"Nasir Khusraw"

Sang Elang berujar: "Ruzi zi sar i- sang 'uqubi bi hava khas
Bahr-i talab-i tu'mih, par o bal biyarast"
 

Sabtu, 29 Juni 2013

HASSAN HANAFI



BIOGRAFI HASSAN HANAFI

A.     Riwayat Hidup
Menurut Boullata Hassan Hanafi lahir dari leluhur Berber dan Badui Mesir.[1] Ia berasal dari keluarga musisi[2] dan dilahirkan pada tanggal 13 Februari 1935 di Kairo, di dekat Benteng Salahuddin, daerah perkampungan al-Azhar. Hal ini menurut E. Kusnadinadiningrat salah satu yang menentukan perkembangan awal tradisi keilmuan Hassan Hanafi, karena secara historis dan kultural, kota Mesir memang telah dipengaruhi peradaban-peradaban besar sejak masa Fir’aun, Romawi, Byzantium, Arab, Mamluk dan Turki, bahkan sampai dengan Eropa modern.[3]
Pendidikan Hanafi diawali pada tahun 1948 dengan menamatkan pendidikan tingkat dasar.[4] Masa kecilnya berhadapan dengan kenyataan-kenyataan hidup di bawah penjajahan dan dominasi pengaruh bangsa asing, sehingga pada usia 13 tahun ia telah mendaftarkan diri untuk menjadi sukarelawan perang melawan Israel.[5]
Hassan Hanafi melanjutkan studinya di Madrasah Tsanawiyah “Khalil Agha”, Kairo yang diselesaikannya selama empat tahun. Pada masa ini ia aktif mengikuti diskusi-diskusi kelompok Ikhwan al-Muslimin sehingga tidak heran Hassan Hanafi telah mengetahui pemikiran-pemikiran yang dikembangkan Ikhwan al-Muslimin dan aktifitas-aktifitas sosialnya.[6]
Sejak tahun 1952 sampai dengan 1956 Hanafi belajar di Universitas Kairo untuk mendalami bidang filsafat. Pada periode ini ia merasakan situasi yang paling buruk di Mesir. Misalnya pada tahun 1954 terjadi pertentangan keras antara Ikhwan al-Muslimin dengan gerakan revolusi. Hanafi sendiri berpihak pada Muhammad Najib yang berhadapan dengan Nasser, karena baginya Najib memiliki komitmen dan visi keislaman yang jelas. Kejadian-kejadian lain yang ia alami pada masa ini membuat ia bangkit menjadi seorang pemikir, pembaharu, dan reformis.[7]
Hanafi menyelesaikan studi filsafatnya di Universitas Kairo tersebut dengan gelar Sarjana Muda pada tahun 1956. Pada Universitas ini, ia mempelajari filsafat ilmu-ilmu keislaman dan teori-teori sosial.[8] Selanjutnya pada tahun itu juga Hanafi memperoleh kesempatan studi Strata yang lebih tinggi di Universitas Sorbone Perancis. Di sini ia memperoleh lingkungan yang kondusif untuk mencari jawaban atas persoalan-persoalan mendasar yang dihadapi oleh negerinya dan sekaligus merumuskan jawaban-jawabannya. Di Perancis tersebut ia dilatih untuk berpikir secara metodologis melalui kuliah-kuliah maupun bacaan-bacaan atau karya orientalis, Hanafi sempat belajar kepada seorang reformis Katolik, Jean Gitton, tentang metodologi berpikir, pembaharuan dan sejarah filsafat. Ia belajar fenomenologi dari Paul Ricouer, analisis kesadaran dari Husserl, dan bimbingan penulisan tentang pembaharuan Ushul Fikih dari Profesor Masnion.[9]
Dalam hal ini Kazuo Shimogaki mengatakan :

“Ia (Hanafi) banyak menyerap pengetahuan Barat, ia mengkonsentrasikan diri pada kajian pemikiran Barat pra modern dan modern. Meskipun ia menolak dan mengkritik Barat, tetapi tak pelak lagi, ide-ide liberalisme Barat, demokrasi, rasionalisme dan pencerahan telah mempengaruhi pemikirannya.”[10]

