"Nasir Khusraw"

Sang Elang berujar: "Ruzi zi sar i- sang 'uqubi bi hava khas
Bahr-i talab-i tu'mih, par o bal biyarast"
 

Sabtu, 22 Juni 2013

Biografi M. Arkoun



BIOGRAFI MUHAMMAD ARKOUN

A.     Latar Belakang Sosial dan Intelektual
Muhammad Arkoun lahir pada 1 Februari 1928[1] di Taorirt-Mimoun, Kabilia, Aljazair. Kabilia adalah suatu wilayah pegunungan berpenduduk Berber yang terletak di sebelah timur Aljir.[2] Keluarganya berada pada strata fisik dan sosial yang rendah (ibunya buta huruf) dengan bahasa Kabilia Berber sebagai bahasa ibu dan bahasa Arab sebagai bahasa nasional Aljazair.
Kabilia terdiri dari Kabilia Besar da Kabilia Kecil. Penduduknya hidup dari hasil pertanian (buah tin dan zaitun), mengembala ternak, dan berdagang kerajinan tangan. Sedangkan Berber merupakan sebutan untuk penduduk yang tersebar di Afrika bagian utara, dari Libya hingga Samudera Atlantik. Mereka berbicara dengan pelbagai logat non-Arab (‘ajamiyyah). Meskipun demikian, hingga saat ini sebagian mereka masih tetap menggunakan bahasa Berber.
Menurut catatan sejarah, Aljazair ditaklukan oleh bangsa Arab pada 682 dibawah pimpinan ‘Uqbah ibn Nafi’ (w. 683), pada masa kekhalifahan Yazid ibn Mu’awiyyah dari Dinasti Bani Umayyah. Sebagian besar penduduk Berber memeluk Islam bersama ‘Uqbah.
Orang-orang Berber yang tinggal diperkotaan berbaur dengan orang-orang Arab. Sedangkan yang lain berdiam dipegunungan Auras (sebelah tenggara), pegunungan Atlas (terbentang abtara Maroko, Aljazair, dan Tunisia), pegununga Rif (sebelah utara Maroko) dan di Kabilia. Hingga kini sebagian mereka masihmempertahankan dan memelihara adat istiadat dan bahasa mereka. Lingkungan Arkoun, yang terdiri dari penduduk Berber itu, sarat dengan nafas dan aktivitas keislaman.[3] Penyebaran Islam dengan aktivitas politik di lingkungan kaum Berber sangat terkait dengan aktivitas sufisme. Tokoh sufi yang paling penting dalam penyebaran sufisme di Afrika Utara adalah Abu Madyan dari Themcen. Ia menekankan pada pemusatan mutlak Tuhan dan tidak terlalu memperhatikan masalah keduniaan.[4]
Sebagai anak yang dilahirkan di Kabilia, Arkoun mengenal dengan baik bahasa tidak tertulis Kabilia yang merupakan alat untuk mengungkapkan tradisi dan nilai yang udah ribuan tahun usianya. Sebagai penduduk Aljazair, Arkoun juga mengenal dengan baik bahsa Arab, yang merupakan bahasa keagamaan tertulis. Sedangkan sebagai orang yang dididik dalam tradisi Prancis, ia menguasai bahasa Prancis dengan baik sebagai bahasa non keagamaan tertulis dan alat untuk mengenal nilai-nilai dan tradisi keilmuan Barat.[5]
Karena hidup dalam tiga bahasa itu, Arkoun mendapat penyadaran bahwa bahasa lebih dari sekedar sarana teknis belaka untuk mengungkapkan diri, yang dapat diganti dengan bahasa lain tanpa masalah apapun. Setiap bahasa memiliki latar belakangnya tersendiri.
B.     Pendidikan dan Pengalaman
Pendidikan dasar Arkoun ditempuh di desa asalnya, dan kemudian melanjutkan sekolah menengah di kota pelabuhan Oran, sebuah kota utama di Aljazair bagian barat, yang jauh dari Kabilia. Kemudian, Arkoun melanjutkan studi bahasa dan sastra Arab di Universitas Aljir (1950-1954), sambil mengajar bahasa Arab pada sebuah Sekolah Menengah Atas di al-Harach, yang berlokasi di daerah pinggiran ibukota Aljazair. Pada saat perang kemerdekaan Aljazair dari Perancis (1954-1962), Arkoun melanjukan studi tentang bahasa dan sastra Arab di Universitas Sorbonne, Paris. Sejak itulah ia menetap di Prancis.[6] Ketika itu, dia sempat bekerja sebagai agrege bahasa dan kesusasteraan Arab di Paris serta mengajar di sebuah SMA (Lycee) di Strasbourg (daerah Perancis sebelah timur laut) dan diminta memberi kuliah di Fakultas Sastra Universitas Strasbourg (1956-1959).
