"Nasir Khusraw"

Sang Elang berujar: "Ruzi zi sar i- sang 'uqubi bi hava khas
Bahr-i talab-i tu'mih, par o bal biyarast"
 

Selasa, 07 Mei 2013

Peradaban Islam di Spanyol

Peradaban Islam di Spanyol
Analisis Masuknya Islam di Spanyol dan Peradaban Intelektual dalam Kajian Fiqhiyah

Muhammad Dainuri, S.Th.I*

Pendahuluan
Berbicara tentang Islam bukan hanya berbicara tentang hukum, namun nun jauh dibalik itu baik implisit maupun eksplisit juga akan berbicara tentang pengaruh dari Islam itu. Pengaruh Islam bukan hanya terlihat dari kedamaianya dimana Islam itu berada, karena Islam merupakan agama yang Shalihun Li Kulli Zamanin Wa Makan, namun pengaruh Islam juga akan terlihat dari peradaban yang pernah diukir oleh Islam itu sendiri. Siapa saja yang berbicara tentang peradaban maka maindsetnya akan tertuju pada kilas balik masa the Golden of Age yang pernah diturihkan Islam pada dunia. Dia akan teringat dengan Baghdad  semasa dinasti Abbasiyah dengan icon keilmuannya, Universitas Nizhamiyyah. Dia juga akan teringat dengan Andalusia semasa dinasti Umayyah dengan icon intelektualitasnya, Universitas Cordova.
Berbicara tentang Andalusia berarti mengenang masa kejayaan Islam bersinar terang. Andalusia merupakan sepotong surga namun surga yang menghilang sebagaimana sebuah ungkapan al-Andalus al-Jannah al-Firdaus al-Mafqud. Ungkapan ini merupakan ungkapan yang mengandung luka mendalam, luka yang tidak kunjung sembuh. Andalusia adalah sebuah bintang yang jatuh, sebuah permata yang runtuh dari mahkota singgasana Islam. Satu-satunya buah hati yang ditangisi sepanjang masa dan dipuja oleh setiap generasi. Tragedi yang ratapannya masih terngiang  ditelinga dari masa kemasa. Semua itu bukan karena hanya sebuah peradaban, namun disana ada nama Islam yang mengharumkannya.
Islam pertama kali masuk ke Andalusia pada tahun 711 M melalui jalur Afrika Utara. Andalusia sebelum kedatangan Islam dikenal dengan nama Iberia/Asbania, kemudian disebut Andalusia, ketika negeri subur itu dikuasai bangsa Vandal. Dari perkataan Vandal inilah orang Arab menyebutnya Andalusia. Andalusia diduduki umat Islam pada zaman khalifah Al-Walid (705-715 M), salah seorang khalifah dari Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus, dimana Ummat Islam sebelumnya telah mengusasi Afrika Utara. Dalam proses penaklukan Andalusia ini terdapat tiga pahlawan Islam yang dapat dikatakan paling berjasa yaitu Tharif ibn Malik, Thariq ibn Ziyad, dan Musa ibn Nushair um ajma’in. Pasukan muslim menyeberangi Selat di bawah pimpinan Thariq ibn Ziyad. Sebuah gunung tempat pertama kali Thariq dan pasukannya mendarat dan menyiapkan pasukannya, dikenal dengan nama Gibraltar (Jabal Thariq).
Pada saat pasukan muslim pertama kali menginjakkan kaki didataran Andalusia, disana semua jiwa dan raga dipertaruhkan, maka tidak heran kalau pemimpin pasukan tersebut mengobar semangan jihad mereka. Disana Thariq ibn Ziyad berpidato di hadapan para prajuritnya: memberikan semangat dan motivasi agar mereka tidak meninggalkan medan pertempuran, tidak hanya sampai disana, Thariq juga membakar kapal yang digunakan ketika menyeberang laut menuju Andalusia. Dengan harapan para prajuritnya tidak ada yang kembali meninggalkan musuh dan berperang dengan sungguh-sungguh.
Mengamati peristiwa itu para sejarawan muslim kemudian memununculkan sebuah pertanyaan penting: Apakah benar Thariq ibn Ziyad mengobarkan semangat pasukan dengan pidato yang sangat terkenal, bahkan ia mengorbankan kapal-kapalnya? Atau cerita pembakaran kapal hanya dongeng belaka?. Permasalah ini pun menjadi perbincangan hangat dikalangan sejarawan muslim.
Terlepas dari hal itu, Andalusia merupakan khazanah peradaban dari multidimensiol dan multikultural, lebih-lebih dalam khazanah intelektual. Khusus dalam ranah intelektualitas fikih dan ushul fikih Andalusia memiliki kekhasan tersendiri dibandingkan kawasan Islam lainnya. Jika di Iraq sangat kental nuasa fikih rasionalnya karena pengaruh Abu Hanifah, Mesir dikenal identik dengan negeri para ahli qiyas karena pengaruh imam Syafi’i, maka Andalusia dikenal sebagai pusat penyebaran teori maslahah mursalah karena pengaruh besar Mazhab Maliki. Tercatat tokoh-tokoh besar Islam yang lahir di Andalusia adalah penganut mazhab Maliki, diantaranya yaitu al-Baji (1081 M/474 H), Ibnul Arabiy (w. 1148 M/543 H.), Ibnu Rusyd (w. 1198 M/595 H ) dan bapak Maqashid Syariah Imam asy-Syatibi (w. 1388 M/790 H).
Apa sebenarnya yang melatarbelakangi Andalusia menganut madzhab Maliki, bagaimana dengan madzhab yang lain, kalau memang madzhab lain juga berkembang disana, berarti bagaimana sebenarnya atmosfir intelektual fiqhiyyah di Andalusia yang pernah berjaya selama hampir delapan abad, apakah ada relevansinya dengan pembawa Islam pertamakali di Andalusia, apabila memang betul ada hubungannya berarti agresi militer Islam kedataran Andalusia merupakan misi Islamisasi atau ada fakta sejarah yang menolak hal itu, melihat pada saat itu Islam sudah dibatasi dengan dinasti-dinasti (Abbassiyah dan Umayyah).
Persoalan-persoalan tersebut yang akan diupayakan penulis untuk diulas dan ditemukan jawabannya dalam makalah ini dengan menggunakan deskriptif analisis yang dibingkai dalam permasalah seputar Islam di Andalusia yang meliputi pembahan tentang: Proses masuknya Islam di Andalusia, Faktor masuknya Islam di Andalusia, Perkembangan Islam di Andalusia, Kemunduran dan keruntuhan Islam di Andalusia, Akhir kekuasaan Islam di Andalusia, kemudian akan ditutup dengan pembahasan tentang Peradaban Islam di Andalusia dalam bidang fiqih yang membahas tentang masuknnya fiqih di Andalusia dan mazdhab-mazdhab fiqih yang berkembang di Andalusia.