Terakhir pada tahun 1966, Hassan Hanafi berhasil menyelesaikan program Master dan Doktornya. Pada tahun 1967, ia diangkat menjadi Lektor. Tahun 1973, ia kembali diangkat menjadi Lektor Kepala dan Profesor Filsafat (1980) pada jurusan Filsafat Universitas Kairo. Kemudian mulai tahun 1988, ia diserahi jabatan sebagai Ketua jurusan Filsafat pada Universitas yang sama.[11]
Hassan Hanafi mengajar di Universitas Kairo dan juga aktif memberikan kuliah di beberapa Universitas di luar negeri. Ia sempat menjadi profesor tamu di Perancis (1969) dan Belgia (1970). Kemudian antara tahun 1971 sampai 1975 ia mengajar di Univeristas Temple Amerika. Di sini ia aktif menulis tentang dialog antara agama dengan revolusi. Setelah kembali dari Amerika, ia juga menulis tentang pembaruan pemikiran Islam.[12] Selain itu, Hanafi juga pernah mengajar di Universitas Kuwait (1979), Universitas Fez Maroko (1982 – 1984), kemudian diangkat menjadi penasehat program pada Universitas PBB di Jepang (1985 – 1987) dan sekembalinya dari Jepang pada 1988 inilah ia diserahi jabatan Ketua Jurusan Filsafat di Universitas Kairo.[13]
Aktifitas di dunia akademik ditunjang dengan aktifitas di organisasi masyarakat. Hanafi aktif sebagai Sekretaris Umum Persatuan Masyarakat Filsafat Mesir. Ia menjadi anggota Ikatan Penulis Asia-Afrika, anggota Gerakan Solidarits Asia-Afrika serta menjadi Wakil Presiden Persatuan Masyarakat Filsafat Arab. Pemikiran-pemikiran Hanafi tersebar di dunia Arab sampai ke Eropa.[14] 
B.     Latar Belakang Intelektual
Dalam catatan riwayat otobiografis Hassan Hanafi yang tercakup dalam salah satu karya utamanya, al Din wa al-Tsawrah fi Misr, 1952 – 1981, jilid VI, al Ushuliyah al-Islamiyah (Kairo: Maktabah Madbuli, 1989, 207 - 91) yang dikutip oleh Azyumardi Azra dijelaskan bahwa Hassan Hanafi menempuh serangkaian perkembangan kesadaran (consciousness). Hal ini sangat terkait dengan perubahan situasi lingkungannya yang lebih luas di Mesir.
Kesadaran pertama yang tumbuh dalam diri Hassan Hanafi adalah “kesadaran nasional” (national consciouness). Kesadaran ini berkaitan dengan Perang Dunia II dengan kenyataan Mesir menjadi sasaran serangan Jerman dan terutama sasaran Inggris.[15]
Masa-masa ini sampai tahun 1950-an merupakan masa bangkitnya “kesadaran keagamaan’ (religius consciousness) dalam diri Hassan Hanafi. Pemikiran, wacana intelektual, dan aktivisme bertitik tolak dari motif-motif Islam. Pada masa inilah ia mengenal secara lebih mendalam pemikiran dan wacana Islam yang berkembang di lingkungan gerakan Islam (harakah). Ia membaca dan mendalami berbagai karya tokoh-tokoh gerakan Islam seperti Hassan al-Banna, Sayyid Quthb, Abu al’Ala al-Maududi, Abu al-Hasan al-Nadui, dan lain-lain.
Menjelang akhir dasawarsa 1950-an, Hassan Hanafi berhadapan dengan berbagai krisis baik pada tingkat nasional dengan terjadinya krisis nasional Mesir 1956, kekacauan kehidupan intelektual dan meningkatnya penindasan pemerintah terhadap Ikhwan al-Muslimin maupun pada level personal dengan adanya konflik dengan sejumlah guru besarnya karena dianggap telah melecehkan mereka. Hal ini membuat Hassan Hanafi sering datang ke Mesjid dan menghabiskan waktunya membaca Alquran yang akhirnya hal ini membuat ia mulai merasakan intuisi-intuisi filosofis Kitab Suci ini.