Pada tahun 1961, Arkoun diangkat sebagai dosen di Universitas Sorbonne, Paris, sampai tahun 1969, saat ketika dia menyelesaikan pendidikan doktor di bidang sastra pada Universitas tersebut. Arkoun menulis desertasi doktor mengenai humanisme dalam pemikiran etis Miskawaih (w. 1030 M), seorang pemikir Arab di Persia pada abad X M yang menekuni kedokteran dan filsafat. Miskawaih dikenal sebagai tokoh yang menguasai berbagai bidang ilmu dan menekuni persamaan dan perbedaan antara Islam dengan tradisi pemikiran Yunani. Semenjak menjadi dosen di Universitas Sorbonne tersebut, Arkoun menetap di Perancis dan menghasilkan banyak karya yang dipengaruhi oleh perkembangan mutakhir tentang islamologi, filsafat, ilmu bahasa dan ilmu-ilmu sosial di dunia Barat, terutama di dunia tradisi keilmuan Perancis.
 Jenjang pendidikan dan pergulatan ilmiah yang ditempuh Arkoun membuat pergaulannya dengan tiga bahasa (Berber Kabilia, Arab dan Perancis) dan tradisi serta kebudayaannya menjadi semakin erat. Di kemudian hari, barangkali inilah yang cukup mempengaruhi perhatiannya yang begitu besar terhadap peran bahasa dalam pemikiran dan masyarakat manusia.
Ketiga bahasa tersebut sesungguhnya mewakili tiga tradisi, orientasi budaya, cara berpikir dan cara memahami yang berbeda. Bahasa Berber Kabilia merupakan alat untuk mengungkapkan berbagai tradisi dan nilai mengenai kehidupan sosial dan ekonomi yang sudah ribuan tahun usianya, bahasa Arab merupakan alat untuk melestarikan tradisi keagamaan Islam di Aljazair dan di berbagai belahan dunia Islam lainnya. Sedangkan bahasa Perancis merupakan bahasa administrasi pemerintahan serta alat untuk mengenal nilai-nilai dan tradisi keilmuan Barat, terutama Perancis.
Pada tahun 1970-1972 Arkoun mengajar di Universitas Lyon dan kembali lagi ke Paris sebagai guru besar sejarah pemikiran Islam di Universitas Sorbonne, yang sekarang sudah pensiun namun tetap membimbing karya penelitian di sana. Karena kepakarannya, Arkoun sering diundang untuk memberi kuliah dan ceramah ilmiah di sejumlah universitas dan institusi keilmuan dunia, seperti University of California, Princeton University, Temple University, Lembaga Kepausan untuk Studi Arab dan Islam di Roma, Universitas Katolik Louvain-la Neuve di Belgia, Universitas Amsterdam, Institut of Ismaili Studies di London, dan sebagainya. Dia juga pernah memberi kuliah di Rabat, Fez, Aljir, Tunis, Damaskus, Beirut, Berlin, Kolumbia, Denver, Indonesia, dan sebagainya. Di dalam menjalani profesinya sebagai pengajar, Arkoun selalu menyampaikan pendapatnya secara logis berdasarkan analisis yang memiliki bukti dan interaksi falsafati-religius, sehingga dapat membangkitkan kebebasan berbicara dan berekspresi secara intelektual, serta tentu saja, membuka peluang terhadap kritik. Selain mengajar, Arkoun juga mengikuti berbagai kegiatan ilmiah dan menduduki jabatan penting di dunia akademis dan masyarakat. Dia menjabat sebagai direktur ilmiah jurnal Arabica, anggota Panitia Nasional Perancis untuk Etika dan Ilmu Pengetahuan Kehidupan dan Kedokteran, anggota Majelis Nasional Perancis untuk AIDS dan anggota Legiun Kehormatan Perancis (chevalier de la Legion d’ honneur). Dia pernah mendapat gelar kehormatan, diangkat sebagai Officier des Palmes Academiques, sebuah gelar kehormatan Perancis untuk tokoh terkemuka di dunia universitas dan pernah menjabat sebagai direktur Lembaga Kajian Islam dan Timur Tengah pada Universitas Sorbonne Neuvelle (Paris) Sosok Arkoun yang demikian ini, dapat dinilai sebagai cendekiawan yang engage, melibatkan diri dalam berbagai kegiatan dan aksi yang menurutnya penting bagi kemanusiaan, sebab, baginya, pemikiran dan aksi harus saling berkaitan.