A.   Islam di Andalusia
1.    Proses Masuknya Islam di Andalusia[1]
Andalusia (Andalus) adalah nama Arab untuk jazirah Iberia yang pada masa sekarang dikenal sebagai Spanyol dan Portugis.[2] Andalusia diduduki umat Islam pada zaman khalifah Al-Walid (705-715 M), salah seorang khalifah dari Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus, dimana Ummat Islam sebelumnya telah mengusasi Afrika Utara. Dalam proses penaklukan Spanyol ini terdapat tiga pahlawan Islam yang dapat dikatakan paling berjasa yaitu Tharif ibn Malik, Thariq ibn Ziyad, dan Musa ibn Nushair um ajma’in. [3]
Tharif dapat disebut sebagai perintis dan penyelidik. Ia menyeberangi selat yang berada di antara Maroko dan benua Eropa itu dengan satu pasukan perang, lima ratus orang diantaranya adalah tentara berkuda, mereka menaiki empat buah kapal yang disediakan oleh Julian.[4] Thariq ibn Ziyad lebih banyak dikenal sebagai penakluk Spanyol karena pasukannya lebih besar dan hasilnya lebih nyata. Pasukannya terdiri dari sebagian besar suku Barbar yang didukung oleh Musa ibn Nushair dan sebagian lagi orang Arab yang dikirim Khalifah al-Walid.[5] Pasukan itu kemudian menyeberangi Selat di bawah pimpinan Thariq ibn Ziyad . Sebuah gunung tempat pertama kali Thariq dan pasukannya mendarat dan menyiapkan pasukannya, dikenal dengan nama Gibraltar (Jabal Thariq).[6]
Dengan dikuasainya daerah ini, maka terbukalah pintu secara luas untuk memasuki Spanyol. Dalam pertempuran di suatu tempat yang bernama Bakkah, Raja Roderick dapat dikalahkan. Dari situ Thariq dan pasukannya terus menaklukkan kota-kota penting, seperti Cordova, Granada dan Toledo (ibu kota kerajaan Gothik saat itu).[7] Sebelum Thariq berhasil menaklukkan kota Toledo, ia meminta tambahan pasukan kepada Musa ibn Nushair di Afrika Utara. Musa mengirimkan tambahan pasukan untuk mengimbangi pasukan musuh. Kemenangan pertama yang dicapai oleh Thariq ibn Ziyad membuat jalan untuk penaklukan wilayah yang lebih luas lagi. Untuk itu, Musa ibn Nushair merasa perlu melibatkan diri dalam gelanggang pertempuran dengan maksud membantu perjuangan Thariq. Dengan suatu pasukan yang besar, ia berangkat menyeberangi selat itu, dan satu persatu kota yang dilewatinya dapat ditaklukkannya. Setelah Musa berhasil menaklukkan Sidonia, Karmona, Seville, dan Merida serta mengalahkan penguasa kerajaan Gothic, Theodomir di Orihuela, ia bergabung dengan Thariq di Toledo. Selanjutnya, keduanya berhasil menguasai seluruh kota penting di Spanyol, termasuk bagian utaranya, mulai dari Saragosa sampai Navarre.[8]
Para sejarawan kontemporer mencatat beberapa hal yang menarik dalam penaklukan militer muslim kedataran Andalusia ini, diantara hal-hal yang berhubungan dengan tujuan agresi militer Islam, apakah hal itu dalam misi dakwah dan Islamisasi yang dibingkai dalam misi serikat (sekutu) atau hanya mutlak perluasana kekuasaan, melihat perpolitikan Islam pada masa tersebut terbentuk dalam dinasti dan kerajaan (Abbasiyah dan Muawiyyah).
Dalam Encylopedia of Word Islamic Civilization Andalusia di jelaskan ada empat sifat ekspedisi militer Islam, yaitu: Pertama: Kekuatan militer  muslim yang dikirim untuk membantu salah satu pihak yang sedang terlibat dalam perang saudara, dengan harappan dapat menjadi sekutu dimmasa mendatang. Kedua: Kekuatan militer  muslim yang dikirim sebagai pengitai/perintis kekuatan militer kerajaan Visigoth. Ketiga: Kekuatan militer  muslim yang dikirim sebagai invasi tetapi dalam sekala penuh. Keempat: Kekuatan militer  muslim yang dikirim merupakan sebuah ekspedisi militer besar tanpa adanya tujuan stratgis secara langsung.[9]
Sejarah juga mencatat bahwa sebagian besar pasukan muslim yang melakukan agresi militer kedaratan Andalusia adalah orang-orang Barbar yang barus saja mengalami Islamisasi, diduga kedatang mereka merupakan lanjutan penyerangan-penyerangan yang telah dilakukan sebelum periode Islam.[10] Chronical of 754 –sumber Kristen yang dianggap dapat diperpegangi- maupun sumber-sumber muslim menyebutkan adanya aktivitas penyerangan-penyerangan di tahun-tahun sebelumnya dan bahwa pasukan Thariq telah berada di Andalusia (tepatnya di Iberia) sebelum meletusnya pertempuran yang sangat menentukan jalannya sejarah bangsa Andalusia. Hal ini didukung kenyataan bahwa Thariq sebagai pemimpin adalah orang Barbar, sementara Musa bi Nusair merupakan Wali/Gubernur yang ditunjuh dinasti Umayyah untuk Iriqiyah (Afrika Utara) dan pasukannya baru dating pada tahun berikutnya.[11]
Salah satu hal yang sangat tidak dapat dilupakan juga adalah pidato kontropersial yang disandarkan kepada Thariq bin Ziyad sebagai pembakar semangat jihad pasukannya dan disusul aksinya yang legendaris adalah membakaran kapal-kapal yang mereka gunakan setibanya di selat Giblartar.
Dua hal ini perlu kita analisis dengan melihat kritik dari pakar para sejarawah muslim kontemporer. Adapun penggalan teks pidato Thariq sebagai  berikut:[12]
...أيها الناس؛ أين المفرُّ؟! والبحر من ورائكم والعدوُّ أمامكم، فليس لكم والله! إلاَّ الصدق والصبر..
Dalam literatur sejarah keandalusiaan yang dipermasalahkan dari pidato ini bukan kebenarannya, namun yang dipermasalahkan adalah bentuk teksnya aslinya yang berbahasa Arab.[13]
Menurut Dr. Suwadi ‘Abd Muhammad, teks yang paling kuno yang menunjukkan adanya pidato Thariq adalah yang disebutkan oleh seorang sejarawan Andalusia, ‘Abd al-Malik ibn Habib (w. 238 H/852 M). Sejarawan Andalusia ini menyebutkan demikian:[14]
«فلما بلغ طارق دنوه منه قام فى أصحابه فحمد الله وأثنى عليه، ثم حض الناس على الجهاد ورغبهم فى الشهادة ثم قال: (( أيها الناس، أن المفر؟ البحــر من ورائكم والعدو أمامكم؟ فليس لكم والله إلا الصدق والصبر إلا وأنى صادم بنفسى لا اقصر حتى أخالطه أو أقتل دونه))»
Teks inilah yang hanya disebutkan oleh ‘Abd al-Malik ibn Habib. Jadi, dia tidak menyebutkan teks pidato Thariq yang panjang-lebar itu. Hal itu akhirnya menimbulkan keraguan seputar validitas isinya dan kesesuaian kosa-kata, paragraf berikut makna-makna yang dikandungnya, jika dibandingkan dengan kondisi zaman itu (abad pertama hijrah).[15] Sejarawan yang menyebutkan teks pidato Thariq secara panjang-lebar[16]
adalah al-Maqqarî al-Tilmisānî [17] dan Ibn Khalikān dalam karyanya Wafayāt al-A‘yān.[18]
Ada beberapa catatan penting mengenai teks pidato Thariq ini, diantaranya beberapa poin-poin berikut:
1. Para sejarawan -apakah sejarawan klasik maupun modern- yang bertutur tentang sejarah pembebasan Andalusia tidak pernah membahas pidato tersebut. Ini artinya, teks pidato Thariq tidak terkenal dan tidak dikenal oleh para sejarawan. Hal ini menegaskan bahwa adanya pidato tersebut tidak patut dipercaya.
2. Pidato tersebut, berikut isinya yang bersajak dan gaya bahasanya ketika itu, (yakni abad pertama hijrah) tidaklah sinkron dengan gaya bahasa saat itu dan tidak mungkin seorang pemimpin satu pasukan begitu perhatian terhadap gaya-bahasa pidato itu.
3. Dalam pidato yang panjang itu disebutkan kalimat: “Wa qad intakhabakum al-Walîd ibn ‘Abd al-Malik lin al-Abthāl ‘Urbānan”, padahal yang memilih mereka adalah Mûsā ibn Nushayr, gubernur Afrika, bukan al-Walîd.
4. Seharusnya, isi pidatonya dihiasi oleh berbagai ayat Alquran dan Hadîts Rasulullah saw, wasiat-wasiat, peristiwa-peristiwa dan makna-makna Islam yang sesuai dengan kondisi saat itu.
5. Thariq adalah keturunan kabilah Barbar, yang mengharuskannya berpidato dalam bahasa mereka. Karena mustahil penguasaan mereka terhadap bahasa Arab begitu tinggi.[19]
Selain beberapa catatan kritis diatas, penting juga ditegaskan bahwa referensi primer dan paling awal[20] dalam mengupas sejarah Andalusia tidak menyebutkan adanya pidato Thariq yang sedemikian rupa. Apalagi jika diteliti lebih detail, ternyata banyak riwayat yang menyampaikan teks pidato Thariq secara berbeda-beda. Ini menyebabkan keraguan terhadap validitas dan otentisitas pidato tersebut diragukan.[21]
Adapun berkenaan dengan sikap Thariq yang membakar kapal-kapal yang mereka gunakan, maka kita perlu mengajukan pertanyaan, bahwa apa sebenarnya tujuan dari pembakaran itu, apakah hanya untuk membangkitkan semangat juang pasukannya, padahal konsekwensinya apabila kalah bagaimana. Pertnyaan-pertanyaan ini dan yang lainnya yang perlu kita cari jawabannya dengan melihat tanggapan dan kritikan dari peneliti sejarah.

Peristiwa pembakaran kapal yang controversial ini ada yang melihatnya dari segi Historiografi sejarah bahwa tidak ada literatur- literatur  yang sangat otoritatif dalam membicarakan sejarah Andalusia, seperti Akhbār Majmū‘ah[22] tidak menyebutkan cerita “pembakaran” kapal oleh Thariq ibn Ziyad. Padahal buku ini merupakan karya paling klasik – setelah era ‘Abd al-Malik dan Ibn Habib – dan paling otentik dalam mencatat sejarah pembebasan Andalusia.[23]Lantas, bagaimana sejatinya cerita tentang kapal-kapal itu sebenarnya? Tidak ada satu buku sejarah Andalusia yang otentik menyebutkan kisah tersebut. buku lain yang juga sangat otoritatif dalam mencatat fath al-andalus adalah Tārikh Iftitāh al-Andalus karya Ibn al-Qūthiyyah (w. 364 H/977 M)[24] juga tidak menyebutkan hal itu.

Ada beberapa komentar sejarawan mengenai pembakaran kapal-kapal yang digunakan Thariq diantara sebagai berikuti:[25]
1.  Riwayat-riwayat tentang pembakaran kapal oleh Thariq tidak memiliki sanad yang shahîh dalam sejarah Islam (al-tārikh al-islāmi). Ilmu tentang para perawi hadîts (‘ilm al-rijāl) dan ilmu al-jarh wa al-ta‘dil (ilmu untuk mengoreksi dan member pandangan “negatif” atau “positif” kepada perawi hadis) yang menjadi kebanggaan kaum Muslimin menegaskan bahwa riwayat yang benar harus melalui orang-orang yang dapat dipercaya (unās mawtsūq bihim). Dan riwayat tentang “pembakaran” kapal oleh Thariq tidak pernah muncul dari para perawi yang benar-benar terpercaya dalam tulisan sejarah mereka. Namun, cerita itu sampai kepada kita melalui sumber-sumber dan riwayat Eropa yang ditulis tentang pertempuran Wādi Barbāth.
2.  Jika benar terjadi “pembakaran” kapal oleh Thariq, dipastikan akan muncul reaksi dari Mūsā ibn Nushayr atau al-Walid ibn ‘Abd al-Malik sebagai bentuk “klarifikasi” terhadap peristiwa tersebut. Atau, akan terjadi semacam dialog antara Mûsā ibn Nushayr dengan Thariq tentang masalah ini. Atau, akan muncul komentar dari para ulama Muslimin tentang pembolehan pembakaran kapal. Tapi anehnya, tidak ada satu pun bentuk reaksi dari itu semua. Ini menegaskan bahwa peristiwa tersebut patut diragukan.
3.  Alasan sumber-sumber Eropa menyebarkan cerita “pembakaran” kapal, karena mereka tidak mampu menafsirkan bagaimana personil Thariq yang berjumlah 12.000 orang “pejalan kaki” dapat mengalahkan pasukan Goth yang Kristen yang berjumlah 100.000 orang “berkuda”. Dan mereka di kalangan di ‘kandang’ mereka sendiri. Nah, untuk mendapatkan penafsiran yang memuaskan, mereka mengatakan: “Thariq ibn Ziyad membakar kapal-kapal, agar dia dapat memaksa kaum Muslimin pada dua pilihan: tenggelam di laut yang ada di belakang mereka, atau memilih kalah dan hancur-lebur di tangan orang-orang Kristen yang menanti di hadapan mereka. Dan keduanya pasti berujung pada kematian. Dari sana, maka solusi satu-satunya adalah: berjuang mati-matian, agar dapat melarikan diri dari kematian yang telah mengitari mereka dari setiap penjuru. Dan hasilnya sudah jelas: “kemenangan” (al-intishār). Seandainya mereka dapat melarikan diri, niscaya mereka menaiki perahu-perahu mereka untuk ‘pulkam’ (kembali ke negerinya masing-masing).”
4.  Kapan kaum Muslimin butuh kepada “semangat” yang membara sampai harus membakar kapal-kapal? Lalu apa yang mereka lakukan dalam kondisi seperti itu (perang) – dan kondisi perang seperti ini sangat banyak – jika tidak ada laut dan tidak ada kapal? Sejatinya, kaum Muslimin datang ke Andalusia karena mereka cinta Jihad: ingin mati di jalan Allah. Jadi, mereka tidak butuh kepada satu jendral yang membakar semangat mereka untuk membakar kapal-kapal. Meskipun hal itu boleh-boleh saja dilakukan, jika dikaitkan dengan hak selain mereka.
5.  Tidak mungkin seorang pemimpin yang luar biasa seperti Thariq berani membakar kapal-kapal dan “memutus” jalan kembali dari para tentaranya. Bagaimana jika kaum Muslimin yang kalah dalam peperangan tersebut. Dan kalah-menang dalam sebuah pertempurana adalah hal yang alami sekali. Bukankah kondisinya akan berbalik kepada mereka, apakah lagi mereka sangat memahami hakikat Firman Allah berikut:
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (sisat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya.” (Qs. Al-Anfāl (8): 15-16).
6.  Terakhir, sejatinya Thariq tidak memiliki kapal-kapal tersebut (yang diceritakan dibakar). Karena sebagian riwayat menyebutkan[26] bahwa Julian, penguasa Ceuta (dalam bahasa Spanyol, dalam bahasa Arab dikenal dengan nama Sabtah menyewakan kapal-kapal tersebut kepada Thariq untuk menyebrang. Dan akan dikembalikan kembali kepada Julian, usai pemakaiannya. Kemudian, Julian membawa kapalnya menyebrang ke Andalusia, Kemudian apakah Thariq berhak untuk “membakar” kapal-kapal tersebut.
Oleh karena itu, Dr. Muhmud ‘Ali Makki berpendapat bahwa pidato Thariq dan cerita pembakaran kapal merupakan mitos belaka (usthūrah).[27] Bahkan begitu masyhur cerita ini, sampai-sampai menjadi pepatah Spanyol, He Quemado Todasnaves yang artinya Aku telah membakar seluruh kapal-kapalku atau Aku telah mengeluarkan seluruh kemampuanku.[28] Bukan Dr. Makki saja yang mengatakan bahwa pembakaran kapal adalah mitos, Dr. Muhammad Zaytun menyatakan hal yang sama.[29]

