam bentuk ini adalah:
1.    Al-‘Ilal al-Kabir Karya al-Imam Muhammad bin ‘Isa al-Turmudzi.
2.    Al-‘Ilal karya Ibn Abi Hatim al-Razi yang disusun berdasarkan bab-bab fikih.
3.    Al-‘Ilal al-Waridadh Fi al-Hadits al-Nabawiyah karya al-Daraquthni.

Kesepuluh: Ma’ajim al-Alfhadz al-Ahadits
Ma’ajim al-Alfhadz al-Ahadits adalah cara penulisan modern terhadap kitab-kitab hadits dalam bentuk ma’ajim yang mencakup semua lafadz-lafadz hadits bahkan yang gharib sekalipun dan juga menyebut rincian hal-hal yang berhubungan dengan hadits tersebut pada kitab aslinya. Dalam metode ini terdapat empat model penulisan:[52]
1.    Ma’ajim Mufahras yang ditulis sesuai dengan lafadz hadits
2.    Ma’ajim Mufahras yang ditulis sesuai dengan tema hadits
3.    Ma’ajim Mufahras yang ditulis sesuai dengan Awail al-Hadits (kalimat depat hadits)
4.    Ma’ajim Mufahras yang ditulis sesuai dengan Masanid (nama perawi).
Metode penyusunan ini di populerkan oleh para Orientalis sejak abad ke-20,di antaranya kitab-kitab tersebut adalah:

1.   Al-Mu’jam al-Mufahras Li al-Fadz al-Hadits al-Nabawi[53]
Untuk mengetahui sistematika urutan materi-materi dalam Mu’jam al-Mufahras ini sebagaimana terdapat dalam jilid ke-7 adalah:[54]
  1. Kata-kata kerja (al-af’al): madli (lampau), mudlari’ (sekarang), amr (perintah). (ism al-fa’il) ism al-maf’ul dan beberapa bentuk kata berikutnya sesuai dengan dlamir-nya.
a.    Bentuk fi’il mabni ma’lum tanpa tambahan huruf sisipan (lawahiq)
b.    Bentuk fi’il mabni ma’lum dengan tambahan huruf sisipan (lawahiq)
c.    Bentuk fi’il mabni majhul dengan dan tanpa tambahan huruf sisipan (lawahiq)
2.    Kata-kata benda (ism), yakni:
a.    Kata benda (ism) yang dibaca rafa’ dalam bentuk tanwin
b.    Kata benda (ism) yang dibaca rafa’ dalam bentuk tidak tanwin
c.    Kata benda (ism) yang dibaca rafa’ dengan tambahan huruf sisipan
d.    Kata benda (ism) yang dibaca jar karena di mudlaf-kan dalam bentuk tanwin.
e.    Kata benda (ism) yang dibaca jar karena di mudlaf-kan dalam bentuk tidak tanwin dan tidak ada tambahan sisipan huruf.
f.     Kata benda (ism) yang dibaca jar karena di mudlaf-kan yang disertai tambahan huruf sisipan.
g.    Kata benda (ism) yang dibaca jar karena terdapat huruf jar.
h.    Kata benda (ism) yang dibaca nasab dalam bentuk tanwin.
i.      Kata beda (ism) yang dibaca nasab tidak dalam bentuk tanwin tanpa tambahan sisipan huruf.
j.     Kata benda (ism) yang dibaca nasab beserta tabahan sisipan huruf.
Bentuk-bentuk kata benda (ism) tersebut disebutkan bentuk mufrad (tunggal)-nya terlebih dahulu, kemudian bentuk mtsanna (berbilang dua)-nya, dan diakhiri bentuk jama’ (plural/berbilang banyak) dengan urutan yang berlaku di kalangan ahli tata bahasa (sharfI).
3.    Kata-kata bentukan (Musytaqqat)
a.    Kata-kata bentukan (musytaqqat) yang tidak disandarkan pada huruf mati.
b.    Kata-kata bentukan (musytaqqat) yang disandarkan pada huruf mati.
Di samping itu ada beberapa hal yang harus diperhatikan terkait dengan penggunaan Mu’jam tersebut, yaitu:
         1.    Pengurungan huruf terletak di antara teks (nash) dan kitab rujukan yang telah dijelaskan sebelumnya.
         2.    Dua tanda bintang (**) merupakan tanda pengulangan redaksi (lafaz) hadits, bab, atau halaman.
         3.    Kitab-kitab hadits yang menjadi obyek kajian (rujukan) Mu’jam ada sembilan kitab hadits dan disimbolisasikan dengan rumus tertentu, yaitu:
a.    خ   : untuk Shahih Bukhari
b.    م   : untuk Shahih Muslim.
c.    ت  : untuk Jami’ al-Tirmidzi
d.    د   : untuk Sunan Abu Dawud.
e.    ن   : untuk Sunan al-Nasa’i.
f.     جه : untuk Sunan Ibn Majah.
g.    ط   : untuk al-Muwatha’ Imam Malik.
h.    حم : untu Musnad Ahmad bin Hanbal.
i.      دي : untuk Musnad al-Darimi.
Rumus-rumus tersebut selalu dituliskan di bagian bawah dalam setiap dua halaman kitab Mu’jam. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan kemudahan bagi pengguna kitab Mu’jam ini.
Hasil dari sebuah pelacakan kata hadits dalam setiap hadits-hadits yang ditemukan dalam 9 kitab hadits tersebut kemudian ditunjukkan tempatnya, yaitu dengan menunjukkan nama kitab hadits yang memuatnya dan disertai nama bahasan hadits (yang disebut kitab) yang diikuti nomor bab-nya. Hal ini diterapkan pada seluruh kitab hadits rujukan, kecuali Musnad Ahmad bin Hanbal dengan menunjukkan Jilid dan nomor halamannya, Muslim dan Muwatha’ dengan menunjukkan nomor haditsnya.
          Manfaat dari penulisan dengan menggunakan metode ini adalah:
1.    Penulisan seperti Mu’jam sehingga memudahkan untuk mengetahui lafad hadits.
2.    Mengandung sejumlah kitab rujukan utama dalam hadits.
3.    Memudahkan bagi orang yang tidak ada keahlian dalam kitab-kitab hadits secara langsung.

   2.        Miftah Kunuz al-Sunnah[55]
Upaya mencari hadits terkadang tidak didasarkan pada lafal matan (materi) hadits, tetapi didasarkan pada topik masalah. Pencarian matan hadits berdasarkan topik masalah sangat menolong pengkaji hadits yang ingin memahami petunjuk-petunjuk hadits dalam segala konteksnya.
Pencarian matan hadits berdasarkan topik masalah tertentu itu dapat ditempuh dengan cara membaca berbagai kitab himpunan kutipan hadits, namun berbagai kitab itu biasanya tidak menunjukkan teks hadits menurut para periwayatnya masing-masing. Padahal untuk memahami topik tertentu tentang petunjuk hadits, diperlukan pengkajian terhadap teks-teks hadits menurut periwayatnya masing-masing. Dengan bantuan kamus hadits tertentu, pengkajian teks dan konteks hadits menurut riwayat dari berbagai periwayat akan mudah dilakukan. Salah satu kamus hadits itu ialah: Miftah Kunuz al-Sunnah yang memuat empat belas kitab hadits dan kitab tarikh Nabi.
Bahasa asli dari kitab Miftah Kunuzis-Sunnah adalah bahasa Inggris yang juga dikarang oleh tim Dr. A.J. Wensinck (W 1939 M), dengan judul a Handbook of Early Muhammadan. Kamus hadits yang berbahasa Inggris tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Arab sebagaimana tercantum di atas oleh Muhamad Fuad Abdul-Baqi. Muhamad Fuad tidak hanya menerjemahkan saja, tetapi juga mengoreksi berbagai data yang salah.
Naskah yang berbahasa inggris diterbitkan untuk pertama kalinya pada tahun 1927 dan terjemahannya pada tahun 1934. Dalam kamus hadits tersebut dikemukakan berbagai topik, baik yang berkenaan dengan masalah-masalah yang berkaitan dengan petunjuk Nabi maupun yang berkenaan dengan masalah-masalah yang berkaitan dengan nama. Untuk setiap topik biasanya disertakan beberapa subtopik, dan untuk setiap subtopik dikemukakan data hadits dan kitab yang menjelaskannya.
Kitab-kitab yang menjadi rujukan kamus Miftahu Kunuz al-Sunnah ini tidak hanya kitab-kitab hadits saja, tetapi juga kitab-kitab sejarah (tarikh) Nabi. Jumlah kitab rujukan itu ada empat belas kitab, yakni: Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abi aud, Sunan al-Turmudzi, Sunan al-Nasa’I, Sunan Ibnu Majah, Sunan al-Darimi, Muwaththa Malik, Musnad Ahmad bin Hambal, Musnad Abu Daud al-Thayalasi, Musnad Zaid bin Ali, Sirah Ibnu Hisyam, Maghazi al-Waqidi dan Thabaqat Ibnu Sa’ad.
Dalam kamus, nama dan beberapa hal yang berhubungan dengan kitab-kitab tersebut dikemukakan dalam bentuk lambang. Contoh berbagai lambang yang dipakai dalam kamus hadits Miftah Kunuzis-Sunnah, yaitu:
أول      : Juz pertama
ب       : Bab
بخ       : Bukhari
ثالث     : Juz ketiga
ثان      : Juz kedua
ج        : Juz
ح        : Hadits
خامس  : Juz kelima
رابع      : Juz keempat
سادس  : Juz keenam
ص      : Halaman
نس      : Nasa’i
ق        : Bagian Kitab
قا       : Konfirmasi data sebelumnya dan
sesudahnya
تر       : Tarmiji
حم      : Ahmad
بل       : Abu Daud
ط       : Abi Daud al-Thayalasi
عد      : Tabaqat Ibnu Sa’ad
قد           : Maghazi al-Waqidi
ز        : Musnad Zaid bin Ali
ما       : Muwaththa Malik
مج      : Ibnu Majah
مس     : Muslim
مي       : Ad-Darimi
هش     : Ibnu Hisyam
ك       : Kitab
م م م   : hadits terulang beberapa kali
Setiap halaman kamus terbagi dalam tiga kolom. Setiap kolom memuat topik; Setiap topik biasanya mengandung beberapa subtopik; dan pada setiap subtopik dikemukakan data kitab yang memuat hadits yang bersangkutan.
          Metodologi penulisan seperti ini kemudia dikembang oleh peneliti muslim sehingga melahirkan karya-karya yang meimbangi karya-karya tersebut, diantaranya:[56]
1.    Al-Mu’jam al-Mufahras Li Alfadz al-Jami’ al-Shahih Li al-Imam Muslim bin al-Hajjaj oleh Dr. Said al-Marshafi.
2.    Miftah al-Mu’jam al-Mufahras oleh al-Ustadz Ma’mun Shagharji.
3.    Fahras Ahammu Alfadz Shhahih Muslim oleh Muhammad Fuad ‘Abdul Baqi.
4.    Fahras Alfadz Sunan al-Turmuji oleh la-Ustadz al-Bik.

Kesebelas: al-Barnamaj al-Aliyah (Komputerisasi) [57]
Al-Barnamaj al-Aliyah (Komputerisasi) ialah menggunakan fasilitas komputer (al-Hasib al-Aly) dalam melacak hadits-hadits yang dicari. Cara ini sangat efektif untuk menelusuri hadits, karena dengan menggunakan komputer kita tidak perlu repot-repot membuka kitab akan tetapi kita tinggal mengetik apa saja yang terdapat dalam hadits yang hendak ditelusuri; nama sahabat, kata yang terdapat alam hadits tersebut, perawi dan lain sebagainya. Maka secara otomatis komputer akan menampilkan obyek yang kita cari secara detail dari seluruh kitab (kitab hadits maupun yang lain) yang memuat kata yang kita masukkan, halaman dan juz dll.
Komputerisasi hadits ini sangat memudahkan sekali dalam mempelajari dan mentakhrij hadits-hadits yang diinginkan bahkan dalam waktu yang sangat singkat, oleh karena itulah ada beberapa manfaat yanag jelas dari pemanfaatan terhadap program ini, diantarana:
1.    Cepat dalam menemukan hadits atau masalah yang di inginkan.
2.    Menghemat waktu.
3.    Menghemat finansial
4.    Menghemat tempat
5.    Mudah mempelajari ilmu-ilmu yang lain.
Namun dalam penggunaan fasilitas ini wajib merujuk pada kitab aslinya, karena hal ini hanya sebagai media untuk mempermudah. Ada beberapa alasan yang mendasar mengapa pengguna fasilitas ini wajib merujuk kepada kitab aslinya, diantaranya:
1.    Secara akademis ilmiah bahwa merujuk pada rujukan asli merupakan sebuah kewajiban sebagai pertanggung jawaban sedangkan fasilitas cuma sebagai pembuka jalan dan alat untuk mempermudah sehingga dapat menghemat waktu.
2.    Menghindari kesamaan nama-nama perawi dan lafadz-lafadz hadits satu sama lain sehingga mempunyai kepastian.
3.    Pembuat program itu terkadang dan hampir dipastikan kebanyakannya adalah orang-orang yang tidak menguasai ilmu hadits lebih khusus lagi seluk beluk ilmu hadits Dirayah.