Pada tahap inilah Hassan Hanafi mulai bergeser kepada tingkat kesadaran baru, yaitu kesadaran filosofis (Philosophical Consciuoness). Bacaannya terhadap Alquran membuatnya semakin meyakini tentang pentingnya alam kesadaran filosofis dan sekaligus tentang keharusan untuk melahirkan perjuangan. Pendidikan dan lanjutan dan dinamika intelektual yang dialaminya sejak 1956 di Paris, yang menjadi salah satu pusat terpenting wacana filosofis Barat Kontemporer telah memberikan kontribusi besar bagi penguatan transformasi kesadaran filosofisnya tersebut. Pada masa-masa inilah Hassan Hanafi merumuskan kembali keinginannya untuk menciptakan metodologi dan teologi baru Islam dengan pendekatan-pendekatan baru pula.[16]
Dari pengalaman-pengalaman hidup yang ia peroleh sejak masih remaja tersebut membuat ia semakin memiliki perhatian yang begitu besar terhadap persoalan umat Islam. Karena itu, meskipun tidak secara sepenuhnya mengabdikan diri untuk sebuah pergerakkan tertentu, ia pun banyak terlibat langsung dalam kegiatan-kegiatan pergerakan-pergerakan yang ada di Mesir.[17] Pemikirannya yang terbangun lewat situasi gerak intelektual di Mesir dan gerak intelektual di Perancis, menjadikan pemikirannya khas dan unik.[18] Sedangkan pengalamannya dalam bidang akademis dan intelektual, baik secara formal maupun tidak, dan pertemuannya dengan para pemikir besar dunia semakin mempertajam analisis dan pemikirannya, sehingga mendorong hasratnya untuk terus-menerus menulis dan mengembangkan pemikiran-pemikiran baru untuk membantu menyelesaikan perosalan-persoalan besar umat Islam.[19]
C.     Perkembangan Pemikiran dan Karya-Karyanya
Dalam rangka memantapkan posisi pemikiran Hassan Hanafi dalam dunia Islam, Kazuo Shimogaki membagi tiga wajah, yaitu wajah pertama adalah peranan Hanafi sebagai seorang pemikir revolusioner dengan meluncurkan Kiri Islam yang salah satu tugasnya adalah untuk mencapai revolusi Tauhid (keesaan pengesaan; konsep inti dalam pandangan dunia Islam). Wajah kedua adalah sebagai seorang reformis tradisi intelektual Islam klasik dan wajah ketiga adalah penerus gerakan Al-Afghani (1838 – 1896) yaitu gerakan Islam modern yang disebut sebagai suatu perjuangan melawan imperialisme Barat dan untuk mempersatukan dunia Islam[20]
Labih lanjut Kazuo Shimogaki mengungkapkan bahwa pemikiran Hassan Hanafi dapat didefinisikan lebih kurang modernis, tetapi sebagai layaknya sebuah definisi, ia tidak seluruhnya benar, terutama karena Hanafi menggunakan pisau analisis fenomenologis yang muncul di Barat untuk melawan modernisme. Kendatipun ia menyerap modernitas dan pra-modernitas, tapi ia belum merambah pada gerakan pemikiran paling baru di Barat, yaitu postmodernisme. Sebagi seorang reformis (pembaru) pemkiran Islam, Hanafi mengunggulkan satu bagian dari khazanah Islam yang berbasis pada rasionalisme yang hal ini tidak kompatibel dengan postmodernisme.[21]
Untuk karya-karya Hassan Hanafi sendiri, E. Kusnadiningrat mengklasifikasikannya dengan membagi ke dalam tiga periode seperti yang juga dilakukan oleh beberapa penulis tokoh ini sebelumnya, yaitu pada periode pertama berlangsung pada tahun-tahun 60-an, periode kedua pada tahun-tahun 70-an dan pada periode ketiga tahun-tahun 80-an sampai dengan 90-an.[22]
Pada periode tahun 60-an, pemikiran Hassan Hanafi dipengaruhi oleh kondisi sosial kultural Mesir pada saat itu yang kurang menguntungkan setelah kalah perang dengan Israel (1967). Pada tahun 1956 – 1966 itu pula Hanafi sedang berada dalam masa-masa belajar di Perancis, sehingga karyanya berbentuk disertasi dengan judul Essai Sur la Methode d’Exegese (Essai tentang metode penafsiran) dengan setebal 900 halaman dan telah berhasil memperoleh penghargaan sebagai karya ilmiah terbaik di Mesir pada tahun 1961. Dalam karyanya tersebut, Hanafi berupaya menghadapkan ilmu Ushul Fikih pada mazhab filsafat fenomenologi Edmund Husserl.