2.    Faktor Masuknya Islam di Andalusia
Analisis sejarah mencatat bahwa kemenangan-kemenangan yang dicapai umat Islam nampak begitu mudah. Hal itu tidak dapat dipisahkan dari dua faktor penting, yaitu:
a.     Faktor Eksternal
Yang dimaksud dengan faktor eksternal adalah suatu kondisi yang terdapat di dalam negeri Spanyol sendiri. Pada masa penaklukan Spanyol oleh orang-orang Islam, kondisi sosial, politik, dan ekonomi negeri ini berada dalam keadaan menyedihkan. Secara politik, wilayah Spanyol terkoyak-koyak dan terbagi-bagi ke dalam beberapa negeri kecil. Bersamaan dengan itu penguasa Gothic bersikap tidak toleran terhadap aliran agama yang dianut oleh penguasa, yaitu aliran Monofisit, apalagi terhadap penganut agama lain, Yahudi. Penganut agama Yahudi yang merupakan bagian terbesar dari penduduk Spanyol dipaksa dibaptis menurut agama Kristen. Yang tidak bersedia disiksa, dan dibunuh secara brutal.
Rakyat dibagi-bagi ke dalam sistem kelas, sehingga keadaannya diliputi oleh kemelaratan, ketertindasan, dan ketiadaan persamaan hak. Di dalam situasi seperti itu, kaum tertindas menanti kedatangan juru pembebas, dan juru pembebasnya mereka temukan dari orang Islam. Berkenaan dengan itu Amer Ali, seperti dikutip oleh Imamuddin mengatakan, ketika Afrika (Timur dan Barat) menikmati kenyamanan dalam segi material, kebersamaan, keadilan, dan kesejahteraan, tetangganya di jazirah Spanyol berada dalam keadaan menyedihkan di bawah kekuasaan tangan besi penguasa Visighotic. Di sisi lain, kerajaan berada dalam kemelut yang membawa akibat pada penderitaan masyarakat. Akibat perlakuan yang keji, koloni-koloni Yahudi yang penting menjadi tempat-tempat perlawanan dan pemberontakkan. Perpecahan dalam negeri Spanyol ini banyak membantu keberhasilan campur tangan Islam di tahun 711 M. Perpecahan itu amat banyak coraknya, dan sudah ada jauh sebelum kerajaan Gothic berdiri.
Perpecahan politik memperburuk keadaan ekonomi masyarakat. Ketika Islam masuk ke Spanyol, ekonomi masyarakat dalam keadaan lumpuh. Padahal, sewaktu Spanyol masih berada di bawah pemerintahan Romawi (Byzantine), berkat kesuburan tanahnya, pertanian maju pesat. Demikian juga pertambangan, industri dan perdagangan karena didukung oleh sarana transportasi yang baik. Akan tetapi, setelah Spanyol berada di bawah kekuasaan kerajaan Goth, perekonomian lumpuh dan kesejahteraan masyarakat menurun. Hektaran tanah dibiarkan terlantar tanpa digarap, beberapa pabrik ditutup, dan antara satu daerah dan daerah lain sulit dilalui akibat jalan-jalan tidak mendapat perawatan.
Buruknya kondisi sosial, ekonomi, dan keagamaan tersebut terutama disebabkan oleh keadaan politik yang kacau. Kondisi terburuk terjadi pada masa pemerintahan Raja Roderick, Raja Goth terakhir yang dikalahkan Islam. Awal kehancuran kerajaan Ghoth adalah ketika Raja Roderick memindahkan ibu kota negaranya dari Seville ke Toledo, sementara Witiza, yang saat itu menjadi penguasa atas wilayah Toledo, diberhentikan begitu saja. Keadaan ini memancing amarah dari Oppas dan Achila, kakak dan anak Witiza. Keduanya kemudian bangkit menghimpun kekuatan untuk menjatuhkan Roderick. Mereka pergi ke Afrika Utara dan bergabung dengan kaum muslimin.
Sementara itu terjadi pula konflik antara Roderick dengan Ratu Julian, mantan penguasa wilayah Septah. Julian juga bergabung dengan kaum Muslimin di Afrika Utara dan mendukung usaha umat Islam untuk menguasai Spanyol, Julian bahkan memberikan pinjaman empat buah kapal yang dipakai oleh Tharif, Tariq dan Musa Rahimahumullah.
Hal menguntungkan tentara Islam lainnya adalah bahwa tentara Roderick yang terdiri dari para budak yang tertindas tidak lagi mempunyai semangat perang Selain itu, orang Yahudi yang selama ini tertekan juga mengadakan persekutuan dan memberikan bantuan bagi perjuangan kaum Muslimin.

b.    Faktor Internal
Adapun yang dimaksud dengan faktor internal adalah suatu kondisi yang terdapat dalam tubuh penguasa, tokoh-tokoh pejuang dan para prajurit Islam yang terlibat dalam penaklukan wilayah Spanyol pada khususnya. Para pemimpin adalah tokoh-tokoh yang kuat, tentaranya kompak, bersatu, dan penuh percaya diri. Mereka pun cakap, berani, dan tabah dalam menghadapi setiap persoalan. Yang tak kalah pentingnya adalah ajaran Islam yang ditunjukkan para tentara Islam, yaitu toleransi, persaudaraan, dan tolong menolong. Sikap toleransi agama dan persaudaraan yang terdapat dalam pribadi kaum muslimin itu menyebabkan penduduk Spanyol menyambut kehadiran Islam di sana.

3.    Perkembangan Islam di Andalusia
Ketika  gerakan  Abbasiyah  berhasil  menjatuhkan  Bani  umayyah  dari  tampuk kekuasaan pada tahun 750, maka berdirilah Khilafah Bani Abbas dengan mengambil Bagdad sebagai pusat pemerintahan. Bersamaan dengan itu, Emirat Islam diSpanyol menyatakan tunduk kepada Bagdad.  Abdurrahman  Ibnu  Muawiyah  Ibnu  Hisyam  adalah  searang  pangeran  dari Bani Umayyah yang lalas dari kejaran Bani Abbas. Setelah melarikan diri ke Mesir, lalu  melewati  berbagai  bukit  batu  dan  gurun  yang  tandus,  akhirnya  pada  tahun  756 dapat memasuki Spanyol yang sedang dilanda perselisihan antara kelompok Mudhari yang  berasal  dari  lembah  Eufrat  dan  kelompok  Yamani  yang  berasal  dari  Yaman keturunan   Qahtan.[30] 
Kedatangan   Abdurrahman   segera   mendapat   sambutan   dan dukungan yang luas. Dan setelah berhasil memadamkan perlawanan Amir Yusuf al-Fikri,  penguasa  Spanyol  sebagai  Emirat  dari  Khilafah  Abbasyah,  Abdurrahman menduduki  kursi  kepemimpinan  sebagai  Amir.  Dengan  demikian,  Spanyol  secara resmi   tidak   lagi   menjadi   bagian   wilayah   Khilafah   Abbasiyah.   Pada   saat   itu, Abbassiyah dipimpin oleh khalifah Abu Ja'far al-Mansur, khalifah kedua di Bagdad. Amir  Abdurrahman  yang  dipanggil  al-Dakhil  (New  Comer)  menetapkan  Cordova sebagai  ibu  kotanya.  Karena  ketangkasan  dan  kegigihannya,  ia  mampu  melepaskan diri  dari  kejaran  Bani  Abbas  hingga  dapat  mendirikan  emirat  (Dinasti  Umayyah  di Spanyol):  Khalifah  alMansur  di  Bagdad  menjulukinya  sebagai  "The  Falcon  of Quraysh" atau si rajawali Qurays.[31]
Dinasti  Bani  Umayyah  di  Spanyol  dapat  mempertahankan  kekuasannya sampai tahun 1031 M, Abd al-Rahman al-Dakhil berkuasa selama 32 tahun (756-788 M.). Dibawah kekuasaanya, Spanyol mulai menyaksikan hari-hari kemenangannya. la memiliki  kemampuan  yang  besar  dan  kecakapan    yang  cukup  dalam  membenahi  pemerintahannya.  la  mengangkat  Gubernur-gubernur  yang  mampu  dan  jujur.  la benahi  kota  tua  Cordova  dengan  gedung-gedung  dan  taman-taman  yang  indah. Tanaman  berupa  buah-buahan  dan  sayur-sayuran  di  datangkan  dari  timur  untuk  di kembangkan di pertanian Spanyol.  Pada tahun 757 M, Abd al-Rahman al-Dakhil tidak mencantumkan lagi nama Khalifah  Bani  Abbas  di  khutbah  jum'at,  dan  menggantinya  dengan  nama  sendiri walaupun masih memakai gelar Amir.[32]
Sejarah panjang yang dilalui umat Islam di Spanyol itu dibagi menjadi enam periode yaitu: [33]

a.     Periode Pertama (711-755 M)
Pada periode ini, Spanyol berada di bawah pemerintahan para wali yang diangkat oleh Khalifah Bani Umayyah yang terpusat di Damaskus. Pada periode ini stabilitas politik negeri Spanyol belum tercapai secara sempurna, gangguan-gangguan masih terjadi, baik dari dalam maupun dari luar. Gangguan dari dalam antara lain berupa perselisihan di antara elite penguasa, terutama akibat perbedaan etnis dan golongan. Di samping itu, terdapat perbedaan pandangan antara Khalifah di Damaskus dan gubernur Afrika Utara yang berpusat di Kairawan. Masing-masing mengaku bahwa merekalah yang paling berhak menguasai daerah Spanyol ini. Oleh karena itu, terjadi dua puluh kali pergantian wali (gubernur) Spanyol dalam jangka waktu yang amat singkat. Perbedaan pandangan politik itu menyebabkan seringnya terjadi perang saudara. Hal ini ada hubungannya dengan perbedaan etnis, terutama antara Barbar asal Afrika Utara dan Arab. Di dalam etnis Arab sendiri terdapat dua golongan yang terus-menerus bersaing yaitu suku Qaisy (Arab Utara) dan Arab Yamani (Arab Selatan). Perbedaan etnis ini sering kali menimbulkan konflik politik, terutama ketika tidak ada figure yang tangguh. Itulah sebabnya di Spanyol pada saat itu tidak ada gubernur yang mampu mempertahankan kekuasaannya untuk jangka waktu yang agak lama. Periode ini berakhir dengan datangnya Abd al-Rahman Al-Dakhil ke Spanyol pada tahun 138 H/755 M.