Simpulan
     1.       Jam’i berarti sesuatu yang mengumpulkan, mencakup dan menggabungkan. Al Jawami’ jamak dari jaami’. Kitab Jami’ dalam terminologi muhadditsin adalah kitab hadits yang metode penyusunannya mencakup seluruh topik-topik keagamaan, baik Aqidah, Thaharah, Ibadah, Mu’amalah, pernikahan, Sirah, Riwayat Hidup, Tafsir, Tazkiyatun Nafs, dan Lain-lain.
     2.       kitab-kitab yang disusun berdasarkan bab-bab tentang fikih, dan hanya memuat hadits yang marfu’ saja agar dijadikan sebagai sumber bagi para fuqaha’ dalam mengambil kesimpulan hukum.
     3.       Mushannaf adalah sebuah kitab hadits yang disusun berdasarkan bab-bab fiqhi, yang didalamnya terdapat hadits marfu’, mauquf dan maqtu’. Karena mushannaf adalah kitab hadits yang disusun berdasarkan kitab fiqhi, maka muwatta’ termasuk didalamnya.
     4.       Dinamakan musnad apabila ia memasukkan semua hadits yang pernah ia terimah dengan tanpa menerangkan derajat ataupun menyaring hadits-hadits tersebut. Kiitab musnad berisi tentang kumpulan hadits-hadits, baik itu hadits shahih, hasan dan dhaif.
     5.       Sunan yaitu kitab-kitab yang disusun berdasarkan bab tentang fiqhi, dan hanya memuat hadits-hadits yang marfu’ saja agar dijadikan sebagai sumber bagi para fuqaha dalam mengambil kesimpulan. Sunan tidak terdapat pembahasan tentang sirah, aqidah, manaqib, dan lain-lain.
     6.       Ajza’ menurut istilah muhaddisin adalah kitab yang disusun untuk menghimpun hadits-hadits yang diriwayatkan oleh satu orang, baik dari generasi sahabat maupun generasi sesudahnya. Seperti Juz hadits abu Bakar, dan juz hadits Malik. Pengertian yang lain adalah kitab hadits yang memuat hadits-hadits tentang tema-tema tertentu.
     7.       Yang dimaksud dengan jenis al athraf adalah kumpulan hadits dari beberapa kitab induknya dengan cara mencantumkan bagian atau potongan hadits yang diriwayatkan oleh setiap sahabat. Penyusunan hanyalah menyenbutkan beberapa kata atau pengertian yang menurutnya dapat dipahami hadits yang dimaksud. Sedangkan sanad-sanadnya terkadang ada yang menulisnya dengan lengkap dan ada yang menulisnya dengan mencantumkan sebagiannya saja.
     8.       Mustakhraj adalah kitab hadits yang memuat matan-matan hadits ya ng diriwayatkan oleh Bukhary atau Muslim atau kedua-duanya atau lainnya, kemudian sipenyusun meriwayatkan matan-matan hadits tersebut dengan sanad sendiri yang berbeda. Misalnya: mustakhraj shahih bukhary susunan Al Jurjaniy.


























DAFTAR PUSTAKA

Abdurahman bin Abi Bakar al-Suyuthi, Tadrib al-Rawi, Bairut: Dar al-Fikr, 1999.
Abdurrahman al-Suyuthi, Syarah Al- Fiayah al-Suyuthi, Bairut: Dar al-Fikr, 1987.
Abu Bakar Kafi, Manhaj al-Imam al-Bukhari Fi Tashhih al-Haditst Wa Ta’liliha, Mesir: Dar Ibn Hajam, tt.
Abu Isa Muhammad bin Isa At Tirmidzi, Al Jami Ash-Shahih, Bairut: Dar al-Fikr, 1988.
Akram Dhiya, Buhuts Fi al-Tarikh al-Sunnah al-Musyarrafah, Madinah: Maktab al-hukm wa al-Hikam, tt.
Ali Mustafa Ya’qub, Kritik Hadits, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000.
Arifuddin Ahmad, Paradigma Baru Memahami Hadits Nabi Jakarta: Insan Cemerlang, tth.
Hasan Maqbul al-Ahdal, Mushthala al-Hadits Wa Rijaluh, Shan’a: Maktan al-Jail al-Jadid, 1993
Hasbi al-Shiddiq, Pokok-Pokok Ilmu Dirayah Hadits, Jakarta: Bulan Bintang, 1994.
Lihat Muslim bin al-Hajjaj al-Naisaburi, Shahih Muslim, Bairut: Dar al-Fikr, 1990.
Lihat Mustafa Assiba’iy, Al-Sunnah Wa Makanatuh Fi Altasyriy’ Al Islami, diterjemahkan oleh Nur Kholis Majid dengan judul Sunnah Dan Peranannya Dalam Penetapan Hukun Islam: Sebuah Pembelaan Kaum Sunni, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1992.
Lihat Sa’id bin ‘Abdullah, Manahij al-Muhaddistin, Jeddah: Daar ‘Ulum, tt.
M. Abdurrahman, Studi Kitab Hadits, Yogyakarta: Teras, 2003.
M. Hasbi Ash shiddiqiy, Sejarah Pengantar Ilmu Hadits, Semarang:pustakarizki putra, 2001.
M. Nor Sulaiman, Antologi Ilmu Hadits, Jakarta: Gaung Persada Press, 2008.
Mahmud al-Tahhan, al-Manhaj al-Hadits Fi Mushthalah al-Hadits, Riyadh: Maktab al-Ma’arif, tt.
Mahmud al-Tahhan, Taisir al-Mushthlah al-Hadits, Bairut: Dar al-Fikir, tt.
Muhammad Abu Syuhbah,al-Wasith Fi ‘Ulum Wa Mushthalah al-Hadits, Bairut: ‘Alam alma’rifah.
Muhammad Ajjaj Al-Khatib, Ushul al-Hadits, ‘Ulumuhu Wa Musthalhuh, Bairut: Dar al-Fikr, 1990.
Muhammad al-Thayyib al-Najjar, Tadwin al-Sunnah, tt: Kutub Islamiyyah, 1964.
Muhammad bin ‘Abdul al-‘Aziz al-Khaulani, Tarikh Funun al-Hadits al-Nabawi, Damsyiq: Daar Ibn Katsir, tt.,
Muhammad bin Isma’il al-Bukhari, Shahih al Bukhari, Dar al-Fikr, Bairut, 1991.
Muhammad bin Isma’il al-Shan’ani, Taudhih al-Afkar, Bairut: Dar al-Fikr, tt.
Muhammad bin Ja’far Al Kittani, Ar Risalah Al-Mustathrafah, Bairut: Dar al-Fikr, 1989.
Muhammad Dhiyau rahman al-a’zami, Mu’jam mustalah hadits wa lataifi al-asanid, Riyad: maktabah adwau al-salaf, cet. I, 1999.
Muhammad Mubarak, Manahij al-Muhaddistin, Mesir: Dar al-Thiba’ah al-haditstah, 1973.,
Munzier Suparta, Ilmu Hadits, Jakarta: PT Raja Grapindo Prasada, 2006.
Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, Bairut: Dar al-Fikr. 1989.
Nuruddin ‘Ithir, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, Damsik: Dar al-Fikr, 1997.
Shubhi al-Shalih, ‘Ulum al-Hadits wa Mushthalahuhu, Bairut: Dar al-‘Ilm li al-Malayin, 1988.
Subhi Al-Shalih, Ulumul Hadits Wa Mustalahuhu, Bairut: Dar Al-Ilm Al-Malayin, 1988.
Totok Jumantoro, Kamus Ilmu Hadits, Jakarta: Bumi Aksara, 1997.


* Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Antasari Konsentrasi Filsafat Hukum Islam
[1] Arifuddin Ahmad, Paradigma Baru Memahami Hadis Nabi (Jakarta: Insan Cemerlang, tth), h, 63.
[2] Lihat Mustafa Assiba’iy, Al-Sunnah Wa Makanatuh Fi Altasyriy’ Al Islami, diterjemahkan oleh Nur Kholis Majid dengan judul Sunnah Dan Peranannya Dalam Penetapan Hukun Islam: Sebuah Pembelaan Kaum Sunni (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1992), h. 32
[3] Subhi Al-Shalih, Ulumul Hadis Wa Mustalahuhu, (Bairut: Dar Al-Ilm Al-Malayin, 1988), h. 24.
[4] Munzier Suparta, Ilmu Hadis, (Jakarta: PT Raja Grapindo Prasada, 2006), h. 90. Lihat juga Subhi al-Shalih, Ulumul Hadis Wa Mustalahuhu, h. 45.
[5] Dalam pembahasan makalah ini, penulis memaparkan metodologi penulisan kitab hadis bukan meLihat dari kronologi sejarah baik itu dari abad pertama hijriah, kedua ketiga dan seterus, namun lebih menekankan pada bentuk dan pola metodologi yang diterapkan dan dikembangkan oleh ulama-ulama pengumpul dan penulis hadis. Untuk lebih jelas melihat penulisan hadis dengan berbagai macam metodenya secara kronologi sejarah dapat diLihat pembahasan Ahamm Kutub al-Riwayah Fi al-Qarnain: al-Stani wa al-Tsalits al-Hijriyayni, dalam Hasan Maqbul al-Ahdal, Mushthala al-Hadits Wa Rijaluh, (Shan’a: Maktan al-Jail al-Jadid, 1993), h. 66-91. Bandingkan dengan Muhammad Abu Syuhbah,al-Wasith Fi ‘Ulum Wa Mushthalah al-Hadits, (Bairut: ‘Alam alma’rifah, tt), dalam pembahasan al-Tadwin Fi al-Qarn al-Tsani, h. 67-68, al-Talif Fi al-Qarn al-Tsalist, h. 69-70, al-Tadwin Fi alQarn al-Rabi’, h. 70. Lihat juga pembahasan Kutub al-Hadits al-Muhimmah Ba’da al-Qarn al-Tsalits, h. 347-370, dalam Akram Dhiya, Buhuts Fi al-Tarikh al-Sunnah al-Musyarrafah, (Madinah: Maktab al-hukm wa al-Hikam, tt). Bandingkan dengan Muhammad bin ‘Abdul al-‘Aziz al-Khaulani, Tarikh Funun al-Hadits al-Nabawi, (Damsyiq: Daar Ibn Katsir, tt), dalam pembahasan Kutub al-Sunnah Fi al-Qarn al-Tsalits, h. 60-63, Kutub al-Sunnah Fi al-Qarn al-Rabi’i, h. 64.
[6] Dalam literatur lain juga disebut dengan istilah Penulisan Hadits Berdasarkan Pembahasan Fikih walaupun ada hal-hal yang tidak termasuk dalam istilah ini. Karya ini tidak mencakup semua pembahasan agama, tapi sebagian besarnya saja, khususnya masalah fikih. Metode yang dipakai dalam penyusunan kitab ini adalah dengan menyebutkan bab-bab fikih secara berurutan, dimulai dengan kitab Thaharah, kemudian kitab Shalat, Ibadah, Muamalat, dan seluruh bab yang berkenaan dengan hukum dan fikih. Dan kadang pula menyebutkan judul yang tidak berkaitan dengan masalah fikih seperti: kitab Iman, atau Adab.
[7] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, (Bairut: Dar al-Fikr. 1989), H. 57, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin,(Damsik: Dar al-Fikr, 1997) H. 197.
[8] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 57, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 197.
[9] M. Abdurrahman, Studi Kitab Hadis, (Yogyakarta: Teras, 2003), h. 93. Lihat juga Muhammad Ajjaj Al-Khatib, Ushul al-Hadits, ‘Ulumuhu Wa Musthalhuh, (Bairut: Dar al-Fikr, 1990), h….., Lihat juga M. Hasbi Ash shiddiqiy, Sejarah Pengantar Ilmu Hadis, (Semarang:pustakarizki putra, Cet.VIII, 2001), h. 194.
[10] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 58, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 198. Lihat juga, Mahmud al-Tahhan, al-Manhaj al-Hadits Fi Mushthalah al-Hadits,(Riyadh: Maktab al-Ma’arif, tt), h. 122.
[11] Lihat Muhammad bin Isma’il al-Bukhari, Shahih al Bukhari, (Dar al-Fikr, Bairut, 1991).
[12] M. Abdurrahman, Studi Kitab Hadis, h. 93
[13] Lihat Muslim bin al-Hajjaj al-Naisaburi, Shahih Muslim, (Bairut: Dar al-Fikr, 1990).
[14] Abu Isa Muhammad bin Isa At Tirmidzi, Al Jami Ash-Shahih, (Bairut: Dar al-Fikr, 1988).
[15] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 59, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 199.
[16] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 59, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 199. Lihat juga, Mahmud al-Tahhan, al-Manhaj al-Hadits Fi Mushthalah al-Hadits, h. 123.
[17] Sedangkan hadis Mauquf dalam Ishtilah sunan tidak termasuk, karena ulama hadist tidak memasukkan hadist mauquf dalam istilah Sunan. Lihat Abu Bakar Kafi, Manhaj al-Imam al-Bukhari Fi Tashhih al-Hadist Wa Ta’liliha, ( Mesir: Dar Ibn Hajam, tt), h. 22.
[18] Muhammad bin Ja’far Al Kittani, Ar Risalah Al-Mustathrafah, (Bairut: Dar al-Fikr, 1989), h. 20.
[19] Dalam beberapa penggunaan biasanya untuk di rumuskan dengan خ untuk Bukhari, م untuk Muslim, د untuk Abu Dawud, ت untuk Turmudzi, س untuk al-Nasai, هـ untuk Ibnu Majah, ع untuk Kutub al-Sittah, عـــه untuk Sunan al-Arba’ah. Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 59, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 200. setelah kemunculan Kutub la-Sittah, Muwattha Malik dan Musnad Ahmad bin Hannbal orientasi ulama hadir makin berkembang sehingga mereka mengalihkan perhatian dan menyusun dalam hadis bentuk Jawami’, syarah dan muktashar, Athraf dan zawaid. Lihat M. Nor Sulaiman, Antologi Ilmu Hadits, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2008), h. 47.
[20] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 60, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 199.
[21] Sejak penulisan kitab hadis dalam pola Muwaththa yang lebih tepat lagi adalah Muwaththa Malik maka pergerakan rihlah al-Hadist semakin berkembang khususnya ke kota Madinah bahkan disebut dalam riwayat diperkirakan bahwa yang meriwayatkan kepada Imam Malik hampir 1000 orang dalam satu waktu. Lihat Muhammad al-Thayyib al-Najjar, Tadwin al-Sunnah, (tt: Kutub Islamiyyah, 1964), h. 40.
[22] Totok Jumantoro, Kamus Ilmu Hadis, (Jakarta: Bumi Aksara, 1997), h. 34.
[23] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 60, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 200. Lihat juga dalam Akram Dhiya, Buhuts Fi al-Tarikh al-Sunnah al-Musyarrafah, h. 353.
[24] Mustadrak menurut Shubhi Shalih berarti menyusulkan hadis-hadis yang terlewatkan oleh seorang penulis hadis dalam kitabnya berdasarkan syarat yang digunakan penulis kitab hadis itu. Sementara menurut Ali Mustafa Ya’qub, metode mustadrak berarti menyusulkan hadis-hadis yang tidak tercantum dalam suatu kitab hadis yang lain. Namun dalam menuliskan hadis-hadis susulan itu penulis kitab pertama mengikuti persyaratan hadis yang dipakai oleh kitab yang lain itu. Jenis-jenis kitab hadis selain mustadrak adalah kutub al-shihhâh, al-Jawâmi’ (al-jâmi’) dan al-masanid (al-musnad), al-ma’ajim (al-mu’jam), al-mustakhrajat (al-mustakhraj) dan al-ajza` (juz`). Lihat pengertian istilah-istilah ini pada: Shubhi al-Shalih, ‘Ulum al-Hadits wa Mushthalahuhu, (Bairut: Dar al-‘Ilm li al-Malayin, 1988), h. 117-125. Lihat juga pengertian istilah-istilah jenis kitab hadis ini pada: Ali Mustafa Ya’qub, Kritik Hadis, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000), h. 76-80. Namun pada Ali Mustafa Ya’qub terdapat beberapa istilah yang tidak ada pada Shubhi al-Shalih, yaitu metode Muwaththa`, mushannaf, sunan, majma’ dan zawa`id.
[25] Muhammad Dhiyau rahman al-a’zami, Mu’jam mustalah hadis wa lataifi al-asanid, (Riyad: maktabah adwau al-salaf, cet. I, 1999), h. 404.
[26] Hasbi al-Shiddiq, Pokok-Pokok Ilmu Dirayah Hadis, (Jakarta: Bulan Bintang, 1994), h. 324.
[27] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 60, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 200.
[28] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 60, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 200. Lihat Juga Mahmud al-Tahhan, Taisir al-Mushthlah al-Hadits, Bairut: Dar al-Fikir, tt), h. 35.
[29] M. Suhudi Ismail, Cara Praktis Mencari Hadis, (Cet, I;Yogyakarta: Teras, 2003), h. 15
[30] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 60, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 200.
[31] Pengarang Tadrib al-Rawi menyebutkan ada 7 manfaat, Lihat Abdurahman bin Abi Bakar al-Suyuthi, Tadrib al-Rawi, (Bairut: Dar al-Fikr, 1999), h. 45, bahkan Shan’ani menyebutkan 10 manfaat dari mustakhraj ini, Lihat Muhammad bin Isma’il al-Shan’ani, Taudhih al-Afkar, (Bairut: Dar al-Fikr), h. 90. Lihat juga Abdurrahman al-Suyuthi, Syarah Al- Fiayah al-Suyuthi, (Bairut: Dar al-Fikr, 1987), h. 87.
[32] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 60, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 200.
[33] Kemunculan penlisan dengan pola Masanid ini di perkirakan pada akhir abad kedua dan wal abad ketiga hijriah, Lihat pembahasan Marhalah Tadwin al-Masanid, Awwalu Man allafa ‘Ala Thariq al-Masanid danAsyharu Man Allafa ‘Ala Thariq al-Masanid dalam Muhammad Mubarak al-Sayyid, Manahij al-Muhaddistin, (Mesir: Dar al-Thiba’ah al-hadistah, cet I, 1973), h. 49-61
[34] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 61, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 201.
[35] Sepuluh orang yang dijamin masuk surga adalah: Abu Bakar Ash-Shidiq, Umar bin Al Khatthab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib (mereka adalah Khulafaur Rasyidun), Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awam, Sa’ad bin Abi Waqqash, Sa’id bin Zaid bin Amru bin Tufail, Abdurrahman bin ‘Auf, Abu Ubaidah bin Jarrah- namanya Amir bin Abdullah Radhiyallahu anhum.
[36] Muhammad bin Ja’far Al Kittani, Ar Risalah Al Mustathrafah, h. 89.
[37] Lihat Sa’id bin ‘Abdullah, Manahij al-Muhaddistin, (Jeddah: Daar ‘Ulum, tt), h. 10.
[38] Akram Dhiya, Buhuts Fi al-Tarikh al-Sunnah al-Musyarrafah, h. 353. Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 61, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 201.
[39] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 62, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 202.
[40] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 63, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 203. Lihat juga, Mahmud al-Tahhan, al-Manhaj al-Hadits Fi Mushthalah al-Hadits, h. 123.
[41] Muhammad Abu Syuhbah,al-Wasith Fi ‘Ulum Wa Mushthalah al-Hadits, h. 71, Lihat juga Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 63, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 203.
[42] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 63, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 203.
[43] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 63, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 203.
[44] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 66, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 205.
[45] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 64, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 204.
[46] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 65, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 205.
[47] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 67, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 206.
[48] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 69, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 207-208.
[49] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 70, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 209.
[50] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 71, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 210.
[51] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 71, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 210. Lihat juga, Mahmud al-Tahhan, al-Manhaj al-Hadits Fi Mushthalah al-Hadits, h. 123.
[52] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 72.
[53] Kitab ini disusun oleh sejumlah Orientalis yang dipimpin oleh A.J. Wensinck, seorang dosen Bahasa Arab di Universitas Leiden, dan diterbitkan oleh Penerbit Brill Leiden Belanda, termasuk di antara tim penerbitnya adalah Muhammad Fu’ad Abdulbaqi. Proyek ini didukung oleh sejumlah lembaga ilmiah Britania, Denmark, Swedia, Belanda, UNESCO, Alexander Pasa, Lembaga Ilmiah dan Penelitian Belanda, dan lembaga-lembaga ilmu pengetahuan lainnya. Buku ini terdiri dari 7 jilid besar di mana jilid pertama diterbitkan pada tahun 1939 M dan jilid terakhir diterbitkan tahun 1969 M. Jadi masa penerbitannya memakan waktu sekitar 33 tahun.
[54] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 73.
[55] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 72.
[56] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 73.
[57] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 75-77.
METODOLOGI PENULISAN KITAB HADITS

Muhammad Dainuri, S.Th.I*
Pendahuluan
Dalam rentang waktu yang cukup panjang telah banyak terjadi pemalsuan hadits yang dilakukan oleh orang-orang dan golongan tertentu dengan berbagai tujuan.[1] Maka tidaklah mengherankan jika umat Islam sangat memberikan perhatian yang khusus terhadap hadits terutama dalam usaha pemeliharaan jangan sampai punah atau hilang bersama dengan hilangnya generasi sahabat, mengingat pada sejarah awal Islam, hadits dilarang ditulis dengan pertimbangan kekhawatiran percampuran antara al-Quran dan hadits sehingga yang datang kemudian sulit untuk membedakan antara hadits dan al-Quran.[2]
Dalam berbagai riwayat menyebutkan bahwa kalangan sahabat pada masa itu cukup banyak yang menulis hadits secara pribadi, tetapi kegiatan penulisan tersebut selain dimaksudkan untuk kepentingan pribadi juga belum bersifat massal.[3]
Atas kenyataan inilah maka ulama hadits berusaha membukukan hadits Nabi. Dalam proses pembukuan selain harus melakukan perjalanan untuk menghubungi para periwayat yang terbesar diberbagai daerah yang jauh, juga harus mengadakan penelitian dan penyelesaian terhadap suatu hadits yang akan mereka bukukan. Karena itu proses pembukuan hadits secara menyeluruh mengalami waktu yang sangat panjang.
Adapun sejarah penulisan hadits secara resmi dan massal dalam arti sebagai kebijakan pemerintah barulah terjadi pada masa pemerintahan khalifah Umar Bin Abdul Aziz tahun 100 hijriyah, dengan alasan beliau khawatir terhadap hilangnya hadits nabi bersamaan dengan meninggalnya para ulama dimedan perang dan juga khawatir akan bercampurnya hadits-hadits sahih dengan hadits-hadits palsu. Dipihak lain bahwa dengan semakin meluasnya daerah kekuasaan Islam, sementara kemampuan antara tabi’in yang satu dengan lainnya tidak sama, maka dengan jelas memerlukan adanya kodofikasi atau pembukaan hadits.[4]
Sepanjang sejarah, hadits-hadits yang tercantum dalam berbagai kitab hadits, telah melalui proses penelitian yang sangat rumit, baru menghasilkan hadits yang diinginkan oleh para penghimpunnya. Sebagai implikasi dari penyeleksian dan pembukuan hadits-hadits tersebut, maka muncullah berbagai kitab hadits dengan berbagai macam corak dan metode seperti kitab Al Muwatta (al- Msusannaf), kitab shahih, kitab sunan, kitab musnad, kitab jami’, dan kitab ajza’. Kitab-kitab inipun merupakan implikasi dari nuansa dan perbedaan penyusunan dalam menggunakan pendekatan metode, kriteria dan teknik penulisan. Dalam usaha pembukuan hadits tentunya para ulama berbeda dalam memilih metode yang digunakan sesuai dengan argumen dan latar belakangnya yang berbeda-beda. Beberapa kitab hadits yang masyhur dikalangan ummat Islam adalah kitab Bukhari dan Muslim yang dikenal dengan sebutan al-Jami’ al-Shahih. Kita akan bertanya mengapa kitab Bukhari dan Muslim sangat terkenal.
Apapun bentuk metode dan pola penyusunan kitab hadits yang dilakukan Imam Bukhari dan Imam Muslim, sebagai insan akademis dunia memberikan apresiasi yang besar kepada kedua imam tersebut. Berkat jasa beliau berdualah kemurnian hadits dapat terjaga terutama dari kalangan orentalis yang selalu mengkritik dan menghujat para ahli hadits termasuk salah satunya adalah Imam Bukhari. Kitab Shahih Imam Bukhari banyak mendapat kritikan dan hujatan dari para orentalis yang berkaitan dengan metode dan pola punyusunan kitab tersebut. Imam Muslim merupakan salah satu murid dari Imam Bukhari, berdasarkan hal tersebut pola penyusunan kitab Shahih Imam Muslim banyak dipengaruhi oleh pola penyusunan kitab hadits yang dilakukan oleh gurunya yaitu Imam Bukhari. Pembukuan hadits yang di imami oleh Bukhari Muslim dengan metode yang belum pernah dilakukan para pendahulu mereka, kemudian di amini oleh para generasi sesudah mereka sehingga bermunculan metode-metode baru yang menjadikan urgensi pembukuan hadits semakin kompleks dan beragam baik dari era lasik sampai era modern.
Siapa-siapa saja imam-imam hadits yang meulis dan membukukah hadits dengan beragam metode, Bagaimana sajakah bentuk-bentuk penulisan yang dilakukan para imam hadits tersebut, metode-metode apa sajakah yang mereka terapkan dalam menulis dan membukukan hadits, apa saja keistimewaan-keistimewaan dari metode yang meraka terapkan dan bagaimana perkembangan penulisan dan pembukuan hadits dari era klasik sampai era modern. Metode-metode penulisan kitab-kitab hadits yang beragam tersebutlah dan permasalahannya yang akan menjadi bahasan pokok dalam penulisan makalah ini.