Pada fase awal pemikirannya ini juga, tulisan-tulisan Hanafi masih bersifat ilmiah murni. Baru pada akhir dasawarsa itu ia mulai berbicara tentang keharusan Islam untuk mengembangkan wawasan kehidupan yang progresif dan berdimensi pembebasan (taharrur, liberation). Kesimpulan akhir Hanafi pada masa ini adalah Islam sebaiknya berfungsi orientatif bagi ideologi populastik yang ada.[23]
 Di awal periode 70-an, Hassan Hanafi banyak menulis artikel di berbagai media massa, seperti al-Katib, al-Adab, al-Fikr, al-Mu’ashir dan Mimbar al-Islam yang kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku dengan judul Qadhaya Mu’ashirah fi Fikrina al-Mu’ashir. Buku tersebut menggambarkan tentang realitas dunia Arab saat itu, analisis tentang tugas para pemikir dalam menanggapi problema umat, dan tentang pentingnya pembaruan pemikiran Islam untuk menghidupkan kembali khazanah tradisional Islam. Pada tahun 1977, ia menerbitkan Qadhaya Mu’ashirah fi al-Fikr al-Gharbiy. Buku ini mendiskusikan pemikiran para pemikir Barat untuk melihat bagaimana mereka memahami persoalan masyarakatnya dan kemudian mengadakan pembaruan. Beberapa pemikir Barat yang ia singgung itu antara lain Spinoza, Voltaire, Kant, Hegel, Unamuno, Kart Jaspers, Marx Weber, Edmund Husserl, dan Herbert Marcuse.
Kedua bukunya di atas secara keseluruhan merangkum dua pokok pendekatan analisis yang berkaitan dengan sebab-sebab kekalahan umat Islam; memahami posisi umat Islam yang lemah dan Barat yang superior. Pendekatan inilah yang nantinya akan melahirkan dua pokok pemikiran baru yang tertuang dalam dua buah karyanya, yaitu al-Turats wa al-Tajdid (Tradisi dan Pembaruan) dan al-Istighrab (Oksidentalisme).
Pada tahun 1971 – 1975, situasi politik Mesir yang tidak stabil akibat Anwar Sadat yang pro Barat dan kelonggaran pada Israel membawa Hanafi pada pemikiran bahwa seorang ilmuan juga harus mempunyai tanggung jawab politik terhadap nasib bangsanya. Untuk itulah kemudian ia menulis al-Din wa al-Tsaurah fi Mishr 1952 – 1981 yang merupakan himpunan artikelnya dan terbit pertama pada tahun 1987. Karya ini berisi tentang gagasan mengenai gerakan “kiri keagamaan” yang membahas gerakan-gerakan keagamaan kontemporer, fundamentalis Islam serta “Kiri Islam dan Integritas Nasional”.[24]
Karya-karya lain yang ia tulis pada periode ini adalah Relegious Dialogue and Revolution (1977) dan Dirasat al-Islamiyyah (1981). Buku pertama ditulisnya ketika ia berada di Amerika antara tahun 1972 – 1976 dan buku kedua ditulis sejak tahun 1978 yang memuat deskripsi dan analisis pembaruan terhadap ilmu-ilmu keislaman klasik, seperti Ushul Fikih, ilmu-ilmu Ushuluddin, dan filsafat. Hanafi berbicara tentang upaya rekonstruksi atas ilmu-ilmu tersebut untuk disesuaikan dengan realitas kontemporer.[25]