b.    Periode Kedua (755-912 M) 
Pada periode ini, Spanyol berada di bawah pemerintahan seorang yang bergelar amir (panglima atau gubernur) tetapi tidak tunduk kepada pusat pemerintahan Islam, yang ketika itu dipegang oleh Khalifah Abbasiyah di Baghdad. Amir pertama adalah Abdurrahman I yang memasuki Spanyol tahun 138 H/755 M dan diberi gelar Al-Dakhil (yang masuk ke Spanyol). Ia berhasil mendirikan dinasti Bani Umayyah di Spanyol. Penguasa-penguasa Spanyol pada periode ini adalah Abd al-Rahman al-Dakhil, Hisyam I, Hakam I, Abd al-Rahman al-Ausath, Muhammad ibn Abd al-Rahman, Munzir ibn Muhammad, dan Abdullah ibn Muhammad. 
Pada periode ini, umat Islam Spanyol mulai memperoleh kemajuan-kemajuan baik dibidang politik maupun bidang peradaban. Abd al-Rahman al-Dakhil mendirikan masjid Cordova dan sekolah-sekolah di kota-kota besar Spanyol. Hisyam dikenal sebagai pembaharu dalam bidang kemiliteran. Dialah yang memprakarsai tentara bayaran di Spanyol. Sedangkan Abd al-Rahman al-Ausath dikenal sebagai penguasa yang cinta ilmu. Pemikiran filsafat juga mulai pada periode ini, terutama di zaman Abdurrahman al-Ausath.
Pada pertengahan abad ke-9 stabilitas negara terganggu dengan munculnya gerakan Kristen fanatik yang mencari kesahidan (Martyrdom).
Gangguan politik yang paling serius pada periode ini datang dari umat Islam sendiri. Golongan pemberontak di Toledo pada tahun 852 M membentuk negara kota yang berlangsung selama 80 tahun. Di samping itu sejumlah orang yang tak puas membangkitkan revolusi. Yang terpenting diantaranya adalah pemberontakan yang dipimpin oleh Hafshun dan anaknya yang berpusat di pegunungan dekat Malaga. Sementara itu, perselisihan antara orang-orang Barbar dan orang-orang Arab masih sering terjadi,[34] Namun ada yang berpendapat pada periode ini dibagi menjadi dua yaitu masa KeAmiran (755-912) dan masa ke Khalifahan (912-1013).[35]

c.     Periode Ketiga (912-1013 M)
Periode ini berlangsung mulai dari pemerintahan Abd al-Rahman III yang bergelar “An-Nasir” sampai munculnya “raja-raja kelompok” yang dikenal dengan sebutan Muluk al-Thawaif. Pada periode ini Spanyol diperintah oleh penguasa dengan gelar Khalifah, penggunaan khalifah tersebut bermula dari berita yang sampai kepada Abdurrahman III, bahwa Muktadir, Khalifah daulah Bani Abbas di Baghdad meninggal dunia dibunuh oleh pengawalnya sendiri. Menurut penilainnya, keadaan ini menunjukkan bahwa suasana pemerintahan Abbasiyah sedang berada dalam kemelut. Ia berpendapat bahwa saat ini merupakan saat yang tepat untuk memakai gelar khalifah yang telah hilang dari kekuasaan Bani Umayyah selama 150 tahun lebih. Karena itulah gelar ini dipakai mulai tahun 929 M. Khalifah-khalifah besar yang memerintah pada periode ini ada tiga orang yaitu Abd al-Rahman al-Nasir (912-961 M), Hakam II (961-976 M), dan Hisyam II (976-1009 M). 
Pada periode ini umat Islam Spanyol mencapai puncak kemajuan dan kejayaan menyaingi kejayaan daulat Abbasiyah di Baghdad. Abd al-Rahman al-Nasir mendirikan universitas Cordova. Akhirnya pada tahun 1013 M, Dewan Menteri yang memerintah Cordova menghapuskan jabatan khalifah. Ketika itu Spanyol sudah terpecah dalam banyak sekali negara kecil yang berpusat di kota-kota tertentu. 

d.    Periode Keempat (1013-1086 M) 
Pada periode ini, Spanyol terpecah menjadi lebih dari tiga puluh negara kecil di bawah pemerintahan raja-raja golongan atau Al-Mulukuth-Thawaif yang berpusat di suatu kota seperti Seville, Cordova, Toledo dan sebagainya. Yang terbesar diantaranya adalah Abbadiyah di Seville. Pada periode ini umat Islam memasuki masa pertikaian intern. Ironisnya, kalau terjadi perang saudara, ada di antara pihak-pihak yang bertikai itu yang meminta bantuan kepada raja-raja Kristen. Melihat kelemahan dan kekacauan yang menimpa keadaan politik Islam itu, untuk pertama kalinya orang-orang Kristen pada periode ini mulai mengambil inisiatif penyerangan. Meskipun kehidupan politik tidak stabil, namun kehidupan intelektual terus berkembang pada periode ini. Istana-istana mendorong para sarjana dan sastrawan untuk mendapatkan perlindungan dari satu istana ke istana lain. 

e.     Periode Kelima (1086-1248 M)
Pada periode ini Spanyol Islam meskipun masih terpecah dalam beberapa negara, tetapi terdapat satu kekuatan yang dominan, yaitu kekuasaan dinasti Murabithun (1086-1143 M) dan dinasti Muwahhidun (1146-1235 M). Dinasti Murabithun pada mulanya adalah sebuah gerakan agama yang didirikan oleh Yusuf ibn Tasyfin di Afrika Utara. Pada tahun 1062 M ia berhasil mendirikan sebuah kerajaan yang berpusat di Marakesy. Pada masa dinasti Murabithun, Saragosa jatuh ke tangan Kristen, tepatnya tahun 1118 M.
Dinasti Muwahhidun didirikan oleh Muhammad ibn Tumazi (w.1128). Dinasti ini datang ke Spanyol di bawah pimpinan Abd al-Mun’im. Pada tahun 1212 M, tentara Kristen memperoleh kemenangan besar di Las Navas de Tolesa. Kekalahan-kekalahan yang dialami Muwahhhidun menyebabkan penguasanya memilih meninggalkan Spanyol dan kembali ke Afrika Utara tahun 1235 M. Tahun 1238 M Cordova jatuh ke tangan penguasa Kristen dan Seville jatuh tahun 1248 M. Seluruh Spanyol kecuali Granada lepas dari kekuasaan Islam.[36]

f.       Periode Keenam (1248-1492 M) 
Pada peride ini yaitu antara tahun (1232-1492) ketika umat Islam Andalus bertahan diwilayah Granada dibawah kuasa dinasti bani Amar pendiri dinasti ini adalah Sultan Muhammad bin Yusuf bergelar Al-Nasr, oleh karena itu kerajaan itu disebut juga Nasriyyah.
Periode ini, Islam hanya berkuasa di daerah Granada, di bawah dinasti Bani Ahmar (1232-1492). Peradaban kembali mengalami kemajuan seperti di zaman Abdurrahman an-Nasir. Kekuasaan Islam yang merupakan pertahanan terakhir di Spanyol ini berakhir karena perselisihan orang-orang istana dalam perebutan kekuasaan. Abu Abdullah Muhammad merasa tidak senang kepada ayahnya karena menunjuk anaknya yang lain sebagai penggantinya menjadi raja. Dia memberontak dan berusaha merampas kekuasaannya. Dalam pemberontakan itu, ayahnya terbunuh dan digantikan oleh Muhammad ibn Sa’ad. Abu Abdullah kemudian meminta bantuan kepada Ferdenand dan Isabella untuk menjatuhkannya. Dua penguasa Kristen ini dapat mengalahkan penguasa yang sah dan Abu Abdullah naik tahta. Tentu saja, Ferdenand dan Isabella yang mempersatukan kedua kerajaan besar Kristen melalui perkawinan itu tidak cukup puas. Keduanya ingin merebut kekuasaan terakhir umat Islam di Spanyol. Abu Abdullah tidak kuasa menahan serangan-serangan orang Kristen tersebut dan pada akhirnya mengaku kalah. Ia menyerahkan kekuasaan kepada Ferdenand dan Isabella, kemudian hijrah ke Afrika Utara. Dengan demikian berakhirlah kekuasaan Islam di Spanyol tahun 1492 M. Umat Islam setelah itu dihadapkan kepada dua pilihan, masuk Kristen atau pergi meninggalkan Spanyol. Pada tahun 1609 M, boleh dikatakan tidak ada lagi umat Islam didaerah ini.

4.     Kemunduran dan Keruntuhan Islam di Andalusia
         Sudah  merupakan  hukum  alam  bahwa  suatu  negara  akan  tumbuh,  dan berkembang   kemudian   mencapai   puncak   kejayaan.   Setelah   mencapai   puncak kejayaan  dan  secara  perlahan  akan  mengalami  kemunduran  dan  akhirnya  hancur. Teori perkembangan yang tak dapat dielakkan oleh manusia karena sudah merupakan hukum  alam.  Demikian  pula  halnya  dengan  Spanyol  yang  dikuasai  oleh  Islam. Setelah Islam memperoleh kejayaan selama lebih kurang 8 abad, terjadi kemunduran yang membawa kepada kehancuran. Banyak faktor yang menyebabkan Dinasti Bani Umayyah  di  Spanyol  ini  mundur  dan  kemudian  hancur.  Adapun  faktor-faktor  yang menyebabkan kemunduran dan kehancuran tersebut antara lain adalah:
a. Faktor dari dalam (intern)
1. Munculnya Khlaifah-khalifah yang lemah.
2. Munculnya Muluk al-Thawaif (Kerajaan-kerajaan kecil).
3. Kemerosotan ekonomi.
4. Sitem peralihan kekuasaan yang tidak jelas.[37]
5. Tidak jelasnya sistem peralihan kekuasaan
6. Tidak adanya ideologi pemersatu
7. Akibat dari pembangunan bidang fisik untuk keindahan kota
8. Para penguasa Islam cukup puas dengan menerima upeti dan tidak melakukan Islamisasi secara sempurna
b. Faktor dari luar (ekstern)
1. Timbulnya semangat orang-orang Eropa untuk menguasai kembali Andalusia.
2. Konflik Islam dengan Kristen
3. Kesulitan ekonomi