Metodologi Penulisan Kitab Hadits

Metodologi penulisan kitab hadits sangat berangam sesuai dengan perkembangan zaman dari era klasik sampai era modern yang dapat disimpulkan dalam metode-metode berikut:[5]

Pertama: Kitab-kitab yang ditulis sesuai dengan tema tertentu[6]
Kitab-kitab yang ditulis sesuai dengan tema tertentu juga disebut dengan al-Ashnaf.[7] Metodologi penulisan sesuai dengan tema ini sebagaimana yang diungkap oleh Nuruddin ‘Itir adalah:[8]
أن تجمع الأحاديث ذات الموضوع العام الواحد إلى بعضها البعض, تحت عنوان عام يجمعها, مثل كتاب الصلاة, كتاب الزكاة, كتاب البيوع, ثم توزع الأحاديث على أبواب يضم كل باب حديثا أو احاديث في مسألة جزئية, ويوضع لهذا الباب عنوان يدل على الموضوع مثل باب مفتاح الصلاة الطهور ويسمى المحدثون العنوان ترجمة.
Maksudnya adalah bahwa hadits-hadits bertema umum yang sama kemudian digabungkan dalam sebuah judul tema seperti Kitab al-Shalah, Kitab al-Zakah dan Kitab al-Buyu’ kemudian hadits-hadits tersebut dibagi dalam bab-bab yang mencakup satu hadits atau beberapa hadits yang berbicara tentang masalah-masalah, kemudian diberikan sub judul dari tema tersebut seperti Bab Miftah al-Shalah al-Thuhur, sub judul ini dalam istilah muhadditsin disebut al-Tarjamah.
Keistimewaan metode ini adalah kemudahan dalam merujuk terhadap hadits-hadits yang berhubungan masalah-masalah tertentu karena hadits-haditsnya sudah terkelompok-terkelompok dalam bab-bab dan sub bab.
Penulisan hadits dengan metode ini ada beberapa bentuk, yaitu:

1.   Al-Jawami’
Al Jawami’ jamak dari jaami’. Jam’i berarti sesuatu yang mengumpulkan, mencakup dan menggabungkan. Kitab Jami’ dalam terminologi muhadditsin adalah kitab hadits yang metode penyusunannya mencakup seluruh topik-topik keagamaan, baik Aqidah, Thaharah, Ibadah, Mu’amalah, pernikahan, Sirah, Riwayat Hidup, Tafsir, Tazkiyatun Nafs, dan Lain-lain.[9] Dengan ungkapan lain yaitu:[10]
الجامع في إصطلاح المحدثين هو كتاب الحديث المرتب على الأبواب الذي يوجد في أحاديث في جميع موضوعات الدين وأبوابه, وعددها ثمانية أبواب رئيسة هي العقائد والأحكام والسير والأدب والتفسير والفتن وأشراط الساعة والمناقب.
Kitab-kitab Jami’ yang terkenal adalah:
  1.       Al Jami’ Ash-Shahih, karya Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ismail Al Bukhari (W 256 H), orang yang pertama menyusun dan membukukan hadits shahih, akan tetapi belum mencakup semuanya. Kitab ini disusun berdasarkan urutan bab, diawali dengan kitab Bad’u Al Wahyu, dan Kitabul Iman. Kemudian dilanjutkan dengan Kitabul Ilmi dan lainnya hingga berakhir Kitabut Tauhid.[11] Jumlah semuanya ada 97 kitab yang kemudian dibagi menjadi 4550 bab dengan jumlah secara kesuluruhan 7275 buah hadits dan termasuk 4000 hadits yang berulang.[12]
Kitab Shahih Bukhari ini mendapat perhatian yang cukup besar dari para ulama, di antaranya dengan membuat syarahnya, dan syarh yang paling baik adalah kitab Fathul Bari bi Syarhi Shahihi Al Bukhari, karya Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani (W 852 H), dan Umdatul Qari, karya Badrudin Al Aini (W 855 H), dan Irsyadus Sari Ila Shahihi Al Bukhari, karya Al Qasthalani (W 922 H). Semuanya dicetak.

    2.        Al Jami’ Ash-Shahih, karya Imam Abul Husain Muslim bin Hajjaj Al Qusyairi An Naisaburi (W 261 H), berisi kumpulan riwayat hadits yang shahih saja sesuai dengan syarat yang ditentukan oleh Imam Muslim, dimulai dengan Kitab Iman, kemudian Kitab Thaharah, Kitab Haid, Kitab Shalat, dan dikahiri dengan Kitab Tafsir. Jumlah semuanya ada 54 kitab. Setiap kitab meliupti beberapa bab, dan pada setiap bab terdiri dari sejumlah hadits.[13]
Menurut para jumhur ulama hadits, Shahih Muslim menempati peringkat kdeua setelah Shahih Bukhari. Sedangkan menurut sebagian ulama wilayah Maghrib Shahih Muslim lebih tinggi dari Shahih Bukhari.
Shahih Muslim juga mendapat penerimaan dan perhatian yang sangat besar oleh para ulama, di antaranya dengan cara membuat syarh terhadap kitab tersebut. Di antaranya kitab syarah yang terbaik adalah: “Al Minhaj fi Syarh Shahih Muslim.”, karya Al Qadhi ‘Iyadh (W 544 H), dan kitab “Ad Dibaj ‘Ala Shahih Muslim bin Al Hajjaj” karya Imam Jalaludin Abdurrahman bin Abu Bakar As Suyuthi (W 911 H), sudah dicetak.
Dua kitab Jami’ ini di samping adanya syarah dari dua kitab ini juga telah ditulis kitab-kitab mustakhraj atas Shahih Bukhari, Shahih Muslim, atau keduanya secara bersama. Di samping itu juga telah ditulis kitab-kitab mustadrak atas kitab jami’. Yang paling masyhur di antaranya adalah: Al Mustadrak ‘Ala Ash Shahihain karya Abu Abdillah Al Hakim (W 405 H).

    3.        “Al Jami Ash-Shahih” karya Imam Abu Isa Muhammad bin Isa At Tirmidzi (W 279 H), merupakan kumpulan hadits shahih, hasan, dan dhaif. Namun sebagian besar dijelaskan derajat hadits tersebut, dengan urutan bab-bab berikut: bab Thaharah, bab Shalat, bab Witir, bab Shalat Jumat, bab Shalat ‘Idain (Dua hari raya), bab Safar, bab Zakat, bab Puasa, bab Haji, bab Jenazah, bab Nikah, bab Persusuan, bab Talak dan Li’an, bab Jual-beli, hingga diakhiri dengan bab Al Manaqib.[14]
Di antara syarh dari kitab Tirmidzi ini: “Aridhatul Ahwadzi ‘Ala At Tirmidzi” karya Al Hafidz Abu Bakar Muhammad bin Abdullah Al Isybili, atau yang lebih dikenal dengan Ibnu Arabi Al Maliki (W 543 H). Kemudian disyarh oleh Al Hafidz Abdurrahman bin Ahmad Ibnu Rajab Al Hanbali (W 795 H). Kitab “Jami’ At Tirmidzi” ini biasanya dinamakan dengan “Sunan At Tirmidzi” karena pengarangnya lebih menekankan kepada hadits-hadits hukum[15].

2.   Al-Sunan
“As Sunan” yaitu:[16]
الكتب التي تجمع أحاديث الأحكام المرفوعة مرتبة على أبواب الفقه
Kitab-kitab hadits yang disusun berdasarkan bab-bab tentang fikih, dan hanya memuat hadits yang marfu’ [17] saja agar dijadikan sebagai sumber bagi para fuqaha’ dalam mengambil kesimpulan hukum. As-sunan berbeda dengan Al-Jawami’. Dalam As Sunan tidak terdapat pembahasan tentang akidah, sirah, manaqib, dan lain sebagainya, tapi hanya terbatas pada masalah fikih dan hadits-hadits hukum saja.
Al Kittani mengatakan bahwa sebagian kitab-kitab yang dikenal dengan nama As Sunan, menurut istilah mereka, adalah kitab-kitab yang disusun berdasarkan urutan bab-bab tentang fikih mulai dari bab Iman, Thaharah, Zakat, dan seterusnya. Tidak ada di dalamnya sedikit pun hadits yang mauquf, sebab mauquf menurut mereka tidak dinamakan sunnah, tapi hadits. [18]
Kitab-kitab “As Sunan” yang terkenal adalah:
  1. Sunan Abi Dawud”, karya Sulaiman bin Asy’ats As Sijistani (W 275 H)
  2. “Sunan An Nasa’i” yang dinamakan dengan “Al Mujtaba”, karya Abdurrahman Ahmad bin Syu’aib An Nasa’I (W 303 H).
  3. “Sunan Ibnu Majah” karya Muhammad bin Yazid bin Majah Al Qazwini (W 204 H)
Ketiga kitab sunan ini biasanya dikenal dengan istilah al-Sunan al-Arba’ah dengan menambah sunan al-Tirmidzi. Ada beberapa istilah popular dikalangan muhadditsin yaitu:
a.    Al-Arba’ah berarti Sunan Abi Dawud, Sunan al-Turmuzdi, Sunan al-Nasai dan Sunan Ibnu majah.
b.    Al-Tslatsah berarti Sunan Abi Dawud, Sunan al-Turmuzdi dan Sunan al-Nasai.
c.    Al-Khamsah berarti berarti Sunan Abi Dawud, Sunan al-Turmuzdi, Sunan al-Nasai, Sunan Ibnu majah dan Musnad Ahmad.
d.    Al-Sittah berarti Jami’ Bukhari, Jami’ Muslim, Sunan Abi Dawud, Sunan al-Turmuzdi, Sunan al-Nasai, Sunan Ibnu majah.[19]
  1. “Sunan Ad Darimi” karya Abdullah bin Abdurrahman Ad Darimi (W 255 H)
  2. “Sunan Asd Daruquthni” karya Ali bin Umar Ad Daruquthni (W 385 H)
  3. “Sunan Al Baihaqi”karya Abu Bakar Ahmad bin Husein Al Baihaqi (W 458 H).



3.   Al-Mushannafat
Al-Mushannafat, jamak Mushannaf. Menurut istilah ahli hadits adalah:[20]
كتب مرتبة على الأبواب لكنها تشتمل على الحديث الموقوفة والحديث المقطوع بالإضافة إلى الحديث المرفوع.
Sebuah kitab yang disusun berdasarkan urutan bab-bab tentang fikih, yang meliputi hadits marfu’, mauquf’, dan maqthu’, atau di dalamnya terdapat hadits-hadits Nabi, perkataan sahabat, fatwa-fatwa tabi’in, dan terkadang fatwa tabi’ut tabi’in. Perbedaan antara mushannaf dengan sunan, bahwa mushannaf mencakup hadits-hadits marfu’, mauquf, dan maqthu’. sedangkan kitab sunan tidak mencakup selain hadits yang marfu’ kecuali sedikit sekali.
Karya-karya yang terkenal dalam metode penulisan ini adalah:
  1. “Al-Mushannaf” karya Abu Bakar Abdurrazaq bin Hammam Ash Shan’ani (W 211 H).
  2. “Al-Mushannaf” karya Abu Bakar Abdullah bin Muhammad bin Abi Syaibah Al Kufi (W 235 H).
  3. “Al-Mushannaf” karya Baqiyy bin Makhlad Al Qurthubi (W 276 H)
Dalam term Mushannafat ada istilah muhaddisin dengan Muwaththa’at. Muwaththa’at Jamak dari Muwaththa’.[21] Menurut istilah ahli hadits adalah sebuah kitab yang tersusun berdasarkan urutan bab-bab fikih dan mencakup hadits-hadits marfu’, mauquf, dan maqthu’, sama seperti mushannaf, meskipun namanya berbeda.
Karya-karya muwaththa’at yang terkenal:
  1. Al Muwaththa’ karya Imam Malik bin Anas Al Madani (W 179 H), dicetak berulang kali.
  2. Al Muwaththa’ karya Ibnu Abi Dzi’ib Muhammad bin Abdurrahman Al Madani (W 158 H)
  3. Al Muwaththa’ karya Abu Muhammad Abdullah bin Muhammad Al Marwazi (293 H).