Pada periode dasawarsa 80-an sampai awal 90-an, di latar belakangi oleh kondisi politik yang relatif lebih stabil ketimbang masa-masa sebelumnya. Hanafi mulai menulis al-Turats wa al-Tajdid (1980), kemudian ia menulis al-Yassar al-Islamiy (Kiri Islam), sebuah tulisan yang merupakan sebuah “manifesto politik” yang berbau ideologis.[26] Dari sekian banyak tulisan atau karya Hanafi, Kiri Islam merupakan salah satu puncak sublimasi pemikirannya semenjak revolusi 1952. Kiri Islam meskipun baru memuat tema-tema pokok dari proyek besar Hanafi, karya ini telah memformulasikan satu kecenderungan pemikiran yang ideal tentang bagaimana seharusnya sumbangan agama bagi kesejahteraan umat manusia.[27]
Selanjutnya buku yang ditulis Hanafi adalah Min al-‘Aqidah ila al-Tsaurah (5 jilid) yang digarapnya selama hampir sepuluh tahun dan baru terbit pada tahun 1988. Karyanya ini merupakan karya yang paling monumental dan salah satu pokok bahasan yang sangat penting adalah gagasan rekonstruksi ilmu kalam; sebuah Teologi atau ilmu Kalam yang antroposentris, populis, dan transformatif.[28]
Pada tahun-tahun 1985 – 1987, Hanafi menulis banyak artikel yang ia presentasikan dalam berbagai seminar dibeberapa negara yang kemudian ia susun menjadi sebuah buku yang berjudul Religion, Ideology, and Development yang terbit tahun 1993, dan Islam in The Modern World (2 jilid). Fokus pemikiran Hanafi pada karya-karya terakhirnya lebih tertuju pada upaya untuk meletakkan posisi agama serta fungsinya dalam pembangunan di negara-negara dunia ketiga. Hassan Hanafi memberikan harapan besar bagi peradaban-peradaban lain dalam Islam untuk menjadi mitra penciptaan peradaban dunia baru dan universal.[29] 




[1]Abdul Rozak dan Rosihan Anwar, Ilmu Kalam: untuk UIN, STAIN, PTAS, (Bandung: Penerbit Pustaka Setia, 2006), Cet,ke-2, h. 233.
[2]Lih. Pengantar Azyumardi Azra dalam Hassan Hanafi, Min al-‘Aqidah ala al-Tsawrah al-Muqaddimat al-Nazhariyah, diterjemahkan oleh Asep Usman Ismail, et.al., dengan judul: Dari Akidah ke Revolusi; Sikap Kita Terhadap Tradisi Lama, (Jakarta: PARAMADINA, 2003), Cet. ke-1, h. xiii.
[3]E. Kusnadiningrat, Teologi dan Pembebasan; Gagasan Islam Kiri Hassan Hanafi, (Jakarta: Logos, 1999), Cet. ke-1, h. 47-48.
[4]A.H. Ridwan, Reformasi Intelektual Islam: Pemikiran Hassan Hanafi tentang Reaktualitasasi Tradisi Keilmuan Islam, (Ygyakarta: Penerbit Ittiqa Pres, tth), h. 15.
[5]E. Kusnadiningrat, op. cit, h. 48.
[6]A.H. Ridwan, loc. cit.
[7]E. Kusnadiningrat, op. cit, h. 49 – 50.
[8]A. H. Ridwan, loc. cit.
[9]E. Kusnadiningrat, op. cit, h. 50.
[10]Kazuo Shimogaki, kiri Islam; antara Modernisme dan Postmodernisme Telaah Kritis atas Pemikiran Hassan Hanafi, terjemahan dari Between Modernity and Postmodernity, The Islamic Left and DR. Hassan Hanafi's Thought: A critical Reading, ( Yogyakarta: LKiS, 1997) Cet. ke- 3, h. 3.
[11]A.H. Ridwan, op. cit, h. 15 – 16.
[12]E. Kusnadiningrat, op. cit, h. 51.
[13]A.H. Ridwan, op. cit, h. 16.
[14]Ibid.
[15]Hassan Hanafi, Min al-‘Aqidah ila al-Tsawrah al-Muqaddimat al-Nazhriyyah, loc. cit.
[16]Ibid, h. xiv.
[17]Ibid.
[18]E. Kusnadiningrat, op. cit, h. 52.
[19]A.H. Ridwan, op. cit, h. 14.
[20]Kazuo Shimogaki, op. cit, h. 4.
[21]Ibid., h. 5.
[22]E. Kusnadiningrat, op. cit, h. 53.
[23]Ibid.,
[24]Ibid., h. 53 – 55.
[25]Ibid., h. 55 – 57.
[26]Ibid., h. 57 - 58.
[27]Abdul Rozak dan Rosihan Anwar, op. cit,  h. 234.
[28]E. Kusnadiningrat, h. 59.
[29]Ibid, h. 60.