         5. Akhir Kekuasaan Islam di Andalusia
Pada pertengahan abab ke-11 Posisi non-Muslim di Spanyol memburuk secara substansial, ketika para penguasa lebih ketat dan Islam datang di bawah tekanan besar dari luar.Orang Kristen tidak diizinkan memiliki rumah lebih tinggi daripada umat Islam, tidak boleh mempekerjakan pelayan Muslim, dan harus memberi jalan kepada umat Islam di jalanan.Orang Kristen tidak boleh menampilkan simbol-simbol iman mereka di luar, bahkan tidak boleh membawa Alkitab. Ada penganiayaan dan eksekusi. Salah satu peristiwa terkenal adalah pembunuhan terencana di Granada pada tahun 1066, dan ini diikuti dengan kekerasan dan diskriminasi lebih lanjut di mana kerajaan Islam itu sendiri berada di bawah tekanan. Bersamaan dengan mundurnya kerajaan Islam, dan lebih banyak wilayah yang diambil alih kembali oleh penguasa Kristen, orang Muslim di daerah Kristen menemukan diri mereka menghadapi tekanan-tekanan yang sama dengan yang sebelumnya mereka telah lakukan terhadap orang lain. Namun, secara keseluruhan, banyak kelompok agama minoritas akan menjadi lebih buruk setelah Islam digantikan di Spanyol oleh Kristen. Ada juga budaya aliansi, terutama dalam arsitektur-12 singa di istana Al-Hambra adalah pengaruh Kristen.
Masjid di Cordoba, sekarang diubah menjadi katedral, agak ironis, yang dikenal sebagai La Mezquita atau secara harfiah, masjid. Masjid ini dibangun pada akhir abad ke-8 oleh pangeran Ummayyad Abd Al-Rahman bin Muawiyah. Di bawah pemerintahan Abdul Rahman III (r. 912-961) Islam Spanyol mencapai kekuasaan terbesarnya, setiap Mei, kampanye diluncurkan menuju perbatasan Kristen, ini juga merupakan puncak budaya peradaban Islam di Spanyol.
Pemberontakan internal pada 1144 dan 1145 kemudian menghancurkan persatuan Islam, dan walaupun sesekali berhasil secara militer, dominasi Islam Spanyol itu berakhir untuk selamanya. Kaum muslimin akhirnya kehilangan semua kekuasaannya di Spanyol pada 1492. Oleh penguasa Kristen 1502 mengeluarkan perintah mengharuskan semua umat Islam masuk agama Kristen, dan ketika ini tidak berhasil, mereka memaksakan pembatasan brutal kepada Muslim Spanyol yang masih tersisa.

B.   Peradaban Islam di Andalusia dalam Bidang Fiqih
Andalusia setelah ditaklukkan, maka mayoritas penduduknya memeluk Islam secara bebas terutama mereka yang sebelumnya selalu merasa tertindas di bawah elit penguasa Katholik Roma. Sejarah berputar arah setelah Andalusia berada di bawah kepemimpinan Islam. Cahaya ilmu dan keadilan bersinar terang dan Andalusia berubah menjadi keagungan sejarah yang tidak terbantahkan. Ilmu-ilmu saintifik dan keIslaman berkembang dengan sangat pesat di negeri yang kaya sumber daya alam.
Salah satu dinamika penting yang patut dicatat dari kegemilangan peradaban Andalusia adalah karya para ulama di bidang kajian keIslaman. Iklim intelektual di Andalusia pada saat itu sangat kondusif untuk melahirkan ulama dan ilmuwan besar. Seperti disebutkan oleh Abid al-Jabiri bahwa suasana perdebatan (jadl) kontraproduktif yang dibawa oleh ilmu kalam tidak terdapat di Andalusia, sebagaimana yang terdapat di dunia Timur Islam.[38] Untuk mengetahui betapa produktifnya Andalusia melahirkan ilmuwan saat itu, kita bisa membacanya melalui informasi yang dibawa oleh Ibnu al-Faradhi (w. 1013 M/962 H) tepat tiga abad setelah Islam menginjakkan kaki di Andalusia. Tercatat ada 1651 ulama (dari berbagai disiplin ilmu keIslaman) yang biografinya dimuat oleh al-Faradhi dalam kitabnya Tarikh Ulama al-Andalus.[39]
Tentang penyebaran empat Madzhab besar yang ada dalam sejarah Islam, sejarawan Ibnu Khaldun (w. 1405 M/808 H) dalam Muqaddimah pasal tentang “fikih” menyatakan hal berikut: “Madzhab Hanbali banyak diikuti oleh penduduk Syam dan Baghdad. Madzhab Abu Hanifah banyak dianut oleh sebagian besar penduduk Irak, India dan Cina. Madzhab Syafi’i diikuti oleh penduduk Mesir. Adapun Madzhab Maliki tersebar luas di daerah bagian Barat dunia Islam.[40]
Dalam wacana intelektualitas fiqhiyyah yang berkembang di Andalusia kita dapat melihat kilas balik sejarah dengan melihat penomena setelah Nabi Muhammad SAW wafat, secara otomatis wahyupun terputus, namun permasalahan-permasalahan keagamaan semakin kompleks, negara-negara taklukan Islam semakin luas mulai dari Syam (14 H), Iraq(17 H), Persi (21 H), Samarkand (56 H), Mesir (20 H) kemudian menjalar sampai Andalus sekitar tahun 92 H. Semenjak inilah orang-orang Islam dihadapkan pada situasi yang berbeda dibanding dengan permasalahan yang terjadi dijazirah arab.
Permasalahan-permasalahan yang muncul semakin kompleks sedangkan Alquran dan hadist tidak menjelaskan masalah-masalah juz’iyah yang terperinci, beranjak dari sinilah muncul sumber tasyri’ yang baru dalam sejarah Islam yaitu al-ra’yu (pendapat) yang kemudian disebut dengan istilah qiyas.
Bagaimanapun juga yang jelas diantara para sahabat ada yang mengeluarkan fatwa dari hasil ijtihadnya sendiri seperti sayyidina Umar bin Khattab, Ubay bin Ka’ab dan Mu’adz bin Jabal, lalu munculah madrasah al-ra’yi yang tumbuh subur di Iraq tepatnya di Kufah dan Basrah. Hal ini di karenakan sayidina Umar bin Khattab mengutus Abdullah bin Mas’ud dan Ali bin Abi Thalib ke Iraq untuk mengajarkan Islam disana didukung lagi letak geografis Iraq yang disana pernah tumbuh peradaban maju seperti masa babilonia berbeda dengan Hijaz yang tidak memiliki peradaban yang pernah dilalui Iraq serta keterbasan periwayatan hadist di Iraq.
Latar belakang tersebutlah yang pada akhirnya melahirkan komunitas yang memberikan lebelisasi terhadap pemikiran dalam menyikapi permasalahan-permasalahan tersebut, itulah yang dikenal dalam istilah Madzhab fiqih dengan madrasah atau aliran al-Ra’yu dan al-Hadits. Dua aliran ini masing mempunyai krakteristek yang berbeda, madrasah al-ra’yu mempunyai keistimewaan diantaranya:
1.     Banyaknya masalah-masalah furu’.
2.     Sedikinya periwayatan hadist dan persyaratan yang ketat dalam mengamalkan hadist. Lain halnya dengan Hijaz yang lebih dikenal dengan madrasatulhadist, diantara tokoh-tokohnya yaitu zubair, Abdullah bin Umar bin Khattab, Abdulah bin Amr dan lain-lain. Diantara faktor yang mendorong tumbuhnya madrasah al-lhadist di Hijaz sebagai berikut:
3.     Masyarakat Arab dikenal sebagai orang Badui yang tidak pernah melalui masa peradaban maju sebagaimana masa-masa yang pernah dilalui di Iraq .
4.     Jumlah sahabat lebih banyak di Hijaz dibandingkan dengan yang ada di Iraq, periwayatan hadist banyak sedangkan masalah furu'iyah sedikit.
Sedangkan keistimewaan-keistimewaan madrasah al-hadits diantaranya :
1.     Tidak menyukai masalah iftiradiyah/ furu’ karena sumber hukum menurut mereka khususnya hadist terbatas dan tidak suka mengamalkan ra’yu.
2.     Lebih mempercayai hadist walaupun dhaif, mempermudah dalam persyaratan periwayatan hadist dan mendahulukanya dari pada ra’yu.
Sudah diketahui bahwa Andalusia berada di kekuasaan dinasti Umayyah dan dalam kekuasan Bani Umayyah sejarah mencatat tidak adanya perhatian khusus dari pihak pemerintah yang berkuasa terhadap permasalahan tasyri’ karena disibukkan dengan politik, kecuali khalifah Umar bin Abdul Aziz tidak seperti pada masa bani Abbasiyah yang memfasilitasi perkembangan tasyri’ dan memberi corak agama sehingga salah satu tokoh fikih yang berMadzhab Abu Hanifah yaitu Abu Yusuf dipercaya pemerintah daulah abbasiyah untuk menulis kitab yang berisi tentang masalah pengaturan ekonomi Negara dengan tetap membawa prinsip-prinsip Islam yang kemudian buku tersebut diberinama “al-Kharraj”.
Pada masa dinasti umayyah belum terbentuk Madzhab-Madzhab fikih hanya ada imam mujtahid seperti Imam Auzai’, baru pada masa akhir daulah Umayyah muncul dua imam Madzhab yaitu Imam Abu Hanifah yang lahir di Iraq dan imam Malik bin Anas di Madinah. Madzhab imam Malik inilah yang kemudian berkembang pesat di maghrib dan Andalus. Hal ini di karenakan sebagaimana yang dikatakan oleh Ibn Khaldun bahwa rihlatul ilmi yang dilakukan oleh sebagian warga Andalus hanya terbatas pada Hijaz (Makkah dan Madinah) dan keadaan sosiologi Andalus mirip dengan Hijaz yang lebih kental dengan budaya Badui.
          Khusus dalam ranah fikih dan ushul fikih Andalusia memiliki kekhasan tersendiri dibandingkan kawasan Islam lainnya. Jika di Iraq sangat kental nuasa fikih rasionalnya karena pengaruh Abu Hanifah, Mesir dikenal identik dengan negeri para ahli qiyas karena pengaruh imam Syafi’i, maka Andalusia dikenal sebagai pusat penyebaran teori maslahah mursalah karena pengaruh besar Madzhab Maliki. Tercatat tokoh-tokoh besar Islam yang lahir di Andalusia adalah penganut Madzhab Maliki, diantaranya yaitu al-Baji (1081 M/474 H), Ibnul Arabiy (w. 1148 M/543 H.), Ibnu Rusyd (w. 1198 M/595 H ) dan bapak Maqashid Syariah Imam asy-Syatibi (w. 1388 M/790 H).