Pengamatan Arkoun terhadap bahasa yang pada awalnya hanya berdasarkan pengalaman pribadi, kini lebih didukung oleh beberapa kajian mutakhir tentang bahasa melalui karya beberapa ilmuan, filsuf, antropolog, dan teolog Barat. Karena itu, dapat dipahami mengapa kebanyakan tema utama kajian Arkoun berkaitan dengan bahasa. Meskipun demikian, pada akhirnya pelbagai tema yang dibahas oleh Arkoun bermuara pada satu tujuan, yakni bagaimana memadukan pelbagai cara berfikir yang berbeda.[7]
C.     Karya-karya
Sebagai ilmuwan yang produktif, Arkoun telah menulis banyak buku dan artikel di sejumlah jurnal terkemuka seperti Arabica (Leiden/Paris),  Studia Islamica (Paris),  Islamo-Christiana (Vatican),  Diogene (Paris),  Maghreb-Machreq  (Paris),  Ulumul Qur’ an (Jakarta), di beberapa buku dan ensiklopedi.
Arkoun juga menerbitkan beberapa kumpulan makalah dan karya bersama yang dilakukan dengan cendekiawan lain. Beberapa karya Arkoun yang penting adalah,  Traite d’ ethique (tradution francaise avec introduction et notes du Tahdhib al-Akhlaq) (sebuah pengantar dan catatan-catatan tentang etika dari  Tahdzib al-Akhlaq Miskawaih),  Contribution a l’ etude de l’ humanisme arabe au IVe/Xe siecle: Miskawayh philosophe et historien (sumbangan terhadap pembahasan humanisme Arab abad IV H/ X M: Miskawaih sebagai filosof dan sejarahwan),  La pensee arabe (pemikiran Arab), dan  Ouvertures sur l’ islam (catatan-catatan pengantar untuk memahami Islam). Buku-buku Arkoun yang merupakan kumpulan artikelnya di beberapa jurnal antara lain adalah  Essais sur la pensee islamique (Esai-esai tentang pemikiran Islam), Lectures du Coran  (Pembacaan-pembacaan Alqur’ an),  dan Pour une critique de la raison islamique (Demi kritik nalar islami). Buku-bukunya yang lain adalah  Aspects de la pensee musulmane calssique (Aspek-aspek pemikiran Islam klasik),  Deux Epitres de Miskawayh (Dua surat Miskawaih),  Discours coranique et pensee scientifique (Wacana-wacana al-Qur’ an dan pemikiran ilmiah), L’ islam, hier, demain (Islam, kemarin dan esok, karya bersama Louis Gardet), dan  L’ islam, religion et societe (Islam, agama dan masyarakat). Selain itu, masih banyak lagi beberapa karya
lainnya yang belum diterbitkan, di samping beberapa artikel penting, seperti pada  Encyclopaedia Universalis dalam entri “Islam, les expression de l’ islam”, “Rethinking Islam Today” dalam buku  Liberal Islam: A Source Book,  “History as an  Ideology of Legitimation: A Comparative Approach in Islamic and Eurepan Contexts” dalam buku  Islam, Modernism and the West dan sebagainya Karya Arkoun mayoritas dibuat dalam bahasa Perancis, dan kemudian tersebar dalam bentuk karya terjemahan ke dalam berbagai bahasa di dunia. Beberapa karya terjemahan yang penting antara lain adalah  al-Fikr al-Islami; Qira’ ah ‘ Ilmiyyah, al-Fikr al-Islami, Naqd wa Ijtihad, al-Islam;  Asalah wa Mumarasah (bahasa Arab),  Rethinking Islam, Common Questions Uncommon Answers, Arab Thought (bahasa Inggris),  Nalar Islami dan Nalar Modern: Pelbagai Tantangan dan Jalan Baru, Islam: Kemarin dan Esok, Berbagai Pembacaan Al-Qur’ an,  dan Rethinking Islam (bahasa Indonesia).