4.   Al-Mustadrakat
Mustadrak merupakan bentuk jamak dari Mustadrak yang berarti orang yang memperbaiki.[22] Dalam terminologi Muhaddittsin Mustadrak adalah: [23]
كتاب يخرج صاحبه أحاديث لم يخرجها كتاب معين من كتب السنة وهي على شرط ذلك الكتاب اي رجالها يروي لهم ذلك الكتاب.
Jadi, mustadrak[24] adalah salah satu bentuk penyusunan kitab di kalangan muhaddisin, yang memperbaiki (meriwayatkan) hadits dari satu kitab berdasarkan syarat atau ketentuan kitab aslinya. Adapun syarat al-Mustadrak yaitu: rijal isnad merupakan orang yang mengeluarkan hadits dari kitab aslinya, tanpa/tidak melalui perantara (wasilah).[25] Kitab Mustadrak juga merupakan kitab yang mencatat hadits-hadits yang tidak disebutkan oleh ulama-ulama yang sebelumnya, padahal hadits tersebut sahih menurut syarat yang dipergunakan oleh ulama itu.[26]
          Mustadrak yang paling popular adalah Mustadrak ‘ala Shohihain karya Hakim Abu Abdillah Muhammad bin Muhammad al-Naisaburi (W 405 H) namun ia dianggap mutasahil.
          Manfaat dari penyusunan hadits melalui metode mustadrak ini adalah memperkaya matan hadits.[27]

5.   Al-Mustakhraj
Mustakhraj dalam istilah muhaddisin adalah: [28]
المستخرجات أو المخرج كتاب يروى فيه صاحبه أحاديث كتاب معين بأسانيد لنفسه يلتقي في اثنآء السند مع صاحب الكتاب الاصل في شيخه أو من فوقه ويرويه حسب لفظ السند الذي وقع.
Menurut Syuhudi Ismail Mustakkhraj adalah kitab hadits yang memuat matan-matan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhary atau Muslim atau kedua-duanya atau lainnya, kemudian sipenyusun meriwayatkan matan-matan hadits tersebut dengan sanad sendiri yang berbeda. Misalnya: mustakhraj shahih bukhary susunan Al Jurjaniy.[29]
Manfaat dari penyusunan hadits melalui metode mustakhraj ini adalah memperkaya sanad hadits atau thruruk al-Riwayah.[30] Dengan adanya mustakhraj dapat menjelaskan kesenjangan-kesenjangan dalam sanad yang shahih seperti menjelaskan tadlis dalam periwayatan yang diterima melalui sima’ah dan menjelaskan yang mubham atau belum jelas dan masih banyak lagi fari manfaat mustakhraj ini.[31]

Kedua: Kitab-kitab yang ditulis sesuai dengan urutan nama sahabat
Metode penulisan kitab hadits yang ditulis dengan urutan nama sahabat maksudnya adalah:[32]
كتب تجمع الأحاديث التي يرويها كل صحابي في موضع خاص تحمل إسم راويها الصحابي
          Manfaat dari metode ini adalah kemudahan dalam mengetahui jumlah periwayat dan riwayat dari sahabat, sehingga dapat diketahui sahabat-sahabta yang banyak meriwayatkan hadits-hadits nabi, seperti Jabir bin Abdullah, Abu Hurairah, ‘Aisyah dan lain-lain. Model penulisan kitab hadits dalam metode ini ada dua macam, yaitu:
1.   Al-Masanaid[33]
Al Masanid, jamak dari Musnad, maksudnya adalah: [34]
الكتاب الذي تذكر فيه الأحاديث على ترتيب الصحابة رضي الله عنهم بحيث توافق حروف الهجاء أو ما يوافق السوابق الإسلامية أو شرافة النسب.

Urutan nama-nama para sahabat di dalam musnad kadang berdasarkan huruf hijaiyah atau alfabet sebagaimana dilakukan oleh banyak ulama, dan ini paling mudah dipahami, kadang juga berdasarkan pada kabilah dan suku, atau berdasarkan yang paling dahulu masuk Islam, atau berdasarkan negara. Pada sebagian musnad kadang hanya terdapat kumpulan hadits salah seorang sahabat saja, atau hadits sekelompok para sahabat seperti sepuluh orang yang dijamin masuk surga.[35]
Al Masanid yang dibuat oleh para ulama hadits jumlahnya banyak Al Kittani dalam kitabnya Ar Risalah Al Mustathrafah menyebutkan jumlahnya sebanyak 82 musnad bahkan lebih.[36]
Adapun musnad-musnad yang paling terkenal adalah:
1.    Musnad Abu Dawud Sulaiman bin Dawud At Thayalisi (W 204 H)
2.    Musnad Abu Bakar Abdullah bin Az Zubair Al Humaidy (W 219 H)
3.    Musnad Imam Ahmad bin Hanbal (wagat 241 H)
4.    Musnad Abu Bakar Ahmad bin Amru Al Bazzar (W 292 H)
5.    Musnad Abu Ya’la Ahmad bin Ali Mutsanna Al Mushili (W 307 H).
Musnad-musnad ini tidak hanya berisi kumpulan hadits shahih saja, tetapi mencakup semua hadits shahih, hasan dan dhaif, dan tidak berurutan berdasarkan bab-bab fikih, karena urutan tersebut harus menggabungkan musnad setiap sahabat tanpa melihat objek pembahasan riwayatnya. Hal ini akan mempersulit bagi orang yang ingin mempelajarinya karena kesulitan mendapatkan hadits-hadits hukum fikih itu sendiri, atau hadits-hadits tentang suatu permasalahan.[37]

2.   Al-Athraf
Al-Athraf adalah:[38]
الأطراف جمع طرف، وطرف الحديث: الجزء الدال على الحديث، أو العبارة الدالة عليه، مثل حديث الأعمال بالنيات، وحديث الخازن الأمين، وحديث سؤال جبريل. وكتب الأطراف: كتب يقتصر مؤلفوها على ذكر طرف الحديث الدال عليه، ثم ذكر أسانيده في المراجع التي ترويه بإسنادها، وبعضهم يذكر الإسناد كاملا، وبعضهم يقتصر على جزء من الإسناد.
Maksudnya al-Athraf adalah kumpulan hadits dari beberapa kitab induknya dengan cara mencantumkan bagian atau potongan hadits yang diriwayatkan oleh setiap sahabat. Penyusunan hanyalah menyebutkan beberapa kata atau pengertian yang menurutnya dapat dipahami hadits yang dimaksud. Sedangkan sanad-sanadnya terkadang ada yang menulisnya dengan lengkap dan ada yang menulisnya dengan mencantumkan sebagiannya saja. Kitab athraf juga adalah kitab hadits yang hanya menyebut sebagian dari matan-matan hadits tertentu kemudian menjelaskan seluruh sanad dari matan itu, baik sanad yang berasal dari kitab hadits yang dikutip matannya maupun dari kitab lainnya.
Model penulisan kitab hadits dalam bentuk Athraf yang paling popular adalah:
1.    Tuhfa al-Asyraf bi Ma’rifah Al-Athraf karya al-Hafidz al-Imam Abi al-Hajjaj Yusuf bin Abdurrahman al-Muzi (W 742 H). dalam kitab ini menghimpun Athraf dari Kutub al-Sittah dan mulhaqnya yaitu:
a.    Muqaddimah Shahih Muslim
b.    Al-Marasil Li Abi Dawud al-Sajistani
c.    Al-‘Ilal al-Shaghir Li al-Turmudzi
d.    Al-Syamail li al-Turmudzi
e.    ‘Amal al-Yaum Wa al-lailah Li an-Nasai
2.    Dzakhair al-Mawarits Fi al-Dilalah ‘Ala Mawadi’I al-Hadits karya Syaikh Abdul al-‘Ani al-Nabilsy (W 114 H). dalam kitab ini menghimpun Athraf dari Kutub al-Sittah dan al-Muwaththa (Malik).
Metode athraf ini sangat memudahkan mengetahui sanad-sanad hadits karena terkmpul dalam satu tema dan juga memudahkan untuk mengetahui mukharrij asal dan letak bab-bab pembahsannya.[39]

Ketiga: Al-Ma’ajim
Al-Ma’ajim adalah jamak dari Mu’jam. Adapun menurut istilah para ahli hadits adalah:[40]
كتاب تذكر فيه الأحاديث على ترتيب الشيوخ، والغالب عليها اتباع الترتيب على حروف الهجاء، فيبدأ المؤلف المعجم بالأحاديث التي يرويها عن شيخه أبان، ثم إبراهيم، وهكذا.
Kitab yang berisi kumpulan haidts-hadits yang berurutan berdasarkan nama-nama sahabat, atau guru-guru penyusun, atau negeri, sesuai dengan huruf hijaiyah.
Adapun kitab-kitab muj’am yang terkenal, antara lain adalah:
1.    Tiga Mu’jam Abul Qasim Sulaiman bin Ahmad At Thabarani (W 360 H):
a.    Al-Mu’jam Al-Kabir, adalah berisi musnad-musnad para sahabat yang disusun berdasarkan huruf mu’jam (kamus), kecuali musnad Abu Hurairah karena disendirikan dalam satu buku. Ada yang mengatakan: Berisi 60.000 hadits. Ibnu Dihyah berkata bahwa dia adalah mu’jam terbesar di dunia. Jika mereka menyebut “Al Mu’jam”, maka kitab inilah yang dimaksud. Tapi jika kitab lain yang dimaksud maka ada penjelasan dengan kata lain.
b.    Al-Mu’jam Al-Awsath, disusun berdasarkan nama-nama gurunya yang jumlahnya sekitar 2000 orang. Ada yang mengatakan: di dalamnya terdapat 30.000 hadits.
c.    Al-Mu’jam As-Shaghir, berisi 1000 orang dari para gurunya, kebanyakan setiap satu hadits diriwayatkan dari satu gurunya. Ada yang mengatakan: berisi 20000 hadits.
Mu’jam-mu’jam at-Thabrani ini sangant masyhur, namun perlu dibedakan dalam penggunaan istilahnya, yaitu apabila disebutkan al-Mujam atau Akhrajahu al-Thabrani berarti yang dimaksud adalah Mu’jam al-Kabir.[41]
2.    Mu’jam Al Buldan, karya Abu Ya’la Ahmad bin Ali Al Mushili (W 307 H).

Keempat: Kitab-kitab yang ditulis sesuai Huruf di awal Hadits
Pengertian dari Kitab-kitab yang ditulis sesuai Huruf di awal Hadits adalah:[42]
كتب مرتبة على حروف المعجم، بحسب أول كلمة من الحديث، تبدأ بالهمزة، ثم بالباء، وهكذا....
Mengunakan metode ini sangat memudahkan untuk merujuk hadits-hadits yang diriwayatkan asalkan mengetahui lafadz kalimat pertama dari sebuah matan hadits apabila tidak maka akan sangat menyulitkan.[43] Diantara penulisan kitab hadits yang tergolong dalam klasifikasi diantara adalah:
1.   Majami’
Majami’ adalah:
كتب تجمع أحاديث عدة كتب من مصادر الحديث
Dalam metode ini ada dua model penulisan:[44]
1.    Model penulisan sesuai tema (Maudhu’)
Penulis yang menerapkan model penulisan ini adalah:
a.  Ibnu Atsir al-Mubarak bin Muhammad al-Jazri (W 606 H) dalam karyanya Jami’ al-Ushul min Ahadits al-Rasul yang menghimpun hadits-hadits bukhari muslim, Muwaththa, Sunan Abi Dawud, Sunan al-Turmuzdi dan Sunan al-Nasai.
b.  Syaikh al-Muhaddits ‘Ali bin Hisam al-Muttaqi al-Hindi (W 975 H) dalam karyanya Kanzu al-‘Ummal Fi al-Sin al-Aqwal Wa al-Af’al yang menghimpun lebih dari 93 kitab rujukan.
2.    Model penulisan sesuai kalimat di awal hadits
Model penulisan sesuai kalimat di awal hadits ini sesuai dengan huruf alphabet bahasa Arab. Penulis yang menerapkan model penulisan ini adalah:
a.    Al-Imam al-Hafidz Jaluddin al-Suyuthi (W 911 H) dalam dua karya monumentalnya:
                                 1.    al-Jami’ al-Kabir atau yang lebih dikenal dengan sebutan Jam’u al-Jawami’ atau dalam versi cetaknya disebut dengan Jami’ al-Ahadits yang terangkum dalam 18 jilid.
                                 2.    Al-Jami’ al-Shagir Li Ahadits al-Basyir al-Nadzir yang memuat lebih dari 10031 hadits.
2.   Kitab Hadits yang masyhur dalam perkataan
Kitab Hadits yang masyhur dalam perkataan maksudnya adalah hadits-hadits yang beredar dikalangan masyarakat luas. Penulis yang menerapkan model penulisan ini adalah: [45]
a.    Al-Imam al-Hafidz Syamsuddin Muhammad bin Abdurrahman al-Sakhawi (W 902 H) dalam karyanya al-Maqashid al-hasanah Fi al-Ahadits al-Musytaharah ‘Ala al-Alsinah yang memuat lebih dari 1356 hadits.
b.    Al-‘Allamah al-Muhaddits Ismma’il bin Muhammad al-‘Ajluni dalam karyanya Kasyf al-Khafa Wa Muzil al-Ilbas ‘Amma Isytahara Min al-Hadits ‘Ala al-Sinah al-Nash yang memuat kurang lebih 3250 hadits.
3.   Mafatih wa Faharits (Karya-karya Kunci dan Indeks)
Karya-karya kunci (mafatih), indeks (faharis) yang disusun oleh ulama terhadap karya-karya tertentu merupakan salah satu metode modern. Di antara contoh-contohnya adalah: [46]
1.    Miftah al-Shahihain oleh Muhammad al-Syarif ibn Mushthafa al-Tauqadi.
2.    Miftah al-Tartib li Ahadits Tarikh al-Khathib oleh Sayyid Ahmad ibn Sayyid Muhammad ibn Sayyid al-Shadiq al-Ghumari al-Maghribi;
3.    al-Bughyah fi Tartib Ahadits al-Hilyah oleh Sayyid Abdul Aziz ibn Sayyid Muhammad ibn Sayyid Shadiq al-Ghumari;
4.    Fihris li Tartib Ahadits Shahih Muslim oleh Muhammad Fu’ad Abdulbaqi;
5.    Miftah li Ahadits Muwaththa’ Malik oleh Muhammad Fuad Abdul Baqi;
6.    Fihris li Tartib Ahadits Sunan Ibn Majah oleh Muhammad Fu’ad Abdulbaqi.