A.   Andalusai dan masuknya Mazdhab fikih
Penduduk Andalus dikenal fanatik dengan tanah kelahiranya ini bisa dijumpai di biografi ulama-ulamanya seperti diberi laqab al malaghi (Malaga), Al-Gharnatha (Granada), Al-Qurtubi (Cordova) sepertihalnya di Masyriq muncul laqob seperti al-Baghdadi, al-Bukhari, al-Basri dan lain-lain. Metode pendidikan yang diajarkan di Andalus tidak sama dengan metode yang diajarkan di Masyriq, di Masyriq lebih ditekankan dulu untuk menghafal Alquran baru diajarkan ilmu bahasa arab, berbeda di Andalus yang lebih memprioritaskan bahasa arab dulu baru menghafal Alquran. pergerakan keilmuan di Andalus tidak kalah dengan yang ada di Masyriq kecuali dalam ilmu kalam ini dikarenakan Masyriq banyak mewarisi kebudayaan yang ditinggalkan oleh para pendahulunya seperti Zoroaster, falsafah Hindu, China dan Persia.
Perkembangan keilmuan di Andalus melalui tiga perantara :
a.     Undangan oleh raja Andalus yang ditujukan kepada ulama-ulama Masyriq untuk mengajarkan ilmunya di Andalus
b.     Perjalanan yang ditempuh oleh penduduk Andalus ke Masyriq untuk menuntut ilmu yang kemudian ketika kembali ke Andalus menyebarkan ilmunya
c.     Pengumpulan kitab-kitab, ini dilakukan oleh khalifah al hakam ke-2 yang di kenal dengan al-Mustansir (350 H-366 H), beliau berhasil mengumpulkan ribuan buku dari Mesir, Baghdad dan kota-kota lainya baik di Masyriq maupun di Maghrib.
Rihlah al-ilmi yang dilakukan warga Andalus mempunyai dampak positif dan negativ. dampak positifnya ilmu bisa berkembang pesat di Andalus sedang dampak negatifnya ilmu yang berkembang di Andalus hanyalah repetisi dari ulama-ulama Masyriq, sehingga kalau anda membaca karya-karya yang berasal dari Andalus maka tidak jauh beda dengan karya-karya yang berasal dari Masyriq.
Tumbuhnya ilmu agama di Andalus dalam hal ini mencakup fikih di mulai semenjak perpindahan sebagian sahabat dan tabi’in ketika Musa bin Nushair menaklukan Andalus. dikalangan sahabat muncul al-Munaidhir/ al-Mundhir (masih dalam khilaf) sedangkan di kalangan tabi’in ada Khanaz bin Abdillah al-Shana’ani dan Ali bin Abi Ribah al-Basri, mereka itulah termasuk dalam barisan tentara Islam yang berhasil menaklukan Andalus. diantara para tabi’in Khanaz bin Abdillah yang paling unggul ilmunya, ia berasal dari Yaman juga termasuk murid dari sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah5.

B. Madzhab-Madzhab fikih di Andalus
1.     Madzhab Auza’i
Imam Malik bin Anas lahir di Madinah maka disitupula Madzhabnya berkembang sama halnya dengan Abu Hanifah yang lahir di kufah, berbeda dengan mereka imam Auza’i yang lahir di Syam mazdhabnya sampai menyebar ke Andalus di bawa oleh orang-orang Syam yang menjadi tentara Islam.[41]
Imam Auza’i bernama lengkap Abu Amr Abdurrahman bin Amr al-Auzai’(88-167 H), disamping seorang faqih beliau juga dikenal sebagai muhaddist, Abdurrahman bin Mahdi pernah mengatakan bahwa imam-imam dalam hadist ada empat yaitu al-Auza’i, Malik, Sufyan Atsauri dan Hamad bin Zaid. Kealiman beliau diakui oleh kalangan fuqaha' dan muhaddistin seperti Malik, Tsauri, zuhri serta ashabukutubissitah (Bukhari, Muslim, Abu daud, Turmudzi, Ibnu Majah) sebagaimana Ibnu Nadhim dalam “alfihrisat” menganggapnya sebagai seorang muhaddis karya-karya imam Auza'i banyak yang hilang tidak sampai ketangan kita kecuali kitab “Al-rad ‘Ala Sir al-Auzai” yang isinya pendapat-pendapatnya yang mengcouenter gagasan imam Abu Hanifah. selain kitab ini kita bisa menjumpai fatwa-fatwanya yang tersebar dikita-kitab fikih seperti “al-umm” Imam Syafi’i, ”Al-Mughni” Ibnu Qudamah, ”Al-Mabsut” Imam as-Sarkhasi, ”Bidayatul Mujtahid Wanihayatul Muqtasid” Ibnu Rusyd dan “al-Mahalli” Ibnu Hazm. Menurut Syakib Arselan diantara karya al-Auza’i yang hilang adalah kitab “al aqwal asshakhikhah fi ushulil Madzhab al Auza’i”. Ada yang menyebutkan bahwa Madzhab ini masuk ke Andalus sebelum masa Bani Umayah alias semenjak penaklukan Andalus sebagaimana dikatakan oleh qodhi iyad, imam al-Maqirri dan pemikir Islam kontemporer Ahmad Amin, namun pendapat ini masih di ragukan karena Andalus di taklukan pada tahun 92 H sedangkan Imam Auza'i lahir di Ba'labak tahun 88 H, berarti Madzhab Auza'i masuk ke Andalus pada tahun 125 H ketika datang rombongan besar dari Syam bersama Balaj bin Basyar al-Qusya'ri.[42]

Sebab-sebab penyebaran Madzhab Auza'i :
a.     Adanya relasi kebudayaan antara syam dan Andalus.
b.     Perpindahan penduduk dari syam ke Andalus yang kemudian berdomisili di sana.
c.     Konflik antara Bani Umayah dan Bani Umayah dan bani Abbasiyah, Abdurrahman al-Dakhil yang merupakan khalifah dari kubu Bani Umayah lebih suka menghidupkan corak negara Syam yang pada masa Muawiyah di jadikan sebagai ibu kota.
d.     Sumber-sumber menyebutkan bahwa asad bin Abdurrahman adalah orang yang pertama kali memasukkan Madzhab Auza'i ke Andalus. Diantara ulama-ulama Madzhab auza'i, Sa'sah bin Salam (wafat 192 H) hidup pada masa Abdurrahman sbin Muawiyah dan permulaan masa Hisyam bin Abdurrahman, Zahir bin Malik al-Balwa, Abdul Malik bin Marwan, Mushab bin Amran dan Muhammad bin Ishaq6.
e.     Imam Auza’i adalah imam besar di syam, penduduk syam memeluk Madzhab Imam Auza’i kurang lebih selama 220 tahun sampai akhirnya muncul Madzhab imam syafi’i yang menggantikan kedudukanya. kemudian masuk Andalus disanalah Madzhab ini berkembang kurang lebih selama 40 tahun sampai pada masa khalifah Abdurrahman yang termasuk khalifah dari Bani Umayah,kemudian masuk Madzhab Maliki yang mendapat tempat istimewa di bawah lindungan pemerintah yang berkuasa.

2.     Madzhab Maliki
Di daerah Andalus, Madzhab ini memiliki perkembangan yang cukup tajam, karena juga didukung oleh Sultan. Awalnya Madzhab yang dominan di daerah ini adalah Madzhab Auza’i, seorang ahli fikih dari Syam. Kemudian, Sultan tadi itu tidak memberikan wewenang dalam pemerintahan ulama yang tidak fakih dalam Madzhab Maliki.[43]
Berdasarkan penjelasan di atas, Ibnu Hafizh al-Andalusi sampai menyatakan, bahwa terdapat dua Madzhab yang awal perkembangannya didukung oleh Sultan dan pemerintah, yaitu Madzhab Hanafi di Masyriq, dan Madzhab Maliki di Andalus.[44]
Dengan demikian, Madzhab Maliki ini berkembang pesat di daerah Islam sebelah Barat, dan sedikit di Timur, seperti di daerah Iraq. Hal ini dikarenakan banyak muridnya yang berada di Mesir dan Tunisia.[45]
Setelah penduduk Andalus memeluk Madzhab imam Auza’i mereka pindah ke Madzhab Imam Malik bin Anas, ini disinyalir ada beberapa faktor diantaranya :
a.     Madzhab Maliki lebih sesuai dengan watak/ tabiat mereka yang lebih memprioritaskan hadist dan ijma’ ahli al-Madinah ketimbang metode qiyas
b.     Yahya bin yahya allaist salah seorang tokoh ulama Maliki yang berguru langsung pada imam Malik di Madinah mendapat tempat istimewa di bawah lindungan pemerintahan yang berkuasa dan di beri kepercayaan dalam pemilihan qadhi di setiap daerah.
Tentang siapakah yang pertama kali memasukan Madzhab Maliki ke Andalus masih belum jelas, Imam al-Muqirri hanya menyebutkan bahwa masyarakat Andalus dulu memang menganut Madzhab Auza’i sebagaimana seperti penduduk syam kemudian baru pada masa khalifah al hakam al-Mustansir (179-205 H/796-821 M) datanglah rombongan fuqaha Madzhab Maliki menghadap khalifah, karena keterpengaruhan khalifah dengan apa yang mereka ceritakan tentang fadilah imam Malik sebagai muassis Madzhab ini membuat khalifah menaruh rasa simpatik pada Madzhab Maliki bahkan nanti akhirnya pemerintah memfasilitasi penyebaran madahab Maliki dan menjadikanya sebagai Madzhab resmi Negara. Imam al-Muqirri juga menyebutkan bahwa perpindahan Madzhab fikih di Andalus ke Madzhab mencapai masa-masa keemasan di tangan Abdul Malik Bin Habib Assilmi, Yahya Bin Yahya Allaist, Isa bin Dinar, Abu Abdurrahman Ziyad bin Abdurrahman al-Lahmi yang dikenal dengan laqob Syibton tepatnya pada masa khalifah Hisyam al-Rodi (137-171 H) ini dikarenakan salah satu tokoh fikih diantara mereka yaitu Yahya bin Yahya al-Last mendapatkan posisi penting di pemerintahan dan diberi kepercayaan penuh dalam pemilihan qodhi di daerah-daerah Andalus. Sedangkan orang yang pertama kali memasukan kitab muwato’ imam Malik adalah alqosi bin ghaiz yaitu tepatnya pada masa khalifah Abdurrahman al-Dakhil (137-171 H).