Karya-karya Arkoun tersebut, kalau dicermati ternyata banyak diilhami oleh ilmuwan-ilmuwan Perancis seperti Paul Ricoeur, Michel Fouchault, Jack Derrida, Roland Barthes, dan Piere Bourdieu. Di samping itu, juga oleh ahli bahasa Swiss, Ferdinand de Saussure, antropolog Inggris, Jack Goody, ahli sastra Kanada, Northtrop Frye, dan sebagainya. Pengaruh-pengaruh tersebut tampak misalnya pada anggitan tentang myth16 dan  imaginaire social17 dari Ricoeur, episteme, discours dan archeology dari Foucault18,  signifiant dan  signifie   dari de Saussure dan Derrida19,  deconstruction, unthought (l’ impense), unthinkable (l’ impensable)  dan  thinkable  (le pense) dari Derrida20 dan sebagainya.
Arkoun terus mencoba pemahaman-pemahaman yang baru tentang Islam dan kaum Muslim dengan menggunakan teori-teori mutakhir yang berkembang di dunia Barat modern. Upaya tersebut dilakukan Arkoun untuk memadukan unsur yang sangat mulia di dalam pemikiran Islam dengan unsur yang sangat berharga di dalam pemikiran Barat modern (rasionalitas dan sikap kritis). Dengan begitu, Arkoun berharap akan muncul suatu pemikiran yang bisa memberikan jawaban atas berbagai persoalan yang dihadapi oleh kaum Muslim akhir-akhir ini dan dapat membebaskannya dari belenggu yang mereka buat sendiri.[8]
D.     Kerangka Pemikiran Arkoun
Kegelisahan Arkoun yang mewarnai hampir seluruh pemikirannya adalah kenyataan adanya dikotomi-dikotomi di dalam masyarakat, khususnya masyarakat Muslim. Dikotomi-dikotomi tersebut secara garis besar banyak bersentuhan dengan persoalan-persoalan  particularity versus  (vs) universality, dan  marginality  vs  centrality. Problem-problem tampak tercermin dari adanya pembagian-pembagian dunia secara berhadap-hadapan, seperti Sunni dengan Syi’ i, kaum mistik dengan kaum tradisionalis, Muslim dengan non-Muslim, Berber (non-Arab) dengan Arab, Afrika (Asia) dengan Eropa dan sebagainya. Oleh karena itu, dunia yang dituju oleh Arkoun adalah dunia yang tidak ada pusat, tidak ada pinggiran, tidak ada kelompok yang mendominasi, tidak ada kelompok yang terpinggirkan, tidak ada kelompok yang superior dan tidak ada kelompok yang inferior di dalam menghasilkan sebuah kebenaran. Arkoun berusaha mengajukan pertanyaan yang kritis kepada kita, yaitu “Bagaimana seluruh manusia bisa menjadi diri mereka sendiri dengan identitas mereka sendiri tanpa menyendiri dari tetangga-tetangga dan sesama manusia lainnya?” Bagi orang Islam, Arkoun bertanya-tanya, “Dapatkah identitas-identitas Muslim itu didamaikan dengan identitas-identitas non-Muslim?”

E.     Metodologi dan Pendekatan dalam Pemikiran Arkoun
Di dalam melakukan  ijtihad (dengan menafsirkan Islam) yang tidak pernah berhenti, ada dua kekuatan tradisi pemikiran yaitu, budaya Timur Tengah kuno yang memiliki tempat spesial di dalam pemikiran Yunani dan monoteisme yang dipikirkan (dibawa) oleh para Nabi. Secara jelas, Arkoun mengemukakan dirinya sebagai pengguna metodologi historis-kritis yang menebarkan rasa ingin tahu secara modern, karena metodologi ini dinilainya dapat menelusuri studi tentang pengetahuan mitis yang tidak hanya dibatasi dengan mentalitas lama, yaitu dengan definisi-definisi yang diberikan oleh aliran sejarah positivistik yang diajarkan sejak abad ke-19.