KeLIMA: al-Zawaid (al-Mushannafat al-Zawaid)
Pengertian dari al-Zawaid (al-Mushannafat al-Zawaid) adalah:[47]
وهي مصنفات تجمع الأحاديث الزائدة في بعض الحديث على أحاديث كتب أخرى، دون الأحاديث المشتركة بين المجموعتين.
Sebuah hadits terkadang ditulis oleh sejumlah penulis hadits secara bersama-sama dalam kitab mereka. Ada pula hadits yang hanya ditulis oleh seorang penulis hadits saja, sementara penulis hadits yang lain tidak menuliskannya. Maka hadits-hadits jenis kedua ini menjadi lahan penelitian para pakar hadits yang datang kemudian. Hadits-hadits ini kemudian dihimpunnya dalam suatu kitab tersendiri. Metode penulisan ini disebut zawaid yang berarti tambahan-tambahan. tambahan bagi sebagian karya-karya hadits yang ditemukan pada karya-karya lain. Diantara karya-karya yang menggunakan model penulisan ini adalah:
     1.    Majma’ al-Zawaiid Wa Manba’ al-Fawaid karya al-Hafidz Nuruddin ‘Ali bin Abi Bakar al-Haitsami (W 807 H). karya ini ia menambahkan hadits-hadits yang tercantum dalam Kutub al-Sittah dan enam kitab lainnya, yaitu: Musnad Ahmad, Musnad Abi Ya’la dan 3 Mu’’jam al-Tabrani. Ia juga menjelaskan kualitas hadits-hadits yang dimuat baik itu shahih, hasan atau dhoiff, muththashil maupun munqathi’.
     2.    Al-Mathalib al-‘Aliah Bi Zawaid al-Masanid al-Tsamaniah karya al-Hafidz Ahmad bin ‘Ali Ibnu Hajar al-‘Atsqalani. Karya ini menghimpun zawaid dari kutub al-Sittah dan delapan Musna yang lain, yaitu: Musnad Abu Daud al-Thayalasi, Musnad al-Humaidi, Musnad Ibn Abi ‘Amr, Musnad Musaddad, Musnad Ahmad bin Muni’, Musnad Abu Baka bin Abi Syaibah, Musnad Abd bin Humaid, Musnad al-Harits dan Musnad Abi Usamah.

Keenam: Kitab al-Takhrij
Kitab takhrij adalah kitab hadits yang ditulis untuk mentakhrij kitab tertentu, seperti:
1.    Nashbu al-Riwayah Li Ahadits al-Hidayah oleh al-Imam al-Hafidz Abi Muhammad Abdillah bin yusuf al-Zaila’I al-hanafi. Kitab ini mentakhrij hadits-hadits yang ada dala kit al-Hidayah fi Fiqh al-Hanafi karya ‘Ali bin Abi Bakar al-Marighani fuqaha madzhab Hanafi.
2.    Mughni ‘An Haml al-Asfar Fi al-Asfar Fi Takhrij Ma Fi al-Ihya Min al-Akhbar oleh al-Imam Abdurrahman bin al-Husin al-‘Iraqi (W 806 H). dalam karyanya ini ia mentakhrij hadits-hadits yang ada dalam Ihya Ulumiddin karya Abu Hamid Al-Ghazali dengan menjelaskan perawinya dan kualitas haditsnya.
3.    Al-Talkhish al-Khabir Fi Takhrij Ahadits al-Rafi’I al-Kabir karya al-Hafidz Ahmad bin Ali bin Hajar al-‘Astqalani (W 852 H).[48]

Ketujuh: al-Ajzai
الجزء: في اصطلاح المحدثين: هو تأليف يجمع الأحاديث المروية عن رجل واحد سواء كان ذلك الرجل من طبقة الصحابة أو من بعدهم: كجزء حديث أبي بكر -وجزء حديث مالك..
Ajza’ menurut istilah muhaddisin adalah kitab yang disusun untuk menghimpun hadits-hadits yang diriwayatkan oleh satu orang, baik dari generasi sahabat maupun dari generasi sesudahnya. Seperti Juz Hadits Abu Bakar dan Juz Hadits Malik.[49] Pengertian yang lain adalah kitab hadits yang memuat hadits-hadits tentang tema-tema tertentu, seperti Al-juz’u fi Qiyamil lailiy, karya Al-Marwazi dan Fawaidul Haditsiyah, juga kitab Al-wildan karya Imam Muslim dan Yang lainnya.[50]

Kedelapan: Musyayyakhat (Sesuai urutan nama guru)
Musyayyakhat adalah kitab hadits yang dihimpunkan oleh muhaddisin sesuai dengan urutan nama syaikh atau guru mereka. Metode penulisan ini teradang juga disebut Fahras atau Tasabat.
وهي كتب يجمع فيها المحدثون أسماء شيوخهم، وما تلقوه عليهم من الكتب أو الأحاديث مع إسنادهم إلى مؤلفي الكتب التي تلقوها.
Diantara contoh musyayyakhat ini adalah Fahratsat al-Imam Abi Bakar Muhammad bin Khairr dan al-Irad Li Nubdzah al-Mustafad Min al-Riwayah Wa al-Isnad.

Kesembilan: al-‘Ilal
Al-‘Ilal adalah kitab hadits yang menghimpun hadits-hadits yang bermaslah atau cacat namun diterangkan kecacatannya. [51]
وهي الكتب التي يجمع فيها الأحاديث المعلة مع بيان عللها
Contoh karya dalam bentuk ini adalah:
1.    Al-‘Ilal al-Kabir Karya al-Imam Muhammad bin ‘Isa al-Turmudzi.
2.    Al-‘Ilal karya Ibn Abi Hatim al-Razi yang disusun berdasarkan bab-bab fikih.
3.    Al-‘Ilal al-Waridadh Fi al-Hadits al-Nabawiyah karya al-Daraquthni.

Kesepuluh: Ma’ajim al-Alfhadz al-Ahadits
Ma’ajim al-Alfhadz al-Ahadits adalah cara penulisan modern terhadap kitab-kitab hadits dalam bentuk ma’ajim yang mencakup semua lafadz-lafadz hadits bahkan yang gharib sekalipun dan juga menyebut rincian hal-hal yang berhubungan dengan hadits tersebut pada kitab aslinya. Dalam metode ini terdapat empat model penulisan:[52]
1.    Ma’ajim Mufahras yang ditulis sesuai dengan lafadz hadits
2.    Ma’ajim Mufahras yang ditulis sesuai dengan tema hadits
3.    Ma’ajim Mufahras yang ditulis sesuai dengan Awail al-Hadits (kalimat depat hadits)
4.    Ma’ajim Mufahras yang ditulis sesuai dengan Masanid (nama perawi).
Metode penyusunan ini di populerkan oleh para Orientalis sejak abad ke-20,di antaranya kitab-kitab tersebut adalah:

1.   Al-Mu’jam al-Mufahras Li al-Fadz al-Hadits al-Nabawi[53]
Untuk mengetahui sistematika urutan materi-materi dalam Mu’jam al-Mufahras ini sebagaimana terdapat dalam jilid ke-7 adalah:[54]
  1. Kata-kata kerja (al-af’al): madli (lampau), mudlari’ (sekarang), amr (perintah). (ism al-fa’il) ism al-maf’ul dan beberapa bentuk kata berikutnya sesuai dengan dlamir-nya.
a.    Bentuk fi’il mabni ma’lum tanpa tambahan huruf sisipan (lawahiq)
b.    Bentuk fi’il mabni ma’lum dengan tambahan huruf sisipan (lawahiq)
c.    Bentuk fi’il mabni majhul dengan dan tanpa tambahan huruf sisipan (lawahiq)
2.    Kata-kata benda (ism), yakni:
a.    Kata benda (ism) yang dibaca rafa’ dalam bentuk tanwin
b.    Kata benda (ism) yang dibaca rafa’ dalam bentuk tidak tanwin
c.    Kata benda (ism) yang dibaca rafa’ dengan tambahan huruf sisipan
d.    Kata benda (ism) yang dibaca jar karena di mudlaf-kan dalam bentuk tanwin.
e.    Kata benda (ism) yang dibaca jar karena di mudlaf-kan dalam bentuk tidak tanwin dan tidak ada tambahan sisipan huruf.
f.     Kata benda (ism) yang dibaca jar karena di mudlaf-kan yang disertai tambahan huruf sisipan.
g.    Kata benda (ism) yang dibaca jar karena terdapat huruf jar.
h.    Kata benda (ism) yang dibaca nasab dalam bentuk tanwin.
i.      Kata beda (ism) yang dibaca nasab tidak dalam bentuk tanwin tanpa tambahan sisipan huruf.
j.     Kata benda (ism) yang dibaca nasab beserta tabahan sisipan huruf.
Bentuk-bentuk kata benda (ism) tersebut disebutkan bentuk mufrad (tunggal)-nya terlebih dahulu, kemudian bentuk mtsanna (berbilang dua)-nya, dan diakhiri bentuk jama’ (plural/berbilang banyak) dengan urutan yang berlaku di kalangan ahli tata bahasa (sharfI).
3.    Kata-kata bentukan (Musytaqqat)
a.    Kata-kata bentukan (musytaqqat) yang tidak disandarkan pada huruf mati.
b.    Kata-kata bentukan (musytaqqat) yang disandarkan pada huruf mati.
Di samping itu ada beberapa hal yang harus diperhatikan terkait dengan penggunaan Mu’jam tersebut, yaitu:
         1.    Pengurungan huruf terletak di antara teks (nash) dan kitab rujukan yang telah dijelaskan sebelumnya.
         2.    Dua tanda bintang (**) merupakan tanda pengulangan redaksi (lafaz) hadits, bab, atau halaman.
         3.    Kitab-kitab hadits yang menjadi obyek kajian (rujukan) Mu’jam ada sembilan kitab hadits dan disimbolisasikan dengan rumus tertentu, yaitu:
a.    خ   : untuk Shahih Bukhari
b.    م   : untuk Shahih Muslim.
c.    ت  : untuk Jami’ al-Tirmidzi
d.    د   : untuk Sunan Abu Dawud.
e.    ن   : untuk Sunan al-Nasa’i.
f.     جه : untuk Sunan Ibn Majah.
g.    ط   : untuk al-Muwatha’ Imam Malik.
h.    حم : untu Musnad Ahmad bin Hanbal.
i.      دي : untuk Musnad al-Darimi.
Rumus-rumus tersebut selalu dituliskan di bagian bawah dalam setiap dua halaman kitab Mu’jam. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan kemudahan bagi pengguna kitab Mu’jam ini.
Hasil dari sebuah pelacakan kata hadits dalam setiap hadits-hadits yang ditemukan dalam 9 kitab hadits tersebut kemudian ditunjukkan tempatnya, yaitu dengan menunjukkan nama kitab hadits yang memuatnya dan disertai nama bahasan hadits (yang disebut kitab) yang diikuti nomor bab-nya. Hal ini diterapkan pada seluruh kitab hadits rujukan, kecuali Musnad Ahmad bin Hanbal dengan menunjukkan Jilid dan nomor halamannya, Muslim dan Muwatha’ dengan menunjukkan nomor haditsnya.
          Manfaat dari penulisan dengan menggunakan metode ini adalah:
1.    Penulisan seperti Mu’jam sehingga memudahkan untuk mengetahui lafad hadits.
2.    Mengandung sejumlah kitab rujukan utama dalam hadits.
3.    Memudahkan bagi orang yang tidak ada keahlian dalam kitab-kitab hadits secara langsung.