3.     Madzhab Dzohiri
Sebuah Madzhab fikih yang beristinbat hukum hanya pada nash tidak memperbolehkan al-ra’yu (pendapat), maka dari itulah Madzhab ini tidak mau mengambil qiyas, istihsan, masolih mursalah, dan sadduddarai’ sebagai sumber tasyri’. ketika muncul permasalahan yang tidak disinggung oleh nash maka dikembalikan kepada hukum asal yang di kenal dalam fikih dengan istilah Istishhab. Produk hukum fikih Dzohiri banyak bertentangan dengan mayoritas fuqaha. dalam sejarahnya Madzhab ini mencatat dua nama besar yaitu daud al asbihani yang di anggap sebagai founding father Madzhab ini dan imam Ibnu Hazm, seorang tokoh Madzhab Dzohiri yang dikenal mempunyai keunggulan dalam berargumentasi. Imam Muhammad Abu Zahrah menyebutkan bahwa Madzhab ini tersebar lewat dua perantara:[46]
a.     Karya-karya imam daud.
b.     Murid-muridnya yang gigih dalam menyebarkan Madzhab Dzohiri.
Bahkan menurut imam al-Maqdisi di Masyriq pada abad ke-3 dan ke-4 Madzhab ini berhasil menduduki posisi urutan nomor empat setelah Abu Hanifah dan Imam Malik, Imam syafi’i, lebih banyak dibanding Madzhab Imam Hanbali sampai datang qodhi abu Ya’la yang menyebarkan Madzhab Hanbali dan berhasil menyingkirkan Madzhab Dzohiri pada abad ke-5. Walaupun di Masyriq Madzhab ini surut tapi setidaknya di Andalus muncul Ibnu Hazm yang meletakan ushul Madzhab Dzohiri dalam karyanya “al ihkam fi ushulil ahkam”.[47]
Lalu bagaimanakah Madzhab Dzohiri pindah dari Masyriq ke Andalus.
Ini dikarenakan rihlah al-ilmi yang di lakukan oleh sebagian ulama Andalus ke Masyriq yang kemudian mereka sebarkan ketika kembali, diantaranya daud bin ali bin kholaf. sehingga nantinya muncul ulama-ulama Madzhab Dzohiri di Andalus seperti Abdullah bin qasim bin hilal orang yang pertama kali menyebarkan Madzhab Dzohiri di Andalus karena Madzhab ini muncul pada pertengahan abad ke-3 hijriyah. sebelumnya beliau menganut Madzhab Maliki namun setelah berguru pada Daud al-Asbihani beliau pindah Madzhab Dzohiri dan menyebarkan ajaran-ajaranya.[48]

4.     Madzhab Hanafi
Ibnu Fardi, dalam karyanya "Tarikhul ulama Andalus" beliau menyebutkan salah satu ulama Madzhab Hanafi yang bernama Za'id bin Basyir,namun Madzhab ini tidak bisa berkembang pesat karena domonasi mazdhab Maliki.[49]

5.     Madzhab Syafi’i
Sebagaimana yang telah kami paparkan bahwa masyarakat Andalus menganut Madzhab Maliki dengan penuh ta’asub (fanatik), ini bisa dilihat dari perkataan penduduk Andalus yang diriwayatkan oleh imam al-Maqdisi “kami hanya mengetahui kitabullah (al qur’an) dan muwata malik”, bahkan pada suatu ketika ada perdebatan antara ulama Hanafi dan Maliki namun akhirnya raja yang yang berkuasa lebih memihak pada Madzhab Maliki di karenakan imam Malik berasal dari Madinah yang merupakan kota hijrah Rasul sedangkan imam Abu Hanifah berasal dari kufah dan raja tidak menyukai adanya dua Madzhab dalam satu Negara. bahkan imam maqdisi juga meriwayatkan bahwa masyarakat Andalus ketika mendengar Madzhab Hanafi dan Syafi’i muncul di Andalus mereka akan memusnahkanya. hal ini tentu akan berpengaruh bagi pengikut Madzhab masing-masing. Madzhab syafi’i mendapat ruang gerak yang lebih lebar dibanding Madzhab Hanafi semenjak kepemimpinan muhaammad al awwal, hal ini di dukung juga dengan protection (perlindugan) yang di berikan oleh khalifah yang berkuasa.
Diantara tokoh-tokoh fuqaha' Syafi’i di Andalus sebagai berikut :
Qosim bin Muhammad, berasal dari Cordova, salah satu seorang tokoh Madzhab Syafi’i yang memerangi taqlid dan menyeru untuk berijtihad langsung berlandaskan Qur’an dan hadist, ijma’ dan qiyas. Baqi bin Mukhalad pernah menuntut ilmu di Masyriq (Makkah, Madinah, Mesir, Syam, Baghdad dan kota-kota lain yang menjadi pusat keilmuwan).[50]
Tentang apakah beliau menganut Maliki atau Syafi’i, itu masih di perdebatkan, ia juga salah satu murid dari imam ahmad bin Hanbal. di kenal sebagai ulama fikih yang tidak ta'asub dengan Madzhabnya. Bahkan kitab musnad Ibnu Abi Syaibah beliau ajarkan pada murid-muridnya hal ini mengakibatkan penduduk Andalus tidak tinggal diam, tidak tanggung-tanggung mereka melaporkan Baqi bin Mukholad pada raja Muhammad karena dianggap mengancam ekssistensi Madzhab Maliki di Andalus, namun beliau masih beruntung karena raja ketika membaca karyanya menaruh rasa simpatik pada isi karyanya, sehingga raja membela pada Maqi bin Mukholad dan melindunginya dari musuh-musuhnya, beliau wafat di Cordova tahun 276 H = 889 M. Sebagian ahli sejarah menganggapnya sebagai pengikut Madzhab imam syafi’I tatkala yang lain mengangagapnya sebagai seorang sosok yang independen dari Madzhab tertentu9.
pada masa al-Hakam II bermunculan fuqaha' yang berMadzhab Syafi’I yang menyebarkan Madzhabnya, kemudian masa Abdurrahman bin Nashir, anaknya yang bernama Abdullah merupakan salah satu tokoh penyebar Madzhab Syafi’i, namun sayangnya tokoh yang satu ini di ekskusi atas perintah ayah kandungnya dengan tuduhan makar bersekongkol dengan pemberontak melawan ayahnya tepatnya pada tahun 238 H = 950 M.[51]

















PENUTUP
Dari paparan diatas dapat kita simpulkan beberapa poin mengenai peradaban islam di Andalusia, diantara:
Andalusia diduduki umat Islam pada zaman khalifah Al-Walid (705-715 M), salah seorang khalifah dari Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus, dimana Ummat Islam sebelumnya telah mengusasi Afrika Utara. Dalam proses penaklukan Spanyol ini terdapat tiga pahlawan Islam yang dapat dikatakan paling berjasa yaitu Tharif ibn Malik, Thariq ibn Ziyad, dan Musa ibn Nushair um ajma’in.
Sifat ekspedisi militer Islam ada empat tipe, yaitu: Pertama: Kekuatan militer  muslim yang dikirim untuk membantu salah satu pihak yang sedang terlibat dalam perang saudara, dengan harappan dapat menjadi sekutu dimmasa mendatang. Kedua: Kekuatan militer  muslim yang dikirim sebagai pengitai/perintis kekuatan militer kerajaan Visigoth. Ketiga: Kekuatan militer  muslim yang dikirim sebagai invasi tetapi dalam sekala penuh. Keempat: Kekuatan militer  muslim yang dikirim merupakan sebuah ekspedisi militer besar tanpa adanya tujuan stratgis secara langsung.
Ada beberapa catatan penting mengenai teks pidato Thariq bin Ziyad ada yang mengatakan bahwa itu tidak benar dan ada yang mengatkan bahwa isi dari pidato benar namun redaksinya tidak dibenarkan. sedangkan pembakaran kapal pasukan muslim yang dipimpin oleh Thariq bin Ziyad bahwa itu hanyalah cerita-cerita yang tidak dapat dipertanggung jawabkan seca faktualisasi sejarah.
Faktor Masuknya Islam di Andalusia dapat dilihat dari Faktor Eksternal dan Faktor Internal. Sedangkan Perkembangan Islam di Andalusia melalui beberapa priode; Periode Pertama (711-755 M), Periode Kedua (755-912 M), Periode Ketiga (912-1013 M), Periode Keempat (1013-1086 M), Periode Kelima (1086-1248 M) dan Periode Keenam (1248-1492 M). kemunduran dan Keruntuhan Islam di Andalusia juga disebabkan dua factor, yaitu Faktor Eksternal dan Faktor Internal.
Madzhab-Madzhab fikih di Andalus yang tercatat dalam sejarah adalaha Madzhab Auza’I, Madzhab Maliki, Madzhab Dzohiri, Madzhab Hanafi dan Madzhab Syafi’I. namun yang medominasi adalah madzhab Maliki. Madzhab ini memiliki perkembangan yang cukup tajam, karena juga didukung oleh Sultan. Awalnya Madzhab yang dominant di daerah ini adalah Madzhab Auza’i, seorang ahli fikih dari Syam. Kemudian, Sultan tadi itu tidak memberikan wewenang dalam pemerintahan ulama yang tidak fakih dalam Madzhab Maliki.



* Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Antasari Konsentrasi Filsafat Hukum Islam
[1] Latar belakang sejarah Andalusia ini penulis hanya memaparkan secara ringkas. Mengenai sejarah yang berhubungan dengan Andalusia ini masih menjadi perdebatan yang hangat, karena kompilasi-kompilasi sejarah yang ditulis belakangan di klaim lebih banyak diwarnai dengan imajinasi penulisnya dibandingkan dengan fakta sejarah, literatur muslim pun hampir tidak banyak ditemukan, jadi rincian apapun yang berhubungan dengan sejarah Andalusia harus diperhatikan dengan hati-hati. Lihat M.Syafi’I Antoni, dkk, M.Syafi’i Antoni, dkk, Encylopedia of Word Islamic......, Ensiklopedia Peradaban Islam Andalusia”Kejayaan Masa Lalu, Inspirasi Masa depan: h. 18-19. Hal ini banyak yang menghubungkan dengan peristiwa terjadi penyerbuan kota terakhir yang dikuasai umat Islam (Granada) yang jatuh setelah dikepung Selama delapan bulan oleh tentara kristen (salib) yang mana karya-karya umat Islam banyak yang dimusnahkan. Berbeda dengan sejarah kenabian dan para khulafaurrasyidin yang masih kental dengan khas periwayatan dalam Islam (Isnad). Sehingga literatur yang di sampaikan dapat diklarifikasi dan dipertanggung jawabkan secara ilmiah
[2] Ahmad Thomson, Muhammad 'Ata' Ur Rahim, Islam Andalusia: Sejarah Kebangkitan dan Keruntuhan, Bandung: Gaya Media Pratama, 2004) h. 15.
[3] Lebih lengkap tentang biografi Musa ibn Nushayr, Lihat dalam Fatih al-Maghrib: Musa ibn Nushayr, (Lebanon: Dar Grows li al-Nasyr wa al-Tawzî, cet. I, 1992 M). Lihat Juga Mahmud Syit Khattab, Qadah Fath al-Andalus, (Bairut: Mausuat Ulum al-Quran, Cet I, 2003). Lihat juga Mahmud Syalabi, Hayat Thariq ibn Ziyad Fatih al-Andalus (Beirut: Dar al-Jil, cet. I, 1412 H/1992 M) Lihat juga Thariq al-Suwaidan, al-Andalus al-Tarikh al-Mushawwar, (Kuwait: al-Ibda’ al-Fikri, Cet I, 2005).
[4]
[5]
[6] M.Syafi’i Antoni, dkk, Encylopedia of Word Islamic…, h. 21
[7]
[8] Syalabi Ahmad, al- Tarikh aI-Islam wa al-Hadharat Islamy, (Kairo: Maktabat, al- Nahdhat al-Misriyyat, Cairo 1979), h.129.
[9] M.Syafi’i Antoni, dkk, Encylopedia of Word Islamic......, h. 21-22
[10] M.Syafi’i Antoni, dkk, Encylopedia of Word Islamic......, h. 21-22
[11] M.Syafi’i Antoni, dkk, Encylopedia of Word Islamic......, h. 21-22
[12] Lihat selengkapnya dalam Ibnu Hilkan, Wafiyat al-A’yan, (Bairut: Dar al-Fikr, 2001) h. 321-322. Lihat juga al-Muqry, Nafh al-Tayyibi, (Bairut: Dar al-Fikr, 2001), h. 240-241.
[13] ‘Abd al-Halim ‘Uways, mengomentari content khutbah (pidato) Thāriq ibn Ziyād sebagai berikut:
ترد في بعض الكتب قصة خطبة طارق الملقاة قبل المعركة، ونحن نعتقد أن مضمونها صحيح، لكن صياغتها تعرضت لزيادات كثيرة... وهذا هو نص الخطبة التي نسبت إلى القائد البربري العظيم المسلم (طارق بن زياد):
“Dalam beberapa kitab muncul kisah pidato Thariq yang disampaikan sebelum perang. Kita (kami) meyakini bahwa isinya adalah benar, hanya saja bentuknya mengandung banyak penambahan. Inilah teks pidato yang dinisbatkan kepada sang pemimpin Berber yang agung dan Muslim (Thariq ibn Ziyad)”.
Lihat, ‘Abd al-Halīm ‘Uwasy, “al-Muslimun wa Fath al-Andalus” dalam http://www.Islamstory.com/طارق-بن-زياد-فاتح-الاندلس. Lihat juga http://www.ahlalhdeeth.com/ القائد المجاهد طارق بن زياد بين الروايات المتناقضة؟!
[14] Suwadi ‘Abd Muhammad, Thariq ibn Ziyad: Hayatuhu, Zhuhuruhu, Nasabuhu, Khuthathuhu al-‘Askariyyah wa Waqa’i`uhu fi al-Andalus wa al-Maghrib (Saudi: Nawabigh al-Fikr al-‘Arabi,cet. I, 1988), h. 83.
[15] Lihat, Suwadi ‘Abd Muhammad, Thariq ibn Ziyad…, Ibid., h. 83-84.
[16] Adapun teks pidato Thariq bin Ziyad sebagai berikut:
لما اقترب جيش لُذريق من الجيش الإسلامي، قام طارق بن زياد في أصحابه، فحمد الله وأثنى عليه بما هو أهله، ثم حثَّ المسلمين على الجهاد ورغَّبَهم فيه، ثم قال: «أيها الناس؛ أين المفرُّ؟! والبحر من ورائكم والعدوُّ أمامكم، فليس لكم والله! إلاَّ الصدق والصبر، واعلموا أنكم في هذه الجزيرة أضْيَعُ من الأيتام في مآدب اللئام، وقد استقبلتُم عدوَّكم بجيشه وأسلحته، وأقواتُه موفورة، وأنتم لا وَزَرَ لكم غير سيوفكم، ولا أقوات لكم إلاَّ ما تستخلصونه من أيدي أعدائكم، وإن امتدَّت بكم الأيام على افتقاركم، ولم تُنجزوا لكم أمرًا، ذهبت ريحكم، وتعوَّضت القلوبُ من رعبها منكم الجراءةَ عليكم، فادفعوا عن أنفسكم خذلان هذه العاقبة من أمركم بمناجزة هذا الطاغية، فقد ألقته إليكم مدينَتُه المحصَّنة، وإنَّ انتهاز الفرصة فيه لممكن لكم إن سمحتم بأنفسكم للموت. وإني لم أُحَذِّركم أمرًا أنا عنه بنَجْوَة ، ولا حملتُكم على خُطَّة أرخصُ متاعٍ فيها النفوسُ إلاَّ وأنا أبدأ بنفسي، واعلموا أنكم إن صبرتم على الأشق قليلاً؛ استمتعتم بالأرفه الألذ طويلاً، فلا ترغبوا بأنفسكم عن نفسي، فيما حَظُّكم فيه أوفر من حَظِّي، وقد بلغكم ما أنشأتْ هذه الجزيرةُ من الحورِ الحسان من بنات اليونان الرافلات في الدُّرِّ والمَرْجَان، والحُلَل المنسوجة بالعِقْيَان، المقصورات في قصور الملوك ذوي التيجان، وقد انتخبكم الوليد بن عبد الملك من الأبطال عُرْبانًا، ورضيكم لملوك هذه الجزيرة أصهارًا وأختانًا؛ ثقةً منه بارتياحِكم للطِّعَان، واستماحِكم بمجالدة الأبطال والفرسان، ليكون حَظُّه معكم ثوابَ الله على إعلاء كلمته، وإظهار دينه بهذه الجزيرة، ويكون مغنمها خالصًا لكم من دونه ومن دون المسلمين سواكم، والله تعالى وليُّ إنجادكم على ما يكون لكم ذِكْرًا في الدارين. واعلموا أنِّي أول مجيب إلى ما دعوتُكم إليه، وأنِّي عند ملتقى الجمعين حامل بنفسي على طاغية قومه لُذَرِيق فقاتِلُه -إن شاء الله تعالى- فاحملوا معي، فإنْ هلكتُ بعده فقد كَفَيْتُكم أمره، ولن يُعوزكم بطل عاقل تسندون أمركم إليه، وإن هلكتُ قبل وصولي إليه فاخلفوني في عزيمتي هذه، واحملوا بأنفسكم عليه، واكتفوا الهمَّ من فتح هذه الجزيرة بقتله، فإنهم بعده يُخْذلون.
[17] Muqry, Nafh al-Tayyibi, Ibid.
[18] Ibnu Hilkan, Wafiyat al-A’yan, Ibid.
[20] Seperti dalam kitab Akbhar Majmu‘ah fi Fath al-Andalus wa Dzikr Umara’iha Rahimahumullah wa al-Hurub al-Waqi‘ah biha Baynahum, (Cairo: Dar al-Kitab al-Mishricet. II, 1410 H/1989 M). Begitu juga dalam kitab Ibn al-Qûthiyyah, Tarikh Iftitah al-Andalus (Cairo: Dar al-Kitab al-Mishrai,cet. II, 1410 H/1989 M). Lihat juga Muhammad ibn Muhammad Ibn al-Atsir al-Jazari, al-Kamil fi al-Tarikh,(Beirut-Lebanon: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. I, 1407 H/1987 M), jilid 4. Pada jilid empat inilah yang membahasa tentang pembebasan kota Andalusia. Lihat juga, Abu al-Fida’ Isma‘il ibn ‘Umar al-Dimasyqi, al-Bidayah wa al-Nihayah, (Cairo: Dar Hajr li al-Thiba‘ah wa al-Nasyr wa al-Tawzī‘ wa al-I‘lan, cet. I, 1417 H/1997 M), Juz 4: 436-438. Lihat juga, Ahmad Amin, Zhuhr al-Islam, (Beirut, cet. V, 1388 H/1969 M), jilid 2. Dalam jilid ke-2 dari kitab Ahmad Amin ini, seluruhnya berbicara tentang Andalusia.
[21] ‘Abd al-Halīm ‘Uways, Ihraq Thariq ibn Ziyad li al-Sufun Usthurah la Tarikh (Cairo: Dar al-Shahwah li al-Nasyr wa al-Tawzi’, cet. I, 1416 H/1995 M). h. 25.
[22] Lihat, Ibrahim al-Abyari (ed.), Akhbar Majmu‘ah…, Iibd, h. 16-18. Kitab ini tidak ditemukan siapa pengarangnya. Kemudian diedit dan diterbitkan oleh Ibrahim al-Abyārī dinisbatkan kepada abad keempat hijrah
[23] Lihat, ‘Abd al-Halīm ‘Uways, Ihraq Thariq ibn Ziyad… Ibid, h. 10-11.
[24] Ibn al-Qûthiyyah, Tarikh Iftitah al-Andalus, (Bairut: Dar al-Fikr, 1999), h. 34.
[25]Lihat kitab yang berbica panjang lebar tentang hal ini, ‘Abd al-Halīm ‘Uways, Ihraq Thariq ibn Ziyad… Ibid, dan pembahasan oleh Raghib al-Sirjani, “Khuthbah Thariq ibn Ziyad”, http://www.Islamstory.com/خطبة-طارق-بن-زياد-ومسالة-حرق-السفن
[26]Lihat, Ibn ‘Idzari al-Marakusyi, al-Bayan al-Mughrib fi Akhbar al-Andalus wa al-Maghrib, (Beirut-Lebanon: Dar al-Tsaqafah, cet. III, 1983), Juz 2, h. 6. Lihat juga, Muhammad ibn ‘Abd al-Mun‘im al-Himyari, al-Rawdh al-Mi‘thar fi Khabar al-Aqthar, (Beirut: Maktabah Lubnan, cet. II, 1984), h. 35.
[27] Lihat, ‘Abd al-Halīm ‘Uways, Ihraq Thariq ibn Ziyad… Ibid, h. 17.
[28] Lihat, ‘Abd al-Halīm ‘Uways, Ihraq Thariq ibn Ziyad… Ibid, h. 21.
[29] Lihat, Muhammad Zaytūn, al-Muslimun fi al-Maghrib wa al-Andalus (Mesir: Dar Qalam, 1411 H/1990 M), h. 162-165.
[31] Philip K Hitti, History of The Arabs, (Jakarta: Serambi, Cet II, 2005). Dalam biografinya ia disebut al-Dakhil ("the Immigrant"), Saqr Quraish ("the Falcon of the Quraysh") and the "Falcon of Andalus". http://en.wikipedia.org/wiki/Abd_al-Rahman I
[32] Anwar G Chejne, Muslim Spain: Its History and Culture, (Menneapolis: The University of Minnesota Press, 1974:), h. 18.
[33] Dr, Badri Yatim, M.A, Sejarah Peradaban Islam, (PT: Gravindo Persada: 2003,) h. 93.
[34] Badri Yatim, M.A, Sejarah Peradaban Islam…, Ibid, h. 95 
[35] Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam klasik, (Jakarta Timur: Penada Media,2003), h. 119
[36] Badri Yatim, M.A, Sejarah Peradaban Islam…, Ibid, h. 98, lihat Juga Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam klasik…,Ibid, h. 122
[37] Dedi Supriyadi, Peradaban Islam, (Bandung: Pustaka Setia, Cet x, 2008) H. 124-126.
[38] Abid al-Jabiri, Binyah al-Aql al-Arabiy, Bairut: Markaz Dirasah Wihdah al-‘Arabiyah, 1990), h. 529.
[40] Abdurrahman Ibnu Khaldun, Muqaddimah, (Bairut: Maktabah Lubnan, 857 H) h. 951-955.
[43] Muhammad Abu Zahrah, Tarikh al-Madzahib al-Islamiyyah fi al-Siyasah wa al-Aqa’id wa Tarikh al-Madzahib al-Fiqhiyyah, cet. 1 (Kairo: Dar al-Fikr al-‘Arabi, t.t.), h. 405.
[44] Muhammad Abu Zahrah, Tarikh al-Madzahib al-Islamiyyah…, Ibid, h. 405
[45] Muhammad Abu Zahrah, Tarikh al-Madzahib al-Islamiyyah…, Ibid,  h. 406.