Dengan demikian, usaha intelektual utama yang harus dipresentasikan ke dalam pemikiran tentang Islam atau tentang agama lainnya pada saat ini, adalah ditujukan untuk mengevaluasi karakteristik-karakteristik dari sistem ilmu pengetahuan yang historis dan mitis, dengan perspektif epistemologis yang baru. Tujuan yang ingin diraih dengan proyek ini adalah untuk mengembangkan sebuah strategi epistemologi baru bagi studi perbandingan terhadap budaya-budaya, melalui contoh yang ikembangkan oleh Islam sebagai agama dan sebagai sebuah produk sosial sejarah. Di dalam pembicaraan yang didasarkan pada postulat-postulat kaum metafisik klasik yang esensialis dan substansialis, Islam digambarkan sebagai suatu sistem pemikiran, kepercayaan, dan ketidakpercayaan yang khusus, esensial, dan tidak berubah, sehingga memunculkan adanya kelompok-kelompok superior dan inferior (menurut orang Islam atau non-Islam) ketika dihadapkan dengan sistem Barat (Kristen).
Menurut Arkoun, inilah saat yang tepat untuk menghentikan pertentangan-pertentangan antara dua sikap dogmatis yang berupa klaim kebenaran teologis dari orang-orang yang beriman dan postulat-postulat ideologis dari rasionalisme kaum positivistik. Sejarah  agama telah mengumpulkan fakta-fakta dan gambaran-gambaran dari berbagai macam agama, akan tetapi agama sebagai dimensi universal dari manusia belum didekati dengan perspektif epistemologis yang relevan. Kelemahan dalam pemikiran modern ini nampak secara jelas dari literatur yang miskin, seragam dan kadang-kadang cukup polemik dalam menggambarkan agama-agama wahyu. Untuk menghilangkan semua halangan tersebut, perlu diberikan perhatian lebih terhadap pengajaran dan studi sejarah sebagai antropologi masa lalu dan tidak hanya sebagai pemaparan fakta-fakta sejarah yang naratif.
Oleh karena itu, Arkoun mengajukan pendekatan historis, sosiologis, dan antropologis yang dilakukan bukan dengan tujuan untuk menghilangkan pentingnya pendekatan teologis dan filosofis, namun dengan tujuan untuk memperkaya pendekatan tersebut dengan memasukkan keadaan-keadaan historis dan sosial yang selalu dipraktekkan di dalam Islam. Metode Arkoun ini disebutnya sebagai salah satu bentuk metode dekonstruksi. Strategi dekonstruksi tersebut hanya mungkin dilakukan dengan epistemologi modern yang kritis. Dengan demikian, nalar (reason) harus dibebaskan dari ontologi, transendentalisme, dan substansionalisme yang memenjarakannya, terutama di dalam nalar yang dielaborasikan di dalam berbagai macam teologi melalui metafisika dan logika Yunani. Semua ini hanya bisa dilakukan oleh kelompok-kelompok pemikir, penulis, seniman, sarjana, politisi dan produsen ekonomi. Dalam melaksanakan proyek besar tersebut, menurut Arkoun harus dimulai dari suara atau teori yang memiliki otoritas, karena hanya dia yang dapat memberikan penampakan Islam pada mentalitas modern yang ilmiah, dan sekaligus juga di dalam pengalaman keagamaan orang Islam.
Menurut Arkoun, kita mempunyai tanggung jawab terhadap terwujudnya nalar kritis dan oleh karena itu, kita bertanggung jawab untuk mencari pemahaman yang lebih baik tentang hubungan antara makna dan realitas. Pertama-tama, kita harus meningkatkan peralatan intelektual, yaitu yang menyangkut mengenai kosa kata, metodologi, strategi prosedur, definisi dan wawasan penelitian. Dengan begitu, berarti Arkoun mengakui adanya “petanda transendental” sebagai petanda terakhir yang merupakan pendekatan yang melampaui batas semiotika dalam metodologi struktural linguistik.


[1] Drs. Suadi Putro, MA, Mohammed Arkoun Tentang Islam dan Modernitas, Jakarta: Paramadina, 1998, hal. 11. Ada perbedaan pendapat untuk tanggal kelahiran Arkoun, namun saya lebih memilih tanggal 1 karena lebih banyak dijumpai dalam beberapa buku.
[2] Meuleman, “Pengantar” dalam Arkoun, Nalar Islami, hal. 1.
[3] Drs. Suadi Putro, MA, Mohammed Arkoun Tentang Islam dan Modernitas, hal. 12.
[4] Fazlur Rahman, Islam, Chicago: University of Chicago Press, 1979, hal. 162.
[5]  Drs. Suadi Putro, MA, Mohammed Arkoun Tentang Islam dan Modernitas, hal. 14.
[6] Ibid. hal. 15.
[7] Ibid. hal. 17.
[8] Ibid. hal. 24.