   2.        Miftah Kunuz al-Sunnah[55]
Upaya mencari hadits terkadang tidak didasarkan pada lafal matan (materi) hadits, tetapi didasarkan pada topik masalah. Pencarian matan hadits berdasarkan topik masalah sangat menolong pengkaji hadits yang ingin memahami petunjuk-petunjuk hadits dalam segala konteksnya.
Pencarian matan hadits berdasarkan topik masalah tertentu itu dapat ditempuh dengan cara membaca berbagai kitab himpunan kutipan hadits, namun berbagai kitab itu biasanya tidak menunjukkan teks hadits menurut para periwayatnya masing-masing. Padahal untuk memahami topik tertentu tentang petunjuk hadits, diperlukan pengkajian terhadap teks-teks hadits menurut periwayatnya masing-masing. Dengan bantuan kamus hadits tertentu, pengkajian teks dan konteks hadits menurut riwayat dari berbagai periwayat akan mudah dilakukan. Salah satu kamus hadits itu ialah: Miftah Kunuz al-Sunnah yang memuat empat belas kitab hadits dan kitab tarikh Nabi.
Bahasa asli dari kitab Miftah Kunuzis-Sunnah adalah bahasa Inggris yang juga dikarang oleh tim Dr. A.J. Wensinck (W 1939 M), dengan judul a Handbook of Early Muhammadan. Kamus hadits yang berbahasa Inggris tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Arab sebagaimana tercantum di atas oleh Muhamad Fuad Abdul-Baqi. Muhamad Fuad tidak hanya menerjemahkan saja, tetapi juga mengoreksi berbagai data yang salah.
Naskah yang berbahasa inggris diterbitkan untuk pertama kalinya pada tahun 1927 dan terjemahannya pada tahun 1934. Dalam kamus hadits tersebut dikemukakan berbagai topik, baik yang berkenaan dengan masalah-masalah yang berkaitan dengan petunjuk Nabi maupun yang berkenaan dengan masalah-masalah yang berkaitan dengan nama. Untuk setiap topik biasanya disertakan beberapa subtopik, dan untuk setiap subtopik dikemukakan data hadits dan kitab yang menjelaskannya.
Kitab-kitab yang menjadi rujukan kamus Miftahu Kunuz al-Sunnah ini tidak hanya kitab-kitab hadits saja, tetapi juga kitab-kitab sejarah (tarikh) Nabi. Jumlah kitab rujukan itu ada empat belas kitab, yakni: Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abi aud, Sunan al-Turmudzi, Sunan al-Nasa’I, Sunan Ibnu Majah, Sunan al-Darimi, Muwaththa Malik, Musnad Ahmad bin Hambal, Musnad Abu Daud al-Thayalasi, Musnad Zaid bin Ali, Sirah Ibnu Hisyam, Maghazi al-Waqidi dan Thabaqat Ibnu Sa’ad.
Dalam kamus, nama dan beberapa hal yang berhubungan dengan kitab-kitab tersebut dikemukakan dalam bentuk lambang. Contoh berbagai lambang yang dipakai dalam kamus hadits Miftah Kunuzis-Sunnah, yaitu:
أول      : Juz pertama
ب       : Bab
بخ       : Bukhari
ثالث     : Juz ketiga
ثان      : Juz kedua
ج        : Juz
ح        : Hadits
خامس  : Juz kelima
رابع      : Juz keempat
سادس  : Juz keenam
ص      : Halaman
نس      : Nasa’i
ق        : Bagian Kitab
قا       : Konfirmasi data sebelumnya dan
sesudahnya
تر       : Tarmiji
حم      : Ahmad
بل       : Abu Daud
ط       : Abi Daud al-Thayalasi
عد      : Tabaqat Ibnu Sa’ad
قد           : Maghazi al-Waqidi
ز        : Musnad Zaid bin Ali
ما       : Muwaththa Malik
مج      : Ibnu Majah
مس     : Muslim
مي       : Ad-Darimi
هش     : Ibnu Hisyam
ك       : Kitab
م م م   : hadits terulang beberapa kali
Setiap halaman kamus terbagi dalam tiga kolom. Setiap kolom memuat topik; Setiap topik biasanya mengandung beberapa subtopik; dan pada setiap subtopik dikemukakan data kitab yang memuat hadits yang bersangkutan.
          Metodologi penulisan seperti ini kemudia dikembang oleh peneliti muslim sehingga melahirkan karya-karya yang meimbangi karya-karya tersebut, diantaranya:[56]
1.    Al-Mu’jam al-Mufahras Li Alfadz al-Jami’ al-Shahih Li al-Imam Muslim bin al-Hajjaj oleh Dr. Said al-Marshafi.
2.    Miftah al-Mu’jam al-Mufahras oleh al-Ustadz Ma’mun Shagharji.
3.    Fahras Ahammu Alfadz Shhahih Muslim oleh Muhammad Fuad ‘Abdul Baqi.
4.    Fahras Alfadz Sunan al-Turmuji oleh la-Ustadz al-Bik.

Kesebelas: al-Barnamaj al-Aliyah (Komputerisasi) [57]
Al-Barnamaj al-Aliyah (Komputerisasi) ialah menggunakan fasilitas komputer (al-Hasib al-Aly) dalam melacak hadits-hadits yang dicari. Cara ini sangat efektif untuk menelusuri hadits, karena dengan menggunakan komputer kita tidak perlu repot-repot membuka kitab akan tetapi kita tinggal mengetik apa saja yang terdapat dalam hadits yang hendak ditelusuri; nama sahabat, kata yang terdapat alam hadits tersebut, perawi dan lain sebagainya. Maka secara otomatis komputer akan menampilkan obyek yang kita cari secara detail dari seluruh kitab (kitab hadits maupun yang lain) yang memuat kata yang kita masukkan, halaman dan juz dll.
Komputerisasi hadits ini sangat memudahkan sekali dalam mempelajari dan mentakhrij hadits-hadits yang diinginkan bahkan dalam waktu yang sangat singkat, oleh karena itulah ada beberapa manfaat yanag jelas dari pemanfaatan terhadap program ini, diantarana:
1.    Cepat dalam menemukan hadits atau masalah yang di inginkan.
2.    Menghemat waktu.
3.    Menghemat finansial
4.    Menghemat tempat
5.    Mudah mempelajari ilmu-ilmu yang lain.
Namun dalam penggunaan fasilitas ini wajib merujuk pada kitab aslinya, karena hal ini hanya sebagai media untuk mempermudah. Ada beberapa alasan yang mendasar mengapa pengguna fasilitas ini wajib merujuk kepada kitab aslinya, diantaranya:
1.    Secara akademis ilmiah bahwa merujuk pada rujukan asli merupakan sebuah kewajiban sebagai pertanggung jawaban sedangkan fasilitas cuma sebagai pembuka jalan dan alat untuk mempermudah sehingga dapat menghemat waktu.
2.    Menghindari kesamaan nama-nama perawi dan lafadz-lafadz hadits satu sama lain sehingga mempunyai kepastian.
3.    Pembuat program itu terkadang dan hampir dipastikan kebanyakannya adalah orang-orang yang tidak menguasai ilmu hadits lebih khusus lagi seluk beluk ilmu hadits Dirayah.

Simpulan
     1.       Jam’i berarti sesuatu yang mengumpulkan, mencakup dan menggabungkan. Al Jawami’ jamak dari jaami’. Kitab Jami’ dalam terminologi muhadditsin adalah kitab hadits yang metode penyusunannya mencakup seluruh topik-topik keagamaan, baik Aqidah, Thaharah, Ibadah, Mu’amalah, pernikahan, Sirah, Riwayat Hidup, Tafsir, Tazkiyatun Nafs, dan Lain-lain.
     2.       kitab-kitab yang disusun berdasarkan bab-bab tentang fikih, dan hanya memuat hadits yang marfu’ saja agar dijadikan sebagai sumber bagi para fuqaha’ dalam mengambil kesimpulan hukum.
     3.       Mushannaf adalah sebuah kitab hadits yang disusun berdasarkan bab-bab fiqhi, yang didalamnya terdapat hadits marfu’, mauquf dan maqtu’. Karena mushannaf adalah kitab hadits yang disusun berdasarkan kitab fiqhi, maka muwatta’ termasuk didalamnya.
     4.       Dinamakan musnad apabila ia memasukkan semua hadits yang pernah ia terimah dengan tanpa menerangkan derajat ataupun menyaring hadits-hadits tersebut. Kiitab musnad berisi tentang kumpulan hadits-hadits, baik itu hadits shahih, hasan dan dhaif.
     5.       Sunan yaitu kitab-kitab yang disusun berdasarkan bab tentang fiqhi, dan hanya memuat hadits-hadits yang marfu’ saja agar dijadikan sebagai sumber bagi para fuqaha dalam mengambil kesimpulan. Sunan tidak terdapat pembahasan tentang sirah, aqidah, manaqib, dan lain-lain.
     6.       Ajza’ menurut istilah muhaddisin adalah kitab yang disusun untuk menghimpun hadits-hadits yang diriwayatkan oleh satu orang, baik dari generasi sahabat maupun generasi sesudahnya. Seperti Juz hadits abu Bakar, dan juz hadits Malik. Pengertian yang lain adalah kitab hadits yang memuat hadits-hadits tentang tema-tema tertentu.
     7.       Yang dimaksud dengan jenis al athraf adalah kumpulan hadits dari beberapa kitab induknya dengan cara mencantumkan bagian atau potongan hadits yang diriwayatkan oleh setiap sahabat. Penyusunan hanyalah menyenbutkan beberapa kata atau pengertian yang menurutnya dapat dipahami hadits yang dimaksud. Sedangkan sanad-sanadnya terkadang ada yang menulisnya dengan lengkap dan ada yang menulisnya dengan mencantumkan sebagiannya saja.
     8.       Mustakhraj adalah kitab hadits yang memuat matan-matan hadits ya ng diriwayatkan oleh Bukhary atau Muslim atau kedua-duanya atau lainnya, kemudian sipenyusun meriwayatkan matan-matan hadits tersebut dengan sanad sendiri yang berbeda. Misalnya: mustakhraj shahih bukhary susunan Al Jurjaniy.


























DAFTAR PUSTAKA

Abdurahman bin Abi Bakar al-Suyuthi, Tadrib al-Rawi, Bairut: Dar al-Fikr, 1999.
Abdurrahman al-Suyuthi, Syarah Al- Fiayah al-Suyuthi, Bairut: Dar al-Fikr, 1987.
Abu Bakar Kafi, Manhaj al-Imam al-Bukhari Fi Tashhih al-Haditst Wa Ta’liliha, Mesir: Dar Ibn Hajam, tt.
Abu Isa Muhammad bin Isa At Tirmidzi, Al Jami Ash-Shahih, Bairut: Dar al-Fikr, 1988.
Akram Dhiya, Buhuts Fi al-Tarikh al-Sunnah al-Musyarrafah, Madinah: Maktab al-hukm wa al-Hikam, tt.
Ali Mustafa Ya’qub, Kritik Hadits, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000.
Arifuddin Ahmad, Paradigma Baru Memahami Hadits Nabi Jakarta: Insan Cemerlang, tth.
Hasan Maqbul al-Ahdal, Mushthala al-Hadits Wa Rijaluh, Shan’a: Maktan al-Jail al-Jadid, 1993
Hasbi al-Shiddiq, Pokok-Pokok Ilmu Dirayah Hadits, Jakarta: Bulan Bintang, 1994.
Lihat Muslim bin al-Hajjaj al-Naisaburi, Shahih Muslim, Bairut: Dar al-Fikr, 1990.
Lihat Mustafa Assiba’iy, Al-Sunnah Wa Makanatuh Fi Altasyriy’ Al Islami, diterjemahkan oleh Nur Kholis Majid dengan judul Sunnah Dan Peranannya Dalam Penetapan Hukun Islam: Sebuah Pembelaan Kaum Sunni, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1992.
Lihat Sa’id bin ‘Abdullah, Manahij al-Muhaddistin, Jeddah: Daar ‘Ulum, tt.
M. Abdurrahman, Studi Kitab Hadits, Yogyakarta: Teras, 2003.
M. Hasbi Ash shiddiqiy, Sejarah Pengantar Ilmu Hadits, Semarang:pustakarizki putra, 2001.
M. Nor Sulaiman, Antologi Ilmu Hadits, Jakarta: Gaung Persada Press, 2008.
Mahmud al-Tahhan, al-Manhaj al-Hadits Fi Mushthalah al-Hadits, Riyadh: Maktab al-Ma’arif, tt.
Mahmud al-Tahhan, Taisir al-Mushthlah al-Hadits, Bairut: Dar al-Fikir, tt.
Muhammad Abu Syuhbah,al-Wasith Fi ‘Ulum Wa Mushthalah al-Hadits, Bairut: ‘Alam alma’rifah.
Muhammad Ajjaj Al-Khatib, Ushul al-Hadits, ‘Ulumuhu Wa Musthalhuh, Bairut: Dar al-Fikr, 1990.
Muhammad al-Thayyib al-Najjar, Tadwin al-Sunnah, tt: Kutub Islamiyyah, 1964.
Muhammad bin ‘Abdul al-‘Aziz al-Khaulani, Tarikh Funun al-Hadits al-Nabawi, Damsyiq: Daar Ibn Katsir, tt.,
Muhammad bin Isma’il al-Bukhari, Shahih al Bukhari, Dar al-Fikr, Bairut, 1991.
Muhammad bin Isma’il al-Shan’ani, Taudhih al-Afkar, Bairut: Dar al-Fikr, tt.
Muhammad bin Ja’far Al Kittani, Ar Risalah Al-Mustathrafah, Bairut: Dar al-Fikr, 1989.
Muhammad Dhiyau rahman al-a’zami, Mu’jam mustalah hadits wa lataifi al-asanid, Riyad: maktabah adwau al-salaf, cet. I, 1999.
Muhammad Mubarak, Manahij al-Muhaddistin, Mesir: Dar al-Thiba’ah al-haditstah, 1973.,
Munzier Suparta, Ilmu Hadits, Jakarta: PT Raja Grapindo Prasada, 2006.
Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, Bairut: Dar al-Fikr. 1989.
Nuruddin ‘Ithir, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, Damsik: Dar al-Fikr, 1997.
Shubhi al-Shalih, ‘Ulum al-Hadits wa Mushthalahuhu, Bairut: Dar al-‘Ilm li al-Malayin, 1988.
Subhi Al-Shalih, Ulumul Hadits Wa Mustalahuhu, Bairut: Dar Al-Ilm Al-Malayin, 1988.
Totok Jumantoro, Kamus Ilmu Hadits, Jakarta: Bumi Aksara, 1997.


* Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Antasari Konsentrasi Filsafat Hukum Islam
[1] Arifuddin Ahmad, Paradigma Baru Memahami Hadis Nabi (Jakarta: Insan Cemerlang, tth), h, 63.
[2] Lihat Mustafa Assiba’iy, Al-Sunnah Wa Makanatuh Fi Altasyriy’ Al Islami, diterjemahkan oleh Nur Kholis Majid dengan judul Sunnah Dan Peranannya Dalam Penetapan Hukun Islam: Sebuah Pembelaan Kaum Sunni (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1992), h. 32
[3] Subhi Al-Shalih, Ulumul Hadis Wa Mustalahuhu, (Bairut: Dar Al-Ilm Al-Malayin, 1988), h. 24.
[4] Munzier Suparta, Ilmu Hadis, (Jakarta: PT Raja Grapindo Prasada, 2006), h. 90. Lihat juga Subhi al-Shalih, Ulumul Hadis Wa Mustalahuhu, h. 45.
[5] Dalam pembahasan makalah ini, penulis memaparkan metodologi penulisan kitab hadis bukan meLihat dari kronologi sejarah baik itu dari abad pertama hijriah, kedua ketiga dan seterus, namun lebih menekankan pada bentuk dan pola metodologi yang diterapkan dan dikembangkan oleh ulama-ulama pengumpul dan penulis hadis. Untuk lebih jelas melihat penulisan hadis dengan berbagai macam metodenya secara kronologi sejarah dapat diLihat pembahasan Ahamm Kutub al-Riwayah Fi al-Qarnain: al-Stani wa al-Tsalits al-Hijriyayni, dalam Hasan Maqbul al-Ahdal, Mushthala al-Hadits Wa Rijaluh, (Shan’a: Maktan al-Jail al-Jadid, 1993), h. 66-91. Bandingkan dengan Muhammad Abu Syuhbah,al-Wasith Fi ‘Ulum Wa Mushthalah al-Hadits, (Bairut: ‘Alam alma’rifah, tt), dalam pembahasan al-Tadwin Fi al-Qarn al-Tsani, h. 67-68, al-Talif Fi al-Qarn al-Tsalist, h. 69-70, al-Tadwin Fi alQarn al-Rabi’, h. 70. Lihat juga pembahasan Kutub al-Hadits al-Muhimmah Ba’da al-Qarn al-Tsalits, h. 347-370, dalam Akram Dhiya, Buhuts Fi al-Tarikh al-Sunnah al-Musyarrafah, (Madinah: Maktab al-hukm wa al-Hikam, tt). Bandingkan dengan Muhammad bin ‘Abdul al-‘Aziz al-Khaulani, Tarikh Funun al-Hadits al-Nabawi, (Damsyiq: Daar Ibn Katsir, tt), dalam pembahasan Kutub al-Sunnah Fi al-Qarn al-Tsalits, h. 60-63, Kutub al-Sunnah Fi al-Qarn al-Rabi’i, h. 64.
[6] Dalam literatur lain juga disebut dengan istilah Penulisan Hadits Berdasarkan Pembahasan Fikih walaupun ada hal-hal yang tidak termasuk dalam istilah ini. Karya ini tidak mencakup semua pembahasan agama, tapi sebagian besarnya saja, khususnya masalah fikih. Metode yang dipakai dalam penyusunan kitab ini adalah dengan menyebutkan bab-bab fikih secara berurutan, dimulai dengan kitab Thaharah, kemudian kitab Shalat, Ibadah, Muamalat, dan seluruh bab yang berkenaan dengan hukum dan fikih. Dan kadang pula menyebutkan judul yang tidak berkaitan dengan masalah fikih seperti: kitab Iman, atau Adab.
[7] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, (Bairut: Dar al-Fikr. 1989), H. 57, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin,(Damsik: Dar al-Fikr, 1997) H. 197.
[8] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 57, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 197.
[9] M. Abdurrahman, Studi Kitab Hadis, (Yogyakarta: Teras, 2003), h. 93. Lihat juga Muhammad Ajjaj Al-Khatib, Ushul al-Hadits, ‘Ulumuhu Wa Musthalhuh, (Bairut: Dar al-Fikr, 1990), h….., Lihat juga M. Hasbi Ash shiddiqiy, Sejarah Pengantar Ilmu Hadis, (Semarang:pustakarizki putra, Cet.VIII, 2001), h. 194.
[10] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 58, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 198. Lihat juga, Mahmud al-Tahhan, al-Manhaj al-Hadits Fi Mushthalah al-Hadits,(Riyadh: Maktab al-Ma’arif, tt), h. 122.
[11] Lihat Muhammad bin Isma’il al-Bukhari, Shahih al Bukhari, (Dar al-Fikr, Bairut, 1991).
[12] M. Abdurrahman, Studi Kitab Hadis, h. 93
[13] Lihat Muslim bin al-Hajjaj al-Naisaburi, Shahih Muslim, (Bairut: Dar al-Fikr, 1990).
[14] Abu Isa Muhammad bin Isa At Tirmidzi, Al Jami Ash-Shahih, (Bairut: Dar al-Fikr, 1988).
[15] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 59, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 199.
[16] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 59, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 199. Lihat juga, Mahmud al-Tahhan, al-Manhaj al-Hadits Fi Mushthalah al-Hadits, h. 123.
[17] Sedangkan hadis Mauquf dalam Ishtilah sunan tidak termasuk, karena ulama hadist tidak memasukkan hadist mauquf dalam istilah Sunan. Lihat Abu Bakar Kafi, Manhaj al-Imam al-Bukhari Fi Tashhih al-Hadist Wa Ta’liliha, ( Mesir: Dar Ibn Hajam, tt), h. 22.
[18] Muhammad bin Ja’far Al Kittani, Ar Risalah Al-Mustathrafah, (Bairut: Dar al-Fikr, 1989), h. 20.
[19] Dalam beberapa penggunaan biasanya untuk di rumuskan dengan خ untuk Bukhari, م untuk Muslim, د untuk Abu Dawud, ت untuk Turmudzi, س untuk al-Nasai, هـ untuk Ibnu Majah, ع untuk Kutub al-Sittah, عـــه untuk Sunan al-Arba’ah. Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 59, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 200. setelah kemunculan Kutub la-Sittah, Muwattha Malik dan Musnad Ahmad bin Hannbal orientasi ulama hadir makin berkembang sehingga mereka mengalihkan perhatian dan menyusun dalam hadis bentuk Jawami’, syarah dan muktashar, Athraf dan zawaid. Lihat M. Nor Sulaiman, Antologi Ilmu Hadits, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2008), h. 47.
[20] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 60, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 199.
[21] Sejak penulisan kitab hadis dalam pola Muwaththa yang lebih tepat lagi adalah Muwaththa Malik maka pergerakan rihlah al-Hadist semakin berkembang khususnya ke kota Madinah bahkan disebut dalam riwayat diperkirakan bahwa yang meriwayatkan kepada Imam Malik hampir 1000 orang dalam satu waktu. Lihat Muhammad al-Thayyib al-Najjar, Tadwin al-Sunnah, (tt: Kutub Islamiyyah, 1964), h. 40.
[22] Totok Jumantoro, Kamus Ilmu Hadis, (Jakarta: Bumi Aksara, 1997), h. 34.
[23] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 60, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 200. Lihat juga dalam Akram Dhiya, Buhuts Fi al-Tarikh al-Sunnah al-Musyarrafah, h. 353.
[24] Mustadrak menurut Shubhi Shalih berarti menyusulkan hadis-hadis yang terlewatkan oleh seorang penulis hadis dalam kitabnya berdasarkan syarat yang digunakan penulis kitab hadis itu. Sementara menurut Ali Mustafa Ya’qub, metode mustadrak berarti menyusulkan hadis-hadis yang tidak tercantum dalam suatu kitab hadis yang lain. Namun dalam menuliskan hadis-hadis susulan itu penulis kitab pertama mengikuti persyaratan hadis yang dipakai oleh kitab yang lain itu. Jenis-jenis kitab hadis selain mustadrak adalah kutub al-shihhâh, al-Jawâmi’ (al-jâmi’) dan al-masanid (al-musnad), al-ma’ajim (al-mu’jam), al-mustakhrajat (al-mustakhraj) dan al-ajza` (juz`). Lihat pengertian istilah-istilah ini pada: Shubhi al-Shalih, ‘Ulum al-Hadits wa Mushthalahuhu, (Bairut: Dar al-‘Ilm li al-Malayin, 1988), h. 117-125. Lihat juga pengertian istilah-istilah jenis kitab hadis ini pada: Ali Mustafa Ya’qub, Kritik Hadis, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000), h. 76-80. Namun pada Ali Mustafa Ya’qub terdapat beberapa istilah yang tidak ada pada Shubhi al-Shalih, yaitu metode Muwaththa`, mushannaf, sunan, majma’ dan zawa`id.
[25] Muhammad Dhiyau rahman al-a’zami, Mu’jam mustalah hadis wa lataifi al-asanid, (Riyad: maktabah adwau al-salaf, cet. I, 1999), h. 404.
[26] Hasbi al-Shiddiq, Pokok-Pokok Ilmu Dirayah Hadis, (Jakarta: Bulan Bintang, 1994), h. 324.
[27] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 60, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 200.
[28] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 60, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 200. Lihat Juga Mahmud al-Tahhan, Taisir al-Mushthlah al-Hadits, Bairut: Dar al-Fikir, tt), h. 35.
[29] M. Suhudi Ismail, Cara Praktis Mencari Hadis, (Cet, I;Yogyakarta: Teras, 2003), h. 15
[30] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 60, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 200.
[31] Pengarang Tadrib al-Rawi menyebutkan ada 7 manfaat, Lihat Abdurahman bin Abi Bakar al-Suyuthi, Tadrib al-Rawi, (Bairut: Dar al-Fikr, 1999), h. 45, bahkan Shan’ani menyebutkan 10 manfaat dari mustakhraj ini, Lihat Muhammad bin Isma’il al-Shan’ani, Taudhih al-Afkar, (Bairut: Dar al-Fikr), h. 90. Lihat juga Abdurrahman al-Suyuthi, Syarah Al- Fiayah al-Suyuthi, (Bairut: Dar al-Fikr, 1987), h. 87.
[32] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 60, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 200.
[33] Kemunculan penlisan dengan pola Masanid ini di perkirakan pada akhir abad kedua dan wal abad ketiga hijriah, Lihat pembahasan Marhalah Tadwin al-Masanid, Awwalu Man allafa ‘Ala Thariq al-Masanid danAsyharu Man Allafa ‘Ala Thariq al-Masanid dalam Muhammad Mubarak al-Sayyid, Manahij al-Muhaddistin, (Mesir: Dar al-Thiba’ah al-hadistah, cet I, 1973), h. 49-61
[34] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 61, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 201.
[35] Sepuluh orang yang dijamin masuk surga adalah: Abu Bakar Ash-Shidiq, Umar bin Al Khatthab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib (mereka adalah Khulafaur Rasyidun), Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awam, Sa’ad bin Abi Waqqash, Sa’id bin Zaid bin Amru bin Tufail, Abdurrahman bin ‘Auf, Abu Ubaidah bin Jarrah- namanya Amir bin Abdullah Radhiyallahu anhum.
[36] Muhammad bin Ja’far Al Kittani, Ar Risalah Al Mustathrafah, h. 89.
[37] Lihat Sa’id bin ‘Abdullah, Manahij al-Muhaddistin, (Jeddah: Daar ‘Ulum, tt), h. 10.
[38] Akram Dhiya, Buhuts Fi al-Tarikh al-Sunnah al-Musyarrafah, h. 353. Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 61, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 201.
[39] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 62, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 202.
[40] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 63, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 203. Lihat juga, Mahmud al-Tahhan, al-Manhaj al-Hadits Fi Mushthalah al-Hadits, h. 123.
[41] Muhammad Abu Syuhbah,al-Wasith Fi ‘Ulum Wa Mushthalah al-Hadits, h. 71, Lihat juga Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 63, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 203.
[42] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 63, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 203.
[43] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 63, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 203.
[44] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 66, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 205.
[45] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 64, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 204.
[46] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 65, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 205.
[47] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 67, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 206.
[48] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 69, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 207-208.
[49] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 70, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 209.
[50] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 71, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 210.
[51] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 71, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, h. 210. Lihat juga, Mahmud al-Tahhan, al-Manhaj al-Hadits Fi Mushthalah al-Hadits, h. 123.
[52] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 72.
[53] Kitab ini disusun oleh sejumlah Orientalis yang dipimpin oleh A.J. Wensinck, seorang dosen Bahasa Arab di Universitas Leiden, dan diterbitkan oleh Penerbit Brill Leiden Belanda, termasuk di antara tim penerbitnya adalah Muhammad Fu’ad Abdulbaqi. Proyek ini didukung oleh sejumlah lembaga ilmiah Britania, Denmark, Swedia, Belanda, UNESCO, Alexander Pasa, Lembaga Ilmiah dan Penelitian Belanda, dan lembaga-lembaga ilmu pengetahuan lainnya. Buku ini terdiri dari 7 jilid besar di mana jilid pertama diterbitkan pada tahun 1939 M dan jilid terakhir diterbitkan tahun 1969 M. Jadi masa penerbitannya memakan waktu sekitar 33 tahun.
[54] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 73.
[55] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 72.
[56] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 73.
[57] Lihat Nuruddin ‘Ithir, Lamahat Mujazat, h. 75-77.